
Istilah “Serangga menyukai nyala lampu yang paling terang” sepertinya memang benar adanya. Sejak resmi di kukuhkan menjadi pimimpin utama dari Hardjoyo Group dengan cepat para pebisnis rekanan mendekatinya.
Tawaran makan siang, main golf, undangan pesta dan kesenangan lainnya seolah menjadi hal yang lumrah mereka lakukan demi menarik perhatian dari pucuk pimpinan baru. Muda, tampan, sukses dan tentu saja lajang menjadi daya tarik tersendiri yang dimiliki seorang Kean.
“Tuan, pimpinan angkasa group mengundang anda untuk makan siang di akhir pekan. Apa tuan bisa?” Roy menjadi orang yang paling sering menanyakan hal itu pada Kean. Sejak hari pertama Kean bekerja, entah berapa undangan yang terpaksa ia tolak karena Kean tidak ingin pergi.
“Tidak! Tidak! Tidak!” selalu seperti itu jawaban Kean. Waktunya untuk bekerja seperti terkuras habis oleh banyaknya pertemuan. Terlebih ia bukan orang yang mudah berbaur dengan orang baru. Selalu ada jarak yang membuatnya terkesan eksklusif.
“Tuan, pertemuan semacam ini penting bagi anda, agar bisa tetap menjaga kedekatan dengan relasi bisnis.” Nasihat itu yang bisasanya diberikan Roy setelah tuan mudanya terlalu banyak menolak.
Sedikit berfikir, berada di posisi puncak sebuah perusahaan memiliki artian bukan lagi mengerjakan pekerjaan di depan komputer. Melainkan menjaga citra perusahaan dan pimpinan tetap baik agar mudah mendapatkan relasi bisnis, seperti yang selama ini dilakukan Sigit. Dan perlahan Kean seolah di tarik paksa pada kubangan citra baik yang selalu di pertahankan Sigit.
Harus selalu berusaha tampil sempurna dengan segala tuntutan yang di berikan direksi agar Kean tetap menjaga nama baik perusahaannya.
Tidak melulu masalah pencapaian yang di lihat mereka melainkan masalah pribadi yang terkadang mulai di kait-kaitkan dengan masalah pekerjaan.
“Jadwalkan 2 kali pertemuan semacam itu dalam satu minggu. Sisanya hanya pertemuan bisnis.” Kean mulai melunak. Bagaimana pun ia sadar kalau menjaga citra itu penting.
“Baik tuan.” Akhirnya Roy bisa menghela nafas lega. Perlu bujukan yang menguras kesabaran demi membuat Kean menerima sarannya.
Suara ketukan di pintu ruangan kerja Kean terdengar nyaring. Tak lama, terlihat salah satu sekretaris yang muncul dari balik pintu.
“Permisi tuan, ada tuan Brata menunggu anda di ruang tamu.” Ujarnya.
Kean hanya bisa menghela nafasnya dalam. Banyak juga orang-orang kenalan papahnya yang tiba-tiba datang seolah ia wajib untuk menerima kehadiran mereka tanpa bisa ia tolak. Semua muncul satu per satu dan nyaris bersamaan seperti jamur di musim hujan.
“Hem. Saya segera ke sana.” Sahutnya dengan malas.
Sekretaris itu pergi setelah Roy memberinya perintah.
Kean beranjak dari tempatnya, merapikan jas dan rambutnya. Tampilannya memang harus selalu rapi, seperti yang di katakan Disa tadi pagi “Penampilan anda adalah cerminan dari perusahaan yang anda pimpin tuan.” Ujarnya saat ia memasangkan dasi bermotif diamond ini di lehernya.
Ya, untuk alasan itulah ia harus sedikit melunak dan menjaga penampilannya. Mulai memakan pomade dan parfum.
“Keaan…” seru Brata saat melihat kedatangan Kean. Ia merangkul Kean dengan akrab walau sebenarnya tidak pernah seakrab ini.
“Gimana rasanya duduk di tempat papahmu dulu?” tanyanya yang lebih terasa seperti sindiran. Bukankah ia dilahirkan memang untuk meneruskan tahta itu?
Brata tahu, Kean begitu sulit untuk di minta duduk di posisinya kini dan berkat kegigihan Sigit akhirnya ia bersedia.
“Ya, cukup melelahkan om.” Sahut Kean yang menggaruk pelipisnya acuh.
