Marry The Heir

Marry The Heir
Negosiasi baru



Kean masih melajukan mobilnya mengejar titik posisi Disa berada. Titik Disa terus bergerak semakin cepat dan membuat Kean harus menambah torsi kecepatannya.


“Shit!” dengus Kean saat melihat jarak ia yang semakin jauh dengan jarak Disa.


Berkejaran di jalanan ternyata tidak hanya di pengaruhi oleh kemampuan mesin mobil yang digunakan atau kemahiran dalam mengendalikannya tapi sangat di pengaruhi oleh fokus dan peluang dalam mengejar.


Hanya enam kilometer lagi ia sampai di titik 0 kilometernya Jakarta, tapi keadaan membuat ia begitu sulit untuk sampai ke sana. Barisan mobil yang mengular di antrian pintu keluar toll utama seperti penjeda yang baik yang membuat jarak mobilnya dengan mobil yang membawa Disa terpaut jauh.


Satu hal yang Kean yakini sekarang, seseorang membawa Disa secara paksa. Dan rasanya ia tahu ke mana arah pergi mereka.


“Sa, kamu harus baik-baik saja.” Kalimat itu terus di gumamkan Kean tidak ubahnya do’a selama dalam perjalanan. Perasaannya semakin tidak karuan diliputi kecemasan.


Begitu keluar dari pintu toll utama, Kean menginjak pedal gas hingga dalam dan semakin gila memacu kendaraannya.


Ada satu tempat yang ia langsung tuju, rumah utama.


Di perjalanan ia mencoba menghubungi Marwan tapi hanya kotak suara yang menyambutnya. Sepertinya laki-laki tua itu tahu cara paling mudah menyiksa Kean. Setelah beberapa panggilannya di abaikan oleh Kean, kali ini orang kepercayaan Sigit itu membalasnya.


“APA YANG KALIAN LAKUKAN HAH? APA??!!” Teriak Kean dengan berapi-api. “AARHG!! SH IT!!!” ia memukul stirnya untuk menyalurkan kemarahan. Dadanya terasa panas menahan gejolak kemarahan.


Kalau sudah berurusan dengan Sigit, inilah yang terjadi. Laki-laki itu seperti terlalu paham cara untuk membuat putranya melemah dan patuh yaitu dengan berusaha mengusik orang-orang yang penting untuknya.


Langsung menuju rumah utama dan di depan gerbang sudah ada beberapa mobil SUV terparkir.


“TET TET TEEEEETTTT!!!!” Kean menekan-nekan klakson mobilnya dengan tidak sabar agar petugas keamanan segera membuka gerbang.


Begitu gerbang terbuka, Kean segera masuk dan menginjak rem hingga berdecit di halaman rumah. Terlihat beberapa laki-laki berdiri menjedanya. Orang-orang yang Kean yakini adalah orang-orang yang sengaja di sewa Sigit untuk menghadangnya.


Kean turun dengan cepat, membanting pintu dengan keras dan tangannya yang mengepal Kuat.


“BUK!!” satu orang di tinju Kean. “APA YANG KALIAN LAKUKAN HAH? APA??!!!” Kean mengulang pertanyaan itu pada laki-laki yang terkapar di hadapannya.


“Tenang tuan, kami hanya,”


“BUK!!!” tinjuan berikutnya di layangkan Kean dan kembali berhasil melumpuhkan satu orang lagi.


“Kalian berani menyentuh wanita itu hah?!! Bagian mana yang berani kalian sentuh?!” memelintir tangan laki-laki di hadapannya hingga sang empunya meringis kesakitan. Tidak sampai di sana, Ia memukuli laki-laki itu dan mulai memancing teman-temannya untuk tidak tinggal diam.


Mereka terpaksa melakukan perlawanan. Mencoba menenangkan Kean memang tidak akan berhasil.


Satu lawan delapan dan akhirnya baku hantam itu terjadi. Kean memukul satu orang dan tiga lawannya berhasil membalas. Memukul Kean dan melayangkan tinjunya hingga memberi luka memar di wajah Kean hingga perut. Semakin sengit perlawanan Kean semakin sengit pula perkelahian itu.


