
POV Kean
“I want to visit your country. I heard that the girls are beautiful and sexy. It must be so much fun. (Aku ingin mengunjungi negaramu. Aku dengar kalau gadis-gadisnya cantik dan seksi. Pasti akan sangat menyenangkan.)”
Aku masih mengingat sepenggal kalimat yang diucapkan Adam saat ia mengantar kepulanganku ke Indonesia. Tepatnya, di bandara saat dia menjabat tanganku. Dan sepanjang perjalanan pulang, kalimat ini lah yang terus terngiang di telingaku. Bagaimana Disa? Apa yang adam lakukan pada Disa?
Aku mengenal betul sahabatku Adam. Ia laki-laki petualang yang sangat suka mengejar dan di kejar Wanita. Entah berapa Wanita yang sudah ia kencani dan ia ajak tidur. Tidak pernah ada komitmen antara ia dengan wanitanya. Semuanya hanya untuk kesenangan semata, menghibur dirinya yang kesepian.
“Astaga!” aku mengusap wajahku dengan kasar saat bayangan Adam yang berbicara dengan Disa melintas di pikiranku.
Ku pacu mobilku dengan kecepatan tinggi sambil sesekali melirih ipad yang aku pasangkan di dashboard. Kemana mereka?
Ku lihat di rekaman CCTV yang berada di teras rumah, Disa sudah tidak ada di sana. Lalu ku pilih tampilan ruang tengah, tidak ada juga mereka disana. Dan, “SHIT!!!”
Aku spontan menginjak remku saat mobilku hampir menabrak kendaraan lain yang berbelok tanpa aku sadari.
“Pake mata lo anj*ng!” seru pengendara mobil yang memakiku.
Arrghh!! Kenapa ceroboh sekali? Aku hampir menabrak kendaraan lain karena fokusku terbagi.
Tapi Aku tidak ambil pusing. Aku kembali melajukan mobilku dengan lincah, menyalip satu per satu kendaraan yang berbaris di hadapanku. Kenapa harus sebanyak ini kendaraan di Jakarta? Sudah ada pemisahan lajur pun tetap saja mereka menggunakan lajur yang tidak sesuai dengan jenis kendaraan mereka.
Aarrgghh!! Rasanya aku ingin memaki mereka.
“Ayooo, kita harus segera sampai.” Gumamku yang hanya fokus pada jalanan. Aku abaikan tampilan di ipad karena ku pikir keselamatanku lebih penting. Walau aku merasa sangat cemas tapi apa boleh buat aku tetap harus fokus.
Aku melafalkan do’a dalam hatiku. Berharap Disa baik-baik saja tanpa di ganggu oleh Adam.
Jika ku ingat kembali, baru kali ini aku menyebut sebuah nama seorang wanita dalam do’aku. Sebelumnya aku tidak pernah peduli. Urusan mereka ya urusan mereka, aku hanya perlu berjalan lurus menyelesaikan masalahku sendiri. Tapi kali ini semua berubah.
Gerbang town house sudah terlihat di depan sana. Aku segera berbelok dan hanya membunyikan klakson saat petugas keamanan memperhatikan kedatanganku. Entah apa isi gumamannya, aku tidak mendengarnya.
“Cekiiitt!!” ku injak pedal rem tepat di hadapan gerbang rumahku.
Rahmat berlari dari pos satpam, membukakan gerbang untukku. “Mereka udah masuk ke rumah tuan.” Ujarnya saat ku turunkan sedikit kaca jendelaku.
Aku hanya mengangguk, lantas memarkirkan mobilku di depan rumah.
Aku turun dengan segera dan menutup pintu mobil sedikit kasar. Itu refleks setiap orang saat sedang tergesa-gesa bukan?
Tanpa membunyikan bel, aku langsung masuk. Membuka pintu dengan kasar lalu menutupnya Kembali.
“DISA!” teriakku.
Tidak ada sahutan yang ingin aku dengar. Ku lihat tidak ada seorang pun di dalam rumah. Astaga, kemana perginya mereka?
Aku naik ke lantai 2 rumahku. Menaiki tangga dengan setengah berlari. Suasana di lantai atas juga sepi. Ku buka pintu kamarku, masih rapi. Tidak ada tanda-tanda seseorang masuk.
Aku mencari ponselku dan mencari nama Disa untuk ku hubungi.
“Assalamu ‘alaikum tuan.” Ku dengar suaranya yang tenang dan membuatku bisa sedikit menghela nafas lega.
“Wa’alaikum salam. Kamu dimana?” tanyaku cepat. Aku tidak punya waktu untuk berbasa basi.
