Marry The Heir

Marry The Heir
Menarik batas



Hari yang baru dengan pikiran yang baru, suasana hati yang baru dan tentu saja niatan yang baru. Setelah peristiwa perdebatan semalam, antara ia dengan Kean, Disa mulai banyak berfikir. Rasanya ia sudah terlalu banyak melakukan hal yang bertentangan dengan prinsipnya. Dalam beberapa hari ini, banyak hal yang tidak terduga telah terjadi dan ikut menariknya ke dalam pusaran permasalahan yang sebenarnya tidak perlu ia campuri.


Ia harus kembali membuat sebuah batasan yang jelas dalam bersikap. Ia berusaha untuk tidak memikirkan hal yang tidak seharusnya ia pikirkan. Membiarkan semuanya mengalir seperti air dan menempatkan semua pada posisinya adalah langkah yang ia pilih.


Tidak bisa dipungkiri, karena rasa pedulinya membuat ia memikirkan hal yang tidak seharusnya ia pikirkan. Suasana di rumah yang tidak terlalu nyaman, ketegangan antar penghuni rumah dan sikap saling mengacuhkan di antara mereka tidak lagi menjadi bahan pikiran Disa. Cukup mengerjakan semua yang memang tugasnya, di rasa lebih baik di banding masuk ke dalam masalah yang sebenarnya tidak perlu melibatkan dirinya.


Terkadang rasa simpatinya yang besar membuat Disa tidak bisa mengontrol rasa pedulinya pada orang lain namun ia harus bertahan pada garis batas yang ia buat semalam. Biarkan masalah di keluarga ini selesai dengan caranya sendiri. Bukankah semua memerlukan proses dan waktu? Dan ia bukan bagian dari proses ini.


Sesuai niatnya, pagi ini, Disa sudah memulai pekerjaannya. Hal yang pertama ia urus adalah nyonya besarnya, Arini.


Di kamarnya Arini sudah selesai dimandikan. Di hadapan sebuah cermin saat ini Disa dan Arini berada. Arini terduduk di kursi menatap wajahnya di cermin sementara Disa masih menyisir rambut Arini dengan hati-hati.


Arini tersenyum sendiri melihat Disa yang begitu hati-hati menyisir rambutnya. Sangat telaten dan seperti takut kalau Arini merasa tidak nyaman.


“Disa, walau pun rambut saya hasil transplantasi, tapi kamu sisir dengan biasa pun tidak akan lepas kok.” Ujar Arini yang berusaha tersenyum dengan bibirnya yang kaku.


“Iya nyonya. Sebenarnya bukan karena takut copot tapi takutnya nyonya kesakitan kalau saya terlalu kasar.” akunya seraya tersenyum pada pantulan wajah Arini di cermin.


“Merasakan sakit itu membuat saya lebih bersyukur di banding tidak merasakan apa-apa seperti yang terjadi pada kedua kaki saya.” Arini mengusap lututnya yang berwarna keputihan karena kulitnya yang tipis dan mengelupas. Sudah cukup lama kedua tungkai tidak merasakan sakit atau apapun itu.


Disa ikut memandangi kedua kaki Arini yang selalu tertutup selimut. Hanya saat seperti ini lah ia bisa melihat kedua kaki Arini yang katanya minim merasakan rangsangan apapun termasuk rasa dingin atau panas. Bekas lukanya mungkin sudah banyak tertutupi namun saraf-saraf di tubuhnya masih belum kembali seperti semula.


“Dokter austin bilang, kondisi kaki nyonya membaik di banding dulu, hanya saja perlu rajin berlatih dan terapi. Insya allah bisa berdiri lagi.” Disa masih mengingat beberapa hal yang di katakan Kean beberapa waktu lalu tentang kondisi ibunya.


