
“Kita akan kemana lagi tuan?” Disa berjalan mundur di hadapan Kean.
Ia tidak bisa berjalan melenggak lenggok layaknya gadis yang ingin terlihat anggun di hadapan orang lain terlebih laki-laki. Langkahnya terlihat ringan dengan sneaker yang membungkus kakinya dan sesekali tampak berjinjit berusaha mengimbangi tinggi tubuh Kean. Sedari tadi tuan mudanya tidak pernah memberi petunjuk akan pergi kemana dan mau apa. Maka berjalan seperti ini rasanya lebih baik.
“Berjalan dengan benar, kamu bisa menabrak orang lain.” Memutar tubuh Disa lalu menempatkannya di sisi kiri tubuhnya.
“Baik tuan.” Cukup patuh juga rupanya.
Di depan sebuah toko ponsel buatan amerika langkah Kean terhenti. Sapaan seorang pelayan toko menyambutnya dan membuat Kean melangkahkan kakinya masuk ke tempat itu. Sebuah ruangan yang didominasi kaca menjajakan berbagai gadget lengkap dengan aksesorisnya. Sangat variatif, termasuk harganya.
Disa ikut masuk dan melihat jajaran handphone yang berbaris rapi di dalam etalase. Mulutnya tampak membulat takjub melihat barisan angka dalam mata uang dolar. Jari tangannya terlipat satu per satu mengkalikan mata uang tersebut dengan rupiah dan hasilnya banyak.
“Gila, harganya setara dengan biaya hidupku setengah tahun.” Gumam Disa.
Dalam pikirnya, bagaimana bisa orang-orang begitu antusias untuk memiliki benda pipih dengan beragam fasilitas yang lebih terlihat seperti perlombaan teknologi yang tidak pernah ada akhirnya. Atau mungkin ini hanya pikiran sempit bagi seorang yang berdompet tipis seperti Disa.
Dari waktu ke waktu teknologi semakin canggih. Setiap brand menawarkan tampilan ponsel menarik dengan beragam fasilitas. Mereka bersaing dengan lawannya atau dengan produknya sendiri dengan upgrade fitur yang semakin canggih hanya dalam beberapa bulan ke depan. Namun itu tidak membuat orang-orang berhenti berlomba mendapatkan sebuah teknologi yang lebih mengedepankan prestise.
“Kamu suka, ambillah.” Kean yang bersuara di samping Disa.
Ia memandangi Disa yang tampak melongo melihat ponsel berwarna silver tersebut.
“Em tidak tuan. Saya tidak tertarik dengan ponsel harga selangit seperti ini.” Sahut Disa dengan yakin.
“Kenapa? Teknologinya canggih. Kamu bisa mendapatkan manfaat banyak dari teknologi canggih.” Bujukannya seperti sales yang sangat mahir menggait hati konsumennya.
“Iya, tapi untuk orang seperti saya, belum memerlukan ponsel seperti ini. Asalkan sudah bisa mengirim pesan dan bertelpon itu sudah cukup.” Disa meyakinkan dirinya sendiri dengan senyum diplomatisnya.
“Oh ya? Bukankah akan lebih menyenangkan kalau bisa video call atau semacamnya? Kamu bisa melihat wajah orang-orang yang kamu rindukan. Nenek kamu misalnya?” timpal Kean yang tetap terlihat acuh.
Terlihat jelas perubahan ekspresi Disa yang mulai sendu. Matanya yang bulat tampak meredup.
“Bagaimana tuan tau tentang nenek saya?” lirihnya. Seperti diingatkan kalau ia sudah lama tidak bertanya kabar sang nenek.
Kean hanya tersenyum samar, lantas menunjuk pada ponsel yang harganya masih di kolong langit dan meminta sales di hadapannya untuk mengambilkan.
“Tentu saya harus tau siapa saja yang bekerja di rumah saya bukan?” membalas pertanyaan dengan pertanyaan, begitulah Kean.
Wajah sendu Disa berubah senyum. Sekalipun tuan mudanya berkata begitu dengan acuh, namun bagi Disa itu menunjukkan kalau Kean cukup peduli pada orang-orang di sekitarnya. Bukan karena Kean tahu Disa memiliki seorang nenek, melainkan karena ia tahu kalau Disa sangat merindukan neneknya.
“Yang ini kak?” tanya sales di hadapan Kean.
