Marry The Heir

Marry The Heir
Cita-cita kita



“DISA!!!”


“YA SAYA!!”


Kembali dua suara itu saling bersahutan di pagi hari ini. Sudah pasti ini panggilan Kean yang kesekian kalinya agar Disa segera datang menemuinya.


Baru beberapa menit lalu Kean memanggilnya untuk memasangkan dasi dan kali ini ia kembali memanggil entah untuk perintah apalagi.


Disa berlari kecil menuju lantai 2, rasanya ia tidak perlu olah raga hingga ke gym seperti yang dilakukan tuan mudanya. Cukup berlarian ke sana kemari antar satu ruangan dengan ruang lainnya di rumah ini pun cukup menguras tenaganya dan membuat bobot tubuhnya berada konstan, tidak turun apalagi naik.


“Ada yang bisa saya bantu tuan?” Nafas Disa masih terdengar terengah saat ia muncul di pintu kamar Kean.


Kean menoleh mainan miniatur robot dan pesawat yang jaruh terserak di lantainya sementara ia masih terduduk di atas tempat tidur dengan laptop yang menyala di pangkuannya.


“Mereka berjatuhan saat saya mengambil laptop dari atas.” Menunjuk dengan sudut matanya yang tajam. Ia mulai bisa menerangkan apa yang ia maksudkan. Tidak hanya sekedar “Ham hem” tidak jelas.


“Baik tuan, akan saya rapikan.” Disa segera mendekat ke lemari khusus mainan milik tuan mudanya. Berjongkok dan memunguti satu per satu benda itu.


“Pastikan tidak ada yang hilang.” imbuhnya tanpa mengalihkan pandangan dari laptopnya.


“Baik tuan.” sahut Disa lagi. Bekerja di rumah utama Kean membuat ia harus selalu waspada dan tidak boleh melakukan kesalahan apapun. Dan di rumah ini pun ia melakukan hal yang sama. Selalu memastikan kalau semua sesuai dengan keinginan dan perintah majikannya.


Mengambil miniatur model kit yang terserak dan menatanya kembali di dalam lemari. Mayoritas terdiri dari beragam bentuk pesawat walau pun ada beberapa action figure yang pasti berharga fantastis. Timbul rasa penasaran di hati Disa, akan hobi sang tuan muda yang mengoleksi benda kecil namun mahal ini.


“Tuan, boleh saya bertanya?” suaranya terdengar jelas di telinga Kean yang fokus pada laptopnya.


“Hem.” jawaban itu mulai kembali terdengar.


“Apa dulu anda bercita-cita menjadi seorang pilot?” tanyanya random sambil memegangi sebuah miniatur pesawat yang berukuran paling besar di antara miniatur lainnya.


Kean menghentikan sejenak aktivitasnya dan menoleh Disa yang tampak menunggu jawabannya.


“Apa saya tidak cocok bercita-cita menjadi pilot?” Kean balik bertanya.


Dengan cepat ia berdiri. “Bukan seperti itu tuan. Hanya saja, banyaknya miniatur pesawat di sini, seolah menunjukkan keinginan pemiliknya untuk bekerja di dunia penerbangan.” Dengan takut-takut Disa menjelaskan maksudnya.


“Oh ya?” Kean menutup laptopnya begitu saja. Menaruhnya di atas tempat tidur, lantas ia menghampiri Disa yang hampir menyelesaikan pekerjaannya. “Lalu, apa cita-citamu dulu?”


Ia menyandarkan tubuhnya pada dinding yang berada di samping lemari dengan tangan tersilang di depan dada.


“Cita-cita saya?” Disa menunjuk dirinya sendiri.


“Hem.”


Sejenak Disa terdiam, memikirkan apa yang menjadi cita-citanya di masa lalu. Apa yang pernah jadi mimpinya dan apa yang pernah menjadi keinginannya. Atau paling tidak ia berusaha mengingat apa cita-cita yang ia tulis saat guru SD-nya dulu bertanya.


“Tidak ada tuan.” Ia menggeleng. Nihil, tidak ada yang ia ingat.


“Apa kamu yakin?” Kean menegakkan tubuhnya dengan satu tangan ia masukkan ke dalam saku celananya. Perbincangan mereka mulai terdengar santai.