“Em, saya tidak pernah berjalan dalam waktu yang sangat lama disa. Saya rindu merasakan berjalan di rumput, di atas hamparan pasir atau aspal yang panas sekalipun. Terkadang saya ingin berlari seperti orang-orang, tapi sayangnya, tidak ada tempat yang ingin saya tuju. Mungkin itu yang membuat kaki saya akhirnya tetap seperti ini. Tidak bertenaga walau secara hasil pemeriksaan membaik.” Arini menatap Disa dengan laman. Walau terlihat sering tanpa ekspresi namun raut sedihnya terlihat jelas dari binar matanya yang sendu.


Disa berpindah ke hadapan Arini lantas duduk bersimpuh. Ia memandangi kaki Arini yang pada beberapa bagian tidak memiliki pori-pori “Saya yakin ada seseorang yang ingin berjalan bersisihan dengan nyonya. Yang selalu mencemaskan nyonya dan mengharapkan kesembuhan nyonya. Dan saya yakin beliau bersedia membawa nyonya untuk berjalan-jalan di atas rerumputan, hamparan pasir atau jalan beraspal.” tutur Disa dengan penuh kesungguhan.


Kalimatnya membuat Arini terharu. Ia mengerti benar siapa seseorang yang di maksud Disa.


“Kamu sangat manis.” Ujarnya seraya mengusap pucuk kepala Disa. “Seseorang yang menjadi ibumu pasti sangat beruntung karena memiliki kamu. Terima kasih karena selalu menyemangati saya.” imbuh Arini.


Ucapan Arini sangat manis untuk di dengar. Hanya saja, seseorang itu tidak pernah ada. Andai saja tuhan tidak mengambil ia yang bisa Disa panggil ibu, mungkin perasaannya akan sangat bahagia. Mendapat usapan di kepala, memiliki teman untuk bercerita dan tentu saja seseorang yang bisa menguatkannya.


Satu sudut hatinya terasa sesak, meski sudah terbiasa tanpa seorang ibu, nyatanya di lubuk hatinya yang paling dalam, ia merindukan sosok itu.


Anda saja, ya andai saja. Hanya bisa mengandai-andai, karena semua tidak akan pernah terjadi dalam hidupnya.


Melihat Disa yang terdiam, Arini sadar sepertinya kalimatnya membuat Disa terbawa perasaan. Ia berusaha mengalihkan pembicaraan agar tidak membuat wajah manis Disa semakin sendu.


“Okey, lupakan perkataan saya.” ujarnya menjeda kebisuan Disa. “Kalau kamu mau membantu saya untuk segera sembuh, tolong ambilkan sebuah kotak di dalam laci itu.” Menunjuk laci di belakang Disa.


“Baik nyonya.” Ternyata memang perlu adanya topik lain untuk mengalihkan pikiran Disa agar tidak tenggelam dalam pengandaian.


Di dalam laci yang di tunjuk Arini, ada sebuah kotak berwarna hijau seperti tempat obat-obatan herbal. “Ini nyonya, silakan.” Menaruhnya di atas pangkuan Arini.


Melihat kotak berwarna hijau itu membuat Arini tersenyum sendiri. Ia membukanya dan tampaklah 2 botol obat dengan tulisan berbahasa Korea sebagai label. “Ini obat yang diberikan oleh seorang sahabat saya. Katanya krim ini bisa mempercepat perbaikan cel karena luka bakar."


"Bisa tolong oleskan krim ini ke kaki dan tangan saya?” menunjukkan satu botol besar obat yang memiliki aroma wangi lavender.


“Bisa nyonya. Mari saya bantu.”


Disa mulai mengoleskan sedikit krim yang memiliki wangi yang menenangkan. Ternyata ide Arini untuk mengalihkan pikiran Disa memang cukup membantu. Gadis manis itu tampak asyik mengusapkan krim ke beberapa bagian tubuhnya, seolah terlupa dari pikirannya beberapa waktu lalu.


Di pintu sana, ada Kean yang sedari tadi memperhatikan interaksi Disa dan Arini. Sesekali ia tersenyum namun kemudian kembali dengan wajah seriusnya mendekat pada Arini.


