Marry The Heir

Marry The Heir
Man to man



Flash back


Marcel masih memperhatikan Disa yang masuk ke dalam mobil Kean namun urung menutup pintunya. Dari tempatnya berada, ia melihat Kean yang tiba-tiba berjongkok dan menempatan kaki Disa di atas pahanya. Satu hal langka dimana keponakannya memperlakukan seorang wanita dengan sangat manis.


Ia masih mengingat saat di Amerika ia membayar seorang Wanita untuk mengerjai Kean. Ia ingin menunjukkan pada sang kakak kalau putra yang selalu ia banggakan hanya bermain- main saat berada di Amerika. Sayangnya ia gagal. Tidak ada satupun wanita yang di gubris Kean, seperti keponakannya punya alarm tersendiri untuk tidak membiarkan wanita manapun mendekat. Yang ia tahu, hanya Clara wanita yang menjadi sahabat keponakannya sejak dulu.


Tapi kali ini semua berbeda. Kean bahkan berani masuk ke dalam lift dan menjemput seorang wanita yang hanya menjadi pelayan di keluarganya. Terlalu aneh menurutnya. Hubungan mereka bukan hanya sebagai teman seperti yang Farid laporkan tapi sudah lebih dari itu.


“Apa kean benar-benar serius dengan gadis itu?” tanya Marcel pada Clara. Apa yang ia lihat terlalu mengusik pikirannya.


Clara menoleh Marcel sejenak dan mengikuti arah pandang pria di sampingnya.


“Cih, kamu masih aja penasaran sama perempuan itu. Kamu terpesona banget sama aura pelayan sampe cuekin aku?” sunggut Clara tidak terima. Marcel yang biasanya memakaikan seat belt padanya dan menggodanya dengan memberi ciuman ringan kali ini malah asyik memperhatikan Disa yang terlihat samar di balik kaca mobil Kean.


“Hey, jangan marah dong. Aku kan udah bilang kalo aku ngedeketin perempuan itu cuma buat nyari celah jatuhin kean. Gak lebih. Kamu tetep satu-satunya claire.” Kilah Marcel.


Wanitanya selalu saja sensitif kalau sudah berhubungan dengan Disa. Padahal sejak dulu Marcel sudah banyak digosipkan dekat dengan para wanita terutamaa rekan modelnya tapi tidak ada satupun yang mengusik pikiran gadis di sampingnya.


Apa yang terjadi sampai gadis ini harus meradang kali ini?


Ia meraih tangan Clara untuk ia genggam namun dengan cepat Clara mengibaskannya.


“Aku gak ngeliatnya begitu!” air mata mulai terkumpul di sudut matanya seperti siap tumpah kapan saja. “Cara kamu natap pelayan itu, penuh kekaguman cel. Kamu aja gak pernah natap aku kayak gitu.” Suaranya mulai bergetar.


“Hey, sayang.” Kean meraih bahu Clara untuk ia rangkul dan coba tenangkan.


“Oke, aku akui, aku memang mengagumi gadis itu.” Marcel tidak bisa berkilah lagi. Ia memang bukan laki-laki yang pandai berbohong.


“Dia gadis sederhana yang berusaha sangat keras untuk mencapai cita-cita. Dia sangat bersungguh-sungguh dalam melakukan apapun sampai tidak menyisakan sedikitpun resiko kegagalan. Dia juga memiliki em, apa ya, aura yang positif hingga bisa menjadi support system bagi orang-orang di sekitarnya.”


“But I just feel amazed, nothing more than that. You still the one beb!” tegas Marcel mencoba menetralisir keadaan.


Clara melepaskan rangkulan Marcel dan ia malah menangis. “Kamu masih gak sadar dengan kata-kata kamu sendiri? Segampang itu kamu mengakui kekaguman kamu pada seorang pelayan. Kamu gila cel, kamu tega!” Clara berteriak di depan Marcel membuat laki-laki itu tersentak dan cukup kaget. Ia tidak menyangka kalau Clara akan berrespon seperti ini. Serba salah jadinya karena ternyata tidak semua kejujuran itu berujung baik.


“Claire, aku tidak bermaksud seperti itu. Aku hanya,”


“Udahlah! Lagian aku udah cape sama kamu!” Clara mendorong tubuh Marcel menjauh darinya.


“4 tahun kita sembunyi-sembunyi soal hubungan kita. 4 tahun cel, 4 tahun aku berusaha meyakinkan papah. 4 tahun juga aku merasa kalau aku berjuang sendiri. Aku capek tau gak dengan semua ini! Aku capek menjadi satu-satunya yang berjuang di hubungan kita. Sementara kamu?” Clara menjeda kalimatnya seraya menatap Marcel dingin. Matanya sudah basah dan merah. Mulai ada kemarahan dan kekecewaan yang ia tunjukkan pada Marcel.