Disa mengangguk pasti. “Cita-cita dan harapan bukan untuk orang seperti saya tuan. Saya hanya perlu mengikuti apa yang sudah di takdirkan tuhan dan sisanya berserah.” tutur Disa yang lebih terdengar seperti sebuah keputus asaan.


“Orang seperti apa yang kamu maksud?” tanyanya dengan alis tertaut. Ia ingin mendengar lebih jelas isi pikiran gadis muda di hadapannya.


Disa terlihat menghela nafasnya dalam, ia berusaha tersenyum saat kedua matanya bersitatap dengan Kean.


“Saya, orang yang tidak suka berharap apalagi menentukan cita-cita. Karena saat saya memiliki harapan, keadaan akan lebih dulu memaksa saya untuk tidak memiliki harapan atas apa pun. Saya terlalu takut berharap karena mungkin, saya hanya akan mendapatkan kekecewaan.” raut wajah Disa berubah sendu walau ia berusaha tersenyum agar terlihat baik-baik saja.


Kean terdiam sejenak, mencoba mencerna maksud Disa. “Lalu menurutmu saya pantas memiliki cita-cita?”


“Ya!” jawab Disa dengan cepat. Raut wajahnya berubah cepat menjadi lebih optimis. “Karena di tangan anda, banyak hal yang bisa di kendalikan.” imbuhnya dengan yakin.


“Apa karena menurutmu saya memiliki uang yang banyak?”


“Salah satunya.”


Kean terkekeh mendengar jawaban Disa. Ia mengambil jasnya yang semula ia taruh di atas tempat tidur. Menyodorkannya pada Disa lalu merentangkan tangannya menunggu Disa memakaikan jasnya.


Dengan sigap Disa memakaikan jas Kean, meski keningnya masih berkerut dengan pemikiran yang belum tuntas. Saat Disa memakaikan jas Kean, Kean sedikit mendekat lantas ia berbisik,


“Tuhan tidak suka dengan mahluknya yang hanya berserah tanpa berusaha. Dan lagi, setiap orang punya kondisi sendiri yang membuat dia bisa mewujudkan cita-citanya atau tidak. Tapi bukan berarti ada orang yang tidak boleh memiliki mimpi. Termasuk kamu.”


Disa terdiam di tempatnya, seperti telah tersihir oleh suara berat dan dalam milik Kean. Hembusan nafasnya seperti udara baru yang membuat Disa kembali menghela nafasnya.


Hingga selesai memakaikan jas tuan mudanya, Disa masih berdiri di tempatnya dengan kedua tangan menggantung di udara.


“Turunlah, saya akan sarapan.” imbuh Kean yang menyadarkan lamunan Disa.


“Ba-baik tuan.”


Cukup cepat Disa tersadar. Ia berjalan mendahului Kean yang masih terpaku di depan cermin seraya memandangi arah gerak Disa yang semakin lama semakin menjauh. Bibirnya mengulum senyum simpul mengingat ekspresi Disa beberapa saat lalu.


“Tumben dia lembek?” gumamnya.


*****


Sambutan hangat di berikan jajaran manajemen saat Kean mengumumkan kesuksesan perusahaannya dalam menggait banyak investor dan buyer baru. Mereka bertepuk tangan bangga dengan senyum mengembang di wajah yang penuh rasa optimis.


“Selamat tuan, akhirnya perusahaan kita bisa kembali bangkit meneruskan cita-cita yang sudah di bangun.” ujar salah satu anggota direksi perusahaan.


Kean terangguk pelan. Ia masih mengingat saat beberapa bulan lalu orang-orang di hadapannya ini menatapnya dengan tatapan meremehkan atas kemampuannya dalam memimpin perusahaan. Bahkan di antara mereka ada yang terang-terangan menjatuhkannya di depan pimpinan anak perusahaan lainnya.


Ternyata benar adanya bahwa balas dendam paling baik adalah saat membuat mata orang-orang yang merendahkan kita membelalak melihat kesuksesan kita. Berharap saja, semoga titik awalnya kali ini bisa membuat sang ayah mengakui kemampuannya.