“Hem,” jawabnya singkat.
“Payment-nya di kasir sebelah sana ya kak. Setelah itu baru bisa kakak coba.” terang sales laki-laki tersebut.
Kean beranjak dari tempatnya sementara Disa masih mematung memandangi pergerakan tuan mudanya.
“Pacarnya baik banget sih kak.” Bisik sales laki-laki yang mendekat pada Disa.
“Hah?” sedetik kemudian Disa sadar dari pikirannya. “Enggak, beliau,.. Tunggu,” alih-alih menjelaskan Disa lebih memilih menghampiri Kean. “Tuan, ini tidak perlu.” Disa menahan tangan Kean saat laki-laki itu mengeluarkan kartu debitnya.
“Diamlah, kamu tunggu di sana.” Bisik Kean yang masih bisa di dengar Disa.
“Tapi tuan, ini terlalu mahal. Bagaimana cara saya menggantinya?” rajuk Disa. Kean tidak menanggapi dan ia malah menekan pin kartu debitnya untuk menyelesaikan transaksi. “Astaga tuan,..” akhirnya Disa kesal sendiri.
“Bisa diam nggak? Ini perintah!” gertak Kean kemudian.
Dengan cepat Disa mengatupkan mulutnya. Kasir yang berdiri di hadapan Kean tampak meliriknya dengan tajam. Mungkin ia kesal karena tingkah Disa bisa mengancam keberhasilan penjualannya. Sementara Kean tampak anteng menyelesaikan transaksinya.
Akhirnya Disa memutuskan untuk keluar dari toko tersebut. Ia duduk di bangku depan toko dengan pikiran tidak menentu. Bagaimana cara ia nanti mengembalikan uang Kean sementara gajinya per bulan sudah ia plot dan hanya menyisakan beberapa rupiah sebagai sisanya.
Disa menangkup wajahnya dengan kedua tangan lantas mengguyar rambutnya dengan kasar. Ia butuh waktu berfikir ya berfikir cara membayar semuanya pada Kean. Jangan sampai gajinya di potong terlalu lama hingga ia merasa lelah sendiri.
“Nih!” Kean menyodorkan sebuah paperbag yang Disa Yakini berisi ponsel yang di beli Kean.
“Tidak tuan, saya tidak bisa menerimanya. Saya tidak tahu bagaimana nanti membayarnya.” Disa bersikukuh tanpa mau menoleh Kean.
Kean memandangi Disa yang tampak mengerucutkan bibirnya kesal. Ternyata keras kepala juga gadis di hadapannya. Mendudukan tubuhnya di samping Disa dengan paper bag yang ia simpan di antara mereka.
“Saya tidak akan meminta kamu membayarnya. Anggap ini sebagai permintaan maaf dan pengganti ponsel kamu yang saya rusak. Hem?” ujarnya seraya menatap Disa lekat.
“Harga ponsel saya tidak seberapa tuan kalau di bandingkan dengan ponsel ini. Mungkin harga ponsel saya lebih murah dari harga charger ponsel ini. Lagi pula, saya tidak bisa memakainya.” Masih bersi kukuh dan membuat Kean menghembuskan nafasnya kesal.
Mendengar hembusan nafas Kean yang berat, Disa hanya bisa menunduk.
“Pake lah. Jangan berdebat lagi dengan saya. Lagi pula, masa kamu kalah sama anak umur 5 tahun. Mereka di kasih hp sebentar aja langsung pinter, masa kamu yang mahasiswi gak bisa.” Ledek Kean seraya menyilangkan tangannya di depan dada.
“Jangan mengejek saya tuan. Saya seorang pelayan, bukan seorang mahasiswi.”
“Kalau begitu, pakai ponsel ini untuk mengubah keadaan kamu. Kamu tidak mau terus seperti ini kan?” timpal Kean dengan cepat. Tatapan dari netra pekatnya begitu tegas dan terasa menyentuh satu sudut hati Disa. Saat itu Disa mulai merasa takut, takut jika Kean terlalu baik padanya.
“Sudahlah, kalau kamu tidak mau, saya akan memberikannya pada pelayan toko itu.” Kean beranjak dari tempatnya dan mengulurkan tangannya dengan acuh agar Disa mengembalikan paper bag di sampingnya.
Untuk beberapa saat Disa tampak berfikir. Menatap paper bag itu lalu Kean, bergantian.
