Marry The Heir

Marry The Heir
"Aku menyesal."



Seperti peluru yang baru di letuskan dari senjata, Aku melajukan mobil dengan kecepatan tinggi. Menyalip satu per satu kendaraan di depanku dengan penuh keyakinan. Tidak terlalu yakin juga sebenarnya, yang aku tahu hanya aku harus segera sampai. Maka kuikuti setiap lekuk jalanan yang tengah ku tempuh. Tujuan hanya satu, sampai Jakarta di waktu yang tepat.


Bukan perkara mudah untuk membagi konsentrasi saat aku harus mengatur kendali stir dengan memperhatikan GPS.


Titik Disa masih belum berpindah, ada di gallery milik Reza. Perasaanku semakin tidak menentu membayangkan apa yang Disa lakukan selarut ini. Ku cengkram stir kuat-kuat saat bayangan Disa dan Reza masuk ke dalam pikiranku. Rasanya aku ingin membenturkan kepalaku sendiri saat bayangan wajah Disa yang tersipu mendapat tatapan dari Reza begitu jelas memenuhi benakku.


“Shit!” baru kali ini aku merasakan suatu ketakutan yang tidak aku sadari alasannya.


Menggulung jalanan, membelah keramaian ibu kota semua kulakukan. Masih bisa bersyukur saat usahaku tidak sia-sia karena sepertinya aku masih bisa mencari tahu apa yang Disa lakukan di gallery Reza.


Aku memelankan laju mobil dan memperhatikan Disa yang tampak berada di ruang lukis, diam-diam. Wajahnya yang tenang terlihat serius saat menggoreskan kuas di kanvas yang ada di hadapannya. Memangnya apa yang akan aku lakukan setelah melihat Disa memang ada di sini?


Okey, katakan saja aku penasaran.


Penglihatanku tidak cukup jelas maka aku memutuskan untuk menghentikan laju mobil dan turun. Ku lompati pagar taman yang tidak terlalu tinggi dan mengendap-endap mencari tempat persembunyian yang aman.


Seperti maling, tidak, aku merasa lebih dari itu. Dan parahnya aku masih belum menemukan alasanku melakukannya.


Disa beranjak dari tempatnya dan menutup jendela yang masih terbuka. Sudah jam 10 malam, sangat wajar kalau Disa bergidik kedinginan. Sejenak ia menghela nafasnya dalam di depan jendela seraya memejamkan matanya yang sayu. Cantik sekali saat ia tersenyum, menikmati hawa malam yang mewangi bercampur wangi bunga-bunga.


Dengan segera aku bersembunyi saat melihat Disa yang memperhatikan lingkungan sekitarnya.


Huft, syukurlah Disa tidak melihatku. Aku bisa menghela nafas lega, saat akhirnya Disa menutup jendela dan mengenakan jaket yang ia sampirkan di sandaran kursi. Mungkin ia akan pulang.


Disa kembali duduk di tempatnya menyelesaikan gambar yang ia Lukis. Gambar apa yang ia buat, kenapa melukis dengan wajah secantik itu?


Tunggu, apa yang dilakukan Reza? Mengapa Reza menghampirinya dengan senyum tidak jelas? Ia terlihat mengucapkan beberapa kata tapi aku tidak bisa mendengarnya. Jarakku terlalu jauh.


Hah, apa yang dia lakukan?


Jantungku seperti berhenti berdetak saat tiba-tiba Reza bertekuk lutut di hadapan Disa dan memberikan sebucket bunga. Reza menatap Disa dengan laman dan bibirnya bergumam. Apa yang dia katakan? Sial! Aku tidak bisa mendengarnya.


Aku berusaha kembali mendekat, masih tidak terdengar juga. Argh aku kesal!


Ku perhatikan ekspresi wajah Disa yang tampak terkejut. Ia menerima bucket bunga dari Reza, mencium wanginya lantas tersenyum. Bibirnya balas bergumam dan aku tidak dengar apa yang dia katakan. Tuhan, susah sekali mencuri dengar.


Otakku mencoba memperkirakan dialog apa yang mereka lakukan. Reza mengusap kepala Disa, lalu Disa mengangguk.


