Marry The Heir

Marry The Heir
Jangan selalu merasa baik-baik saja



POV Disa


Aku masih terus menyeka air mataku yang tidak henti menetes dalam perjalanan menuju tempat yang tidak tahu kemana arahnya. Tina dan driver taksi sibuk berdebat memperhatikan arah laju dari lokasi yang di kirimkan Nina sementara aku duduk di belakang, berpikir sendiri tentang apa yang terjadi hari ini.


Pikiranku masih sangat buntu saat mengingat dua orang di dekatku marah besar karena aku mengambil keputusan sepihak tanpa memikirkannya lebih jauh.


Aku salah, ya aku salah.


Aku menyadari benar kesalahanku yang mengambil langkah sembarangan saat menghadapi suatu masalah. Menganggap kecil suatu masalah ternyata tidak bisa aku lakukan dalam dunia bisnis. Lebih dari itu aku berada dalam posisi telah menganggap remeh orang-orang di sekitarku. Lupa melibatkan orang-orang yang selama ini berjuang bersamaku dari nol dan mendukungku dalam keadaan apapun.


Bodoh, ya aku memang bodoh. Aku memiliki orang-orang yang peduli padaku tapi aku mengabaikan mereka, menganggap mereka tidak penting dalam pengambilan keputusanku hingga kemudian mereka benar-benar pergi dan kecewa atas apa yang aku lakukan, sekarang aku benar-benar sendiri. Aku menyesal.


Astaga, aku masih ingin menangis, menangis sekencang-kencangnya. Aku tidak mau sendirian seperti ini, aku merasa seperti di tinggalkan. Dan Naka, aku ingin memeluknya, aku merindukan obat yang selalu menghapus semua rasa lelah dan sedihku. Tapi dia juga pergi tanpa sempat memberi kabar. Ada apa dengan hari ini? Kenapa semua orang meninggalkanku?


Aku tidak tahu persis saat ini berada di mana. Yang aku lihat hanya sebuah gerbang tol yang kami lewati lalu masuk ke jalanan yang ramai. Sudahlah, aku tidak peduli Tina membawaku kemana. Dengan dia tidak meninggalkanku paling tidak masih ada satu orang yang masih peduli padaku.


Kusandarkan tubuhku pada sandaran jok, lantas aku menghela nafas dalam untuk mengurangi rasa sesak di dadaku. Kepalaku sudah sangat pusing karena seharian ini terus menangis.


Kulihat cahaya lampu mobil yang saling memberi isyarat di sebrang sana dan sekilas menyinari wajahku yang sembab dan entah rupanya seperti apa.


Naka, aku akan bertemu Naka. Tidak mungkin aku tampil berantakan seperti ini. Bagaimana kalau dia bertanya aku kenapa? Tidak mungkin bukan kalau aku bilang aku bertengkar dengan papahnya? Ayolah Disa, Naka masih terlalu kecil untuk memahami hal semacam ini.


Akhirnya ku ambil ponselku dari dalam saku. Sial! Baterainya habis. Aaargghhh!!! Kenapa aku sampai lupa mengisi daya ponselku sendiri? Kenapa aku jadi seperti ini? Banyaknya ketegangan hari ini membuatku benar-benar tidak fokus pada apa yang ada di sekitarku.


Aku rasakan mobil terhenti di sebuah pelataran parkir dan aku mulai memperhatikan sekelilingku. Tunggu, aku mengenal tempat ini.


“Na, kenapa kita kesini?” halaman parkir eksklusif Ancol adalah tempat kami berada saat ini.


“I-iya nona muda, GPS nya menuju ke arah sini. Mungkin tuan muda kecil ada di dalam dan sedang bermain.” Terang Tina. Kenapa dia gelagapan, aku kan hanya bertanya.


Kulihat jam tanganku baru jam setengah 8. “Kita turun.” Ajakku dengan terburu-buru. Tina benar, mungkin Naka ada di sini.


Menginjakkan lagi kakiku di sebuah taman hiburan besar di Jakarta, seperti mengingatkanku pada pekerjaanku beberapa tahun silam. Di tempat ini aku biasa mengais rejeki setiap akhir pekan atau saat moment liburan sekolah.


Aku langsung mencium bau apek kostum badut winnie the pooh yang dulu biasa aku kenakan. Rasa gerahnya langsung terasa, membuatku merasa tidak nyaman lantas ku usap tanganku untuk mengakhiri halusinasi rasaku.


“Sebelah sini nona.” Tina menunjukkan arah untukku. Dia berjalan lebih dulu di depanku sambil memperhatikan layar ponselnya.


