
Ada emosi yang berkecambuk dalam melodi yang di jalin Reza terdengar dari dalam ruang musiknya. Sesekali dentingannya terdengar cepat dan rapat seperti penuh kemarahan namun sesekali terdengar perlahan dan penuh keresahan. Lagu Only hope milik Mandy Moore yang di mainkan Reza dengan penuh perasaan.
Sentuhan tangannya memberi nuansa yang berbeda pada beberapa part yang jika di dengarkan, terasa begitu menyesakkan. Ada rasa ingin memiliki yang terselip dalam bait syairnya namun sayangnya semuanya hanya sebatas harap.
Jemari Reza masih beralih dari satu tuts ke tuts lainnya dengan sinergis. Matanya terpejam seolah tengah terlarut dalam emosi yang ia ciptakan pada lagu yang ia mainkan.
Ingatannya membawa Reza kembali pada kejadian semalam.
Ya, semalam.
Setelah mengantar Clara, ia kembali ke café tempat sahabat-sahabatnya berada. Langkahnya terasa ringan menaiki anak tangga seraya memainkan kunci mobil di tangannya. Senyumnya tidak henti terkembang saat ia membayangkan akan menghabiskan waktu bersama sahabatnya dan tentu saja seorang gadis yang asyik di ajak berbincang di dalam sana.
Namun tiba-tiba saja, langkahnya harus terhenti saat ia melihat sesuatu yang sebenarnya tidak sangka akan ia lihat. Nafasnya terasa berat saat ternyata di hadapannya Disa tengah bermain billiard bersama Kean. Di dalam rengkuhan Kean, Disa seolah menikmati waktunya yang berjalan lambat merayap.
Hati Reza berdesir, ia memilih mundur beberapa langkah lantas ia bersandar pada dinding seraya memejamkan matanya. Ada rasa tak nyaman yang tiba-tiba saja muncul tanpa pernah ia undang.
Tangan Reza tampak mengepal, meremas kuat kunci mobil yang ada di tangannya. Kalimat demi kalimat terdengar mengalir dari mulut Kean yang di sampaikan pada Disa. Walau berusaha mengabaikan, suara Kean terdengar jelas di telinga Reza.
“Sesuaikan ketinggian tongkat dengan menaikkan dan menurunkan ujung tongkat yang digenggam tangan kanan.” Ujar Kean seraya mengenggam tangan kanan Disa agar tongkat melekat sempurna.
“Perhatikan sudut bola yang akan ditembak dengan sedikit membungkukkan badan.” Kean pun menoleh Disa lantas menatapnya laman.
Disa hanya menurut saja, dengan wajah tegangnya mencoba fokus pada bola yang ada di hadapannya. Ia tidak menyadari sama sekali perubahan ekspresi Kean yang tidak pernah Reza lihat sebelumnya.
Terlalu lekat, terlalu dalam dan seperti ada binar yang terpancar saat sesekali hidung sahabatnya terlihat mencium wangi rambut Disa.
Reza memilih untuk memalingkan wajahnya. Ia menyandarkan pula kepalanya ke dinding yang perlahan ia bentur-benturkan untuk mengusir pikiran yang tidak seharusnya muncul.
Saat beberapa saat lalu ia bertanya pada Kean tentang Disa, Kean tampak acuh dan tidak peduli. Tapi kali ini, semuanya begitu berbeda. Reza seperti bisa membayangkan debaran kencang yang sedang membuncah di dada Kean. Hah, menyesakkan.
Apakah ia bisa percaya kalau sahabatnya mengatakan bahwa ia tidak merasakan apapun pada Disa?
“Hey, kamu bukan memainkan nada tapi sedang bermain dengan emosi?” sebuah suara membuyarkan lamunan Reza tentang kejadian semalam.
Perlahan bayangan Disa dan Kean hilang dari benaknya. Saat membuka mata, tergantikan oleh wajah cantik seorang wanita yang kini duduk di sampingnya.
Reza tersenyum simpul membalas tatapan Nita dan lantas menyelesaikan nadanya dengan sempurna.
“Mamah udah lama datengnya?” tanyanya seraya meraih tangan Nita yang menggenggam lengannya. Ia mengecupnya dengan lembut.
“Sejak bagian reff yang kamu buat sangat emosional.” Timpal Nita yang mengusap kepala putranya. “Kamu kenapa, kok emosional banget main pianonya? Awas lo nanti jebol ini tutsnya.” Lanjut Nita yang tersenyum geli.
Reza hanya tersenyum, sekali lalu menghela nafas dalam. Pandangannya kini tertuju pada lukisan Disa yang belum rampung.
“Gimana kabar disa?” tanya Nita seraya menyandarkan kepalanya ke bahu Reza. Tempat paling nyaman untuknya bersandar saat ia merasa lelah.
“Baik. Semalam kami bertemu.” Timpal Reza yang berusaha terlihat santai.