Tunggu, apa Reza sedang mengutarakan perasaannya? Apa dia benar-benar melakukan rencananya untuk menyatakan cintanya pada Disa? Bagaimana kalau dugaanku benar?


Aku segera berbalik dan berpegangan pada batang pohon di sampingku. Kenapa tiba-tiba dadaku sakit sekali? Ku remas bajuku untuk menguatkan otot yang melingkup jantungku tapi rasanya aku tidak sanggup. Dadaku terlalu sakit sampai kakiku lemas dan akhirnya jatuh terduduk.


Apa Reza benar-benar menyatakan perasaannya? Lalu apa jawaban Disa?


Aarrhhh!!! Aku meremas rambutku frustasi.  Kenapa sesakit ini melihat Disa dengan Reza?


Tuhan, ada apa denganku?


Harus aku akui, dari sekian banyak wanita di dunia ini, Disa yang bisa membuat hatiku tergetar dan merasakan debaran kencang. Aku diminta melakukan pemeriksaan jantung saat aku katakan, jantungku sering berdebar tidak menentu.


Aku menurutinya. Aku melakukan medical check up untuk pertama kalinya. Semuanya terdiagnosa normal. Lantas mengapa jantungku masih selalu berdebar kencang terlebih saat memikirkan atau berada di dekat Disa? Hela nafasku jadi pendek terlebih saat aku menatap matanya. Aku seperti tenggelam.


Disa adalah wanita yang aku hormati. Saat aku melihat cara Disa menatap Reza, aku tahu Disa memiliki perasaan pada Reza. Dia selalu tersenyum, nada suaranya ceria dan kerap malu-malu kucing, membuatku ikut gemas.


Lantas, aku pun menghormati pilihan Disa. Belakangan ini ku biarkan Reza mendekat kalau itu membuatnya bahagia. Tapi aku sadari, hatiku semakin perih saat melihat mereka bersama. Ada hal yang tidak bisa aku kendalikan saat melihat Reza dan Disa mengumbar kedekatan.


Mungkinkah itu cemburu? Lalu, apa karena aku suka Disa?


Kuusap kasar wajahku saat aku bisa menafsirkan perasaanku sendiri. Rasa berdebar ini, rasa nyaman ini dan rasa sakit yang saat ini aku rasakan, haruskah aku akui ini karena aku jatuh cinta?


Di lubuk hatiku yang paling dalam, aku akui aku tertarik pada Disa. Aku merasa nyaman saat di dekatnya. Melihat binar matanya, membuatku selalu merasa punya semangat baru. Saat ia tersenyum, aku merasakan kelegaan.


Rasanya benar kalau aku jatuh cinta. Aku tegaskan, aku jatuh cinta.


Arrghhh kenapa aku terlambat?


Aku seperti pohon kaktus yang terlalu banyak duri sampai aku tidak tahu kalau aku bisa berbunga. Pengakuan mencintai seseorang bukan perkara mudah untukku. Sekalipun aku merasakannya, terlalu berat untukku mengakuinya. Bukan karena gengsi tapi karena ada rasa takut yang tidak bisa aku lawan. Rasa takut jika suatu saat hubungan kami tidak berjalan baik dan semuanya harus berakhir.


Mungkin dia akan baik-baik saja. Melupakanku dengan cepat dan mencari laki-laki lain yang lebih baik dariku.


Sementara aku?


Saat harus bertemu dengan kata pisah, mungkin aku akan hancur. Aku tidak bisa bertahan sendirian tanpa ada dia di sampingku. Disa seperti penopangku yang bisa membuatku lebih kuat. Seperti yang di katakan Reza, aku hanya laki-laki lemah yang bahkan tidak bisa berdiri di atas kakiku sendiri. Apalagi untuk melindungi Disa.


Seperti saat ini, aku sangat lemah. Aku sangat sakit sampai aku tidak sanggup menarik nafasku sendiri.


Dan perlahan air mataku menetes. Terlepas dari rasa sakit karena bayangan jika suatu saat kami berpisah, rasa sakit melihat Disa bersama orang lain ternyata bukan sesuatu yang bisa aku hadapi dengan mudah.


