
Kepulangan Disa sudah di tunggu banyak orang. Salah satu yang sudah menantinya adalah Kean yang menjemputnya langsung ke bandara.
Disa langsung berlari menghampiri suaminya yang sudah menunggunya dengan rasa rindu.
“Hey, rindu kamu.” Bisik Kean saat Disa masuk ke dalam pelukannya.
Di dekapnya Disa dengan erat, seraya mengecupi pucuk kepalanya. Seperti tidak peduli pada banyak pasang mata yang menatap keduanya termasuk assistantnya dan Clara.
“Aku juga kangen aa,” lirih Disa yang mellow.
Ia tidak menyangka kalau satu malam saja tanpa Kean di sisinya terasa sangat sepi. Walau semalam ia memang baru tidur menjelang dini hari karena Clara mengajaknya berbincang hingga larut. Rasa lelah dengan aktivitas seharian tidak lantas membuat matanya langsung terpejam. Ada rasa kosong yang dirasakan Disa.
Bayangan Kean berbaring di sampingnya juga di rasakan benar oleh Disa. Seperti sudah menjadi kebiasaan saat ia menoleh maka wajah tampan milik suaminya yang akan ia lihat.
Hal yang sama juga di rasakan Kean. Semalaman ia memilih tidur di sofa, sambil memandangi mural buatan istrinya. Mengingat setiap waktu yang ia lewati dengan tertawa bersama Disa, membuat Kean semakin rindu.
Satu malam saja jauh dari Disa ternyata cukup menyiksanya. Jika saja Disa pergi lebih dari satu malam, mungkin ia akan menyusul secepatnya. Banyaknya video yang di kirimkan assistant Disa juga panggilan video dan pesan yang ia terima, tidak lantas mengurangi rasa rindunya yang menggunung.
“Gimana kabar aa? Kok kayaknya kurusan.” Disa memandangi wajah Kean yang tampak Lelah.
Diusapnya pipi suaminya yang ditumbuhi rambut halus dengan kumis tipis yang membuatnya terlihat maskulin. Satu hari di tinggalkan, Kean seperti tidak diurusnya berhari-hari.
“Aku baik-baik aja. Cuma kangen kamu aja.” Timpal Kean yang kembali memeluk Disa. Ia bisa menghela nafas lega karena akhirnya Disa pulang ke sampingnya.
Untuk beberapa saat Disa memejamkan matanya, menikmati saat ia mendengarkan detak jantung Kean yang selalu membuatnya nyaman. Juga hembusan nafasnya yang hangat dan memanjakan Disa.
“Gak usah pamer depan gue dong!” sinis Clara yang menghampiri Kean dan Disa.
Disa baru tersadar kalau di dunia ini tidak hanya ada mereka berdua. Dengan cepat Disa melepaskan pelukannya. Bisa terlihat wajahnya yang merona karena malu.
“Sirik aja lo! Om Marcel gak jemput?” sengit Kean. Tidak terlihat tanda-tanda Marcel datang menjemput Clara.
“Nggak! Dia lagi ada pemotretan. Baru selesai sore nanti.” Clara melihat jam tangannya yang baru jam 11 siang.
“Lo mau pulang bareng gue sama disa?” tawar Kean. Tidak tega juga membiarkan Clara pulang sendiri padahal sahabatnya ini sudah menjaga Disa dengan baik.
“Gak usah, gue bareng assistant gue. Assistant disa juga ikut aja sama gue, biar gak ganggu lo berdua.” Clara memelankan suara di ujung kalimatnya sambil mengerlingkan matanya, usil.
“Lo emang pengertian. Thanks Claire.” Timpal Kean.
Clara terangguk-angguk saja. Jelas ia mengerti, karena ia pun pernah mengalami menjadi bucin dari orang yang ia cintai.
“Ya udah, gue duluan. Sekali lagi makasih udah jagain disa.” Kean memeluk sahabatnya sebagai bentuk perpisahan.
“Hem, sama-sama. Jangan lupa kunci pintu biar gak ada yang ganggu.” Timpal Clara yang tersenyum jahil di ujung kalimatnya.
Kean hanya tersenyum, santai sekali seorang Clara mengatakan hal yang seperti itu.
“Claire, makasih ya.” Berganti Disa yang memeluk Clara.
“Hem, sama-sama. Jangan lupa pikirin apa yang kita obrolin semalam. Masih ada kesempatan untuk lo menjadi diri lo sendiri dan membahagiakan diri lo.” bisik Clara seraya menepuk bahu Disa dengan lembut.
