Marry The Heir

Marry The Heir
Saat terbangun di suatu pagi



Separuh perjalanan sudah dilalui Reza dan Disa menuju tempat pameran lukisan. Dalam separuh perjalanan itu pula mereka lebih banyak terdiam. Reza yang fokus dengan jalanan di depannya dan Disa yang ikut duduk tegang melihat kemacetan kota Jakarta pagi ini.


Benar saja, kalau saja mereka berangkat terlambat, mungkin mereka tidak akan benar-benar bisa sampai di pameran tepat waktu. Para karyawan yang sedang melakukan demo, membuat jalanan lebar ini terasa begitu sempit hingga jalanan seolah di kuasai ular raksasa yang berjalan pelan memecah kemacetan.


“Aku boleh nyalain musik boxnya?” Reza yang lebih dulu memecah keheningan di antara mereka.


“Iya kak,” sahut Disa.


Musik box mulai menyala, adalah lagu duet suara Arsy widianto dan rekan duetnya yang sedang di putar di salah satu stasiun radio. Rupanya lagu romantis yang membuat baper ini memang sedang banyak direquest oleh para ABG.


Jemari Reza yang berada di stir ikut menghentak seirama musiknya seolah terlarut dalam barisan syair yang terdengar saling mengagumi. Disa hanya tersenyum, melihat apa yang dilakukan Reza.


“Kalau macet gini, enaknya dengerin lagu. Tapi kalau terlalu slow juga bawaannya bikin ngantuk.” Ujar Reza yang kembali menginjak pedal rem-nya karena mobil di depan mereka kembali berhenti. Pegal juga bergantian menginjak pedal rem dan gas terus menerus.


“Mungkin kak reza bisa dengerin lagu yang lebih upbeat biar gak ngantuk.” Saran Disa.


“Apa kamu gak suka sama lagu ini? Aku coba cari yang lain.”


“Eh gak usah.” Menghentikan tangan Reza yang nyaris memindahkaan saluran radionya, “Aku suka kok. Cuma jadi ngebayangin aja, anak-anak imut kayak mereka udah mikirin cinta-cintaan. Gemes.” Disa tersenyum gemas sendiri saat membayangkan wajah sang penyanyi.


“Yang menurut kamu bikin lucu, muka mereka apa interaksi mereka?” ternyata Reza suka melontarkan pertanyaan yang mendetail.


“Muka mereka.” Sahut Disa dengan yakin.


“Emang kamu pikir usia mereka berapa? Seumuran loh sama kamu.”


“Oh ya? Aku ngiranya mereka masih bocah. Apa muka aku yang boros?” Disa memeriksa sendiri pantulan wajahnya dari spion kecil di hadapannya.


“Hahaha.. Nggak, kamu gak boros. Masih imut kok.” Timpal Reza seraya mengusap kepala Disa.


Dengan cepat tubuh Disa menjadi kaku. Seperti putri malu yang di sentuh, rasanya ia mulai mengkerut.


“Oh sorry.” Reza tersadar kalau sikapnya membuat Disa tidak nyaman. Tentu saja, sikap tiba-tiba Reza seperti menghantarkan aliran listrik ke jantungnya yang membuat jantungnya memompakan darah lebih cepat ke seluruh tubuh.


“Hehehe.. Gak pa-pa.” timpal Disa yang segera memalingkan wajahnya dari Reza dan memilih untuk melihat keluar jendela.


Tangannya memegangi kancing bajunya yang terasa ikut berdebar seirama detak jantungnya yang cepat. Sungguh ia harus mengendalikan perasaannya. Mengatur nafasnya yang memburu dan menghembuskannya perlahan serta lebih panjang. Ia menyentuh wajahnya sendiri yang terasa menghangat.


Reza yang melihat apa yang dilakukan Disa, ikut tersenyum. Ternyata gadis di sampingnya sangat polos.


“Kamu tau sa,” berusaha mencairkan suasana yang mendadak canggung.


“Ya?” akhirnya Disa menoleh.


“Hari ini naomi ikut peragaan busana loh di tempat belajar modelingnya. Dia pake baju yang kamu desain.”


