
Agenda hari ini cukup longgar. Disa tidak di minta membuat sarapan seperti biasanya karena Arini dan Kean akan membelinya. Mereka bersemangat untuk olahraga pagi di taman town house sementara Disa memilih untuk menyelesaikan pekerjaan domestik lainnya.
Penghuni rumah yang memang hanya bertiga, membuat pekerjaannya terasa ringan. Hanya pekerjaan-pekerjaan kecil yang Disa lakukan sebagai tugas rutinan semisal membersihkan rumah. Memastikan rumah selalu bersih, adalah suatu keharusan yang sudah menjadi kebiasaan Disa. Sementara hal besar lainnya biasa ia cicil harian sehingga pekerjaannya tidak menggunung dan terasa ringan.
Sudah setengah delapan pagi, namun belum terlihat tanda-tanda tuan dan nyonyanya pulang. Sepertinya mereka asyik melepas rindu setelah berjauhan beberapa hari. Sudah terbayang banyaknya cerita yang Arini siapkan untuk ia bagi dengan putra kesayangannya. Dekatnya hubungan mereka kadang memberi rasa iri pada siapapun yang melihatnya, termasuk Disa.
Acara mencuci piring harus terjeda sebentar saat terdengar suara bell yang berbunyi keras beberapa kali. Tidak ada jeda sama sekali, seperti sang tamu sangat menunggu pintu untuk segera di bukakan.
Disa mencuci tangan dan mengeringkannya lantas berlari kecil untuk membukakan pintu.
“Mana calon suami gue?” kalimat pertama itu yang di dengar Disa dari seoang tamu cantik yang langsung masuk ke dalam rumah.
“Hah? Maaf mba clara nyari siapa?” Disa mengikuti langkah jenjang Clara yang masuk ke dalam rumah tanpa permisi dan seperti mencari seseorang.
Tidak menemukan siapapun selain Disa akhirnya ia terpaksa berhenti dan berbalik dengan wajah malas menatap Disa. Dilepaskannya kacamata hitam yang menutupi matanya yang bulat. Sepagi ini wanita ini sudah terlihat cantik rapi dan wangi. Pasti bangunnya lebih pagi dari Disa.
“Lo kenapa sih selalu ada dimana-mana? Bisa gak sih lo jauh-jauh gitu dari dunia gue, gerah gue liat lo.” Clara langsung menyolot dengan tatapan sinis pada Disa. Ada apa dengan gadis cantik ini?
Disa tersenyum canggung namun ia masih berusaha tenang. “Mohon maaf, maksudnya seperti apa ya mba?” Ia bingung sendiri melihat sikap Clara yang tiba-tiba meradang dan sangat ogah bertemu dengannya.
“Heh, denger ya. Lo gak usah sok asyik sama gue. Lo dan gue beda dunia, beda kasta. Harusnya lo jangan terlalu sering muncul depan gue. Empet tau gak gue liat muka lo!” Clara menunjuk wajah Disa dengan kacamata yang ia genggam. Bibir cantiknya begitu mudah mengeluarkan kalimat sinis itu, ketara sekali kalau ia tidak suka melihat Disa.
“Baik mba saya mohon maaf. Saya tidak bermaksud,”
“Udah deh, berisik lo! Mana Kean? Bisa emosi gue aja lama-lama ngomong sama lo. Gak usah senyam senyum sok manis depan gue, enek gue liat muka lo.” Entah apa sarapan yang di nikmati Clara pagi ini hingga berulang kali ia mengeluarkan kalimat pedas penuh dengan kemarahan pada Disa.
“Gue kasih tau ya, lo di perlakukan baik sama keluarga ini, bukan berarti lo bagian dari keluarga ini. Inget kelas lo. Inget siapa lo sebenarnya. Gak usah jadi gede itu kepala, pake sok berasa jadi tuan rumah. Ngapain lagi lo corat-coret tembok di situ. Lo pikir bagus?!” Clara terus merepet mengomeli Disa membuat Disa kewalahan untuk mengerti apa sebenarnya kemauan sang model ini.
Disa ikut memandangi mural yang ia buat bersama Kean. Suasana tenang yang tersirat dari gambar yang ia buat ternyata tidak bisa membuat semua orang tenang, salah satunya Clara.