Disa hanya tersenyum, ya ia memang harus memikirkan apa yang mereka perbincangkan semalam.
Kean membawa Disa pulang lebih dulu. Mereka melambaikan tangan pada Clara dan dua assistant-nya sebagai bentuk perpisahan. Di dekapnya lengan Kean dengan erat saat mereka melangkah meninggalkan bandara.
“Apa gue ajak marcel nikah sekarang aja ya?” gumam Clara saat melihat romantisme sahabatnya.
Dalam benaknya, ia sudah melewati banyak pengalaman romantis dengan Marcel tapi melihat Kean dan Disa, rasanya apa yang ia lakukan dengan Marcel tidaklah cukup. Ada rasa keterikatan yang tidak mereka miliki, seerat yang di miliki Kean dan Disa.
Setiap hubungan cinta itu sama rasa romantisnya yang berbeda adalah ketenangan dalam menjalaninya. Itulah mengapa adanya ikatan yang disebut sebuah pernikahan. Karena romantisme dalam pernikahan itu memiliki ikatan yang lebih kuat.
****
“Sayang, mamah minta kita pulang ke rumah utama. Kamu gak keberatan?” tanya Kean saat mereka sudah berada di dalam mobil. Teriknya matahari Jakarta membuat mereka bergegas masuk untuk merasakan dinginnya AC mobil.
Sebelum menjemput Disa, beberapa kali Arini dan Shafira menelponnya untuk mengingatkan agar membawa Disa pulang ke rumah utama. Katanya mereka ingin membuat perayaan kecil untuk Disa.
“Iya a, aku juga kangen sama mamah dan fira. Oh iya, gimana kabar papah hari ini?” tiba-tiba saja Disa teringat pada Sigit.
“Baik.” Hanya itu jawaban pendek Kean. Ia tidak terlalu suka membahas Sigit dalam obrolannya bersama Disa.
Disa menyudahi rasa penasarannya. Sepertinya membicarakan Sigit saat ini tidak akan berdampak baik untuk perasaan suaminya. Akhirnya Disa memilih bungkam dan memasangkan seatbelt melingkari tubuhnya.
Melihat Disa yang langsung terdiam, Kean jadi memperhatikan Disa diam-diam. Ia masih tidak habis pikir bagaimana Disa masih begitu peduli pada ayahnya. Apa Disa benar-benar lupa dengan apa yang pernah Sigit lakukan terhadapnya? Apa berdamai dengan masa lalu itu sangat mudah untuk Disa?
“Aku bantu.” Ujar Kean saat Disa tampak kesulitan memasangkan sabung pengamannya.
“Makasih a.” lirihnya pelan.
Kean hanya tersenyum. Rupanya jawaban ia yang terlalu acuh tentang Sigit membuat Disa tidak nyaman.
“Aku minta maaf.” Ujar Kean seraya memandangi Disa.
“Untuk?” Disa balas menatapnya.
Kean tampak menghela nafas dalam lantas mengguyar rambutnya. Ia menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi dan memandang lurus ke depan sana.
“Aku udah berjanji untuk berdamai dengan masa lalu tapi ternyata tidak semudah itu. Aku masih kesulitan untuk melupakan apa yang pernah papah lakukan terhadapku dan mamah. Semuanya seperti baru kemarin dan aku masih merasakan rasa sakit diabaikan itu. Untuk itu, aku minta maaf sa.” Lirih Kean yang kini menatap Disa.
Disa tersenyum tipis, diraihnya tangan Kean untuk ia genggam dengan erat.
“Berdamai dengan masa lalu, bukan berarti aa harus melupakan semuanya.” Disa mengawali kalimatnya.
“Berusaha keras melupakannya, malah akan membuat aa semakin ingat. Yang bisa aa lakukan sekarang, adalah menerima papah secara utuh. Ingat, orang baik itu punya masa lalu dan setiap orang punya masa depan untuk lebih baik.”
“Kita gak pernah tahu apa yang akan terjadi pada papah ataupun pada kita yang masih bisa berdiri tegak. Yang kita harus tau, selagi ada di samping kita, kita harus menyayangi satu sama lain, terlepas apapun kesalahan kita di masa lalu.” Tegas Disa.
