Marry The Heir

Marry The Heir
Tentang masa lalu



POV Sigit


Tidak pernah ada yang menduga kalau masa lalu yang ku kubur dalam-dalam harus kembali hadir di depan mata. Di tanganku, aku masih memegangi foto tiga orang remaja dengan seorang wanita paruh baya yang berfoto di depan panti. Entah dari mana asalnya Marcel bisa mendapatkan foto ini, lengkap dengan rekaman suara wawancaranya dengan seorang wanita.


"Mas bisa menghancurkannya jika mau, tapi tenang, aku sudah menyimpan banyak copy-annya." begitu bunyi pesan yang kemudian dikirimkan Marcel padaku beberapa saat lalu.


Marcel tidak main-main dengan ancamannya karena ia memang bukan tipe yang suka bermain-main.


Memandangi foto ini, seketika, ingatan akan kejadian beberapa tahun silam hadir begitu saja di benakku. Semua yang aku anggap tidak pernah terjadi lagi kini menjadi bayangan yang semakin nyata dan menari di pelupuk mataku. Menutup kedua mataku tidak lantas menghapus bayangan itu, malah semakin jelas dan menakutkan. Takut, ya aku sangat takut.


16 tahun usiaku saat foto ini di ambil. Masih segar dalam ingatan foto ini di ambil oleh seorang wartawan yang mewawancaraiku setelah menjadi juara satu dalam olympiade Sciene nasional.


“Juara satu olympiade sciene nasional di juarai oleh seorang siswa yang dibesarkan di panti.” Judul berita itu begitu viral di zamannya dan menjadi awal baru aku menemui kenyataan yang tidak pernah aku duga sebelumnya.


Saat aku tinggal di panti, aku merasakan hidup yang serba kekurangan dan menemui banyak kesulitan. Seperti masalah hidup adalah teman paling solid untuk kami. Sekuat apapun kami menjauh dia tetap semakin mendekat.


Kami tinggal ber 23 orang dengan aku dan kedua sahabatku yang paling tua di panti itu. Bukan tidak ada yang mau mengadopsi kami tapi setiap ada yang akan mengadopsi kami, kami pasti akan berulah hingga membuat calon orang tua angkat kami merasa malas untuk mengangkat kami sebagai anaknya. Hal itu terus berulang kami lakukan hingga kami beranjak dewasa dan tidak ada seorangpun yang memisahkan kami, seperti janji kami.


Memandangi foto itu juga, membuatku teringat bagaimana kerasnya perjuangan selama di panti. Aku yang lemah dan selalu menjadi bahan bulian teman-teman di sekolah. Prestasiku memang bagus tapi secara power, aku tidak mempunyainya. Mungkin karena aku miskin, tidak memiliki apapun hingga mereka merasa bebas menginjak harga diriku, menghinaku, mengambil uang jajan yang susah payah aku kumpulkan dari bekerja paruh waktu sepulang sekolah dan tidak ada keseganan untuk memukulku hingga membuatku terkapar saat aku menolak memberi apa yang mereka minta.


Menyedihkan, ya, sangat menyedihkan. Sampai sekarang aku masih merasakan sakitnya luka-luka di tubuhku, sesaknya dada yang mereka injak dengan sepatu bola dan pusingnya kepala yang mereka benturkan ke tembok. Katanya aku sok polos dan mereka selalu mencoba memancing emosiku hingga suatu hari aku di tampar oleh guru BK karena melawan mereka.


Aku menusuk mata salah satu siswa yang sering menghajarku. Jujur, itu adalah sebuah pembelaan diri karena mereka selalu menghajarku. Tapi, track record-ku sebagai siswa berprestasi seolah menjadi penghalang agar aku tidak melawan dan menerima semua perlakuan buruk mereka. Aku harus terlihat sempurna sebagai contoh siswa yang cerdas dan beretika baik, tapi aku muak hanya diam saja menerima perlakuan mereka.


Mereka mengakui otakku yang brilian tapi mereka tidak pernah mengakuiku sebagai manusia yang memiliki hati. Ya, bagi mereka aku tidak layak punya hati. Tidak boleh merasakan sedih, sepi, sendiri dan tidak ada rasa bahagia yang mampir selain saat bersama kedua sahabatku.


