Marry The Heir

Marry The Heir
Kakiku tahu kemana arah yang harus ia tuju



Sudah lebih dari 24 jam sejak Sigit keluar dari ruang operasi dan di tempatkan di ruang ICU. Kondisi tanda-tanda vitalnya stabil namun hingga waktu seharusnya Sigit terbangun, belum juga ada tanda-tanda yang menunjukkan ia akan siuman.


Dokter sudah beberapa kali masuk ke ruangan dan memeriksa ulang Sigit namun tidak ada sedikitpun gerakan tubuh yang menandakan laki-laki tersebut sadar sepenuhnya. Hanya matanya yang sedikit terbuka, seperti ia tertidur sangat lelap.


Arini, Kean dan Marwan berkumpul di ruang dokter guna menerima kabar perkembangan terbaru kondisi Sigit. Harap-harap cemas perasaan mereka saat ini, karena dokter menunjukkan gelagat tidak terlalu yakin dengan kondisi Sigit.


“Kami sudah melakukan pemeriksaan MRI terhadap pasien, untuk melihat kondisi perlukaan pasca operasi di kepala pasien. Semuanya membaik tanpa ada perdarahan atau efek samping." menujukkan hasil MRI yang ia perlihatkan pada ketiga orang di hadapannya.


Tidak terlalu di mengerti oleh orang awam memang arti gambar yang ia tunjuk dengan pensil namun cukup membuat Marwan mengangguk melihat perbedaan gambar sebelum dan setelah tindakan operasi.


"Melihat tanda-tanda vital pasien yang stabil, bisa di pastikan sebenarnya pasien sudah keluar dari kondisi kritisnya.”


Arini dan Marwan menghela nafas lega, paling tidak ada kabar baik yang mereka terima.


“Namun jika melihat kondisinya saat ini kami menyimpulkan kalau pasien berada dalam kondisi vegetative.” Satu kalimat dari dokter Hasan ini terasa berat untuk di dengar. Mereka masih menerka-nerka seperti apa sebenarnya kondisi Sigit.


“Kondisi ini berbeda dengan koma karena batang otak pasien dalam kondisi normal. Dalam kondisinya saat ini, sangat memungkinkan pasien bisa membuka matanya. Jantung dan paru-paru pasien bisa berfungsi layaknya orang sehat. Selain itu, pasien juga memiliki siklus tidur, memiliki refleks, dan bisa berkedip, mendengus, atau tampak tersenyum seperti orang sehat pada umumnya."


"Walau ini semua tidak pasti selalu dialami oleh setiap pasien dan keadaan yang muncul mungkin berbeda antara satu pasien dengan pasien lainnya tapi pasien menunjukkan hampir semua tanda-tanda ini.”


“Hanya saja, karena serebrumnya mengalami kelainan, pasien tidak bisa berpikir, berbicara atau menanggapi pembicaraan, berinteraksi dengan lingkungan sekitar, mengikuti perintah, serta menunjukkan emosi. Hal itu juga yang membuat pasien tidak bisa merespon kehadiran orang-orang di sekitarnya.”


"Berapa lama tuan besar mengalami masa seperti ini dok? Apa bisa sembuh?" Marwan memperhatikan Sigit dari kejauhan dengan perasaan yang tidak menentu. Andai saja Sigit mau di operasi sejak awal ia di diagnosa dengan penyakit ini, mungkin hal ini tidak akan terjadi.


“Kita tidak bisa menentukan kapan pasien bisa benar-benar sadar. Bisa 4 minggu, atau bahkan 6 sampai 12 bulan.”


“Yang bisa kita lakukan adalah memastikan asupan nutrisi, kebersihan dan dukungan terhadap fungsi tubuh secara umum. Saya sarankan agar keluarga memberikan dukungan dan stimulasi ringan untuk merangsang panca indera pasien agar pasien bisa segera pulih. Misal, nyonya usap tangannya, bercerita di dekat beliau, memperdengarkan lagu atau musik favorit beliau, menunjukkan foto-foto keluarga dan perhatian lain yang terasa intim bagi pasien.”


