
“Lo nyusul ke sini?” suara Reza terdengar dari belakang sana. Disa dan Kean kompak berbalik. “Syukurlah…” imbuhnya seraya menghembuskan nafasnya lega.
Ia berjalan dengan cepat menghampiri Disa dan Kean.
Beralih menjadi Kean yang bingung harus mencari alasan ia datang kemari. “I-Iya tadi gue,..”
“Gak pa-pa, gue bersyukur lo nyusul.” Sela Reza saat Kean akan beralasan.
Sepanjang jalan ia sudah memikirkan banyak alasan jika nanti Reza dan Disa bertanya mengapa tiba-tiba ia datang. Dan sepanjang jalan itu pula ia berlatih untuk berekspresi dengan wajar.
“Tadi gue gak sengaja lewat. Ish gak masuk akal.” Dengusnya seraya memukul stir dan membenarkan posisi duduknya. “Tadi tiba-tiba aja gue ngerasa bete di rumah jadi gue nyusul.” Ia membuat alasan lain. Sejenak ia menatap wajahnya sendiri dari pantulan spion di hadapannya.
“You're liar!" makinya*.* "Lo gak keliatan kayak orang bete. Lo keliatan kayak orang\, kehilangan.” Kean menghembuskan nafasnya kasar. Ia menutup kembali spion kecil di hadapannya dengan pikiran yang melayang masih mencari alasan.
Dan saat ia menemukan alasan yang tepat, sepertinya Reza tidak butuh untuk mendengarnya.
“Apa terjadi sesuatu kak?” Disa bisa melihat kecemasan di wajah Reza. Tangannya tampak mengepal menggenggam telepon selular yang sedari tadi selalu ia pegang.
“Iya.” Sahutnya dengan cepat. Ia menatap Disa dengan nanar. “Naomi jatuh saat di catwalk. Kakinya retak dan sekarang di rumah sakit.” Tuturnya dengan wajah yang terlihat semakin cemas. Rupanya ini yang membuat Reza lama bertelpon dan terlihat tidak tenang.
“Astagfirullah.” Disa ikut kaget mendengar penuturan Reza. “Terus sekarang gimana kak?”
“Dia harus di operasi dan mamah minta aku nyusul ke sana. Sa, kamu gak pa-pa kan aku tinggal?” tanyanya dengan tatapan lekat seraya menyentuh pundak Disa.
Disa sedikit tercekat, padahal bisa saja ia ikut dan mencoba menenangkan Nita atau paling tidak ia bisa menemani Reza. Tapi sepertinya Reza tidak memerlukan kehadirannya.
“Iya kak.” Sahutnya seraya menelan salivanya dengan kasar.
“Syukurlah. Bro, lo bisa jaga disa kan. Ajak dia pulang.” Kali ini Reza meminta pada Kean
Kean sempatkan untuk menoleh Disa yang hanya tersenyum samar saat ia menolehnya. Terlihat jelas raut sedih dan kecewa di wajah Disa. Entah karena Reza pergi atau karena ia harus pulang dengan Kean.
“Hem..” hanya itu jawaban Kean.
“Thanks bro!” refleks Reza merangkul sahabatnya dan menepuk punggungnya.
“Santai aja.” Timpal Kean.
Menarik tubuhnya dan melepas pelukannya dari Kean, lantas ia menatap Disa yang tersenyum samar di hadapannya.
“Maaf ya sa, aku ganti waktu kamu di lain hari. Makasih bro.” ungkapnya menatap Kean dan Disa bergantian.
Disa hanya terangguk seraya tersenyum tipis.
Reza pun bergegas pergi dengan langkah panjangnya meninggalkan Kean dan Disa diantara lukisan yang terpajang.
“Reza emang sayang banget sama naomi. Sudah seperti adiknya sendiri.” Kean berusaha menghibur Disa yang tampak terpaku di sampingnya.
“Saya bisa melihatnya.” Timpal Disa yang beralih menoleh Kean dengan garis senyum. “Saya minta maaf karena lagi-lagi saya harus merepotkan anda, tuan.” Imbuhnya.
“Tidak masalah. Saya bos yang baik.” Sahut Kean yang berjalan lebih dulu di hadapan Disa.
Disa hanya tersenyum dan mengikuti langkah tuannya menuju mobil yang terparkir di luar Gedung.
Mobil Kean mulai melaju meninggalkan tempat pameran. Tangannya terlihat mantap memegang stir dan mengemudikannya dengan kecepatan cukup tinggi. Sepertinya ia sudah sangat terbiasa dengan kemudi yang ia kendalikan.