Selama bertahun-tahun aku seperti hidup di neraka. Terkadang aku berfikir untuk mengakhiri hidupku yang sangat brengsek ini. Tapi dua sahabatku selalu menguatkanku, mengingatkanku untuk bertahan dan percaya kalau selalu ada pelangi setelah hujan, sekalipun di sertai kilatan petir dan gemuruh guntur yang mengguncang kami.


Sampai suatu hari, ada seorang laki-laki yang datang ke panti. Laki-laki berjas lengkap dengan kharismanya yang luar biasa.


“Apa kamu nak danu?” tanya laki-laki itu, memandangi wajahku yang memar karena habis berkelahi.


“Hem. Apa mau anda?” aku memang selalu sinis, saat ada orang asing datang ke panti dan bertanya padaku.


Ya, namaku dulu adalah Danu. Jangan bertanya siapa yang memberikan nama itu, mungkin ibu panti atau orang asing yang menemukanku di jalanan. Aku tidak tahu persis dan tidak ingin tahu.


“Ada seseorang yang ingin bertemu. Beliau menunggumu di ruang tamu.” Ujar laki-laki itu yang tersenyum tipis sambil membungkuk sopan padaku.


Apa-apaan ini, sejak dulu tidak ada yang bersikap seperti ini padaku.


“Temui saja bu panti. Saya tidak ada urusan.” Sahutku ketus. Aku sudah ingin mandi dan membersihkan tubuhku dari bau darah yang mengenai baju seragamku.


Aku berlalu meninggalkan laki-laki itu tanpa basa-basi.


“Beliau ayahmu.” Dua kata itu membuat langkahku terhenti.


Seperti jantungku berhenti berdetak beberapa saat dan kembali berdegub dengan debaran cepat yang tidak bisa aku kendalikan. Entah darimana asal adrenalin yang meningkat tiba-tiba.


Aku tersenyum sarkas, candaan laki-laki di belakangku terlalu berlebihan pikirku.


“Jangan bercanda denganku, aku tidak punya waktu untuk tertawa.” Sahutku tidak percaya. Dia pikir aku sebodoh itu akan percaya dengan kata-katanya.


“Kamu pikir, siapa yang bisa membebaskanmu dari penjara selain beliau?” lagi, perkataan laki-laki itu terdengar provokatif.


Aku menyadari perubahan wajahku yang santai menjadi dingin. Aku berbalik dan laki-laki itu masih tersenyum tenang di hadapanku. Apa senyuman begitu murah bagi dia hingga menatapku saja dia masih tersenyum? Kenapa begitu mahal untukku?


“Temui beliau di ruang tamu, beliau menunggumu.” Tegas laki-laki itu seraya berlalu dari hadapanku.


Aku pikir ini bukan candaan yang lucu. Aku ingin melihat seperti apa rupa laki-laki yang mengaku ayahku. Apa wajahnya mirip denganku atau cara bicaranya atau apalah yang bisa membuktikan kami memiliki hubungan biologis seperti yang di ajarkan guru biologi di sekolah.


Ku taruh tasku di dekat kamar. Lalu ku basuh wajahku yang masih memar. Rasa sakit pukulan yang dulu masih belum reda dan kali ini malah bertambah. Sejenak ku pandangi wajahku di cermin, memang tampangku menyebalkan dan dingin. Mungkin ini yang membuat musuhku di sekolah merasa berhak melakukan apapun padaku yang tidak akan bisa melawan.


“Danu, sini nak.” Bu panti yang menyambutku saat aku masuk ke ruang tamu.


Laki-laki rapi yang duduk di samping bu panti langsung menoleh. Nafasku seperti tercekat, saat aku melihat wajahnya yang memang familiar, mirip denganku. Satu kali bertemu saja, mungkin orang-orang akan mengira kami memang kerabat tapi bukankah setiap orang memiliki 7 kembarannya di dunia ini? Mungkin dia salah satu kembaranku. Ini pengingkaran yang otomatis muncul di benakku.


Laki-laki itu tersenyum, terlihat seolah sangat tulus dan tiba-tiba perasaanku merasa hangat. Perasaan macam apa ini, aku sangat asing dan belum pernah merasakannya.