Kalimat demi kalimat tersebut terus bergaung di rongga telinga Arini. Setelah mendengar penjelasan dokter, dengan kursi rodanya, ia menghampiri Sigit yang terbaring di atas ranjang pasien. Banyak alat yang terpasang di tubuhnya, semuanya menyokong Sigit agar tetap bertahan.


Ada sedikit kelegaan mendengar Sigit terbebas dari masa kritisnya namun satu sisi hatinya yang lain merasa miris melihat laki-laki yang biasanya berdiri angkuh di hadapannnya, tidak pernah menatapnya hingga wajahnya terasa asing. Namun saat ia menjadi pesakitan dalam kondisi yang bisa di bilang parah barulah wajahnya sangat jelas. .


Baru kali ini Arini bisa memandangi Sigit dengan lekat, setelah sebelumnya mereka bahkan tidak pernah bertatapan lebih dari 10 detik. Jika diperhatikan, terlihat garis halus di dahi dan bawah matanya yang menandakan kalau laki-laki ini sudah tidak muda lagi walau kharismanya tidak pernah luntur. Lalu apa hal ini salah satu yang masih harus ia syukuri?


Melihat tangan Sigit yang pucat dan tertutup beberapa selang infus, membuat Arini miris. Dengan gemetaran ia meraih tangan Sigit lalu menyentuhnya perlahan dan mengusapnya. Tidak ada respon sedikitpun, seperti yang dokter jelaskan tadi.


Melihat Sigit yang tidak berdaya, entah mengapa membuat air mata Arini menetes. Rasanya lebih baik ia di suguhi wajah Sigit yang dingin dan tanpa ekspresi dari pada melihatnya terdiam dan menerka-nerka rasa sakit apa yang tengah ia rasakan.


“Mas,” lirihnya dengan bibir bergetar dan tangis yang perlahan pecah. Satu tangannya menggenggam sebagian tangan Sigit yang lunglai dan tangan lainnya mengusap air matanya perlahan.


“Aku pikir, kamu akan lebih kuat dariku. Aku pikir kamu akan selalu berdiri di hadapanku dengan angkuh. Rasanya, aku memilih melihatmu berdiri angkuh daripada berbaring tidak berdaya. Bisakah kamu bangun sebentar saja? Aku akan meluangkan banyak waktu untuk mendengar kalimat-kalimat ketusmu.”


Rasanya jadi sangat sesak saat membayangkan apa yang harus mereka lakukan untuk mempercepat pemulihan Sigit.


Berbicara dengan Sigit, entah apa yang harus ia bicarakan dengan laki-laki ini. Tidak ada cerita manis yang bisa mereka kenang. Foto keluarga pun mereka hanya punya saat Kean masih kecil dan foto pernikahan yang penuh formalitas. Tidak ada kenangan yang mereka abadikan dalam sebuah foto dan menghiasi dinding rumah. Dan jika itu tentang musik favorit Sigit, Arini sendiri tidak pernah tahu apa yang sebenarnya di sukai dan tidak di sukai oleh suaminya.


Mereka terlalu asing bahkan hanya untuk mengetahui kesukaan masing-masing. Dan saat ini, Arini hanya bisa terpekur, memandangi suaminya yang masih enggan memberi respon.


"Kenapa kita bisa seasing ini mas?" lirihnya seraya mengeratkan genggaman tangannya pada Sigit.


*****


POV Kean


Seharian ini aku meraskan kegundahan yang tidak biasa. Banyaknya pekerjaan di kantor nyatanya tidak bisa mengalihkan perhatianku dari memikirkan papah.


Jujur, aku masih sangat marah dan kecewa pada laki-laki angkuh yang keras kepala dan tidak bisa di ajak bicara. Tapi saat melihat laki-laki itu terbaring tidak berdaya ternyata satu sudut hatiku masih merasakan khawatir dan sesal. Terlebih wanita yang paling aku cintai terlihat putus asa dengan air mata yang berlinang. Aku bisa merasakan kesedihan dan rasa cinta mamah terhadap papah di waktu yang bersamaan.