Seperti separuh jiwaku hilang.


Seperti semua mimpi indahku hancur.


Seperti semua harapanku pergi.


Seperti duniaku telah berakhir.


Dan seperti aku kembali tertinggal di sebuah lorong gelap yang dulu pernah diterangi Disa.


Disa, apa kamu tahu kalau aku kesakitan seorang diri?


Aku bahkan tidak bisa beranjak dari tempat ini. Kakiku terlalu lemas, seperti semua tenagaku habis.


Mungkin inilah rasanya patah hati.


******


Selarut ini Kean masih berdiri di tepian balkon dengan pikiran yang melayang entah kemana. Hanya ada segelas minuman yang menemaninya melamun tidak tentu arah. Bayangan Disa dan Reza terus berkelebatan bersaing dengan ingatan ia akan kenangan yang pernah mereka lewati berdua. Entah tegukan keberapa yang masuk ke perutnya untuk mengusir perasaannya yang tidak karuan.


Saat di Amerika dulu, ia sering melihat Adam melakukan hal ini. Duduk termangu di satu sudut dengan segelas minuman beralkohol di tangannya. Ini cara Adam mengobati frustasinya. Katanya setelah ini pikirannya akan terasa lebih baik.


Tapi sepertinya ini tidak berlaku bagi Kean. Kepalanya malah pusing berputar dan perut yang terasa mual. Ia bahkan tidak sanggup untuk menghabiskan setengah gelas saja.


Di kejauhan ia melihat cahaya lampu yang menembus pagar rumahnya. Hanya sebentar saja menyala kemudian kembali menjauh, redup dan menghilang. Tidak lama terlihat Disa yang berjalan masuk ke halaman. Langkahnya terlihat pelan dan sesekali masih menoleh ke belakang.


Sebahagia itukah Disa sampai enggan berpisah dengan Reza?


Kean menggerutu dalam hatinya.


Ia memilih berbalik lantas menengak minuman di tangannya hingga habis. Semoga saja cairan beralkohol ini bisa mengeringkan lukanya di dalam sana.


“Selamat malam tuan.” Sapa Disa tiba-tiba.


Tidak hanya Kean yang terkejut melainkan juga Disa. Ia memandangi Kean yang tampak berantakan. Hanya mengenakan kaos oblong tipis dengan celana selutut. Rambutnya jauh dari kata rapih. Dan yang membuat Disa gusar adalah pandangan matanya yang seolah menghindar dari bersitatap dengan Disa.


Tidak menimpali, Kean malah berlalu dengan langkah sempoyongan.


“Bruk!” Dia menabrak salah satu sofa.


Disa hanya termangu dengan pikiran bingung saat melihat tuan mudanya. Siang tadi tuan mudanya pamit untuk pergi menghadiri pesta. Ia bahkan memesan baju tradisional India untuk menghormati tamunya. Tapi apa yang terjadi, sepertinya pesta belum usai tapi tuan mudanya sudah ada di rumah. Apa ada sesuatu yang terjadi yang membuat Kean pulang lebih awal? Dan lihat penampilannya yang berantakan. Seperti ada masalah besar yang tengah di hadapinya?


Disa tidak bisa menerka.


Semakin jauh langkah kaki Kean, kemudian ia menghilang di balik pintu kamarnya yang tidak tertutup rapat. Mungkin bukan saatnya bagi Disa untuk bertanya. Ia memilih masuk ke kamarnya dan berhenti memikirkan hal-hal yang tidak seharusnya ia pikirkan.


Di kamarnya, Disa segera berganti baju. Mencuci muka dan menggosok gigi. Ia harus beristirahat karena besok harus bangun pagi.


Baru akan membaringkan tubuhnya, Disa kembali dikejutkan saat tiba-tiba, “PRANK!”


Suara pecahan kaca menggema dari arah kamar Kean. Disa segera berlari menghampiri.


“Tuan, apa terjadi sesuatu? Boleh saya masuk?” hanya berdiri di depan pintu, belum berani masuk sebelum Kean mengizinkannya.