“Saya, sedang menjemur pakaian tuan. Apa ada yang anda perlukan tuan?”
Akhirnya aku bisa benar-benar menghela nafas lega, ternyata prasangkaku tidak benar-benar terjadi. “Ya sudah, selesaikan pekerjaanmu.” Timpalku sekali lalu mengakhiri panggilan.
Aku turun ke ruang tengah terduduk di sofa untuk menenangkan jantungku yang tadi berdebar kencang seperti habis lari sprint.
“Tuan, anda sudah pulang?” suara yang ku kenal menyapaku saat bayangannya muncul dari balik pintu.
“Hem. Apa adam ada ke sini?” tanyaku. Ku lepas jas ku yang membuatku gerah, sekaligus ku longgarkan dasiku. Baru aku sadari ternyata aku bisa overthinking juga.
“Oh, tuan adam sedang di kamar mandi. Tadi katanya dia ingin ke toilet.” Disa melirik kamar tamu tempat Adam berada. “Anda mau minum tuan? Sepertinya ada sangat lelah?” tawar Disa. Ia seperti bisa membaca setiap perubahan raut wajahku.
“Iya.” Aku hanya menimpalinya seperti itu. Ku jatuhkan tubuhku di sofa, aahh… rasanya sangat nyaman.
Dia mengambilkanku segelas air putih dengan minuman lain di sampingnya. Terlihat segar karena di tambahkan sedikit es batu.
“Silakan tuan.” Ia menaruh kedua minuman tersebut di hadapanku.
“Kenapa ada dua minuman?” tanyaku.
“Sebelum tuan minum minuman dingin, tuan bisa minum air putih dulu supaya perubahan suhu tubuh tuan tidak drastis.” Terangnya dengan senyum diplomatis.
Aku tersenyum samar mendengar jawabannya. Ternyata banyak hal yang ia tahu dan memberiku ilmu baru.
“Adam tidak mengganggumu?” tanyaku setelah meneguk minuman manis yang Disa buat.
“Em, mengganggu? Mengganggu seperti apa yang tuan maksudkan?” ia tampak mengernyitkan dahi, berusaha memahami pertanyaanku.
“Baguslah kalau dia tidak menganggumu.” Mana mungkin juga ku tanyakan kenapa tadi Adam mepet-mepet saat dia baru datang.
Dia kembali tersenyum dan meninggalkanku untuk meneruskan pekerjaannya di dapur sementara aku meneruskan untuk menikmati minuman dingin ini. Sedikit ku lirik, ternyata ia sedang membuat makan siang. Ku lihat jam, ini memang sudah hampir jam makan siang. Bisa ku bayangkan, kalau aku tidak pulang mungkin saat ini ia tengah kerepotan memasak dan menyiapkan makan siang untuk ia bawa ke kantor.
Tapi sepertinya hari ini aku akan makan siang di rumah. Padahal sudah ku bayangkan bagaimana rasanya makan siang di rooftop. Pasti menyenangkan.
“Bro, you’re home?!” suara tidak asing terdengar di belakangku.
“Ya! I heard you stopped by my house. (Ya! Aku dengar kamu mampir ke rumahku.)” aku beranjak dari tempat dudukku dan ku hampiri sahabatku yang beberapa bulan ini tidak aku lihat.
Kami saling berangkulan, keakraban kami memang tidak pernah berubah.
“I came back from Bali so stopped by for a while before heading back home. (Aku pulang dari bali jadi mampir sebentar sebelum kembali pulang.)” akunya seraya melepaskan rangkulan kami.
“So, how bali?” aku mengajak Sahabatku untuk duduk di sofa. Sudah lama kami tidak berbincang.
“I believe that your country is so beautiful. Lots of beautiful girls and they are very friendly. Including her. (Aku percaya kalau negaramu memang indah. Banyak gadis cantik dan mereka sangat ramah. Termasuk dia.)” sudut matanya melirik Disa dan jujur aku tidak suka.
Aku hanya tersenyum samar lantas meneguk minumanku.
Tidak lama Disa datang dengan minuman yang sama seperti yang ia buat untukku. Hah, kenapa harus sama, jadi tidak terasa special. Aku mendengus kesal dalam hatiku.
“Thank you my lovely disa.” Ujar Adam. Nah, kalian percaya kan kalau Adam itu perayu sejati? Kata-kata modus terbungkus rapi di balik pemilihan kata yang manis. Memang sangat ahli.
Disa hanya mengangguk lalu meninggalkan kami untuk kembali ke dapur.
“She’s so nice. May I,”
“NO! BIG NO!” aku langsung menjawab sebelum Adam menyelesaikan kalimatnya. Sudah terbaca kemana arah dia berbicara nantinya. “But she’s not your girl friend right?” tanya Adam dengan santai sekali lalu meneguk minumannya dengan nikmat.