Bayangan perdebatan kami terus bergelayut di pikiranku. Papah yang keras dan aku yang kukuh dengan pilihanku seperti dua batu keras yang saat berbenturan membuat keduanya pecah. Satu hal yang jelas berbeda antara papah dan aku adalah, aku masih menyimpan rasa cemas untuknya, cemas jika dia tidak baik-baik saja, sementara papah mungkin ia sudah mati rasa. Hingga ia tidak mengenali perasaan apapun selain marah dan kecewa terhadapku.


Di hadapanku ada setumpuk berkas yang belum lama ini aku pandangi. Sebuah permintaan CSR yang di ajukan langsung oleh Marwan padaku. Melihat angkanya yang fantastis, dahiku sedikit berkerut. Rekening sebuah panti yang di tuju Marwan untuk menjadi penerima dana ini.


Rasa penasaran muncul tiba-tiba hingga membuatku meminta Roy untuk menyelidiki apakah sebelumnya ada transaksi semacam ini atau tidak. Ternyata, CSR ini bukan baru satu kali. Sudah puluhan tahun di lakukan dan penerimanya sama.


Mulai terasa janggal saat mengingat sikap papah yang begitu merendahkan Disa, sehingga tidak mungkin papah begitu dermawan. Akhirnya aku mengutus Roy untuk benar-benar menyelidiki panti yang selalu mendapat CSR ini.


Sore ini, banyak hal yang aku baru tahu tentang papah. Niat mencari tahu tentang panti ternyata berbuah pada kenyataan siapa papah sebenarnya. Aku terpaksa membongkar semua berkas penting keluarga, arsip-arsip penting yang di simpan di dalam brankas hingga akhirnya aku menemukan sesuatu yang tidak pernah aku sangka sebelumnya.


Aku terduduk lesu di kursiku dengan pikiran yang semakin berkecambuk. Aku baru tahu siapa papah dan bagaimana masa lalunya. Haruskah aku kecewa mendapati seperti apa papah sebenarnya atau harus merasa bangga karena melihatnya bisa bertahan di tengah kesulitan seperti ini.


Papah seperti kotak pandora yang saat aku buka membuatku semakin penasaran dan tercengang. Aku sadar, aku benar-benar tidak mengenal papah. Aku hanya tahu dia laki-laki yang keras, tidak berperasaan dan paling hebat dalam hal mengabaikan orang lain. Tapi perlahan seperti aku tahu apa yang membuat ia seolah tidak memiliki hati. Apa hatinya masih penuh luka hingga tidak memberi kesempatan pada orang lain untuk menjanjikannya sebuah harapan?


Hingga malam tiba, aku masih enggan untuk beranjak terlebih dengan isi kepalaku yaang berputar. Roy yang menemuiku beberapa kali, dan ku minta pulang lebih dulu karena aku masih ingin sendirian.


Papah dan segala misterinya mengapa baru aku ketahui sekarang?


Kuusap wajahku dengan kasar saat pikiran itu semakin merongrong. Hanya satu hal yang bisa ku lakukan saat ini, menanda tangani ajuan CSR itu sebagai bentuk penghormatan terhadap masa lalu papah.


Beranjak dari tempat duduk lantas kusandarkan tubuhku pada meja. Ku ketuk-ketuk jariku di atas meja, berusaha mengurai benang merah yang masih kusut dan buntu. Ku pandangi jalanan ramai Jakarta melalui jendela besar di hadapanku, berharap ini bisa mengalihkan pikiranku. Tapi semakin lama, rasanya aku ingin memekik untuk tangis yang ku tahan dan ingin mengupat pada keadaan yang seperti menjebakku.


Sumpah yang aku ucapkan seperti kerikil tajam yang membuatku tidak bisa melangkah maju. Mungkin benar, kalau aku adalah cerminan dari papah. Jalan hidup yang aku lewati seperti membawaku pada titik nadir yang pernah di alami papah.


Kenapa rasanya sangat menakutkan jika kelak aku mengalami apa yang papah alami? Bisakah aku kuat hidup sendiri tanpa orang yang aku cintai?


