
POV Disa:
Aku tidak pernah menyangka, kalau hari ini benar-benar akan tiba. Hari dimana aku berdiri di antara para peserta lomba desain yang sebagian besar belum pernah aku temui. Biasanya aku hanya mengecek email dan website perlombaan untuk melihat apa aku lolos atau tidak.
Rianti dan Amel ternyata ada di tempat yang sama denganku. Kami masih berada di loby hotel dan menunggu panitia mengizinkan masuk ke ballroom yang di siapkan untuk perlombaan.
“Ya ampun sa, akhirnya kita ketemu lagi. Bareng lagi.” Seru Rianti seraya memelukku dengan erat.
Kami memang sudah cukup lama tidak bertemu saat bertemu di undangan pak Hilman pun hanya berbicara sebentar. Tidak di sangka kalau sekarang kami kembali bertemu sebagai pesaing untuk satu sama lain.
“Iya ri. Gue juga gak nyangka kita ketemu di sini. Syukurlah ada yang gue kenal.” Ya aku benar-benar bersyukur satu temanku ikut dalam perlombaan ini. Walau sebagai saingan, tapi artinya kami sama-sama sedang berjuang untuk cita-cita kami.
“Lo tau sa, gue cuti kuliah satu tahun ini supaya bisa fokus sama perlombaan. Lo tau, nyokap gue gak mau gue campur aduk antara kuliah sama lomba kayak gini.”
“Katanya harus fokus satu-satu.” Aku Rianti. Terdengar sangat niat.
“Tapi alhamdulillah kan, bunda lo dukung usaha lo.”
“Iya sih. Akhirnya ada satu permintaan gue yang di turutin bunda.” Rianti dengan ekspresi kesalnya. Selama ini tidak ada permintaan yang di dengar bundanya tapi kalau untuk lomba design, ia sangat mendukung.
Rianti berasal dari keluarga desainner. Ibunya memiliki usaha clothing yang lumayan besar serta sebuah butik yang mereka dirikan sejak Rianti kecil. Katanya ini usaha yang di rintis bundanya sejak dulu. Kalau biasanya Rianti mengeluh karena bundanya melarang ikut ini dan itu, kali ini ia sangat senang karena keinginannya di turuti.
“Ngomong-ngomong gimana kabar bunda?” sudah lama tidak mendengar kabar wanita ramah itu.
“Em baik. Dia juga sempet nanyain lo, katanya udah lama banget gak ketemu."
"Oh iya, kalo gue masuk final, katanya bunda mau dateng. Jadi kalo lo mau ketemu bunda di sini, kita masuk final bareng-bareng yaaa.” Rianti menggenggam tanganku erat, sungguh teman yang baik.
“Aamiin… Semoga rejeki kita ya ri.” Aku mengamini ucapannya. Semoga saja ini memang menjadi awal mimpi kami.
“Iya aamiin..”
Kami kembali saling berangkulan, memberi semangat satu sama lain. Persaingan tidak lantas membuat hubungan kami menjadi renggang.
“Pede banget masuk final. Yang ada lo masuk sirkus.” Bisik seorang gadis bertubuh jangkung di telingaku.
Siapa lagi kalau bukan Amel, icon di fakultasku.
“Lo gak lupa kan waku bu meta nolak desain lo gara-gara gak masuk level buat di sebut sebagai desain?” lagi kalimat sinis itu aku dengar.
Setelah merendahkanku di pesta pak Hilman, sepertinya ia masih belum merasa puas.
“Lo ngomong apa sih mel, itu tuh bukan desainnya gak berkelas, tapi bu meta aja yang pikirannya sempit!” sahut Rianti dengan suara meninggi membuat beberapa pasang mata melirik Kami.
“Ri,” aku meraih tangan Rianti untuk menenangkannya. Saking emosinya dengan Amel, Rianti sampai tidak sadar kalau orang-orang memperhatikan kami. “Bikin emosi aja nih anak.” Gerutu Rianti kemudian.
“Jangan diladenin ri. Kita harus jaga sikap. Siapa tau di antara orang-orang ini ada panitia atau juri lomba. Takutnya malah kita yang di tandai.”
Aku berusaha mengingatkan Rianti yang kadang sumbu pendek. Kami baru memulai langkah kami, jangan sampai gara-gara emosi yang tidak stabil malah membuat langkah kami terhenti sebelum di mulai.
“Iya gue lupa. Lagian nih anak,”
“Kami duluan ya mel. Mari.” Aku memilih menarik tangan Rianti sebelum emosinya kembali tersulut. Inget, yang waras yang ngalah.