Sementara aku, aku lebih suka memperhatikan suasana disekitarku yang hangat dengan lampu-lampu yang menyala terang. Orang-orang yang berlalu lalang saling berpegangan tangan dengan orang-orang terkasihnya dan tentu saja suara tawa yang beberapa saat mampu membuatku tidak merasa kosong. Aku masih bisa tersenyum melihat semuanya.


Tidak salah kalau Ancol di sebut taman impian, karena untuk beberapa saat aku memang bisa bermimpi tertawa bahagia seperti mereka tanpa mengingat beban dan kesedihan yang saat ini aku pendam.


Kami sudah berjalan cukup jauh, melewati wahana permainan dan Tina masih berjalan di depanku sampai tiba-tiba langkahnya terhenti.


“Kenapa na?” aku memperhatikan Tina yang menekan-nekan tombol power ponselnya namun urung menyala.


“Handphone saya mati nona, mungkin kehabisan baterai.” Wajahnya terlihat kesal.


Astaga, apalagi ini?


Ku perhatikan keadaan disekelilingku, kami sudah berada di area menuju pantai dan Naka, tidak mungkin ada di sini bukan? Lalu kalau harus mencarinya, kemana aku mencarinya, tempat ini terlalu luas.


“Kalau semua tidak sesuai dengan rencana, mungkin harusnya kita yang keluar dari rencana dan jalan-jalan.” Kalimat Damar di vlog-nya seperti mengilhamiku.


Aku tidak tahu harus mencari Naka kemana maka akhirnya ku putuskan untuk sedikit berjalan-jalan, aku harap ini bisa menurunkan sedikit keteganganku dan menjernihkan pikiranku. Toh aku percaya, mamah dan papah akan membawa Naka pulang dan kami bisa bertemu di rumah. Paling tidak, aku bisa membuat perasaanku sedikit lebih baik sebelum bertemu Naka.


“Anda mau kemana nona?” Tina terlihat kaget melihatku berjalan menyusuri jembatan menuju pantai.


“Aku ingin berjalan-jalan na.” sahutku, sekali lalu mendekap tubuhku sendiri yang merinding dingin karena angin malam yang berhembus kencang.


“Baik nona.” Dia tidak protes, mungkin karena dia sadar aku sedang butuh waktu seperti ini.


Kami berjalan beriringan, Tina persis di belakangku dan aku bisa melihat bayangannya. Untuk sementara seperti ini saja, aku tidak mau dia memperhatikan mukaku yang sembab karena banyak menangis.


Melewati jembatan yang biasa aku lalui, membawaku pada suatu tempat. Tempat yang biasanya aku datangi saat aku merasa sedih. Dan entah kenapa kali ini pun sama, aku datang di saat perasaanku sedang tidak menentu. Seperti tempat ini memang disediakan untuk membuatku mengambil nafas sejenak dari beratnya beban di pikiranku.


Dari kejauhan, ku lihat pantai yang aku datangi tidak sesepi dulu. Ada beberapa tenda terpasang tidak jauh dari bibir pantai. Ada juga api unggun yang menyala di tengah-tengah. Obor kayu berdiri kokoh namun belum dinyalakan. Ku lihat bayangan orang-orang di kegelapan, sepertinya sebuah keluarga sedang menghabiskan waktunya bersama di sana.


Aku memilih berbelok ke kiri, menghampiri bangku yang biasa aku tempati.


“Haaaahhhh…” aku bisa menghembuskan nafas lega saat aku berdiri di samping bangku itu. Menatap jauh ke lautan sana dengan rembulan yang berada di atasnya membuat ombak seperti berusaha menggapai cahaya terang di atas sana.


Ombak kecil saling bergulung kemudian pecah di kakiku. Ku lepaskan sandalku, membiarkan telapak kakiku merasakan butiran pasir yang halus.  Untuk beberapa saat saja seperti ini, merasakan sebuah kebebasan dari rasa bersalah yang berusaha aku lupakan untuk beberapa saat.


*****


“Anda sering datang kemari nona?” tanya Tina di belakang Disa. Mata Disa yang semula terpejam seraya merasakan wangi angin pantai yang membelai wajahnya, lantas terbuka.


“Ya, beberapa kali. Ini tempat yang nyaman untuk healing.” Sahut Disa tanpa menoleh.


“Anda sedang butuh healing dari apa nona?” pertanyaan berikutnya bukan suara Tina yang terdengar melainkan suara seorang laki-laki.


Disa mengenal suara itu sebagai suara milik suaminya. Tiba-tiba saja air matanya kembali menetes, ternyata ia sangat merindukan Kean.


*****