Buntu, itu yang aku rasakan saat ini. Ku ambil kunci mobil dan berniat untuk mencari udara segar. Dengan mobil sportku aku berkeliling Jakarta tanpa tentu arah. Pergi ke tempat-tempat ramai, berdiam diri di sana namun hatiku tetap merasa sepi. Pergi ke tempat yang tenang, namun bukan menambah ketenangan melainkan membuatku semakin merasa sendiri.


Semua aku lakukan hingga dini hari dan tidak sekalipun mataku ingin terpejam. Ya aku tidak suka memejamkan mataku karena di saat aku menutup mataku, bayangan kengerian itu kembali hadir.


Jam setengah 3 pagi, aku berdiri mematung di depan pintu kamar Disa. Ragu sebenarnya apa aku harus menekan bell atau tidak. Atau aku harus masuk menggunakan kartu akses yang di berikan reseptionist?


Ya, di tanganku, aku memegangi sebuah kartu akses yang ku dapatkan setelah beralasan temanku sedang tidak enak badan di kamarnya. Bohong sebenarnya karena aku berharap Disa akan selalu baik-baik saja.


Rupanya otakku masih bisa berfiki cara agar aku bisa sampai ke kamar Disa dan mendapatkan kartu akses.


Akhirnya aku memutuskan untuk mengetuk pintu, cara paling baik yang bisa aku pikirkan. Tidak menunggu lama, pintu langsung terbuka.


Ku lihat Disa yang kebingungan melihatku berdiri di hadapannya dengan muka kuyu tidak jelas.


“Tuan?” masih tidak percaya rupanya kalau ini benar-benar aku. Matanya membulat, berusaha meyakinkan diri sendiri kalau ia tidak salah lihat.


Berbeda denganku, aku sangat senang saat bisa melihat wajah Disa terlihat segar, berbeda denganku yang terlihat kuyu.


“Boleh saya masuk?” tanyaku langsung.


Disa celingukan, melihat ke sekeliling koridor yang tampak sepi. Tidak ada orang lain di luar, pikirnya mungkin sedikit aman kalau ia membiarkanku masuk.


“Silakan tuan.” Ia membuka pintu lebih lebar, memberiku izin untuk masuk. Satu yang aku yakini, tidak mungkin ia tega melihatku sendirian di luar kamarnya.


Kupandangi Disa dengan perasaan menggebu. Rasanya aku ingin memeluk wanita yang selalu membuatku merasa tenang. Melepas kegundahan yang memenuhi hatiku. Wajahnya yang damai, senyumnya yang lembut dan tatapan matanya yang hangat selalu menjadi hal yang paling aku rindukan. Andai aku bisa meminta sedikit saja ketenangan yang di miliki Disa.


Sambil menutup pintu, Disa memperhatikanku yang berjalan masuk ke kamarnya yang berantakan. Tentu saja banyak sisa kain yang berserakan bekas ia potong dan belum sempat ia bereskan.


Disa segera berlari mendahuluiku dan mengambil barang-barang yang terserak di atas sofa agar aku bisa duduk.


“Maaf tuan, sedikit berantakan.” baru sadar rupanya, wajah polosnya selalu membuatku gemas.


Ku perhatikan wajahnya yang tetap terlihat segar kapanpun aku memandangnya. Rambutnya yang dicepol dan sedikit berantakan. Poninya ia halangi bando bermotif buah cherry dan pita tersimpul di tengahnya. Kenapa dia lucu sekali, aku jadi ingin mencubit pipinya.


Untuk beberapa saat kami saling bertatapan. Aku merindukannya. Aku rindu suaranya, melihat mimik mukanya, senyumnya yang tulus dan matanya yang bening. Rasanya aku ingin menyentuh wajah itu tapi kemudian ku kepalkan tanganku dan kuurugkan niatku saat aku ingat apa yang sudah aku ucapkan di hadapan papah.


Ya, sumpah itu. Seperti menghalangiku untuk berada di sisi dia yang selalu menjadi rumah yang aku tuju untuk pulang.


Waktu beberapa detik itu sangat berkesan untukku. Saat aku tersadar dari pikiranku, Disa sudah lebih dulu memalingkan wajahnya dariku. Entah dia canggung atau seperti apa yang jelas aku masih melihat rona merah di pipinya seperti setiap kali aku menatapnya.