Di belakang Arini ia berdiri lantas mengecup pucuk kepala Arini.


“Hay sayang, kok gak kedengeran sih suaranya. Kamu pake ilmu terbang?” Menoleh putranya yang berdiri di belakang.


“Mamah asyik banget sih, kayaknya gak butuh aku lagi.” Wajahnya di buat terlihat kesal untuk menggoda Arini.


“Mana ada. Kamu tetep nomor satu di hati mamah dan paling mamah butuhkan.” Mengusap kepala Kean yang bersandar di bahunya.


Kean memperhatikan Disa yang ikut tersenyum mendengar perbincangan mereka. Rasa kesal sisa semalam, menguap begitu saja saat melihat senyuman yang selalu tersungging di bibirnya. Rasanya ia menyesal karena semalam telah berbicara kasar pada Disa.


“Kamu sarapan dulu nak. Bentar lagi ke kantor kan?” suara Arini membuat Kean tersadar dari lamunannya.


“Mamah udah sarapan?” menegakkan tubuhnya lantas merapikan penampilannya.


“Belum, tapi nanti mamah turun. Mamah juga mau sarapan di bawah.”


“Pastilah. Anak mamah. Kean tunggu di bawah yaa…”


“Hem, pergilah. Nanti mamah nyusul sama disa.”


Sebelum pergi, Kean sempatkan untuk memandangi Disa dalam beberapa saat. Disa masih tidak menolehnya dan sibuk dengan pekerjaannya. Entah benar-benar sibuk atau hanya pura-pura demi menghindarinya karena masih kesal.


Wanita ini terkadang sulit di tebak.


*****


“Wah, kakak ipar juga sarapan disini. Aku benar-benar beruntung karena bisa makan bersama keluarga bahagia ini.” Ungkap Marcel saat melihat kedatangan Arini bersama Disa. Arini hanya tersenyum samar, ia tahu ucapan adik iparnya hanya sebuah basa-basi dengan sindiran di dalamnya.


Liana menoleh dan melemparkan senyum yang di buat seramah mungkin pada Arini namun hanya di tanggapi acuh. Melihat sikap Arini membuat makanan yang tengah ia kunyah terasa seperti pasir yang mencekal tenggorokannya. Sulit untuk ia telan.


Marcel memandangi orang-orang di hadapannya bergantian lantas tersenyum senang. “Harusnya dari dulu aku ngajak mba rini pulang. Rumah ini jadi terasa seperti surga dengan dua bidadari, benar kan mas?” pertanyaan itu Marcel lontarkan pada Sigit yang tengah menikmati sarapannya dengan tidak tenang.


Sedari tadi Marcel terus berceloteh. Mulai dari membahas masalah perusahaan, menanyakan Shafira yang tidak ikut sarapan dan tentu saja kali ini membahas masalah rumah tangga sang kakak yang ia jadikan bahan lelucon untuk memacing suasana menjadi panas.


“Hah, beruntung sekali orang-orang yang tinggal di rumah ini. Walau di luar ada topan nancy, tapi kita tetap bisa merasa tenang berada di rumah ini, berkumpul dengan keluarga tercinta. Home sweet home.” Celoteh Marcel yang lebih terdengar seperti sindiran.


Sigit menaruh sendoknya dengan kasar. Ia sudah muak dengan sikap Marcel yang terlihat seperti tidak merasa bersalah sedikit pun. Padahal adiknya inilah yang membuat suasana sarapan menjadi tidak menyenangkan.


“Diam! Habis kan makananmu, lalu segera pergi.” Emosi Sigit mulai terpancing. Ia sudah jengah dengan sikap Marcel akhir-akhir ini. Ia mulai terlalu banyak mencampuri urusan keluarganya dan banyak membuat masalah yang semakin runyam.


“Du du du… Mas sigit memang selalu serius. Gak bisa di ajak becanda.” Gumamnya seraya mengusap mulutnya dengan serbet.


Sigit tampak menggeram dengan tangan mengepal kuat.