“Bisakah tuan untuk tidak selalu memaksakan kehendak tuan pada saya?” tanya Disa dengan kesal.
Kean membuatnya merasa harus memilih membiarkan semuanya agar tetap merasa tenang atau mengambil kesempatan dan bersiap menghadapi ketakutan.
“Tidak! Karena saya tidak suka di bantah.” Jawab Kean tegas.
Cuping hidung Disa tampak menguncup dengan wajah tertekuk kesal. Matanya tampak berkaca-kaca saat menatap Kean.
Ia kesal, namun bukan pada Kean. Ia lebih marah pada keadaan. Kenapa harus laki-laki ini yang memantik keinginannya yang susah payah ia pendam? Kenapa harus laki-laki ini yang menyuruhnya untuk bangkit dan tidak terpuruk? Dan kenapa harus laki-laki ini yang membuatnya merinding sendiri mengingat apa yang menjadi mimpinya selama ini?
Disa tidak lagi menimpali. Ia mengambil paper bag di sampingnya lalu berjalan lebih dulu di hadapan Kean. Kean hanya tersenyum samar, ia tahu Disa kesal tapi mungkin ia harus melakukan ini agar Disa bisa memilih keadaan dan tidak berdiam diri menerima kenyataan yang ia benci.
“Saya akan mengajari kamu cara memakainya.” Bisik Kean yang sudah berdiri di samping Disa.
“Tidak perlu, saya bukan anak usia 5 tahun.” Timpal Disa masih kesal.
“Kalau begitu saya akan memilih nama sendiri untuk nama saya di hp baru kamu.”
“Tidak perlu, hp ini sudah jadi milik saya dan saya punya privasi sendiri. Saya yang akan menentukan nomor siapa yang akan saya simpan di sini dan menamainya sendiri.” Lagi Disa menimpali. Ia lupa dengan siapa saat ini ia berbicara.
"Uuhhh." Kean berseru sendiri, sepertinya ada yang mulai terpantik perasaannya. “Kalau begitu, kemarilah.” Kean memegangi kedua pundak Disa untuk berbalik dan masuk ke dalam sebuah café.
“Mau kemana kita tuan?” menatap Kean dengan wajah bingung tapi tetap saja langkahnya mengikuti karena dorongan Kean sangat kuat.
“Kamu akan dapet private belajar mengoperasikan hp.” Timpalnya sambil mendudukan Disa di salah satu kursi. Lantas ia duduk di hadapan disa.
Disa hanya menggeleng dan tersenyum samar melihat tingkah tuan mudanya yang sangat antusias untuk mengajarinya menggunakan benda pipih ini.
Ia mulai membuka kardus hpnya dan tampaklah benda persegi berwarna hitam. Matanya tampak membelalak kagum seolah benda di hadapannya berkilauan di penuhi cahaya. Kean terkekeh geli melihat ekspresi norak Disa.
Mulai menyalakan ponselnya dan dengan tidak sabar mereka menunggu. Keduanya mulai anteng menyeting ponsel Disa dan sesekali tertawa. Menyimpan beberapa nomor hp dan sedikit Kean mengintip, mencari tahu apa yang Disa lakukan dengan benda pipih barunya.
Disa segera berbalik, menghindari Kean yang berusaha mengintip apa yang ia lakukan.
“Sekarang ini privasi saya tuan.” Lirihnya.
“Okey. Silakan atur privasi kamu sendiri.” Sinis Kean dengan kesal.
Saat mendengar jawaban Kean, Disa segera menurunkan ponsel dari hadapannya. “Hehehe… Saya cuma becanda tuan.” Kilahnya, khawatir juga rupanya kalau Kean sampai marah. Bagaimana pun ia harus tahu terima kasih pada laki-laki di hadapannya.
“Terima kasih ya tuan. Saya akan menjaga hp ini dengan seluruh jiwa raga saya. saya janji.” Mengacungkan tangannya pada Kean.
Kean hanya tersenyum samar seraya mengusap dagunya. Sudahlah, lebih baik ia memesan cemilan atau makanan untuk menemani Disa menyeting ponselnya.
“Kalau bingung, kamu bisa phone a friend.” Ujar Kean.
“Siap tuan!” sahut Disa seraya melakukan hormat singkat.
Menggeleng ya Kean hanya bisa menggeleng melihat tingkah Disa yang mulai anteng dengan ponsel barunya.
****