“Huwek! Huwek!” kali ini malah suara orang muntah yang di dengar Disa.


Astaga, apa yang terjadi pada tuan mudanya. “Tuan maaf kalau saya lancang.”


Disa mendorong pintu kamar Kean agar terbuka lebar. Urusan di marahi, itu urusan nanti. Yang jelas, ia harus memastikan kalau tuan mudanya baik-baik saja.


Matanya membulat dan mulutnya menganga saat ia melihat pecahan kaca yang terserak di dekat Kean. Dari punggung tangannya menetes darah segar sementara Kean masih membungkuk di depan toilet berusaha mengeluarkan semua isi perut.


“Astaga! Jangan bergerak tuan!” seru Disa seraya berlari.


“Huwek! Huwek!” Kean masih berusaha memuntahkan isi perutnya. Sesekali ia menyeringai saat mulutnya sudah terasa sangat pahit oleh cairan kuning asam lambungnya.


Disa mengambil satu kaos dari dalam lemari Kean. Mengumpulkan pecahan kaca agar tidak terinjak oleh tuan mudanya. Setelah itu ia mengambil handuk kecil dan menghampiri Kean.


“Apa masih mual tuan?” tanya Disa seraya memijat-mijat leher Kean dan Kean segera menepisnya.


Sentuhan Disa membuatnya semakin merinding saja dan ia mulai membencinya karena perasaan itu akan menyiksanya semalaman.


“Maaf tuan.” Sadar diri ia terlalu lancang, ia harus menjaga sikap. Di ambilnya handuk yang lebih besar lantas ia sampirkan ke tubuh Kean.


Habis sudah cairan asam lambung di perutnya dan perasaan Kean mulai lega. Ia mendudukan tubuhnya di atas dudukan toilet seraya mengatur nafasnya agar lebih tenang. Sedikit melirik Disa yang sibuk mengambil air panas dari dalam kran.


Kenapa gadis ini masih peduli saja padanya padahal hal ini akan semakin menyiksanya. Saat Disa menghampirinya, Kean segera memalingkan wajah.


“Cukup Kean, cukup!” suara dari otaknya memperingatkan ia.


“Saya bersihkan lukanya tuan, supaya tidak infeksi.”


“Apa tuan bisa berpindah ke sofa? Kalau di sini saya khawatir tuan masuk angin.” Cerocos Disa dengan wajah cemasnya.


Kean tidak menimpali. Ia berpindah sendiri walau masih sempoyongan. Ternyata alcohol tidak cocok untuknya.


Niat menghindari masalah tapi malah menciptakan masalah baru yang membuat Disa semakin mendekat. Sebentar saja, untuk saat ini, ia sangat ingin menjaga jarak. Ia belum siap, melihat wajah Disa yang tersipu karena orang lain. Mencoba merelakan ternyata tidak seperti yang diniatkan. Dalam pelaksanaannya sulit, masih tetap membuat hatinya mencelos.


Di sofa mereka terduduk berhadapan. Disa meraih tangan Kean yang penuh darah. Sepertinya tangan Kean menghantam cermin di kamar mandinya hingga menyisakan luka yang cukup banyak di punggung tangannya.


Mengusapnya dengan hati-hati, membersihkan luka dengan kasa. Kean tidak berreaksi.


Logikanya mengatakan agar ia menghindari Disa tapi tubuh dan perasaannya bertolak belakang. Ia menikmati setiap saat di dekat Disa. Ia ingin melihat Disa dari dekat. Apa gadis ini benar-benar bahagia? Bukankah ia harus memastikan sendiri agar ia benar-benar yakin untuk melepas Disa?


“Sudah selesai tuan.” Suara Disa terdengar pelan.


Ia sudah selesai membersihkan luka-luka Kean dan menutupnya dengan kasa dan plester. Ia bisa menghela nafas lega karena setelah di bersihkan, ternyata luka Kean tidak semengerikan yang di lihat Disa di awal. Setelah ini ia harus memberi tuan mudanya obat pereda nyeri agar bisa tidur tanpa merasakan nyeri di tangannya. Tanpa Disa tahu, itu tidak akan berguna karena Kean sudah mengenggak minuman beralkohol.