“BUK!” satu pukulan keras mengenai dada Kean dan membuatnya terhuyung. Luka lebam sudah memenuhi wajahnya dan darah segar mengalir dari sudut bibirnya.


“HENTIKAN!!!” seru sebuah suara yang berteriak dari arah pintu.


Baku hantam itu pun terjeda dan terlihat Marwan yang berdiri di sana. Ia menatap dingin orang-orang kepercayaannya. “Apa kalian tahu siapa yang kalian hadapi?!” gertak Marwan. Ia tidak menyangka kalau akan terjadi baku hantam antara tuan mudanya dengan orang-orang kepercayaannya.


Mereka hanya terdiam dan menunduk, tidak berani mengangkat wajahnya.


Kean berusaha bangkit, menahan rasa sakit di seluruh tubuhnya. “Wah, mereka lebih menuruti perintahmu dari pada perintah tuan mudanya. Mereka lebih takut gertakanmu dari pada kemarahanku.” Ujar Kean dengan seringai sarkas di wajahnya.


Luka lebam yang pasti sakit sudah tidak ia hiraukan, ia berjalan menghampiri Marwan dan menatapnya dengan tajam.


“Maafkan saya tuan.” Lirih Marwan dengan penuh sesal. Ia sungguh tidak menyangka kalau Kean akan melakukan perlawanan membabi buta.


“Cih!” Kean berdecik. Meludahkan darah yang terkumpul di mulutnya yang terasa asin. “Kamu sangat khawatir kami tidak pulang sampai harus menjemput kami di jalananan?” imbuh Kean dengan sinis.


Tangannya mengepal erat hingga jari-jarinya memerah saat mengingat apa yang orang-orang suruhan Marwan lakukan.


“Demi mematuhi keinginan papah kamu tidak segan untuk menakut-nakuti seorang wanita yang tidak bersalah. Apa sangat menyenangkan menjadi anjing kepercayaan papah?” Kean Tersenyum sarkas, di tatapnya wajah Marwan yang tetap berusaha tenang, sangat menyebalkan.


“Sekali lagi anak buahmu berani menyentuh Disa, saya pastikan mereka akan pulang tanpa tangan. Termasuk orang yang berani memerintahkannya.” Kean berbisik dengan penuh penekanan.


Marwan tidak bergeming, tidak menimpali satu kata pun sampai akhirnya Kean pergi dari hadapannya dan berjalan cepat menuju ruangan Sigit.


“BRAK!!!!” sebuah dorongan kuat dari pintu yang kini terbuka lebar.


Mata Kean semakin menyalak saat melihat Disa yang bersimpuh di hadapan Sigit tanpa berani mengangkat wajahnya sedikitpun. Sementara Sigit, berdiri dengan angkuh di hadapan Disa, seolah sedang menegaskan siapa yang berkuasa di sini.


“BERDIRI!” seru Kean hingga membuat Disa tersentak. Entah apa yang di katakan Sigit pada Disa hingga gadis itu tampak ketakutan.


Gadis itu tidak menimpali, lebih memilih mengabaikan perintah Kean yang tertuju padanya. Sudah cukup kekacauan yang ia buat, ia tidak ingin membuat masalah ini semakin besar.


“BERDIRI KATAKU!!” Kean menarik lengan Disa hingga gadis itu terhenyak dan berdiri paksa dari tempatnya. Kakinya tampak gemetaran seperti tenaganya habis berganti rasa takut yang tidak bisa ia sembunyikan.


Melihat apa yang Kean lakukan, Sigit tersenyum sarkas.


“Cepat juga kamu datang. Apa harus seperti ini agar kamu berhenti mengabaikan papah?” Sigit dengan sikap tenangnya dan tatapannya yang mengintimidasi Disa.