“Anda mau minum tuan?” tawarnya, setelah menaruh barang-barang di tangannya dalam sebuah keranjang.


“Tidak usah, terima kasih.” Aku lebih tertarik memperhatikan apa yang Disa kerjakan.


Tiga manekin berdiri di hadapanku. Satu dengan pakaian utuh khas eksekutif wanita muda yang elegan dan terkesan smart, sementara dua lainnya masih di balut kain yang belum rampung ia selesaikan.


“Ini baju yang kamu buat untuk Claire?” ku sentuh permukaan kain berwarna gelap yang kemungkinan akan sangat cocok di kenakan Claire. Disa memang pandai memilih warna.


“Iya tuan, baru selesai satu.” Akunya. Memandangiku yang tengah mengagumi karyanya. Seperti ada yang ingin ia katakan, tapi di tahannya.


Harus aku akui, tangan Disa memang magic. Kedua tangan mungil itu bisa membuat makanan yang enak, melukis gambar yang indah, mendesain baju yang cantik hingga menjahit baju yang bagus. Sayangnya sudah tidak bisa lagi aku genggam.


“Silakan teruskan pekerjaanmu. Saya tidak akan mengganggu.” Aku memilih untuk duduk di sofa, duduk dengan nyaman memperhatikan Disa yang terlihat canggung mendapat perhatian dariku.


“Baik tuan.”


“Em, kalau tuan ingin istirahat, tempat tidurnya bisa tuan pakai.” Ia menoleh ke arah tempat tidur yang rapi.


“Kamu tidak tidur? Saya bisa tidur di sofa.” Ku baringkan tubuhku di sofa, ternyata rasanya cukup nyaman.


“Saya sudah tidur tadi siang, saat pikiran saya sedang blank. Tapi sekarang saya sedang ingin melanjutkan pekerjaan saya dan tidak mengantuk sama sekali.” Disa kembali duduk di depan mesin jahit, aku bisa melihat semangatnya dengan jelas.


“Jangan terlalu memforsir tenagamu. Kamu perlu istirahat, kompetisi ini masih beberapa hari lagi dan kamu harus bertahan untuk tetap memiliki stamina yang kuat.”


Aku jadi menceramahinya, padahal biasanya Disa yang mengingatkanku akan hal itu.


Dia tersenyum tipis mendengar ujaranku, senyum yang selalu aku rindukan.


“Tentu tuan, kompetisi ini penting untuk saya dan saya akan berusaha untuk tetap sehat sampai semuanya selesai.” Aku terangguk setuju melihat tekadnya yang kuat.


“Baiklah, teruskan. Saya tidak akan mengganggu lagi.” Aku menyilangkan tanganku di depan dada dan sedikit meringkuk, tidur miring menghadap Disa. Tubuhku yang tinggi memang tidak bisa muat di sofa ini tapi cukup nyaman.


Ku lihat Disa memulai lagi pekerjaannya. Di sisi kanan mesin jahitnya ada cangkir yang aku berikan padanya. Dia memakainya dan rasanya menyenangkan mengetahui hal itu. Ku perhatikan dia yang mulai focus dengan pekerjaannya. Aku sadar, dia terlihat sangat cantik saat melakukan hal yang ia sukai.


Tidak, dia memang selalu cantik walau hanya berbalut piyama tidur. Itu cukup untuk membuatku terpesona dan tersenyum senang.


“Disa.” Aku suka menyebut nama itu.


“Ya saya.” dan sahutannya serta tatapannya, membuatku merasa menjadi prioritasnya.


“Bisakah bangunkan saya pagi nanti?” aku berniat untuk tidur karena mataku mulai perih.


“Tentu tuan. Tuan beristirahatlah.” Lagi dia tersenyum, membuatku tidak kuasa menahan gejolak perasaanku.


Dia kembali dengan pekerjaannya dan aku hanya memandanginya. Cukup dengan melihatnya, membuat pikiranku tenang. Perlahan namun pasti, mataku memincing lalu terpejam. Jangan tanya aku mimpi apa, karena aku mulai tidak ingat apapun selain satu nama yang aku gumamkan, Disa.


*****