Kean masih terdiam seraya memandanginya. Kedua matanya menatap Disa tapi pikirannya tidak di sini. Menerawang terlalu jauh dan tidak terselami arahnya.


Melihat Kean yang hanya terpaku, Disa memutuskan untuk pergi. Sekarang Ia sudah bisa tenang meninggalkan Kean yang sepertinya membutuhkan ruang.


Beranjak dari tempatnya, meninggalkan kamar Kean. Namun tiba-tiba sebuah tangan kekar menarik lengannya hingga ia berbalik dan masuk ke dalam pelukan Kean.


Masih terkejut, sangat terkejut hingga ia tidak sempat untuk menolak pelukan Kean. Tubuh jangkung Kean melingkupi tubuhnya yang mungil. Kean mengeratkan pelukannya hingga Disa bisa mendengar detakan jantung Kean yang kencang dan hembusan nafasnya yang kasar.


Ada apa dengan tuan mudanya? Disa tidak bisa berfikir.


“Apa kamu bahagia?” lirih Kean dengan suara tertahan. Ia ingin mendengar langsung pengakuan Disa.


“Bahagia? Untuk hal apa?” Disa bertanya pada dirinya sendiri.


“Kamu harus bahagia dengan pilihanmu disa.” Suara Kean terdengar semakin lemah namun masih bisa di dengar dengan jelas.


Hembusan nafas Kean yang perlahan, memberi sensasi berbeda pada Disa. Apa yang ingin tuan mudanya sampaikan? Jika di tanya bahagia, tentu ia Bahagia.


Disa hanya terangguk, terlepas apa yang terjadi belakangan ini, ia mengakui kalau ia bahagia. Keputusan yang di ambilnya di rasa tepat.


Merasakan anggukan Disa, satu sudut hati Kean mencelos. Namun lebih dari itu, ia merasa tenang karena baginya, melihat Disa bahagia itu lebih penting.


“Apa tuan juga bahagia?” tanya Disa menggantung.


Kean menghela nafasnya dalam. Sejenak ia memejamkan matanya dan menghirup wangi Disa yang mungkin akan ia rindukan. Sekali ini saja ia mengkhianati sahabatnya dengan memeluk wanita yang dia puja.


Sekali saja, agar ia bisa melepaskan Disa dengan tenang.


“Apa kamu perlu tahu perasaan saya?” bisik Kean. Masih enggan melepaskan pelukannya. Kembali Disa mengangguk.


Bahagia? Apa ia bisa Bahagia? Kean tidak yakin.


“Terkadang, kita berdiri di titik di mana kita tidak bisa memilih.” Disa menarik tubuhnya menjauh dari Kean. Perlahan Kean melepaskan pelukannya seperti tengah memberi ruang pada Disa dan dirinya sendiri.


“Ada keadaan yang tidak bisa kita hindari dan mengharuskan kita menghadapinya meski menyebalkan.” Disa tersenyum samar di ujung kalimatnya, seolah menertawakan perasaannya sendiri.


“Tapi bahagia itu pilihan. Kita sendiri yang menciptakannya.” Tatapannya berubah laman pada Kean, sungguh ini mengusik perasaan Kean yang sedari tadi di tahannya.


“Tuan memiliki kesempatan yang sama, bisa memilih bahagia atau terpuruk atas masalah yang tuan hadapi.”


Kean tersenyum samar. Tidakkah Disa tahu kalau masalah tersulit yang saat ini di hadapinya adalah perasaannya?


Tidak bisakah dia sedikit mengerti kalau kebodohan yang ia lakukan karena ketidakrelaannya membiarkan Disa semakin menjauh?


Dan tidakkah ia tahu kalau Kean menyesal telah membiarkan Disa pergi hanya karena rasa takutnya yang terlalu besar?


“Hem. Terima kasih sudah mengingatkan.” Mungkin ia memang hanya perlu berterima kasih. Disa bukan cenayang yang bisa menebak perasaannya dan memaklumi perasaan yang belum pernah ia utarakan. Satu hal yang pasti,


"Aku menyesal."


*****