“Gih sana pergi, badut ancol sama pawangnya!” seru Amel dengan kekehan di ujung kalimatnya.
Beruntung aku sudah terbiasa dengan ledekan itu dan tidak membuatku sakit hati. Aku selalu berpegangan, kalau apa yang aku lakukan itu benar, maka aku tidak perlu malu. Jalan mencari rejeki setiap orang itu berbeda bukan?
Langkah Rianti kembali terhenti dengan tangan yang mengepal. “Ri, jangan di ladenin.” Bisikku yang tetap meneruskan langkah.
Sebaiknya kami menunggu di ballroom saja daripada suasana semakin tidak nyaman.
*****
Jantung Disa berdebar sangat kencang saat akhirnya ia berdiri di panggung. Mulai dari namanya di sebut sampai memperkenalkan diri, semua terasa mendebarkan. Tangannya basah dan gemetar saat melihat cukup banyak penonton yang melihat penampilan mereka. Demam panggung, mungkin seperti ini rasanya.
Ballroom yang luas ini di penuhi oleh supporter dari para peserta. Rianti memiliki supporter yaitu teman-teman genk nongkrongnya. Semenatra Disa, ia hanya melihat satu orang terduduk di kejauhan yaitu Damar. Ia melempar senyum saat mereka saling bertemu pandang.
Bisa menghela nafas lega, walau supporternya tidak banyak dan tidak ada tulisan-tulisan yang berisi dukungan dan penyemangat, ia berusaha untuk tetap semangat. Tidak bisa di pungkiri kehadiran orang-orang terdekat penting di saat seperti ini tapi yang terpenting adalah bagaimana membangkitkan semangat dari dalam dirinya sendiri.
Yang tidak ia sangka adalah, Clara menjadi salah satu juri. Sementara di kursi kehormatan ada Marcel yang katanya sebagai salah satu orang penting dalam penyelenggaraan acara ini. Bagaimana bisa semuanya begitu kebetulan?
Clara masih menunjukkan ekspresi tidak sukanya saat melihat Disa. Sepertinya kekesalannya sejak malam itu masih belum hilang.
“Fokus disa, fokus!” Disa mengingatkan dirinya sendiri.
Ini bukan saatnya untuk Disa mengasihani dirinya sendiri. Ia perlu melangkah untuk menjadi lebih baik agar orang-orang tidak mengasihaninya. Tidak memiliki pendukung yang banyak bukan alasan untuk ia terpuruk dan tidak menampilkan yang terbaik.
“Baik peserta sekalian.” Suara seorang MC perempuan kembali memfokuskan konsentrasi Disa.
“Selamat datang di babak 10 besar."
"Materi untuk lomba kali ini sebuah kejutan. Gimana, udah pada siap kan?” tanya Wanita tersebut, menatap satu per satu wajah peserta.
“Go amel go amel go!” seru pendukung Amel yang berteriak dari bangku penonton.
“Dipikir ini speak bola? Heboh amat! Go amel go amel go! Pergi sana ke laut!” cibir Rianti seraya mendelik pada Amel.
Disa yang mendengarnya hanya tersenyum. Belum reda rupanya kekesalan Rianti.
“Siap!” kami berseru kompak.
Sudah ada di atas panggung mana bisa masih mengatakan tidak siap. Peluang sudah di depan mata maka harus di kejar sekuat tenaga.
“Baik para dewan juri.”
“Pada sesi ini, peserta akan di berikan sebuah kaos polos dan pewarna pakaian juga alat-alat lainnya masing-masing satu set. Tugas peserta adalah, membuat kaos custom semenarik mungkin dan pastikan kaos itu memiliki nilai seni yang baik.”
“Waktu kalian adalah dua jam, sampai dengan kaos itu selesai di warnai dan layak di pakai.”
“Juri akan memilih 5 kaos terbaik. Jadi pastikan, kaos yang akan kalian desain, memiliki nilai plus, agar di pilih oleh para juri.” Terang sang MC memberi penjelasan.
Tim panitia membawakan alat-alat di atas troli dan di tempatkan di hadapan para peserta.
Satu set alat lukis, pewarna pakaian dalam botol warna-warni, alat jahit, hair dryer hingga setrika uap. Barangnya sangat lengkap hingga ada jarum jahit berbagai ukuran.
“Silakan pikirkan konsep kalian, tuangkan dalam kertas yang kami sediakan lalu buat desain sesuai ide kalian. Waktu di mulai dari sekarang!” seru MC memberi aba-aba.