“KELUAR!” Kean mengibaskan tangannya, mendorong Disa untuk keluar dan menjauh dari ruangan ini. ia tidak ingin Disa mendengar dan melihat apa yang akan terjadi kemudian antara ia dengan Sigit.


Disa tidak menimpali. Ia bahkan terlalu takut untuk menoleh pada dua laki-laki yang sedang berada di puncak amarahnya.


Langkahnya yang gontai, membawa Disa keluar dari ruangan dan tak lama pintu itu pun tertutup.


“Okey, apa sekarang kamu cukup bisa untuk tidak mengabaikan telpon papah dan marwan.” Sigit masih dengan sikap tenangnya, duduk di kursi kerjanya dengan kedua kaki tersilang.


Ia seperti mendapat senjata baru untuk melumpuhkan putranya.


“Kenapa papah harus melibatkan disa dalam masalah kita.” Kean masih dengan tatapannya yang tidak suka pada Sigit.


“Em, papah tidak melibatkan gadis itu. Papah hanya mencoba menyingkirkan orang-orang yang berurusan dengan kamu. Mereka terlalu ikut campur dalam keluarga kita.” Kalimat Sigit terdengar sangat yakin membuat Kean semakin sebal.


“Disa tidak pernah ikut campur apapun dalam masalah kita."


"Yang dia lakukan adalah berusaha mengubah cara pandang kean terhadap papah agar lebih baik."


"Harusnya papah merasa beruntung karena kean pernah berusaha untuk melihat papah dengan cara lain. Hanya saja, dari semua sudut pandang kean terhadap papah, tidak ada satupun hal yang bisa kean perbaiki .” Jawaban Kean tidak kalah mantap, membuat air muka laki-laki paruh baya itu, mulai mengeram kesal.


“Dia juga tidak membuat kean mengabaikan papah. Kean memiliki guru yang sangat hebat dalam hal mengabaikan dan dia ada di hadapan kean.”


“Apa papah lupa kalau pengalaman yang papah berikan adalah guru paling hebat buat kean?” kali ini Kean yang tersenyum sarkas. Seperti ia mampu mengungguli satu point yang sangat sulit di dapat saat menghadapi Sigit.


“Oh ya?” berusaha santai. Beranjak dari tempatnya, mengitari meja dan berdiri berhadapan dengan Kean.


“Apa kamu juga ingat pengalaman yang papah ajarkan tentang bagaimana cara mendapatkan sesuatu yang harus kita dapatkan?” seperti ada peluru lain yang Sigit siapkan untuk menghadapi putranya.


“Terkadang kita perlu cara yang sedikit keras, untuk mengendalikan apa yang harus tetap berada di tangan kita.” Sigit mengepalkan tangannya di hadapan Kean, seolah memperlihatkan bagaimana ia mengendalikan apa yang dia inginkan.


“Apa maksud papah? Papah sedang mengancamku?” semakin tidak terima, karena kali ini Sigitpun mengintimidasinya.


“Em, mengancam? Tentu saja tidak.” Sigit tertawa ringan melihat respon Kean. Sepertinya putranya tahu apa yang ia maksudkan.


“Papah hanya mencoba memberi kamu pilihan. Ikuti perintah papah, dan kamu masih bisa melihat perempuan itu baik-baik saja. Atau, kamu boleh mengabaikannya, berjuang seperti laki-laki bodoh yang siap mengorbankan segalanya demi seorang perempuan, dan dia akan menanggung akibatnya.”


“JANGAN PERNAH BERANI PAPAH MENYENTUH DISA!” seru Kean dengan cepat.


Ia tidak bisa membayangkan apa yang akan dilakukan Sigit pada Disa. Ia mengenal benar siapa laki-laki yang ada di hadapannya, laki-laki yang bisa menghalalkan segala cara demi mencapai keinginannya.


“Sepertinya kamu setuju dengan pilihan pertama.” Sigit tersenyum puas, berhasil memaksa Kean mengikuti kemauannya.


Kean tidak menimpali, kemarahannya masih terlalu besar untuk ia memulai berfikir.


*****