“Apa? Kamu pikir aku apa?” berganti Marcel yang meradang. Ia tidak terima mendengar kalau Clara berjuang sendiri.


“Kamu pikir aku gak berusaha hah? Kamu pikir kita bertahan sampai saat ini hanya atas usaha kamu?”


“Apa kamu lupa, aku meninggalkan semua hal yang aku cintai hanya demi menyenangkan kamu, memuaskan kamu dan demi terlihat layak di hadapan papah kamu? Kamu lupa itu claire?" Marcel mulai mengungkit apa yang ia lakukan selama ini.


"Aku memakai jas ini, bergaya seperti orang cerdas dan hebat, adik dari Sigit hardjoyo yang memiliki banyak perusahaan dan aku adalah salah satu pimpinannya, kamu pikir aku suka?”


“Kamu memaksaku untuk bekerja di perusahaan yang bagus, memamerkan pencapaianku yang sempurna. Kamu mau melihat progress pencapaianku agar bisa kamu pamerkan pada papahmu atau karena kamu takut aku gak bisa ngasih kamu makan?”


“Aku merasa seperti badut Claire. Dan aku rela lakukan itu hanya buat kamu, sesuai permintaan kamu dan demi menyenangkan kamu serta orang tua kamu?”


“4 tahun, aku hidup di bawah bayang-bayang mas sigit. Menerima hinaan dari sana-sini, harus bersaing demi berebut kursi kekuasaan, melakukan hal baik sampai hal picik demi posisi tertinggi, kamu pikir itu apa? Perjuanganku gak sebecanda yang kamu lihat.”


“Aku mempertaruhkan harga diri dan rasa malu keluargaku. Demi siapa? Demi kamu!”


“Jika sekarang kamu masih merasa kamu berjuang sendiri, bukan aku yang tidak berusaha. Tapi kamu, memang tidak pernah bisa menghargai usahaku.”


“Bukan pandangan pandangan papah kamu yang sebenarnya jadi masalah tapi, kamu memang tidak bisa percaya sama aku. Tidak percaya pada laki-laki yang berjuang untuk kamu.”


“Kalau terus seperti ini, hubungan kita tidak akan berhasil. Untuk apa kita meneruskan semua ini?”


Kemarahan Marcel sampai pada puncaknya. Egonya sebagai seorang laki-laki, tidak bisa ia tawar lagi. Selama ini ia mengalah, selama ini ia hanya menurut tapi kali ini ia menyerah. Ia melepaskan cincin yang melingkar di jarinya dan menaruhnya di atas dashboard mobil.


“Cel, kamu?” Clara ternganga tidak percaya. Memandangi Marcel dan cincin yang ditaruhnya bergantian.


“Ya, it’s over! Tidak ada yang bisa kita perbaiki jika kamu tidak merubah pola pikirmu.” Tegas Marcel.


“DAMN IT!!!” teriaknya di luar sana! Entah umpatan apalagi yang ia ungkapkan untuk menggambarkan kemarahannya.


Ia menekan sudut matanya yang mulai basah oleh air mata yang sedari tadi di tahannya. Semua yang ia lakukan selama ini di anggap tidak ada artinya oleh Clara. Lalu candaan apa yang sebenarnya ia lakukan selama ini? Apa berjuang demi cinta harus sampai merendahkan harga diri sendiri? Bukankah cinta itu wujud tertinggi dari saling menghargai, menghormati dan menyayangi? Lalu kebodohan apa yang ia lakukan selama 4 tahun ini?


Di dalam sana, Clara hanya bisa terisak. Ia tidak lagi menahan tangisnya. Mereka sama-sama terdiam, menangisi apa yang terjadi saat ini. Tidak ada yang tersisa, selain rasa sakit yang tidak bisa di ungkapkan.


"Semuanya gara-gara pelayan itu." batinnya dengan kekesalan yang semakin menggunung.


Flash back off.


****


“Saya tidak yakin kalau om sudah benar-benar tidak peduli pada claire. Perjalanan 4 tahun itu saya yakini bukan sesuatu yang mudah.”


Kean mencoba memancing kembali perasaan Marcel. Seseorang yang memilih untuk pergi setelah sebuah perdebatan, selalu karena ia sudah terlalu jatuh hati pada seseorang namun merasa di kecewakan. Ia tidak ingin balas menyakitinya, sehingga ia memilih untuk pergi.


“Tau apa kamu soal saya dan Claire? Kamu bahkan baru memulai berjuang untuk hal bodoh yang kamu sebut cinta dan saya, sudah melewati itu semua.”


“Kami sudah pernah menentang orang-orang di sekitar kami, berusaha melakukan hal yang terbaik untuk satu sama lain bahkan rela merendah demi untuk bersama. Tapi kami memang tidak akan bisa bersama dan buktinya, Claire mau menerima perjodohan kalian kan? Hahha.. Bullshit!” Marcel tertawa lirih di ujung kalimatnya seolah tengah menertawakan perjuangan bodohnya selama ini.