“Don't bother her. (Jangan ganggu dia.)” Ujarku lirih namun penuh penekanan.
“Okey! Fine!” sahut Adam yang terkekeh. Entah apa arti tawanya. “Oh you should know, one of the girls I dated in Bali owns a cafe in Jakarta. Could you come with me to fulfill her invitation? (Oh kamu harus tau, salah satu gadis yang aku kencani di bali memiliki sebuah cafe di jakarta. Bisakah kalian ikut denganku untuk memenuhi undangannya?)” Adam menatapku dan Disa bergantian. Rencana apa lagi yang ada di kepalanya.
Aku tidak menjawabnya, lebih memilih menunggu jawaban Disa lebih dulu.
“Could you come with me my baby, disa?” terang-terangan Adam mengeluarkan kalimat yang biasa ia gunakan pada para gadis yang biasa ia ganggu.
Aarrgghhh aku benar-benar tidak menyukainya.
“Thank you sir, but I cann’t.” Yes!! Ternyata Disa menolaknya. Mantap bukan rasanya?
Aku langsung tersenyum dalam hati dan menandaskan minumanku.
“Disa, siapkan makan siang.” Ujarku agar Disa fokus karena tiba-tiba saja perutku menjadi lapar.
“Baik tuan.” Ia menyahuti dengan semangat.
“Hey, what about you man? Come on! I should go home tomorrow. Give me a minute of your time. (Hey, Bagaimana denganmu sobat? Ayolah! Aku harus kembali besok. Luangkan waktu kalian sebentar untukku.)” rupanya Adam bisa merajuk juga.
Aku mengabaikannya. Lebih memilih berjalan menuju wastafel di dapur dan mencuci tangaku di samping Disa.
“Apa tadi dia juga memaksa untuk masuk?” Disa sontak menarik tubuhnya, rupanya dia kaget karena tiba-tiba aku berbisik di telinganya. Wajahnya langsung memerah seperti tomat.
“Tidak tuan. Beliau datang dengan baik-baik.” Jawabnya pelan. Padahal keras pun Adam tidak akan mengerti.
“Hey, you guys ignored me. (Hey, kalian mengabaikanku.)” protes Adam.
“Okey, I’m in.” timpalku. Iya kan saja dulu sebelum dia mengancam dengan membuka rahasia-rahasiaku.
“Waw! That’s my bro!” seru Adam dengan senang.
Aku langsung menuju meja makan menyusul Disa yang sedang menata makanan. Adam pun ikut duduk berhadapan denganku.
“Come on sweetheart. Join with me, hem…” Adam memberikan rayuan mautnya pada Disa.
Disa sedikit menatapku, sepertinya ia perlu izin. Aku juga tidak mengerti bagaimana bisa mereka akrab secepat ini. Apa yang terjadi saat aku tidak ada di tempat ini.
“Kamu boleh ikut kalau mau. Lagi pula, adam jarang-jarang datang ke sini.” Ujarku sok bijak.
Untuk beberapa saat Disa tampak berfikir. Aku tahu ia masih ragu.
“She’ll come. (Dia akan ikut.)” aku yang mewakilinya untuk bicara.
“Wow! Okeeyy lets go to party!” seru Adam yang kembali semangat. Akhirnya makan siang kami penuh dengan cerita Adam selama di bali.
Ia menceritakan semua kegiatannya tanpa sungkan, termasuk apa yang ia lakukan dengan para gadisnya. Aku sudah terbiasa mendengar cerita Adam, tapi Disa? Beberapa kali aku melihat wajahnya memerah saat mendengar cerita Adam yang sedikit vulgar. Ia pun sering meminum airnya. Mungkin tenggorokannya tercekat mendengar cerita-cerita Adam yang hot. Hah, memang anak ini tidak tahu sikon.
*****
Yuhuuu.... Apa kabar nih? Sehat semua kan? Kalau ada yang sedang sakit, semoga lekas sembuh yaaa.. Semangkaaaaa!!!
Well, covidah semakin menggila yaa.. Please jaga selalu kesehatan. Walau terkadang usaha kita masih memberi titik lengah, tapi tetap usahakan terhindar yaa dari virus jahat ini.
Semoga kita sehat selalu.
Next part aku kasih dikit yang dug-dug serrr yaa,,, di tunggu, hehe...
Happy reading semua. Terima kasih untuk kesetiaannya membaca novel ini. Like, komen, favorit dan vote kalian itu penyemangat banget buatku.
See you on next part.
Naya_handa