“Kemarilah.” Bu panti memanggilku untuk mendekat. Mendadak kakiku terasa lemas hingga hampir terjatuh. Namun dengan cepat laki-laki itu menghampiri dan menahan tubuhku agar tidak ambruk.


“Sigit!” serunya seraya memelukku tiba-tiba.


Apa-apaan ini? Dia menyebut nama siapa di telingaku. Tunggu, kenapa pelukannya semakin erat hingga aku nyaris tidak bisa bernafas. Dia bahkan menangis, suara tangis yang aku rasa campuran antara perasaan haru dan sesal.


“Siapa anda?!” aku segera melepaskan pelukannya yang terasa tidak asing dan mendorong tubuhnya menjauh. Aku memandanginya dan ia pun menatapku dengan seksama.


“Berbicaralah dengannya. Dia ayahmu.” Lagi suara bu panti dengan kata-kata sama persis dengan laki-laki yang berdiri di ujung sana.


Aku tersenyum tipis, menatap laki-laki ini tidak percaya. “Jangan berbohong. Ibu bilang ibu menemukanku di gerobak sampah dekat taman sekolah. Mana mungkin aku memiliki seorang ayah? Mungkin saja tuan besar ini mau mengambilku dan menjual otakku di pasar perdagangan manusia.”


Aku membantah ucapan bu panti dengan berlebihan. Tapi memang itu yang terlintas di kepalaku. Aku yang cerdas, tentu akan sangat mahal harga otakku kalau di jual dan bagiku laki-laki ini hanya mengada-ngada saja.


Mereka hanya terdiam tidak berani menimpali dan kondisi ini malah membuat perasaanku tidak karuan. Apa benar aku anak dari laki-laki ini?


Di ruang tamu hanya ada aku dan laki-laki yang memperkenalkan dirinya sebagai Hardjoyo. Seorang pengusaha sukses dan memiliki perusahaan yang cukup besar.


Hardjoyo menyodorkan sebuah amplop hijau padaku dengan isi yang cukup tebal dan ada nama rumah sakit di sana.


“Belasan tahun papah mencarimu dan akhirnya papah bisa menemukanmu.” Ujar Hardjoyo.


Papah? Asing sekali panggilan itu di telingaku.


“Bukalah amplop itu, itu bukti kamu adalah anak papah.” Hasut Hardjoyo dengan penuh keyakinan.


ku ambil amplop yang tergeletak di hadapanku lantas ku buka. Hanya dua bagian yang aku baca, nama yang di periksa dan kesimpulannya. Hasilnya adalah, DNA ku cocok dengan tuan besar di sampingku.


Kertas itu jatuh begitu saja dari tanganku. Tanganku yang gemetar dan lemah karena masih shock, ya sangat shock.


Melihat ku yang terpaku, Hardjoyo memgeluarkan sebuah foto dari saku jasnya. Foto ia dengan seorang wanita yang tidak asing bagiku. Aku pernah melihatnya.


“Mamahmu meninggalkan papah saat sedang mengandungmu. Dan hingga saat ini papah belum bisa menemukannya. Entah ia masih hidup atau tidak.” Ternyata laki-laki ini bukan laki-laki yang bisa berbasa basi.


Kalimat sensitive itu dengan mudah keluar dari mulutnya membuatku tidak bisa menyembunyikan air muka yang berubah sendu. Aku hanya melirik foto wanita itu dan sama persis dengan foto yang pernah di tunjukkan bu panti beberapa tahu silam. Entah aku harus senang atau tidak mendengar kabar ini. Satu hal yang aku tahu, jika seorang wanita memilih pergi dari laki-lakinya maka bukan masalah kecil yang membuat dia harus menyerah dan pergi. Begitulah mahluk bernama wanita.


“Mengapa wanita itu meninggalkan anda?” jujur, aku penasaran mendengar jawabannya.


Hardjoyo hanya menghela nafasnya kasar sampai kemudian aku tahu jawabannya saat aku masuk ke rumah besar milik Hardjoyo.


Ada seorang wanita di sana yang mereka panggil sebagai nyonya besar. Ia menatapku dengan sinis dan seolah menolak kedatanganku di tengah keluarga mereka yang bahagia.


“Dia putraku dan rumah ini memang miliknya.” Pertengkaran itu yang kemudian sering aku dengar setiap malam.