Ia mengambil minuman lain di hadapannya dan menyodorkannya satu pada Kean. Minuman beralkohol yang seperti mulai menjadi teman akrab bagi Marcel. Ia meneguknya tanpa ragu dan membiarkan rasa pahit di mulutnya itu masuk ke dalam perut.


“Jangan terlalu percaya sama mulut perempuan. Saat mereka menemukan seseorang yang dirasa lebih baik dari kamu, kamu bakal di buang.” Sinisnya dengan tatapan tajam.


Kemarahannya kembali terlihat, entah pada pilihan Clara yang menerima perjodohannya atau pada keadaan yang membuat mereka harus terpisah.


“Claire mau dijodohkan bukan karena merasa saya lebih baik dari om. Dia hanya merasa kalau dia sudah bukan satu-satunya yang om perjuangkan.”


“Hahahaha… Karena saya membahas paradisa Sandhya kan?"Marcel masih menyebut nama Disa dengan penuh kekaguman. Sangat wajar kalau Clara kesal.


"Ya, itulah kebodohannya. Dia pikir kalau kita memikirkan wanita lain, sudah pasti kita memiliki perasaan pada wanita itu dan berharap bisa bersama wanita itu.”


“Sesempit itu pikiraan dia sampai berfikir kalau saya adalah laki-laki brengsek. Hah, perempuan.” Marcel berdecak kesal. Tanpa terasa telah banyak cerita yang ia bagi dengan Kean.


“Saya mengenal Claire cukup baik. Dia memang keras kepala, tipe superior dan bukan wanita yang pandai mengungkapkan perasaannya. Semakin ia menyayangi seseorang, semakin ia takut kalau orang itu akan meninggalkannya, seperti saat ia ditinggalkan ibunya.”


“Dia takut kalau dia harus kehilangan arah dan dia takut kalau suatu hari dia hanya sendirian karena pondasi yang ia pijak beralih.”


“Claire tidak pernah membahas rasa takutnya dengan orang lain, termasuk papahnya. Jika yang dia lakukan saat ini karena ia sangat takut kehilangan om, bukan tanpa alasan, dia hanya takut fokus om terbagi dan suatu saat dia kembali sendirian.”


Kean sebisa mungkin menceritakan hal yang cukup untuk di ketahui Marcel tentang Clara. Ia yakin, Marcel tidak akan mengetahui ini langsung dari Clara. Karena ini adalah kelemahannya dan Clara tidak akan pernah menunjukkannya.


“Claire mencoba membuat pasangannya terlihat sempurna agar suatu saat ayahnya percaya kalau Claire tidak jatuh ke tangan laki-laki yang salah. Ia takut kalau om brata berfikir, laki-laki yang bersama Claire tidak bisa menjadi laki-laki yang bisa menggantikan posisinya."


"Mungkin cukup masuk akal kalau Claire banyak menekan om. Semuanya hanya agar om brata percaya pada pilihannya. Tanpa dia sadari, kalau setiap laki-laki punya cara sendiri untuk memperlakukan wanita yang mereka cintai dengan layak.”


Kean tertunduk lesu mendengar kalimatnya sendiri. Hal yang sama ia coba lakukan demi bersama dengan wanita yang ia cintai. Ia baru memulai perjalanannya dan rasanya cukup terjal. Meyakinkan Marcel memiliki kesulitan tersendiri apalagi seorang Sigit Hardjoyo. Laki-laki yang selalu mementingkan citra keluarga di atas segalanya. Seolah hal lain tidak ada artinya selain citra mereka di hadapan masyarakat.


Benar saja, Marcel langsung termangu mendengar ujaran Kean. Cara ia meminum minuman di tangannya menjadi melambat. Seperti ada sesuatu yang mulai ia pikirkan.


“Kamu cinta sama perempuan itu?” hanya pertanyaan itu yang kemudian terdengar dari mulut Marcel.


Kean hanya tersenyum, tentu bukan tanpa alasan ia jauh-jauh dan bersusah payah membujuk Marcel kalau tidak ada yang sedang ia perjuangkan.


Melihat respon Kean, Marcel hanya tertawa kecil. Di perhatikannya sang keponakan yang sudah menjadi laki-laki dewasa.


“Sejak kapan kamu memikirkan masalah perempuan? Saya pikir kamu akan selamanya jadi laki-laki dingin seperti ayahmu.” Ledeknya kemudian.


Kean hanya tersenyum samar. Ia mengambil minuman yang sedari tadi ada di hadapannya. Marcel mengangkat minumannya untuk cheers, Kean membalasnya. Mereka meneguk minumannya perlahan, seperti tengah menikmati setiap tetes cairan yang kemudian masuk ke mulutnya dan menelannya pelan-pelan.


Untuk beberapa saat, mereka terpaku dalam pikiran masing-masing yang sedang di tata lebih baik.


*****