Penonton ikut riuh menyemangati peserta yang mereka dukung. Dalam kondisi seperti ini sebenarnya yang di butuhkan adalah fokus. Disa yang terbiasa mendesain dalam suasana hening, menjadi hambatan tersendiri saat mendengar sorakan-sorakan dari bangku penonton.
Rianti benar, ini bukan pertandingan bola. Dan hal seperti ini bisa memecah konsentrasinya.
“MBA DISA!!! SEMANGAT!!!!!” teriak sebuah suara dari bangku penonton.
Disa mengenal sekali suara itu yang tidak lain adalah suara merdu milik Shafira. Ia masih mengenakan seragam sekolahnya. Pasti nona mudanya bolos sekolah.
“Aku pasti liat penampilan mba disa. Aku mau jadi saksi hidup perjuangan mba disa. Jadi, mba disa semangat ya!” begitu kalimat penyemangat yang terlontar dari Shafira saat bertelpon pagi tadi.
Disa sangat bersyukur, di saat seperti ini nona mudanya memberi dukungan penuh. Ia memandangi dari kejauhan dan ternyata di samping Shafira ada laki-laki tampan yang duduk dengan tenang. Masih mengenakan pakaian kerjanya, siapa lagi kalau bukan Kean.
“Terima kasih sudah datang tuan.” Batin Disa dengan seutas senyum yang ia tujukan pada Kean. Ia kembali teringat kalimat Kean semalam, “Kamu harus berani untuk hari besok. Tunjukkan karyamu yang paling bagus. Bersemangatlah!”
Kalimat itu seolah menjadi penyemangat terbesar dari Kean. Laki-laki kaku itu tidak pernah mengatakan hal-hal manis, tapi sekalinya kata-kata itu ia ucapkan, begitu membekas di pikiran Disa.
Maka, ia memang harus memulainya. Melakukan yang terbaik agar hasilnya pun baik. Bismillah..
Para peserta fokus dengan ide masing-masing. Disa pikir, challenge-nya kali adalah mendesain langsung, ternyata bukan. Ia langsung di hadapkan pada bahan yang harus ia jadikan sesuatu yang memiliki nilai lebih dan eksklusif.
Ia mulai menuliskan idenya di kertas yang ada di hadapannya untuk presentasi nanti. Hanya garis besarnya saja karena waktunya tidak banyak. Melihat waktu yang diberikan hanya dua jam, maka ia harus melakukan sesuatu yang cepat tapi bernilai seni tinggi.
Teknik shibori yang di ambil Disa. Teknik pewarnaan dari jepang ini tiba-tiba saja menjadi inspirasinya. Untuk menghasilkan motif yang ia inginkan, Disa membuat motif dengan Teknik Kumo shibori. Ia membuat pola terlebih dahulu pada kaos yang akan diwarnai. Melilitkannya pada pensil yang tadi ia gunakan untuk menulis agar posisi lipatannya tegak. Setelah yakin dengan polanya, ia mengikat bagian itu dengan benang yang sudah ia siapkan baru melepas pensilnya. Beberapa ikatan ia buat, agar motif yang di hasilkan banyak dan rapi.
Rasa berdebar-debar itu kembali ia rasakan. Berharap waktunya cukup untuk menghasilkan karya yang indah. Ia sengaja tidak melirik kiri dan kanan demi menjaga fokusnya.
Di sampingnya, Rianti menggunakan cara yang berbeda. Ia memilih mewarnai kaosnya dengan menggunakan kuas. Entah apa yang ia gambar yang jelas ia terlihat menikmatinya.
“Abang, mba disa kok diem aja ya? Apa dia blank gitu?” Shafira yang gelisah melihat Disa hanya terdiam.
“Jangan berisik, dia sedang fokus.” Timpal Kean yang ikut merasakan ketegangan.
“Ish, abang! Mba disa gak denger juga kali.” Dengus Shafira yang kesal dengan respon kakaknya. Memang tidak bisa di ajak bicara laki-laki satu ini.
Waktu berjalan dengan cepat tapi Disa masih memandangi bagian kain yang ia celup. Kean tidak bisa menebak apa yang Disa lakukan sementara orang lain sudah selesai menggambari kaosnya dan memulai langkah selanjutnya.
“Disa, apa yang kamu pikirkan?” gumam Kean. Ia mengetuk-ngetukkan jarinya di lengan kursi, ikut penasaran menunggu apa yang akan Disa lakukan selanjutnya.