“Hahahaha.. Nanti juga kamu akan terbiasa. Pelan-pelan saja, nikmati ritme dan suasana baru dimana ucapan dan telunjuk kamu menjadi hal yang paling sakral dan di turuti siapapun.” Ungkap Brata seraya menepuk bahu Kean. Terlihat jelas di balik sikapnya yang berusaha ramah, Brata adalah seorang yang diktator. Seperti yang ia katakan, ucapannya dan telujuknya menjadi hal yang wajib di turuti.
Kean hanya terangguk dan tersenyum diplomatis.
“Oh iya, om mau ngajak kamu makan siang. Belum ada agenda kan?” tawarnya tanpa basa-basi.
Kean tampak berfikir. Sejujurnya ia merindukan makan siang buatan Disa tapi sepertinya menolak ajakan laki-laki ini bukan hal yang baik.
“Ayolah! Om juga udah ngajak papah kamu dan dia setuju.” Imbuhnya dengan mengandung banyak paksaan.
“Iya om.” apa boleh buat, pilihannya hanya satu, wajib setuju.
Di sebuah restoran yang menyajikan menu berbahan dasar ikan ini Kean di jamu. Sebuah meja bulat eksklusif mereka tempati bertiga, Kean, Brata dan tentu saja Sigit.
Sigit dan Brata masih asyik bertukar cerita mengenai masa muda mereka yang katanya seru dan membanggakan. Menceritakan perjalanan panjang perusahaan masing-masing, kondisi jatuh bangun dan bertahan hingga akhirnya keduanya mencapai puncak kesuksesan.
“Kamu beruntung sigit, anak kamu bisa meneruskan usaha kamu. Nah aku, anakku satu-satunya perempuan dan dia lebih memilih pekerjaannya sendiri.” Keluh Brata.
Sigit terkekeh bangga. “Ya walaupun kamu memiliki anak perempuan tapi kelak dia akan membawa seorang suami yang bisa meneruskan usaha kamu. Tidak sulit bukan?” sahut Sigit dengan enteng.
“Ya kamu benar, hanya saja aku harus lebih selektif memilih calon suami untuk putriku. Tidak bisa yang sembarangan. Harus memiliki kriteria calon mantu ideal.” Tegas Brata seraya melirik Kean.
Kean yang asyik menikmati makanannya pura-pura tidak paham pada arah pembicaraan Brata yang beberapa kali menyinggung masalah putrinya yang cukup di kenal Kean.
“Kean juga sudah harus memiliki pasangan. Aku sudah tua, aku harus memastikan kelak aku memiliki seorang cucu yang akan menjadi penerus perusahaan ini.” Sambung Sigit seraya menatap Kean yang menghentikan kunyahannya. Sepertinya ia tidak terlalu setuju.
Dari basa-basi ini, rasanya ia sudah bisa membaca arah pembicaraan kedua laki-laki di hadapannya. Mungkin saja pertemuan ini pun sudah di rencanakan oleh keduanya.
“Terus kamu nunggu apa lagi? Sudah ada calonnya?” benar bukan, tujuan Brata tidak beda jauh dari para bapak lainnya yang menawari Kean untuk berkenalan dengan putrinya.
“Saat ini, kean masih fokus dengan perusahaan. Namun saya yakin dalam waktu dekat dia akan memikirkannya.” Sigit yang menjawabkan pertanyaan Brata untuk putranya.
Dalam hatinya saat ini dengan bangga ia berperan sebagai seorang ayah bagi Kean namun dalam pikiran Kean, ini hanya trik untuk membuatnya menurut pada keinginan Sigit.
“Hahahaha.. Kamu memang pengertian sigit. Urusan asmara memang urusan anak muda. Kita hanya mendorong saja. Hanya saja, kamu tentu sudah kenal dekat dengan putri om. Mungkin akan lebih mudah untuk menjalin kedekatan dengan orang yang sudah kamu kenal sejak dulu.” Kalimat Brata memang diplomastis namun tetap di akhiri dengan sebuah pemaksaan.
“Saya dan putri om memang berteman dan sepertinya akan selalu lebih cocok sebagai teman.” Dengan halus Kean menolak tawaran Brata.