“Oh ya?” mata Disa membelalak dengan cepat. Sepertinya ia lupa kalau tadi ia sedang sangat gugup.


“Iya. Nanti aku kasih liat fotonya.”


“Iya kak. Aku bisa bayangin, naomi pasti sangat cantik memakai baju itu.” Tiba-tiba saja Disa membayangkan seperti apa penampilan Naomi saat ini. Walau belum melihat kain seperti apa yang digunakan Adela untuk mewujudkan baju impian putrinya tapi bisa terbayang kalau kain yang di pilih Adela sesuai yang ia harapkan saat itu.


“Kamu bertalenta sa, seharusnya tidak putus sekolah.” Ungkap Reza yang kembali menoleh Disa untuk beberapa saat.


Disa ikut menoleh pada laki-laki di sampingnya. Walau mereka hanya bertatapan sebentar, rasanya cukup membuat Disa tersipu.


“Aku memang putus sekolah, tapi aku gak putus belajar kak.”


“Selalu ada cara untuk mencari ilmu walau tidak lewat bangku kuliah.” Disa terlihat begitu bersemangat membuat Reza ikut mengangguk setuju. Matanya yang bulat, tengah menerawang menatap jalanan di hadapannya dengan segaris senyum optimis yang terbit.


“Kamu benar. Putus kuliah, bukan berarti kamu gak bisa belajar lagi. Di depan sana, pasti ada banyak kesempatan untuk kamu. Semangat ya!” lagi Reza mengusap kepala Disa dan membuat Disa kembali terangguk.


“Iya kak.” Walau hanya beberapa detik tangan Reza mengusap kepalanya, tapi desiran di jantungnya bertahan cukup lama.


Kembali dalam keheningan, hanya suara penyiar radio yang mulai terdengar. Beruntung gedung tepat di adakannya pameran sudah terlihat di depan sana dan sebentar lagi mereka tiba, sehingga Disa bisa kembali menenangkan dirinya. Berdekatan dengan Reza membuat rongga dadanya kempis kembung dengan cepat.


Satu injakan gas dan mobil Reza tiba di halaman Gedung tempat pameran berlangsung. Saat tiba, mereka di sambut oleh banyaknya karangan bunga ucapan selamat yang berbaris sejak dari luar Gedung.


Reza memilih tempat parkir di luar pagar. Pikirnya, agar ia lebih mudah jika nanti akan pulang.


“Yuk!” ajak Reza saat mereka sudah berhenti dengan tepat di garis parkir.


Disa segera melepas sabuk pengamannya dan turun menyusul Reza.


Reza dan Disa berjalan bersisihan menuju Gedung pameran. Sejak masuk ke dalam Gedung pameran, mata Disa di buat terpana oleh banyaknya karya seni yang menghiasi dinding polos berwarna cream. Tidak hanya itu, banyak juga lukisan yang di pajang di atas Easel dan di tata dengan aesthetic.


“Liat di sebelah sana ada karya abdullah suriosubroto.” Tunjuk Reza pada sebuah lukisan pemandangan.


“Wah iya.” Disa berjalan cepat menuju tempat lukisan itu di pajang. Reza yang melihat tingkah Disa , hanya tersenyum samar. Ternyata sangat lucu melihat Disa saat ia sedang tertarik pada sesuatu. Matanya seperti menyala dan ada kehidupan di sana.


“Wawww….” Disa tengah terpukau dengan lukisan di hadapannya. Tangannya tergerak untuk menyentuh kanvas yang dilapisi cat warna warni. Hatinya ikut tergetar, warna warni cat itu seolah hidup dan membuat Disa bisa menghela nafasnya dengan lega.


“Kamu menyukainya?” tanya Reza yang berdiri di sampingnya.


“Iya. Sangat indah.” Gumamnya.


Reza ikut memandangi lukisan di hadapannya. Lukisan dengan ukuran 60 x 80 cm itu memang sangat indah di pandang mata.


Sejenak, seperti pikiran mereka terbawa pada karya seni yang melegenda ini.


Beberapa lukisan mereka hampiri. Disa dengan senyumnya yang selalu mengembang, seolah ia berada di dunianya yang indah. Samar Reza mendengar suara deringan ponselnya yang segera ia jawab dan sedikit menjauh.