“Mba clara, saya gak tau kenapa mba clara begitu membenci saya. Saya minta maaf kalau kehadiran saya sering membuat emosi mba clara naik.” Disa mencoba berdamai dengan Wanita garang di hadapannya.
Clara hanya mendelik dengan kedua tangan tersilang dan pandangan yang ia arahkan ke sudut lain.
“Tapi, saya tidak merasa kalau saya membuat kesalahan pada mba clara hingga mba clara pantas membenci saya.”
“Jika menurut mba clara saya salah karena berada di sini, saya hanya sedang bekerja. Mba clara tidak perlu merasa terusik karena kehadiran saya tidak akan membawa kerugian apapun untuk mba clara.”
“Siapa bilang?" sahut Clara dengan cepat.
"Gak nyaman liat lo itu salah satu kerugian besar buat gue! Lo ada di sini, udah ngerusak banyak hal dalam hidup gue. Paling tidak mood gue jadi ancur. Masih belum paham juga?!” Clara semakin menyalak.
Disa menghela nafas dalam-dalam, mencoba memahami kemarahan Clara dan berusaha agar tidak terpancing sambil memikirkan letak kesalahannya.
“Tidak, saya tidak paham. Mba clara tidak perlu merasa terusik kalau menurut mba clara kita berada di kelas yang berbeda. Saya memang tidak terlahir dalam keadaan keluarga yang sempurna seperti mba clara, jadi mba clara tidak perlu merendahkan saya untuk membuat mba clara terlihat jauh di atas saya.”
“Jujur, saya mengidolakan mba clara. Wanita yang sempurna dengan segela kebaikannya, itu yang saya tahu. Dan sampai sekarang, saya masih mengidolakan mba clara. Saya akan menganggap perbincangan ini tidak ada agar saya tidak merasa kecewa dengan sikap mba clara.”
“Lo gak usah berkhutbah depan gue! Gue gak butuh fans kayak lo. Lo hanya harus tau dimana harusnya lo berada.” Tunjuk Clara dengan mata membulat seperti ingin menelan Disa utuh-utuh.
Nafas Disa mulai terasa berat. Menghadapi wanita ini memanglah tidak mudah. Bagaimana pun caranya, sebaik apapun kalimat yang Disa sampaikan, kalau dasarnya Clara tidak menyukainya, gadis ini akan tetap tidak menyukainya.
Entah sejak kapan perbincangan mereka berubah menjadi arena perang.
“Baik saya minta maaf kalau saya berada di tempat yang menurut mba clara tidak seharusnya. Saya hanya sedang berusaha melakukan usaha terbaik yang saya bisa. Dan usaha terbaik itu ya seperti ini. Bekerja pada orang-orang besar seperti mba clara agar bisa melanjutkan hidup dan bisa memiliki harapan."
"Saya tidak memiliki harta benda yang melimpah yang bisa membuat saya bisa duduk manis dan menikmati segala sesuatu dengan mudah. Saya hanya memiliki dua tangan dan bahu yang saya coba buat kuat untuk memikul beban hidup saya sendiri.”
“Saya tidak ada niatan sedikitpun untuk mengusik orang lain, jadi jangan merasa terganggu. Seperti yang mba clara bilang, kita berada di kelas yang berbeda, jadi jangan merasa kalau kita sedang bersaing di tempat yang sama. Mba clara tetap juaranya di kelas mba clara, jangan hiraukan saya.” tandas Disa. Ia harus menyudahi perdebatan yang sebenarnya tidak penting ini.
“Bagus kalo lo sadar kelas kita beda.” Clara memperlihatkan senyum sinisnya pada Disa.
“Kalau gitu lo gak masalah dong kalo gue minta pergi dari tempat yang tidak seharusnya lo berada?” ia menatap Disa dengan tajam, mengunci kedua matanya yang terlihat sendu. Seperti ingin mematikan nyala harapan yang ada di matanya.
“YA!! Pergi jauh-jauh dari sini dan bawa semua bayangan lo dari rumah ini!”
“CLAIRE!!” seru sebuah suara yang terdengar di pintu.
Disa dan Clara sama-sama menoleh pada suara besar milik Kean yang masih berdiri di mulut pintu.
Clara terengah, berusaha menurunkan emosinya yang membuncah. Sekilas Kean melirik Disa, sepertinya gadisnya tidak baik-baik saja.
“Sedang apa kamu di sini?” Arini memandangi Clara yang berdiri angkuh di hadapannya.