“Saya baru tahu kalau kamu suka lukisan.” Suara Kean membayarkan lamunan Disa beberapa saat lalu.
“Hem iya, saya sangat suka dengan melukis dan lukisan. Mereka seperti memberi warna yang indah untuk hidup saya.” aku Disa. Sepertinya pikirannya mulai teralih.
“Dulu, ibu saya juga menyukai lukisan, sama dengan mamahnya reza.” tutur Kean yang terlihat seperti tengah mengenang seseorang.
“Oh ya? Apa nyonya besar dan bu nita juga bersahabat seperti tuan muda dan kak reza?”
Kean terangguk. “Mereka bersahabat sejak kecil, seperti saya dan reza.” Terlihat tangan Kean yang mencengkram kemudinya dengan erat.
Disa sedikit berfikir, selama ia bekerja di keluarga Hardjoyo tidak pernah sekalipun ia melihat Nita main ke rumah utama. Dan nyonya besarnya lebih terlihat seperti seorang yang kesepian. Ia lebih sering berdiam diri di kamar, kadang pergi ke luar negri dengan teman-temannya tapi Nita tidak pernah menjadi salah satunya.
“Apa yang kamu pikirkan?” suara Kean kembali memecah keheningan.
“Em, tidak ada tuan.” Ia menggeleng.
“Kamu bukan orang yang bisa berbohong. Mukamu melongo kalau kamu sedang berfikir serius.” Cetus Kean yang tersenyum kecil di ujung kalimatnya.
“Oh ya? Apa saya terlihat seperti orang bodoh tuan?” disa langsung mengalihkan pandangannya pada Kean.
Sedikit menoleh kemudian Kean terangguk. “Ekspresi kamu unik.” Sahutnya yang kembali menatap jalanan di hadapannya.
Disa refleks menyentuh wajahnya sendiri. Ia tidak bisa membayangkan seperti apa pikiran orang-orang saat melihat ekspresi bodohnya.
Kean hanya melirik Disa dengan sudut matanya, ternyata gadis di sampingnya sangat mudah untuk ia goda.
Separuh perjalanan Disa habiskan dengan memikirkan ekspresi wajahnya sendiri hingga tanpa sadar, Kean telah membawa mobilnya berbelok ke sebuah mall dan masuk ke area parkir khusus.
“Turunlah.” Ujar Kean saat ia selesai merapikan parkirnya.
“Kita akan kemana tuan?” bertanya dengan wajah bingung namun tetap ikut turun.
“Astaga iya, tuan belum makan siang.” Menepuk dahinya sendiri yang tiba-tiba lupa dengan tugasnya.
“Tidak masalah. Kali ini, jangan bertingkah seperti pelayanku. Bersikaplah seperti temanku.” Ujaran Kean terdengar santai.
Disa yang berjalan di sampingnya tampak menoleh lantas tersenyum. Entah apa yang merubah tuan mudanya menjadi sangat baik dalam beberapa jam ini.
“Baik tuan.” Sahutnya.
Masuk ke dalam mall dengan langkah beriringan. Pandangan Disa berpedar ke sekeliling mall yang ia lewati sementara Kean dengan acuh tidak memperhatikan sekelilingnya, dagunya terangkat tinggi penuh percaya diri dan jalannya cepat dengan langkah panjang. Kedua tangannya ia masukkan ke dalam saku jaket, hanya sesekali ia melirik Disa dengan sudut matanya. Sungguh berkharisma.
Berjalan di samping laki-laki tampan dengan sejuta pesona membuat banyak pasang mata melirik Disa. Walau Kean memakai topi tapi tidak cukup untuk menyamarkan pesona seorang Kean Malik Hardjoyo. Mungkin mereka sedang berfikir bagaimana bisa seorang gadis biasa-biasa berjalan dengan seorang pangeran.
Tiba-tiba saja Kean berpindah ke sebelah kanan Disa yang masih melamun dan membuat Disa sedikit bergeser ke kiri dengan wajah bingung.
“Duk!” berpapasan dengan seorang laki-laki yang asyik berbincang dengan temannya tanpa memperhatikan jalan hingga bahu Kean bersinggungan dengan laki-laki itu.
“Sorry.” Hanya itu ujaran laki-laki yang kemudian kembali asyik berbicara dengan teman-temannya.
“Waw!!!” Mata Disa membelalak dengan takjub. Ia menoleh laki-laki yang sudah jauh di belakangnya lalu mengalihkan pandangannya pada Kean. “Bagaimana tuan tau kalau laki-laki itu akan menabrak saya?” tanyanya dengan penasaran.