“Pada dasarnya kesuksesan perusahaan ini tidak hanya milik kita, jajaran manajemen. Ada orang-orang di bawah kita yang mungkin bekerja lebih keras untuk membangkitkan perusahaan ini. Sekecil apapun peran mereka, mereka memiliki andil untuk kesuksesan kita.” tegas Kean menggenapi pidato singkatnya.


Mereka terangguk, mengiyakan ujaran Kean.


Kean terdiam sejenak, mengingat kembali sepenggal kalimatnya yang terakhir. Lantas bibirnya tersenyum mengingat peran orang-orang di sekitarnya. Ingatannya berputar hingga ia tidak menyadari bahwa Roy telah menutup rapat manajemen kali ini dan orang-orang menghampirinya untuk berjabat tangan memberi selamat.


Tepat jam 12 siang, Disa sudah ada di ruang kerjanya. Menunggunya di sofa dengan sekotak makan siang yang telah ia siapkan untuk Kean.


“Siang.” sahutnya dengan segaris senyum.


Disa cukup terkejut melihat air muka tuan mudanya yang berubah lunak. Ia bahkan tersenyum membuat matanya enggan berkedip. Sungguh pemandangan langka yang bisa ia lihat.


“Kamu bawa makan siang?” tanyanya seraya melirik kotak makan yang berada di atas meja.


“Oh, benar tuan.” Disa segera tersadar. “Anda akan makan siang sekarang?”


“Ya!” langsung duduk di sofa tanpa menunggu lama. “Roy,”


“Ya tuan.” Mengangguk sigap.


“Duduklah, kita makan bersama.” ujarnya.


Disa menoleh Roy dan keduanya bertatapan, entah kode apa yang mereka maksudkan.


“Terima kasih tuan.” sahut Roy dengan semangat.


Disa segera menghidangkan makan siangnya sambil menunggu Kean dan Roy cuci tangan. Beragam hidangan ia sajikan di atas meja. Menata piring, sendok dan garpu juga gelas minum. Beruntung ia membawa alat makan lebih, sehingga tidak susah payah mencari alat makan untuk Roy.


Mood tuan mudanya sepertinya sangat baik, hingga terlihat begitu ceria dan penuh semangat. Semoga keadaan ini bertahan untuk waktu yang lama.


Di tempat lain, ada yang memasang wajah muram saat mendapat laporan dari orang kepercayaannya. Adalah Marcel, yang tengah memainkan bola tenis di tangannya saat menyimak kabar tidak menyenangkan yang di bawa oleh bawahannya.


“Jadi mereka berhasil?” tanyanya tanpa berbalik dari kaca besar yang ada di hadapannya.


“Iya tuan, keuntungan mereka menebus 150%.” ujar laki-laki berkaca mata dengan sebuah berkas di tangannya yang lalu ia taruh di atas meja Marcel.


“Lalu bagaimana keuntungan perusahaan kita?”


“Hanya mencapai 74% tuan.” kembali ia menaruh satu berkas lainnya di atas berkas sebelumnya.


Marcel menyeringai sarkas, lantas ia meremas bola tenis itu dengan kesal. Seraya berbalik menatap asistennya.


“BODOH!!” gertaknya seraya melempar bola tenis itu ke arah asistennya. “Kamu pikir saya membutuhkan laporan tidak berguna itu HAH?!” lanjutnya dengan wajah berubah geram.


Tangannya mengepal lantas dengan tatapan yang semakin tajam tertuju pada laki-laki jangkung yang terlihat tegang tersebut.


“Sia-sia saya menggaji kalian dengan banyak jaminan dari perusahaan yang bahkan kalian tidak perdulikan seperti apa perusahaan ini ke depannya.”


Berjalan menghampiri laki-laki bernama Farid yang kini mulai tertunduk ketakutan. Menarik jasnya dan mencengkramnya sangat kuat. “Kamu ingat kan farid, saat saya mengangkat kamu dari jalanan dan memberi kamu makan nasi dengan lauk pauk yang enak, hingga sekarang kamu bisa berdiri di sini dengan penuh percaya diri di balik jas berharga jutaan ini?”


"Iya tuan."


"Lalu bagaimana jadinya kalau semua ini berakhir?"


Melepaskan tangannya lalu merapihkan jas Farid dan mengusap dadanya. Farid menghela nafas panjang dan mengumpulkan keberanian untuk menatap Marcel yang masih menatapnya.