Dalam imajinasinya, seperti terbangun di sebuah pagi yang tenang, dengan cicitan burung yang beterbangan di depan jendela kamar. Saat ia membuka jendela kamarnya, maka pemandangan itu yang terlihat. Di salah satu sudut lukisan, ada sekelompok anak kecil laki-laki yang di gambarkan tengah berlarian dengan bertelanjang dada menuju sebuah sungai yang mengalirkan air yang jernih. Seolah ia pun mendengar suara tawa mereka yang riang hingga membuatnya ikut tertawa bahagia. Ada rasa hangat yang ikut mengisi hatinya.


Sejuk, seperti ia bisa merasakan udara yang menyapu wajahnya yang polos.


“Kamu menyukainya?” sebuah suara tak asing terdengar di samping Disa. Bukan milik Reza melainkan seorang laki-laki bertopi yang tidak lain adalah Kean.


*******


Beberapa waktu lalu,


Berdiam diri dengan alasan ingin mengistirahatkan tubuhnya ternyata menjadi alasan paling payah yang pernah Kean buat. Tubuhnya memang terbaring di atas tempat tidur, dengan mata yang seolah serius menatap layar polos laptop tapi, pikirannya tidak di sini.


Saat Disa dan Reza pergi, ia melihat mereka berjalan bersisihan dengan senyuman yang tidak pernah lepas dari bibir keduanya. Sepertinya, seindah itu rasanya jatuh cinta. Dan saat itu juga, pikirannya seperti ikut pergi bersamaan dengan langkah kaki mereka yang semakin menjauh. Niatnya untuk tidak memikirkan perasaannya sejak semalam dan bersikap biasa-biasa saja ternyata tidak semudah yang ia rencanakan.


Jika saja perasaannya tidak sesensitif seperti saat ini, mungkin semalam dan sekarang ia bisa tidur nyenyak di kamarnya.


Berjalan-jalan di taman dengan membawa barbel kecil di tangannya, tidak cukup mampu mengalihkan pikirannya dari bayangan kebersamaan Disa dan Reza.


Apa yang mereka lakukan di mobil? Apa yang mereka perbincangkan? Seperti apa tawa Disa saat keluar dari rumah ini? Dan masih banyak lagi pertanyaan yang tidak bisa Kean tebak jawabannya.


Untuk itulah ia di sini. Dengan mobil sportnya ia membelah kemacetan dan memilih jalanan alternatif yang mungkin bisa mempercepat ia sampai ke tempat ini.


Saat masuk, semua tampak asing bagi Kean. Banyak lukisan dengan warna indah yang memanjakan matanya tapi ini bukan tempat seharusnya ia berada. Apa yang ia lakukan di tempat ini, ia sendiri pun tidak tahu alasannya.


Hanya sekedar penasaran? Mungkin.


Atau ada hal lain yang membuat ia begitu tergesa-gesa untuk sampai ke tempat ini?


Hah, ini bukan tempat yang seharusnya ia datangi. Mungkin seharusnya ia tidak datang ke tempat ini. Tapi, saat ia nyaris berbalik, ia melihat gadis berbaju hijau lumut itu berdiri di depan lukisan.


Ya anggap saja ia penasaran dengan apa yang sedang Disa lihat. Langkahnya perlahan dan ragu namun tetap ia teruskan. Saat tiba di samping Disa, gadis itu seperti tengah berada di bawah sihir sebuah lukisan yang dominan berwarna jingga.


“Kamu menyukainya?” tanyanya lirih.


“Sangat.” Tutur Disa yang kemudian memejamkan matanya, menghela nafasnya dalam dengan senyum tipis yang tidak pernah pudar dari wajahnya.


Kean yang berdiri di sampingnya, ikut tersenyum seraya menatap wajah Disa. Sangat menenangkan melihat wajah polos itu memejamkan matanya. Dekatnya jarak keduanya, membuat ia bisa melihat bulu mata Disa yang lentik seolah saling menjalin dengan warna coklat muda di kedua kelopak matanya. Bibirnya yang sedikit berisi dan berwarna merah muda tampak tersenyum. Sesuka itu ia pada lukisan ini.