Lebih dari satu jam berlalu, Disa baru mengambil kaos yang ia rendam dalam pewarna pakaian. Sentuhan berikutnya yang ia lakukan adalah melinting bagian bawah kaos lalu meneteskan pewarna kain yang ia buat berpola. Kembali menunggu beberapa menit sampai ia akhirnya yakin untuk melepas satu per satu ikatan.
Disa merentangkan kaos yang di buatnya. Polanya sudah terbentuk. Ia hanya perlu menunggu kainnya mengering alami sambil melengkapi bahan persentasinya.
Setelah setengah kering baru ia berani menggunakan pengering dan setrika uap. Semoga saja hasilnya bagus.
******
“Okey, waktu kita habis!” suara MC kembali menggaung dengan microphone di tangannya. “Angkat tangan kalian dan tim akan mengumpulkan hasil karya peserta sekalian.”
Semua kompak menjauh dari meja masing-masing. Rasa gugup semakin terasa saat hasil karya mereka akan di nilai.
“Kami akan menampilkan hasil karya peserta di monitor tanpa memberitahukan karya itu milik siapa. Lalu juri melakukan vote. Masing-masing juri berhak memilih dua kaos yang mereka nilai layak untuk mereka gunakan. Hasil karya akan di nilai berdasarkan vote terbanyak dari juri.”
Melihat wajah para juri, rasanya nyali Disa mulai menciut. Clara menatapnya dengan dingin seolah bersiap untuk menguji sejauh mana kemampuan Disa. Ia pun sudah siap untuk tertawa kalau hasil karyanya tidak memuaskan.
“Sambil menunggu pengumuman hasil vote, kita akan break 10 menit. Peserta silakan untuk menunggu hasil yang akan segera kami umumkan.” Tutup sang MC.
Satu per satu peserta pun turun dan juri mulai melakukan tugasnya.
“Hah, akhirnya sa…” rupanya tidak hanya Disa yang tegang.
Wajah Rianti yang biasanya penuh rasa percaya diri pun terlihat pias.
“Alhamdulillah tinggal nunggu hasilnya. Kita ke toilet dulu yuk atau nyari minum.” Ajak Disa. Ia perlu menenangkan dirinya.
“Ayok!” Rianti bersandar manja di bahu Disa. Setelah melewati ketegangan tubuhnya terasa lemas. Ia butuh bahu untuk bersandar.
“Bu meta apa kabar?” bertanya hal di luar topik untuk mengalihkan ketegangan.
“Ya biasa, killer. Semua desain gak ada yang bagus buat dia. Gue jadi ragu, dia beneran dosen desain apa abal-abal sih?” Rianti mulai bersungut kesal.
Selama kuliah, memang bukan hanya Disa yang sering kena semprot, Rianti juga. Atau mungkin semua mahasiswa desain yang di ajar olehnya. Tapi kalau di pikir kembali, kritik pedas Meta memang membekas dipikiran Disa. Banyak ilmu baru yang ia dapatkan dari wanita paruh baya itu. Hanya pembawaannya saja yang ketus sehingga kerap di salah artikan maksudnya oleh mahasiswanya.
“Percaya aja, dia punya dasar ilmu yang baik. Gue yakin, kampus kita gak asal rekrut dosen.” Kilah Disa.
“Ya elah, pinter sih iya pinter. Katanya pernah kolab sama designer dunia. Tapi ya gak gitu juga kali. Harusnya kayak ilmu padi, makin berisi makin merunduk. Iya gak sih sa?” kalau sudah urusannya dengan bu Meta, Rianti pasti nyerocos.
“Ya berarti kalo suatu saat kita berisi, kita harus merunduk. Hal jeleknya jangan di tiru tapi kolab sama designer dunianya wajib kita jadiin motivasi. Hehe…” timpal Disa.
Mendengar jawaban Disa, Rianti segera menegakkan tubuhnya. Ia menatap Disa dengan aneh. “Lo tuh emang selalu aneh ya pikirannya.” Kesal juga karena Disa tidak satu pikiran dengannya.
Disa hanya tersenyum mendengar protesan Rianti.
Saat akan keluar ballroom, ada seseorang yang menunggu Disa di pintu. Seorang laki-laki berrambut gondrong yang tidak lain adalah Damar. Ia menyambut kedatangan Disa dengan segaris senyum.
“Mong,..” Disa segera menghampiri. “Makasih udah dateng.” Disa berhambur memeluk Damar. Ia tidak menyangka kalau TTM-nya (Teman Tapi Musuh-nya) ternyata datang untuk mendukungnya.
Damar hanya terpaku dengan ekspresi sulit di urai. Antara bingung dan senang melihat Disa begitu senang melihat kedatangannya.