“Apa jadinya jika saat itu saya membiarkan kamu mati kelaparan, Ibumu mati kesakitan dan ayahmu yang frustasi hingga benar-benar bunuh diri?” suaranya pelan setengah berbisik tapi sangat penuh penekanan membuat farid merinding.


“Tidakkah alasan itu cukup untukmu memikirkan cara agar kita bisa berada di atas anak perusahaan lainnya?” lanjutnya dengan penuh intimidasi.


Marcel menegakkan tubuhnya, berjalan pelan mundur menjauhi Farid yang masih mematung dengan wajah tegang. Tangannya tampak mengepal.


Ia tersenyum samar, saat tatap nanar Farid bertemu dengan tatapan tajamnya.


“Atau mungkin, aku harus mengambil semuanya kembali?” imbuhnya, yang membuat mata Farid menyalak dengan cepat.


“Tidak tuan. Tolong jangan lakukan itu...” Farid segera menghampiri Marcel dengan sorot mata yang ketakutan.


“Lalu, apa? Apa otak cerdasmu ini mulai memikirkan ide untuk membuat kita bisa menang dari para pesaing kita?” menunjuk kepala Farid beberapa kali.


“Ya tuan! Saya sudah memikirkannya." jawabnya cepat. Ia memberanikan diri untuk tetap menghadapi Marcel yang tengah menyunggingkan seringai sarkas padanya. "Tapi mungkin hal ini pun akan membuat anda cukup tidak nyaman.”


“Oh ya? Katakan..” mendekatkan kepala pada Farid, ia bersiap mendengarkan ide orang kepercayaannya yang sering kali sangat brilian.


Farid menghela nafasnya dalam. Mungkin ia memang harus mencoba menyarankan ide ini pada tuan mudanya walau pun terdengar sedikit picik.


Mencondongkan tubuhnya pada Marcel, berbicara tepat di telinga Marcel. Hanya gerakan bibirnya yang terlihat mengeluarkan banyak kalimat dengan berbagai ekpsresi yang ia perlihatkan.


Marcel yang menyimak, tampak mengembangkan senyumnya lebar. Sepertinya ia tidak keberatan sedikitpun dengan ide yang diberikan Farid.


Selesai mendengarkan ide Farid, keduanya saling menarik tubuhnya saling menjauh. Marcel menyetuh bahu Farid lalu memepuknya dengan keras.


“Tidak sia-sia apa yang aku lakukan untuk kamu dan keluargamu.” ujarnya sekali lalu menepuk bahu Farid dengan penuh kebanggan.


“Anda tidak keberatan tuan?” Farid kembali bertanya.


Marcel berjalan menuju kursinya dengan senyum yang tidak pernah hilang dari garis bibirnya. Mengusap mejanya perlahan lalu duduk dengan tegak. Ia pun mengambil segelas minuman yang ada di mejanya. Memutarnya perlahan membuat es batu dan minuman berwarna kecoklatan itu semakin berbaur.


“Terkadang butuh sedikit rasa sakit untuk membuat kuda lebih kencang berlari. Hanya saja, mereka yang akan merasakan sakitnya dan aku yang akan kencang berlari.” tuturnya dengan seringai penuh keyakinan.


Ia kembali menatap Farid, “Mulai pekerjaanmu dengan segera, aku tidak bisa menunggu terlalu lama.”


“Baik tuan.” angguk Farid dengan patuh.


Ia pun pergi dari ruangan Marcel dan meninggalkan sang pimpinan sendirian di ruangannya.


Di ruangan luas ini Marcel kembali tampak berfikir. Ia melihat ke sekeliling ruangan dan sesekali meneguk minumannya pelan, menikmati sensasi minuman beralkohol yang menyisakan sedikit rasa pahit namun nikmat di tenggorokannya.


Sesekali ia tersenyum saat membayangkan rencananya namun tidak jarang, dahinya tampak berkerut memikirkan hal lain, salah satunya kekalahan yang ia rasakan saat ini.


Mungkin ia memang harus mulai beranjak dari tempatnya. Membuat perencanaan yang lebih matang agar tidak lagi melakukan kesalahan. Satu tegukan lagi membuat Marcel yakin untuk melakukan apa yang ia gambarkan dalam pikirannya.


*****