“Kean, semakin kamu mengenal seseorang, semakin mudah kamu memiliki ikatan yang kuat dengan orang tersebut. Kenapa tidak, kamu memikirkan putri om brata sebagai seorang wanita, bukan sebagai teman.” Sigit ikut menegaskan. Ia melempar senyuman pada Brata yang kemudian diangguki Brata dengan semangat.
“Beberapa hari lagi, ulang tahun perusahaan om. Kamu bisa datang kan? Ini om ngundang secara langsung loh.” Tawar Brata dengan penuh kesungguhan. Tentu saja ini pun paksaan.
Kean meletakkan sendok di tangannya dengan sedikit kasar. Ia mulai jengah dengan rencana perjodohannya ini.
“Saya usahakan untuk datang, tapi hanya sebagai penghormatan saya atas undangan om.” Tegas Kean tidak ingin berbasa-basi.
“Kean! Jaga sikap kamu.” Gertak Sigit yang terlihat emosi mendengar jawaban putranya.
Brata berusaha menahan sahabatnya dengan isyarat menggelengkan kepala. Ia tahu, Kean bukan seseorang yang bisa di paksa namun ia tahu akan ada saatnya Kean bisa luluh. Hanya perlu menunggu saja.
*****
“Di Yayasan. Kenapa?”
“Jangan kemana-mana, gue ke situ.” Sahut Kean yang tergesa-gesa. Ia segera mengantongi ponselnya lantas masuk ke dalam mobil.
Setelah makan siang bersama Sigit dan Brata, rasanya ada yang harus ia selesaikan sebelum masalah perjodohannya kembali di bahas.
Sebuah Yayasan Pendidikan yang di datangi Kean dengan seorang gadis yang menunggunya di depan pintu. Ia tersenyum melihat kedatangan Kean yang tiba-tiba tanpa ada pemberitahuan terlebih dahulu.
“Tumben lo mampir ke sini. Ada apa?” sambut gadis cantik yang tidak lain adalah Clara.
Yayasan Pendidikan yang dimiliki Clara adalah sebuah yayasan Pendidikan yang di khususkan untuk para calon model. Ia mengelolanya bersama beberapa temannya sepulang dari Amerika.
Gadis yang tadi siang di bahas Brata pun adalah gadis yang sama. Ia putri satu-satunya dari pengusaha property sukses yang merupakan sahabat Sigit.
“Gue perlu ngomong sama lo.” Timpal Kean dengan cepat.
“Ngomong apa sih, buru-buru banget. Kayak lagi kebelet mau kawin aja.” Ledek Clara. Ia membawa Kean ke sebuah ruangan yang merupakan ruang kerja Clara.
“Lo udah tau?” tanya Kean. Mendengar candaan Clara, sudah pasti sahabatnya tahu tentang rencana kedua orang tua mereka.
“Hem.” Sahutnya seraya menyodorkan botol minuman dingin pada Kean.
“Lo bakal nolak kan?” duduk gusar di salah satu sudut sofa. Ia sudah berniat untuk membuat Clara menolak rencana perjodohan mereka.
“Kenapa lo mikir kalo gue bakal nolak?” Bagi Clara lebih menyenangkan untuk sedikit berdebat dengan Kean yang tampak stress mendengar rencana perjodohan mereka.
“Lagian, lo beruntung kali kalo dapet istri macam gue. Cantik, mandiri, terkenal dan yang pasti gak bakalan nuntut apapun.” Imbuhnya ringan.
“Ayolah Claire, lo sama gue sama-sama tau. Gak bakalan ada hal kayak gitu antara lo sama gue. Lo bukan tipe gue dan gue juga bukan tipe lo. Itu alasan yang paling mendasar.” Kean tidak mau kalah untuk meyakinkan Clara agar menolak.
“Siapa bilang?” Clara beranjak dari tempat duduknya, berpindah ke samping Kean dan sedikit mendekatkan tubuhnya.
“Gue tau, yang di butuhin laki-laki gak sebatas cinta. Tapi tubuh yang menggoda. Dan gue punya itu.” Bisik Clara seraya mengusap rahang Kean dengan telunjuknya.
“Claire!” Kean menepis tangan Clara yang menurutnya terlalu berani.
“Hahahahha.. Kenapa? Adek lo bangun?” menunjuk bagian bawah tubuh Kean dengan sudut matanya.