Nita menoleh putranya lantas menatapnya lekat. “Oh ya?” dengan semangat Nita menenggakkan tubuhnya dan berbalik menghadap Reza. “Kalian kencan?” imbuhnya kemudian.
Reza menggeleng. Rasanya ia ingin tertawa melihat Nita yang terlalu bersemangat. “Kami banyakan.” Sahutnya lemas.
“Ish makanya kalo ngajak cewek jangan sama temen-temen kamu. Cukup kalian berdua aja, biar lebih deket, lebih instens.” Nita gemas sendiri mendengar jawaban putranya. Pikirnya, mana mungkin sang casanova harus di ajari cara mendekati seorang gadis.
Kali ini Reza menoleh Nita yang menatapnya dengan gemas. “Mamah pengen banget reza deket sama disa. Emang kenapa sih?” akhirnya Reza benar-benar bertanya. Ia perlu mendengar alasan Nita yang begitu menyukai Disa.
Nita terdiam sejenak, seolah tengah membayangkan sosok Disa di hadapannya. “Kamu masih belum menemukan keistimewaan disa?” ia malah balik bertanya pada putranya.
Reza hanya terdiam, kemudian tersenyum.
“Tuh kan, udah nemu!” seru Nita yang terlihat senang. “Jadi gimana disa?” Nita sangat ingin mendengar pandangan Reza tentang Disa. Ia sangat yakin kalau gadis manis itu serasi dengan putranya.
“Disa seperti,..” Reza menghela nafasnya dan membayangkan Disa di pelupuk matanya. “Diatonis mayor yang dimainkan dengan biola, menggetarkan.” Akunya seraya tersenyum pada Nita.
Nita tersenyum senang mendengar jawabannya. Ternyata usahanya membuahkan hasil untuk mendekatkan putranya dengan Disa.
“Tapi,” wajah Reza berubah sendu dengan tatapan laman yang tertuju pada lukisan. “Saat nadanya terlalu tinggi, reza takut kalo reza gak bisa mengimbanginya.” Imbuhnya.
Harus ia akui, awalnya ia memperhatikan Disa karena Nita terus menjodohkannya. Ia ingin mencari tahu seperti apa sosok wanita yang membuat ibunya begitu suka pada gadis itu. Namun di pertengahan jalan, ia menemukan alasannya sendiri. Alasan untuk bersama, menatap dan berbicara dengan Disa lebih lama lagi.
Rasa nyaman dan tenang lah yang membuatnya terbawa. Sayangnya, terlalu banyak hal yang membuat ia sulit untuk mendekat pada gadis manis itu. Selalu ada saja saat dimana waktu tidak memberi mereka kesempatan.
Tapi, bukankah kesempatan itu harusnya ia ciptakan? Lantas, kenapa begitu sulit?
*****
Kean tampak malas melihat laki-laki berpenampilan rapi di hadapannya yang tidak lain adalah Marcel. Sementara Marcel tampak acuh saja melihat Kean yang bersikap antipati padanya. Ia sudah cukup terbiasa.
Sejenak Marcel menatap Disa lantas tersenyum. “Wah, rupanya ada minuman segar di rumah ini. Harusnya saya sering-sering mampir ke sini.” Ujar Marcel seolah tidak peduli dengan kekesalan Kean.
Kean berdecik sebal, entah apa pula maksud kedatangan Marcel yang tiba-tiba mampir ke rumahnya. Selama ini mereka seperti serigala yang bermusuhan, sibuk mengamankan wilayah teritorinya masing-masing.
“Silakan tuan.” Disa menaruh kedua gelas dan cemilannya di hadapan dua laki-laki itu.
“Terima kasih.” Dengan segera Marcel mengambil gelas jatahnya. Menyeruputnya perlahan dan rasa dingin yang bercampur manis itu membasahi tenggorokannya yang kering.
“Enak. Bisa kamu kasih saya resepnya? Atau mungkin sesekali kamu membuatkannya di rumah saya.” ujar Marcel yang terdengar seperti pancingan bagi Kean.
Disa hanya tersenyum simpul lantas melirik Kean yang menatapnya dengan kesal. Entah apa yang ada di pikiran tuan mudanya saat ini.
Marcel beranjak dari tempatnya. Gelas masih berada di tangannya lantas ia menghampiri jendela dan sedikit menyibak tirai tipis jendela itu.
“Kamu punya taman yang hijau. Sepertinya ada seseorang yang merawatnya dengan baik. Apa itu, disa?” lagi Marcel bersuara seraya menoleh Disa dan Kean bergantian.
Terlihat senyum tipis dari bibirnya, seolah ia puas karena berhasil mengganggu pikiran dua orang di hadapannya.
“Kalau kamu suka memelihara taman, kamu bisa memelihara taman rumah saya. Lebih luas dan sepertinya bisa lebih hijau.” Lanjutnya lagi, sekali lalu meneguk minumannya dengan nikmat.