Kean tertunduk beberapa saat, mencoba memahami apa yang Disa katakan. Ia terangguk pelan saat menyadari kalau Disa benar, tidak ada yang bisa mengubah masa lalu. Tapi kita bisa menentukan apa yang bisa kita lakukan saat ini dan di masa depan. Termasuk dengan cara penerimaan kita terhadap orang-orang di sekitar kita.
“Terima kasih sa,” ia membalas genggaman tangan Disa dengan sangat erat.
“Kamu selalu memberi aku ketenangan dan membuka pikiranku yang sering kali buntu.” Di tangkupnya satu sisi wajah Disa dengan tangannya lantas ia usap dengan lembut.
Disa tersenyum tipis dengan tatapan hangat yang ia tujukan pada suaminya. “Sama-sama a. terima kasih juga karena aa selalu berusaha melakukan hal terbaik untuk kita.” Timpal Disa.
Satu tangannya mulai bergerak menelusur garis tubuh Disa. Mengusap gundukan sintal di dada Disa yang ia remas perlahan membuat bulu kuduk Disa meremang seluruhnya.
Disa segera menahan tangan Kean dan melepas kecupannya.
“A, nanti orang lain liat.” Lirih Disa dengan terengah-engah.
“Kaca mobil kita gelap.” Kean beralasan, merebahkan jok Disa membuatnya nyaris terlentang.
Kean kembali menyerang Disa, menyesap habis bibirnya lalu beralih menelusur garis leher Disa, mengecupnya kecil-kecil yang membuat Disa mendesah. Ia sangat merindukan wangi dan suara ini.
“A,” Disa menahan wajah Kean agar tidak meneruskan apa yang sudah mereka mulai.
“Orang bisa mendengar suaraku. Kita pulang dulu supaya bisa lebih tenang.” Susah payah ia menahan Kean yang terus memberinya rangsangan tanpa bisa ia tolak.
Kean membuang nafasnya kasar, gairahnya sudah di ubun-ubun namun harus segera ia akhiri. Disa benar, walau yang ia lakukan saat ini memberi sensasi yang berbeda tapi membuat istrinya nyaman jauh lebih penting.
“Baiklah.” Susah payah Kean menahan kembali gairahnya.
“Makasih sayang.” Disa mengusap pipi suaminya dan merapikan baju kean yang berantakan.
Kean luluh, ia menaikkan kembali sandaran duduk Disa setelah beberapa kali menghela nafasnya dalam untuk mengendalikan dirinya sendiri. Beberapa saat ia memandangi Disa dengan penuh perasaan. Disa memang selalu mampu mengendalikannya dalam hal apapun.
“Kita pulang.” Ujar Kean yang mulai menyalakan mesin mobilnya.
“Iya a.” Disa merapikan rambutnya yang berantakan dan mengancingkan kembali beberapa kancingnya yang semula di lepas paksa oleh Kean.
Sepanjang perjalanan mereka saling menggenggam tangan, menikmati waktu yang bergulir dengan kehadiran satu sama lain. Seperti ini saja cukup, asalkan ada untuk satu sama lain.
****
“Cheerrss!!!” seru Shafira yang mengajak Disa, Kean dan Arini bersulang. Masing-masing memegang gelas yang berisi minuman ringan untuk mereka nikmati.
Rupanya seperti ini bentuk perayaan yang disiapkan Shafira dan Arini menyambut kepulangan Disa. Masing-masing meneguk minumannya hingga hampir tandas.
“Selamat ya sa, mamah sampe terharu ngeliat wawancaranya. Kamu yang terbaik.” Pujian pertama terdengar dari mulut Arini.
“Mamah melihatnya?” Disa sampai tidak percaya.
“Iya mamah liat sama fira.”
“Iya teh, aku liat di youtube official mereka yang lagi live streaming. Ya walaupun tidak full dan hanya cuplikan tapi teteh keren banget. Aku bener-bener bangga! You great girl!!!” seru Shafira seraya memeluk Disa dengan erat.
“Makasih fir,” timpal Disa yang tidak bisa menahan rasa harunya. Ia merasa sangat beruntung di kelilingi orang-orang yang begitu menyayangi dan mendukung pencapaiannya.
“Majalahnya kapan terbit sa? Mamah udah gak sabar pengen baca lengkap.” Arini ikut antusias.
“Hari rabu ini mah. Mereka berjanji akan mengirim beberapa majalah ke butik.”
“Waw, aku mau satu ya teh. Pokoknya wajib satu buat aku supaya bisa aku baca berulang-ulang.” Pinta Shafira sambil bermanja.