“Sialan lo! Ade gue bangun juga pilih-pilih.” Kean beranjak dari tempatnya, ia tidak nyaman untuk berdekatan dengan wanita terlebih itu Clara yang sudah sangat khatam anatomi tubuh laki-laki.
Melihat tingkah Kean, rasanya Clara ingin tertawa. Sedari dulu Kean selalu dingin terhadap wanita. Sangat wajar kalau perjodohan ini membebaninya.
“Lo tau ken, perjodohan kita itu cuma mempertimbangkan segi keuntungan. Gue akan di anggap beruntung karena menjadi istri seorang pengusaha muda yang sukses dan lo beruntung karena memiliki istri kayak gue. Dan yang lebih beruntung, karena tingkat popularitas dan kekayaan keluarga kita akan semakin bertambah.” Tutur Clara dengan meyakinkan.
Ia mencoba realistis pada rencana perjodohan ia dan Kean. Bagi orang tuanya, ia akan merasa tenang saat Clara berada di tangan laki-laki yang bisa menjamin hidup putrinya tanpa perlu merasa takut kekurangan.
“Jadi, apa salahnya kalo kita coba?” Clara menatap Kean penuh arti.
Tapi bukan hal mudah untuk mempengaruhi Kean. Pandangan Clara dan Kean memang berbeda. Entah karena ia memiliki pemikiran yang sama dengan orang tuanya atau karena alasan lain. Hanya saja pada dasarnya secara realistis setiap wanita menginginkan kepastian dan jaminan untuk masa depannya.
“Hal kayak gini, bukan buat di coba Claire. Pernikahan yang disadarkan hanya untuk mencari keuntungan, gak bakal bikin kita Bahagia. Saat kita ada masalah keuangan, saat itu juga hubungan pernikahan itu akan terancam. Dan gue gak bisa ngambil resiko itu.” Tegas Kean.
“Wow! Belajar dari mana lo tentang pernikahan? Bukannya lo gak pernah kepikiran buat nikah? Lo bahkan gak bisa ngedeketin perempuan. Atau lo memang bengkok?” selidik Clara yang terkekeh di ujung kalimatnya.
“Claire, berhenti becanda. Gue serius. Gue gak mau sama perjodohan ini. Lo gak bakalan bahagia sama gue karena gue gak punya perasaan apapun sama lo. Plis, ini demi kebaikan lo juga!” Kean setengah memohon.
Clara tampak berfikir sejenak. Pandangan jauh ke depan sana. Sejujurnya ia mengakui kalau hubungannya dengan Kean memang bukan untuk hubungan yang terikat oleh sebuah pernikahan. Prinsip mereka terlalu berbeda dan lagi perasaannya sudah milik orang lain.
“Ya, gue pertimbangin.” Timpal Clara akhirnya.
“YES!!” seru Kean. Akhirnya ia bisa membujuk Clara. Gunung batu ini bisa juga di ajak kompromi.
“Jangan seneng dulu.” Tepis Clara. “Lo terlalu cepet buat ngerasa seneng.” Imbuhnya yang menatap Kean dengan seringai tipisnya.
“Loh, apa lagi yang gak harus bikin gue seneng. Hubungan kita gak bakalan berjalan. Wajarlah kalo gue seneng.” Kean dengan penuh rasa percaya dirinya.
“Kita memang sepakat, belum tentu orang tua kita sepakat. Lo masih harus ngelewatin bokap lo.” Clara mencoba mengingatkan. Ia tahu benar seberapa kukuhnya keinginan orang tua mereka. Bukan perkara mudah untuk membantah keinginan keduanya.
“Lo bener Claire. Gue masih harus ngehadepin bokap gue.” Kean menyandarkan tubuhnya lemas. Ia masih harus berfikir keras cara untuk meyakinkan ayahnya dan meminimalisir keributan yang mungkin terjadi.
“Ya bukan lo doang yang mesti mikir. Gue juga.” Timpal Clara.
Mereka menyandarkan tubuhnya di sofa, sama-sama memikirkan cara yang terbaik untuk berbicara dengan kedua orang tua mereka.
"Lo gak mau sama gue bukan karena lo jatuh cinta sama perempuan lain kan?" tanya Clara tiba-tiba.
Kean hanya tersenyum, tidak membantah ataupun mengiyakan pertanyaan Claire.
"Jatuh cinta? Benarkah aku bisa merasakannya?" batin Kean seraya memejamkan matanya.
*****