“Saya rasa saya sudah cukup bekerja untuk merawat taman di rumah ini.” Disa yang menimpali. Ia tidak suka berada pada keadaan yang seolah membuatnya harus mengambil pilihan.
Sejak datang, Marcel terus berkata yang tidak-tidak dan itu lebih terarah padanya. Mulai dari bilang, “Saya tidak menyangka kalau gadis yang menolak baju pemberian saya ternyata bekerja di keluarga hardjoyo, keluarga saya.” ucapnya dengan gamblang. Seolah ia tengah merendahkan Disa. Namun di waktu bersamaan, ia pun menyanjung Disa dengan mengatakan, "Sepertinya kamu mengurus keponakan saya dengan sangat baik. Dia terlihat sehat, segar dan bugar." ujarnya.
“No!” seru Marcel dengan cepat. “Saya meminta kamu untuk merawat taman, bukan sebagai pekerja. Tapi sebagai pemiliknya. Lebih baik bukan dari berada di rumah ini?” tandasnya dengan senyum yang ia tujukan pada Disa.
Ia menaruh gelas di atas meja dengan hati-hati. Ekspresi wajahnya seolah ia puas karena telah melihat wajah gadis itu menegang dan menempatkannya pada situasi yang bisa membuat salah paham.
“Sebenarnya ada urusan apa om ke sini?” akhirnya Kean bertanya, setelah beberapa lama merasa muak mendengar kalimat-kalimat Marcel yang menyebalkan. Ia pun memberi isyarat pada Disa agar pergi. Disa terangguk pamit dari hadapan majikannya.
“Wah kamu sinis banget. Saya ke sini untuk memberi tahukan hal yang penting.” Ujarnya dengan diplomatis.
Ia kembali duduk di sofa dengan kaki kanan yang tersilang di atas kaki kirinya.
“Hal penting? Apa mengganggu orang lain adalah hal penting untuk anda, OM?!” sinis Kean dengan penuh penekanan. Ia tahu, kalau Marcel sangat tidak suka di panggil om olehnya.
“Hahahahha.. Saya tidak bermaksud mengganggu. Justru saya mau mengundang kamu untuk makan malam di rumah utama.”
“Bagaimana pun, kita udah cukup lama tidak berkumpul. Saling berbagi cerita dan mengeratkan kembali kekeluargaan kita.” Terang Marcel dengan penuh semangat. Ajakannya terdengar sangat serius.
“Saya tidak pernah merasa kalau kita adalah keluarga.” Timpal Kean. Sejak dulu ia dan Marcel memang seperti orang asing. Saling mengabaikan mungkin menjadi pilihan paling baik.
“Ayolah Kean. Jangan bersikap begitu menyebalkan.” Marcel cukup terpancing. Tentu saja ia bukan orang yang sabar menghadapi sikap keponakannya. “Terserah kamu mau datang atau tidak. Yang jelas, kalau kamu datang, saya yakin kamu akan sangat berterima kasih tapi kalau kamu tidak datang, saya tidak masalah. Yang jelas kamu akan menyesal.” Tandas Marcel kemudian.
Ia meneguk minumannya untuk terakhir kalinya, sebelum ia berlalu pergi meninggalkan Kean yang menatapnya dengan tidak suka.
Dalam beberapa saat Kean terdiam di tempatnya. Ia masih memikirkan apa yang akan di lakukan pamannya di acara makan malam.
Mungkin saja ini hanya sebuah jebakan.
Makan malam keluarga, tidak pernah terbayang sedikitpun suasananya seperti apa. Yang ia tahu, jika hal itu benar-benar ada maka ia hanya akan duduk di tempatnya dan orang-orang pun berada ditempatnya masing-masing dengan sikap yang berusaha mereka jaga.
Mungkin di pertengahan makan malam mereka akan mulai berbincang dengan diawali berbagai sindiran masalah perusahaan. Perlombaan untuk menunjukkan kesuksesan mengelola perusahaan dan berakhir dengan menjatuhkan siapa yang paling lemah di antara mereka. Tidak pernah ada moment saling bertanya kabar yang di dasari sebuah ketulusan. Semuanya hanya kepura-puraan, seraya mencari tahu cara terbaik menjatuhkan lawan masing-masing.
Makanan yang di kunyahpun biasanya akan terasa seperti butiran kerikil yang menyayat tenggorokan. Menu makanan mewah tidak terasa lebih enak dari nasi kucing.
Miris memang, namun hal itu yang Kean rasakan setiap makan malam di rumah utama. Dan untuk undangan kali ini, entahlah apa ia akan datang atau tidak. Rasanya ia tidak terlalu siap untuk memperdebatkan sesuatu yang tidak perlu ia pertahankan. Namun jika ia menyerah, maka akan ada satu orang yang menanggung kegagalannya.
Hah, menyedihkan.
******