Ikut menatap lukisan yang ada di hadapan Disa. Mencoba memikirkan apa yang menarik dari lukisan ini tapi imajinasi tidak sampai ke sana. Apa artinya perpaduan warna ini bahkan ia tidak mengerti.


“Apa yang muncul di pikiran kamu saat kamu melihat lukisan ini?” akhirnya ia memilih bertanya. Menebak-nebak maksud seseorang bukan keahliannya apalagi pikiran seseorang yang memiliki imajinasi tinggi. Ia lebih suka sesuatu yang realiastis yang bisa ia pikirkan dengan sebuah logika.


“Sebuah lukisan, bukan untuk di pikirkan tuan, cukup rasakan warnanya, jiwanya dan ikatan kuat antara sang pelukis dengan karyanya.” Timpal Disa dengan lirih dan ekspresif.


Kean tersenyum samar, ternyata walau gadis di sampingnya memejamkan mata, ia tahu kalau yang saat ini berdiri di sampingnya adalah dirinya bukan Reza.


Lantas, mengapa ia tidak bertanya mengapa Kean datang?


Ya, Disa tahu kalau yang berdiri disampingnya adalah Kean bukan Reza. Dari suaranya, dari gelagatnya yang kaku dan tentu saja dari wangi pewangi pakaian yang sangat dikenalinya. Kean bukan tipe yang suka menggunakan parfum tapi justru dari situ ia begitu mengenali wangi tuan mudanya.


Untuk apa ia datang?


Rasanya tidak perlu bertanya, karena setiap orang selalu punya alasan untuk datang dan pergi tanpa perlu ia pertanyakan.


“Lalu apa yang kamu rasakan?” lirihnya lagi yang mulai fokus menatap lekat lukisan di hadapannya.


Disa menghela nafasnya dalam tanpa membuka matanya.


“Saya bayangkan jika saya terbangun di suatu pagi yang indah. Dengan cicitan burung dan suara tawa anak-anak yang membuat hari yang berat akan berlalu dengan cepat.”


“Mendengar tawa mereka seolah menyadarkan saya kalau dunia sudah memiliki melodi sendiri yang membuat saya berfikir, tertawa saja dengan orang-orang yang ada di dekatmu. Genggam tangannya dan nikmati harimu maka tidak akan ada yang terasa berat. Biarkan semuanya mengalir”


Perlahan Disa membuka matanya dan Kean masih dengan perasaannya yang mulai tertaut pada lukisan dihadapannya.


“Suatu hari, saya ingin terbangun di antara anak-anak itu. Dalam tawa mereka, dia antara langkah kecil kaki mereka dan celoteh lucu yang membuat saya ikut tertawa. Akan sangat menyenangkan jika bisa melihat mereka tumbuh dengan baik dan bahagia menjalani harinya.”


“Sepertinya Kamu sangat ingin merasakan dicintai?” sela Kean.


Disa menggeleng. “Cukup bagi saya untuk tidak merasa sendirian.” Timpal Disa.


Perlahan. Kean mulai memahami apa yang Disa pikirkan. Tanpa sadar, tangannya tergerak semakin mendekat dan lebih dekat lagi pada Disa hingga punggung tangan mereka saling bersentuhan dan Kean bisa merasakan hangatnya permukaan jemari Disa yang bergerak pelan seperti sedikit tersentak.


“Tidakkah anda merasa kalau hari-hari seperti itu akan terasa menyenangkan tuan?” kali ini Disa menoleh dan menatap Kean. Cukup laman namun kemudian ia seperti tersadar pada sesuatu hingga memilih kembali memalingkan wajahnya dan menatap lukisan.


“Hem, akan menyenangkan.” Balas Kean.


Disa dan Kean sama-sama menoleh tangan mereka yang berdekatan lantas kompak menariknya menjauh satu sama lain. Disa tersenyum samar sementara Kean mengusap tengkuknya canggung.


Entah apa yang baru saja terjadi. Dalam satu detik yang sama mereka seperti terlarut dan tertaut pada sebuah perasaan bahagia karena ada untuk satu sama lain.


Kenapa rasanya begitu menyenangkan?


*****