“Karena saya berjalan dengan mata.” Timpalnya tanpa menoleh pada Disa.
Disa hanya mengangguk-angguk, dalam pikirnya, hebat sekali tuan mudanya.
Di depan sebuah resto cepat saji Kean berbelok. Resto yang menyajikan burger sebagai menu utama rupanya menarik perhatian Kean. Mereka masuk dan langsung mengantri untuk pesan.
“Kamu makan apa?” tanya Kean pada Disa yang masih bingung memandangi daftar menu dihadapannya.
“Saya gak tau mau makan apa, tuan.” Lirihnya tidak bisa memutuskan. Ia menoleh Kean dengan wajah bingung.
“Kamu suka keju?”
Disa mengangguk dengan segera.
“Duduklah.” Memintanya pergi hanya dengan menggerakkan kepalanya sebagai isyarat.
“Tapi,” masih tidak yakin, mana mungkin ia membiarkan tuan mudanya memesan makanan sendiri.
Kean menoleh ke belakang mencari tempat untuk duduk. Saat ia melihat tempat kosong, lantas dengan sudut matanya ia memberi isyarat.
“Pergilah.” Titahnya lagi.
Disa mengikuti arah pandang Kean dan akhirnya ia menurut untuk menempati tempat itu lebih dulu.
Dari tempatnya kini ia memperhatikan laki-laki berbahu bidang itu tengah berbicara dengan pelayan resto. Memesan beberapa menu dan Disa memperhatikannya dari kejauhan. Tangan kanannya tampak menopang dagu dengan segaris senyum terkembang. Dalam pikirnya, kadang ia salut sendiri pada tuan mudanya yang ternyata bisa bersikap normal seperti orang-orang pada umumnya.
Di rumah, ia seperti tidak bisa melakukan apapun tanpa di layani. Segala sesuatu harus di siapkan dan sangat tidak mandiri. Tapi saat di luar rumah, ia seperti laki-laki pada umumnya. Mungkin tinggal di luar negri telah memupuk kemandiriannya saat berada di luar rumah.
“Heh!” suara Kean kembali mengagetkan Disa. Saking asyiknya melamun ia sampai tidak sadar kalau tuan mudanya sudah tiba dengan satu baki makanan. “Cuci tangan sana.” Menunjuk wastafel dengan sudut matanya.
“Oh iya tuan.” Dengan segera Disa beranjak dan mencuci tangannya. Di sampingnya ada Kean yang menyusul beberapa saat lalu.
“Tuan sering makan di tempat seperti ini?” Disa mulai berbasa-basi.
“Hem. Ini salah satu tempat yang makanannya tidak perlu dicicipi.” Sahutnya acuh. Lagi alasannya karena tidak dicicipi.
Ia mengeringkan tangannya lebih dulu, mendahului Disa yang masih bermain dengan busa sabun di tangannya.
Melihat tuan mudanya yang sudah selesai cuci tangan, Disa segera menyusul. Membilas tangannya lantas mengeringkannya.
Langkah Kean memang Panjang hingga dalam beberapa langkah disa sudah tertinggal jauh.
Menikmati makan siang dengan menu junk food memang tidak direkomendasikan kalau terlalu sering. Jarang dan waktu yang tepatlah yang membuat semuanya terasa special. Burger dengan ukuran cukup besar dan lembaran keju serta daging lengkap dengan lembaran sawi dan tomat serta bawang Bombay memang sangat nikmat jika dinikmati dalam satu gigitan.
Besarnya ukuran burger membuat Disa harus susah payah mengunyahnya. Kedua pipinya tampak menggembung penuh makanan. Kean tersenyum sendiri melihat tingkat Disa yang menurutnya sangat lucu. Bibirnya yang sedikit tebal tampak mengecurut menahan agar makananya tidak jatuh.
Lihat saja lelehan sauce di sudut bibirnya yang tampak lucu seperti anak kecil.
“Makan dengan benar.” Kean memberikan selembar tisue pada Disa.
“Tewima kasih tuan.” Ujarnya dengan mulut penuh makanan.
“Telen dulu, baru ngomong.” Sengit Kean yang tertawa kecil. Dalam beberapa jam ini, sepertinya otot-otot di wajah Kean mulai mengendur karena sesekali ia bisa tertawa. Terdengar ringan dan riang.
Otot di leher Disa tampak naik turun, berusaha menelan makanannya kasar-kasar. “Terima kasih tuan.” Ulangnya yang di susul suapan burger berikutnya.
Kean hanya menggeleng melihat tingkat Disa. Seperti ini lah tingkah gadis manis yang kadang membuat pikirannya tidak tenang.
*****