
Disa masih merasakan rasa sakit di kakinya saat Clara mendorongnya dengan kasar untuk keluar dari kamar itu. Usahanya untuk menghindari keseleo ternyata tidak lah mudah. Berbagai penyebab bisa saja terjadi saat kita memang nekat menggunakan sandal ber-high heels ini. 5 Cm tidaklah terlalu tinggi tapi cukup untuk membuat pergelangan kakinya bergeser.
Ia berdiri tertatih dan berusaha berjalan. Pergelangan kaki kanannya memang bengkak dan bukan perkara mudah untuk mengambil satu langkah kecil.
Setelah di dorong keluar oleh Clara, ia tidak tahu lagi apa yang terjadi di dalam sana. Ia hanya melihat sekilas kemarahan Clara saat mendapati Marcel mendekat padanya dan berbicara dengan jarak yang sangat dekat. Clara bahkan menampar Marcel dengan sangat keras hingga laki-laki itu terhuyung. Saat marah, kekuatan kita memang bertambah berkali lipat. Tangan lembut Clara seperti berubah menjadi cambuk yang meninggalkan bekas kemerahan di pipi kiri Marcel.
Apa Clara baik-baik saja? Apa gadis yang telah menolongnya bisa keluar dari kamar ini dalam keadaan baik-baik saja? Apa ia harus memanggil security untuk mengeluarkan Clara dari kamar ini?
Disa hanya berdiri mematung, bersandar pada dinding seraya memandangi pintu yang tertutup rapat. Kamar hotel yang di buat kedap, membuat Disa tidak bisa mendengar apapun. Mungkin ia harus bertahan di sini, menunggu Clara keluar dan memastikan gadis itu baik-baik saja.
Lalu tuan mudanya?
Astaga! Hampir saja ia lupa. Mungkin saja Kean sedang mencarinya.
Disa segera merogoh ponsel dari sakunya. Ponsel dalam mode bisu itu terlihat menyala dan menampilkan banyak notifikasi panggilan tidak terjawab dari Kean. Ia segera menghubungi balik Kean, namun terdengar ponsel yang berdering di ujung lorong sana.
“Tuan?” lirih Disa saat melihat Kean yang berjalan sempoyongan menghampiri Disa. Penampilannya sangat berantakan seperti telah melewati sebuah perjalanan berat untuk sampai di tempat ini. Ia berjalan keluar dari dalam lift yang berarti Kean menggunakan ruang kedap itu untuk sampai ke lantai ini.
Disa berjalan tertatih-tatih menghampiri Kean. Tanpa terasa air matanya menetas melihat perjuangan berat Kean melewati rasa takutnya. Ia terrenyuh, ia tersentuh. Karena rasa takutnya terjadi hal buruk pada Disa, laki-laki itu melawan rasa takutnya yang pasti tidak mudah untuk ia hadapi.
“Berhenti di situ! Saya yang ke sana.” Ujar Kean yang baru bisa mengendalikan dirinya.
Melihat Disa baik-baik saja, rasanya ia bisa bernafas lega seraya mengucap ribuan syukur. Ia menegakkan tubuhnya, mempercepat langkah kakinya menghampiri Disa. Sementara Disa hanya terangguk, dengan tatapan nanar menunggu Kean menghampirinya.
“Kamu baik-baik saja?” tanya Kean yang tiba-tiba memeluk Disa dengan erat.
Disa hanya terangguk. Air matanya menetes tanpa di minta. Setelah melewati kejadian menakutkan tadi dan Kean datang dengan susah payah untuk menyelamatkannya membuat hatinya tergetar. Ada rasa tenang dan nyaman saat Kean memeluknya dengan erat. Harusnya ia bisa lebih kuat dan berani menghadapi Marcel agar tidak membuat tuan mudanya kesusahan. Tapi, bukankah seorang laki-laki ada untuk melindungi wanitanya?
“Maaf karena saya terlambat.” Lirih Kean dengan penuh sesal.
Andai saja ia bisa melewati rasa takutnya dengan lebih cepat, mungkin Disa tidak akan ketakutan seperti ini.
“Saya baik-baik saja tuan.” Lirih Disa.
Ia menghapus air matanya. Mengatakan kalau ia baik-baik saja tentu tidak boleh menyisakan air mata yang bisa di lihat Kean.
Kean melepaskan pelukannya. Untuk beberapa saat ia memandangi Disa lalu tersenyum. “Syukurlah.” Ujarnya seraya mengusap kedua lengan Disa, berusaha memberikan kekuatan.
Katanya, saat dua orang lemah bersama, akan menimbulkan kekutan yang lebih besar dan itu dirasakan Disa. Seketika rasa takutnya hilang begitu saja.
“Apa kakimu baik-baik saja?” Kean memperhatikan kaki Disa yang tampak sedikit bengkak.
“Iya tuan, hanya sedikit keseleo. Tapi masih bisa berjalan.” Aku Disa, berusaha berdiri tegak.
“Mari saya bantu.” Kean menarik tangan Disa untuk ia lingkarkan di pinggangnya. “Berpeganganlah.” Menepuk tangan Disa agar berpegangan pada bajunya. Sementara tangan kanannya merangkul lengan Disa. Mereka berjalan bersamaan.
“Tuan tadi memakai lift?” masih ingin memastikan kalau Kean memang keluar dari lift.