Aku mulai mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Aku menyelinap masuk ke kamar laki-laki yang mulai ku panggil papah dan terkadang aku menguping pembicaraannya dengan orang kepercayaannya. Rasanya aku paham, alasan mengapa wanita itu meninggalkan laki-laki ini.


Di setiap sudut hanya ada foto Hardjoyo dengan wanita yang kerap berdebat di dalam kamarnya. Tidak ada tanda-tanda kalau ibuku pernah menjadi bagian dari keluarga ini.


Tentu karena ibuku bukan siapa-siapa. Dia hanya wanita yang dibujuk dengan cinta hingga menyerahkan semua hidupnya tapi tidak pernah bisa diperjuangkan. Tidak salah jika akhirnya ia memilih pergi.


Aku seperti merasakan patah hati mendapati semua kenyataan ini. Satu luka yang lebih dalam aku rasakan setelah perlakuan orang-orang asing di luar sana. Memang tidak pernah ada yang menginginkan keberadaanku. Aku di cari hanya karena papahku yang sudah menikah belasan tahun namun belum dikaruniai anak. Hanya itu alasan yang bisa di terima otakku.


Hari berganti dan aku menjadi anak kebanggan dari Hardjoyo. Nama Sigit yang kemudian ia berikan padaku sebagai identitas putranya. Ia menghapus semua identitasku di masa lalu dan mengirimku sekolah keluar negri dengan idenitas yang baru. Aku di tempatkan sebagai putra pertama dari keluarga Hardjoyo yang sukses di dunia bisnis di usia muda dengan banyak anak perusahaan.


Semudah itu garis hidupnya berubah. Entah ini suatu kebenaran atau hanya lelucon. Yang jelas, seperti apapun kondisinya, aku tidak pernah menjadi anak yang di harapkan oleh keluarga ini. Aku dicari hanya untuk menjadi seorang penerus dari kerajaan bisnis. Haruskah aku mensyukurinya atau mengasihani diriku sendiri yang sebenarnya malang.


Sehebat itu manipulasi yang bisa dilakukan oleh orang seperti Hardjoyo. Dan mungkin saja, semua ini pun hanya manipulasi.


*****


“Aargh!” Sigit mengerang saat kepalanya berdenyut nyeri ketika ia bangkit dari tempat duduknya.


Semua terlihat gelap dan kakinya yang lemas tidak bisa menopang tubuhnya hingga ambruk di lantai. Ia masih berusaha dengan sisa kesadarannya, memegangi kepalanya yang terasa ngilu dan sakit yang hebat.


Mengingat kembali masa lalu tidak hanya membuat hatinya lelah dan sakit tapi tubuhnya pun ikut merasakan hal yang sama. Masa lalu yang ia kubur dan tinggalkan, seolah menjadi kenyataan yang harus ia hadapi.


Pantas saja Marcel terlihat begitu yakin dengan ucapannya. Di antara senyumnya yang santai, rupanya ia menyimpan banyak kebencian pada laki-laki yang terpaksa menjadi kakaknya. Mereka terlahir dari rahim yang berbeda. Marcel dengan ibu bangsawan dan Sigit yang lahir dari seorang perempuan penghibur. Hal ini juga yang membuat Marcel ingin mengambil semuanya dari tangan Sigit.


Ia selalu merasa kalau apa yang dilakukan mendiang ayahnya tidaklah adil. Sigit selalu menjadi kebanggannya sementara kehadirannya yang terlambat setelah belasan tahun menikah, hanya pelengkap saja.


Dalam kesakitannya, Sigit masih berusaha meraih ponselnya. Namun terlampau jauh di atas meja. Ia berusaha merangkak dan menahan rasa sakit yang semakin lama semakin parah. Hingga akhirnya semua gelap, semua sunyi. Tidak ada yang tahu kalau ia terkulai tidak berdaya.


Hanya sebuah suara yang kemudian ia dengar samar-samar saat pintu terbuka.


“DADY!!!!” Ia mengenal suara itu. Dengan mata yang setengah terpejam ia melihat gadis cantik menopang tubuhnya dengan lengan kanannya.


“Sha, fi, ra…” lirihnya yang kemudian tidak sadarkan diri.


****