“Keluarga ini memang terasa seperti surga, tapi hanya sampai sebelum saya pulang.” Arini menimpali kalimat Marcel dengan sinis.


Ia melirik Sigit yang kini menatapnya.


“Hahahaha… Mba rini bisa aja kalo becanda. Mba rini tau kan, kalau jantungnya rumah ini adalah mba rini. Mba rini yang membuat rumah ini sangat nyaman sampai akhirnya, boom! Hahahaha…” Marcel terkekeh di ujung kalimatnya dengan lirikan yang ia tujukan pada Liana.


“Tolong berhenti marcel.” Lirih Liana yang sudah terlihat sangat tidak nyaman. “Jangan merusak acara sarapan kita.” Imbuhnya seraya melirik Sigit yang terlihat emosi. Di genggamnya tangan Sigit yang mengepal, namun dengan cepat Sigit menghindar.


Liana ikut mengepalkan tangannya. Rasanya baru saja Sigit mempermalukannya.


“Wah sepertinya bukan saya yang harusnya keluar. Tapi ada seseorang yang seharusnya tau diri dan tidak masuk ke rumah orang lain dengan sembarangan.” Sindir Marcel balik menatap Liana.


“DIAM!” gertak Sigit. Emosi Sigit benar-benar pecah.


Satu gertakan itu berhasil membuat suasana pun hening seketika. Matanya tampak menyalak pada Marcel. Marcel memang selalu membawa masalah bagi keluarganya.


Melihat sikap sigit, Arini hanya tertunduk. Ada rasa kecewa yang menyergap perasaannya. Rasanya ia mengerti arti dari sikap Sigit saat ini. Sikap emosionalnya ini karena ia tengah membela wanita yang duduk di sampingnya. Jika saja ia tahu kalau pada akhirnya ia akan kecewa, mungkin seharusnya ia memang tidak pernah pulang.


Ia meraih tangan Kean yang sedari tadi terdiam di sampingnya. Jika lebih lama lagi, mungkin putranya yang akan ikut murka.


“Marcel tolong hentikan.” Lirih Arini. Kali ini perhatian orang-orang di meja makan tertuju pada Arini. Dengan susah payah ia berusaha tersenyum demi berusaha terlihat baik-baik saja.


“Kepulangan saya adalah untuk menemui dan menemani putra saya. Dan saat ini saya sadar, kalau rumah ini bukanlah tempat yang bisa saya datangi. Maaf karena dalam beberapa hari ini saya telah membuat kalian merasa tidak nyaman.”


Kalimat ini yang akhirnya ia ucapkan Arini untuk mengakhiri rasa tidak nyamannya. Sejak datang ke rumah ini, ia seperti tidak mengenali rumah yang dulu ia rawat dan tinggali. Banyak hal yang telah berubah dan ia sadar, bukan tempat ini yang ia tuju. Melainkan orang-orang di dalamnya.


Jika kemudian orang-orang yang ingin ia hampiri tidak lagi mengharapkan kehadirannya, maka pilihan yang harus di ambilnya adalah pergi. Kembali meninggalkan semuanya pada posisi semula seperti saat sebelum ia datang. Tanpa ada yang berubah tanpa ada yang merasa tersisih.


“Mah,” Kean sudah mulai kesal dengan keadaan ini. Arini seperti tengah di kalahkan oleh keadaan yang membuatnya terlihat tidak berdaya.


Namun dengan segera Arini menahan tangan putranya seraya menggeleng. “Tolong bawa mamah pulang ke rumah mu. Hem?”


Mata Arini terlihat sendu. Tidak ada lagi nyala semangat seperti saat dulu ia mengatakan ingin pulang.


Dengan rasa kecewa yang sama, Kean menyetujui permintaan Arini. Ia tidak ingin membiarkan Arini berada di tempat yang membuatnya tidak merasa nyaman. Jika bukan di sini, maka seharusnya mereka memang harus segera pergi.


*****