“Gue kira lo gak bakalan dateng.” Imbuh Disa yang menarik tubuhnya dari pelukan Damar. Padahal Damar baru akan membalas rangkulan Disa tapi sepertinya terlambat.
“Eits! Siapa tuh yang di peluk mba disa?” bisik Shafira provokatif.
Kean tidak menjawab, ia lebih memilih terdiam memperhatikan Disa. Ia ingin tahu, seberapa jauh interaksi Disa dan laki-laki yang katanya kakak sepupunya.
“Em iya, gue lagi sempet.” Damar malah salah tingkah.
“Siapa nih sa?” Rianti berbisik di dekat Disa tanpa mengalihkan pandangannya dari Damar.
“Kakak sepupu gue, damar. Mong, kenalin ini rianti temen kampus gue.” Akhirnya memperkenalkan Damar pada Rianti.
Rianti menebar senyum manisnya pada Damar, mengulurkan tangannya dengan malu-malu sementara Damar hanya menjabat singkat saja.
“Lo gak bilang kalo lo punya kakak cakep gini.” Wajah Rianti langsung memerah, melihat Damar sedekat ini.
“Inget lo punya gebetan, jangan maen api.” Bisik Disa.
“Hah, malah diingetin lagi.” Rianti langsung melengos kesal. Tentu saja di antara para pendukungnya, salah satunya gebetannya. “Ya udah, lo lanjutin. Gue ke toilet duluan. Bye damar.” Dadah elegan pada Damar.
Damar hanya tersenyum kecut. Tidak terlalu tertarik.
“Gimana tadi lombanya?” ia kembali berfokus pada Disa.
“Em, lumayan deg-degan. Tangan gue sampe basah.” Aku Disa seraya melihat tangannya yang masih lembab.
“Tapi lo keliatan tenang. Gak panik kayak biasanya.”
“Ya gue pura-pura aja gak panik. Daripada mental gue di serang peserta lain.” Kilah Disa yang kemudian tersenyum.
“Ya jangan panik lah, gue yakin kok lo bisa lolos di babak ini.” Do’a Damar dengan tulus.
“Aamiin… Makasih mong.” Senang juga mendapat dukungan dari Damar. Laki-laki yang kerap bersikap acuh dan ketus ini kali ini terlihat berbeda. Mungkin waktu memang mengubah banyak hal termasuk kedewasaan mereka.
Tiba-tiba saja, Kean melewati Disa tanpa sepatah katapun. Seperti tengah menguji kepekaannya dengan pura-pura tidak melihat Disa.
“Tu-tuan.” Panggil Disa.
Kean memilih tidak menyahuti. Kesal juga rasanya melihat Disa tiba-tiba memeluk seorang laki-laki di hadapannya. Toilet adalah tempat yang ia tuju untuk mengalihkan kekesalannya.
“Siapa sa?”
Damar ikut memandangi arah berlalunya Kean.
“Majikan gue.” Jadi merasa bersalah karena ia malah mengabaikan Kean padahal tuan mudanya sudah meluangkan waktu untuk datang.
Mulut Damar membulat. Pantas saja wajahnya tidak asing. “Ya udah, gue tinggal dulu ya. Sorry kalo gue gak bisa nemenin lo sampe selesai. Gue harus ketemu sama tim art grafiti.”
“Oh iyaaa… Gak pa-pa mong. Itu penting juga buat lo. Semangat yaa, semoga sukses.” Disa menepuk bahu sahabatnya.
“Sama-sama. Lo juga sukses ya.” Timpal Damar.
Tidak berselang lama mereka berpisah.
Sebelum pulang, Damar menyempatkan diri ke toilet. Siapa sangka di dalam toilet hanya ada Kean. Damar melangkah dengan ragu, berdiri bersisihan dengan Kean. Mereka saling lirik dengan tatapan acuh. Seperti ada perang yang baru akan di mulai.
“Anda majikannya disa?” tanya Damar tiba-tiba.
Kean hanya melirik lantas mencuci tangannya di wastafel. “Oh ya! Majikan sekaligus teman. Kamu kakaknya bukan?” sindir Kean dengan tatapan dingin.
“Ya.” Entah Damar harus meneruskan perbincangannya atau tidak. Ada hawa dingin yang tiba-tiba menyergap lehernya saat melihat tatapan Kean. Sepertinya keputusannya salah untuk menyapa Kean lebih dulu. Lihat saja mata elang yang seperti ingin mencabiknya. Ada apa dengan laki-laki ini?
*****