“Tante.” Clara segera mengubah tone suaranya dan menghampiri Arini, melewati Disa hingga ia menyenggol bahu Disa dengan sengaja.
Disa nyaris terhuyung tapi masih ia coba tahan.
Di raihnya tangan Arini yang hendak ia cium namun Arini menanggapinya dengan dingin. Ia lebih memilih menoleh Disa yang tertunduk dihadapannya. Tangannya saling memilin seperti tengah menyesali apa yang baru saja terjadi dan di lihat oleh nyonya besarnya.
“Tante apa kabar? Claire sengaja mau nemuin tante.” Clara tersenyum semanis mungkin pada Arini. Jurus paling ampuh untuk mempesona siapapun.
“Menemui saya? bukannya selama di amerika kamu sudah sangat muak melihat saya?” sinis Arini tidak terduga. Ia bahkan enggan melihat wajah Clara di hadapannya. Tangan yang di genggam Clara segera ia kibaskan.
“Em enggak dong tan. Mana ada calon mantu yang muak liat muka calon mertuanya.” Kilahnya dengan cepat. Sikapnya langsung berubah manis.
“Calon mantu?” Arini melirik Kean yang mematung di belakangnya.
“Oh, kean belum cerita ya tan.” Clara langsung menyambut rasa penasaran Arini.
Arini hanya menggeleng, ia memandangi Kean dan Disa yang terlihat menghela nafasnya dengan berat.
“Claire certain deh. Jadi semalam itu,”
“Claire, berhenti.” Kean segera manjeda kalimat Clara. Ia tidak ingin wanita ini mengatakan hal yang macam-macam.
“Loh, kenapa? Kamu belum ngasih tau mamah kamu ya? Padahal ini kan berita besar. Kamu gimana sih.” Clara segera menghampiri Kean dan berdiri di sampingnya. Ia mengusap dada Kean dengan sensual dan Kean segera mencekram tangan Clara lalu mengibaskannya.
Disa membuang pandangannya dari Kean. Tiba-tiba mendengar ujaran Clara yang mengaku sebagai calon mantu, seperti ada sesuatu yang patah di rongga dadanya. Sakit namun tidak berdarah. Detak jantung terasa melambat dan nafasnya yang berat untuk ia hela. Ulu hatinya nyeri hingga nyaris membuat ia menitikkan air mata.
Rasanya ia tahu alasan kenapa Clara begitu membencinya. Dan rasanya benar, kalau ia berada di tempat yang salah.
“Kean, ngomong sama mamah. Ada apa sebenarnya?” berganti Arini memandangi putranya yang terlihat ragu. Kean melirik Disa dan Arini pun ikut melirik Disa yang tengah menghela nafas dalam-dalam.
Berusaha terlihat baik-baik itu ternyata sangat sulit. Kesakitannya begitu jelas ketara. Melihat Kean yang hanya terdiam, membuat hatinya mencelos.
“Nanti kean cerita mah. Jangan sekarang.” Itu keputusan Kean saat ini.
“Ish kamu mah lama.” Protes Clara tidak terima. “Jadi tan, kean sama clara,”
“CLAIRE!!!” Kean membentak Clara untuk kedua kalinya. Tidak hanya itu, kali ini ia pun menarik tangan Clara dengan kasar untuk pergi dari hadapan Arini dan Disa.
Ia belum mengatakan apapun dan ia tidak mau membuat suasana menjadi tidak nyaman. Maka ia memutuskan untuk pergi dan menyelesaikan masalahnya dengan Clara.
Tapi hal lain yang muncul di benak Disa. Gadis yang hanya termangu di tempatnya ini, kini mulai tersadar kalau ada sesuatu yang sedang Kean sembunyikan.
“Tunggu aku sebentar lagi.” Kalimat Kean tiba-tiba terngiang di telinga Disa. Apa ini yang harus ia tunggu? Menunggu untuk merasa menjadi duri dalam hubungan Kean dengan Clara? Apa ia harus setidak tahu malu itu?
Clara tentu tidak asal bicara. Wanita itu pasti berbicara apa adanya. Dan gelagat Kean yang menutupi sesuatu membuat Disa menyimpulkan kalau yang Clara katakan adalah benar, ia sedang berada di tempat yang salah. Bertahan untuk sesuatu yang salah.
Kenapa rasanya sangat sakit? Bisakah ia menangis saja saat ini?
*****