“Iya, nanti satu buat fira. Lagi pula, teteh gak bakal lupa kalau teteh ada di titik ini berkat fira yang dulu nyemangatin teteh untuk ikut kompetisi itu. Makasih ya fir.” Di peluknya Shafira dengan erat.
“Sama-sama teh. Aku memang menyemangati teteh tapi teteh yang udah berusaha keras sampai sejauh ini. Aku bener-bener bangga sama teteh. Fira harap, fira juga bisa mencapai cita-cita fira seperti teteh.” Shafira menyahuti. Disa seperti inspirasi untuk Shafira karena bisa meraih cita-citanya di tengah banyaknya keterbatasan.
“Aamiin.. Teteh do’akan.” Disa mengusap punggung Shafira untuk menyemangati gadis baik ini.
“Emang fira bercita-cita mau jadi apa?” pertanyaan itu d lontarkan Arini.
Shafira menegakkan tubuhnya lantas tersenyum dengan penuh harap. “Fira mau jadi penyanyi tante. Penyanyi yang membawakan lagu yang bisa dinikmati banyak orang. Terus lagu fira di dengarkan di banyak sudut kota untuk menemani orang-orang melakukan aktivitasnya.” Tegasnya dengan mata berbinar-binar. Seperti harapan itu tengah menyala di dalam hatinya.
Arini tersenyum tenang. “Tante juga do’akan cita-cita fira terwujud yaa… Fighting!!!” seru Arini sambil mengepalkan tangannya menyemangati Shafira. Terlalu banyak di ajak nonton drama korea membuat Arini mirip ama-ama Korea yang menyemangati anaknya.
“Makasih tan,” timpalnya. “Abang gak nyemangatin aku juga?” rengek shafira yang menatap Kean tajam.
“Hem, semangat.” Kalimat itu diucapkan dengan kaku oleh Kean dan membuat Shafira tertawa renyah.
“Dasar kanebo kering, kaku beut!!” gumam Shafira yang membuat Arini tertawa.
Suara langkah kaki terdengar cepat menuruni tangga dari lantai atas. Seorang pelayan yang tidak lain adalah Tina berlari dan menghampiri mereka berempat.
“Nyonya, tuan, maaf mengganggu.” Ujarnya dengan tergesa-gesa.
“Ada apa? Bicara pelan-pelan.” Timpal Arini.
Tina berusaha menghela nafas mengatur Kembali nafasnya yang memburu.
“Maaf nyonya, itu tadi kata suster, tuan besar,” Tina dengan wajahnya yang tegang dan nafasnya yang terengah-engah.
“ADA APA?!” seru Arini.
“Tuan besar,” Tina hanya menunjuk ke atas dan kesulitan meneruskan kalimatnya.
Dengan cepat Kean, Disa dan Shafira berlari menaiki anak tangga menuju lantai 2. Sementara Tina mendorong kursi roda Arini menuju jalan memutar. Mereka takut terjadi sesuatu pada Sigit.
Di pintu kamar Sigit langkah Kean, Disa dan Shafira terhenti. Mata mereka membulat, menatap tidak percaya pada Sigit yang sedang terduduk di tempat tidurnya.
“DADY!!” seru Shafira yang berhampur menghampiri Sigit dan memeluknya.
“Dady udah sadar?” lirihnya antara kaget bercampur senang.
Sigit tidak menjawab. Ia malah mengalihkan pandangannya ke arah pintu dan memandangi Disa yang berdiri di kejauhan.
“Sedang apa kamu di sana?” tanya Sigit dengan tatapan tajam yang tertuju pada Disa.
Kean yang berdiri di samping Disa, segera mendekati Disa lantas menggenggam tangan Disa yang gemetaran. Wajahnya yang tegang dan pucat pasi, seperti gadis ini masih sangat terkejut dengan sadarnya Sigit di tambah pertanyaan yang membuatnya tidak berani beranjak dari tempatnya.
“Dia istriku. Tentu saja dia ada di sini.” Jawab Kean dengan tegas. Ia bersiap menghadapi Sigit jika Sigit melakukan hal tidak menyenangkan pada istrinya.
Sigit hanya tersenyum tipis lantas menatap Kean dengan tajam. “Istrimu?” tanya Sigit.
Pertanyaan Sigit membuat jantungnya seperti berhenti berdetak. Tajam dan menusuk. Kaki Disa rasanya langsung lemas mendengar pertanyaan itu. Apa ia harus bersiap untuk sebuah penolakan lagi?
*****