“Hem. Saya punya mantra baru agar tidak merasa takut.” Tutur Kean dengan bangga.
“Oh ya? Apa itu?” bikin penasaran saja.
Kean hanya tersenyum, lantas menekan tombol lift dan membiarkan pintu terbuka. Kean melangkah dengan mantap dan dalam hatinya ia mengucap mantra itu kembali.
“Rahasia.” Sahutnya.
Sudah lama menunggu tahu-tahunya jawabannya rahasia, menyebalkan.
“Ish, bilang saja kalau tuan tidak mau memberi tahu saya.” melepaskan tangannya dari melingkari tubuh Kean, Disa lebih memilih bersandar pada dinding lift.
“Kamu berdecik pada saya?” Kean melirik Disa yang berdiri di sampingnya.
“Em, maaf tuan. Saya tidak bermaksud seperti itu.” Langusng mengatupkan mulutnya rapat-rapat. Karena kesal dengan jawaban Kean, tanpa sadar ia berdecik. Andai saja Kean melihat, tadi bibirnya pun ikut mengerucut. Atau mungkin Kean sudah melihatnya?
Kean hanya terkekeh. “Kali ini aku maafkan.” Timpalnya. Gemas juga melihat Disa yang salah tingkah.
Disa hanya tersenyum, beruntung decikannya tidak berbuntut panjang. Kali ini tuannya sangat pemaaf atau mungkin ia terlalu malas untuk berdebat.
Bisa Disa lihat, sisa keringat yang ada di leher dan kening Kean masih belum kering. Dasinya sudah terburai sementara rambutnya, ah sudahlah ia tetap terlihat tampan walau tidak rapi. Yang jelas, ekpsresi wajahnya penuh dengan rasa bahagia. Mungkin karena ia berhasil mengungguli rasa takutnya. Seperti prajurit yang memenangkan pertempuran, keringatnya pun keringat kemenangan.
Menikmati lift yang bergerak turun dengan suasana hati yang berbeda ternyata memberi kesan yang berbeda. Kean terlihat lebih santai tanpa ada wajah tegang yang biasa ia tunjukkan saat berada di dalam benda ini. Yang tidak santai adalah kakinya yang mulai senut-senut. Beberapa kali Disa menghela nafas dalam, katanya ini efektif untuk mengusir rasa sakit.
“Kamu tahu cerita awal mulai di buatnya lift?” tanya Kean tiba-tiba.
Disa menggeleng. “Seperti apa ceritanya tuan?” Mendengarkan cerita Kean mungkin bisa menjadi pengalih dari rasa sakitnya.
“Em,, Dulu ada seorang anak kecil yang memiliki seorang ibu dengan bobot tubuh berlebih."
"Mereka tinggal di sebuah rumah tua di atas gunung."
"Setiap hari mereka harus menaiki ribuan anak tangga untuk sampai ke rumahnya agar bisa beristirahat setelah seharian mencari makanan.”
“Ibu itu kelelahan dan meminta sang anak naik lebih dulu dan mengambil kain agar ia bisa tidur di hutan di bawah kaki gunung.”
“Anak yang patuh, berlari sekuat tenaga menaiki anak tangga menuju rumahnya demi mengambil selimut untuk sang ibu.”
“Tapi saat ia kembali ternyata ibunya sudah meninggal. Kakinya membengkak dan tubuhnya membiru.”
“Rupanya itu hanya cara ibunya agar anak itu pergi dan tidak melihat ibunya yang kesakitan sebelum meninggal.”
“Saat itu ia bersumpah, akan membuat alat angkut untuk membawa siapapun naik ke bangunan tertinggi tanpa merasa kelelahan seperti ibunya.”
“Ketika desawa, anak itu membuat lift yang kita pakai sekarang.” Kean menyelesaikan ceritanya dengan segaris senyum di ujung kalimatnya.
Disa hanya termangu, masih menyimak cerita Kean.
“Ibunya memang tidak kembali, tapi di masa depan banyak ibu yang ia selamatkan oleh anak itu.” Tandas Kean.
Disa tenggelam dalam cerita yang di buat Kean. Ia membayangkan bagaimana perasaan anak itu saat kehilangan ibunya. Mungkin rasa sakitnya lebih besar dari yang ia rasakan. Jika ia bersedih karena tidak pernah mendapat kesempatan untuk melihat ibunya maka anak itu bersedih karena saat Ia sukses, ibunya tidak ada di sampingnya. Seperti mendapat patah hati terbesar dalam hidupnya.
Melihat Disa yang hanya terdiam, Kean memperhatikan ekspresinya dari pantulan bayangan di dinding lift. “Kenapa kamu sangat sedih? Itu hanya sebuah cerita yang tidak nyata.” cetus Kean tiba-tiba. Cerita karangan itu ternyata benar-benar masuk ke pikiran dan hati Disa.
“Tidak nyata tuan?” Terlihat tidak percaya kalau ternyata cerita itu hanya sebuah cerita yang tidak pernah terjadi di kehidupan nyata.
Kean terangguk. Tatapannya terlihat nanar, seperti banyak hal yang ia simpan. “Itu cerita dari mamah saya. Cerita yang ia buat agar saya tidak takut lagi naik lift.” kenangnya.
“Padahal seperti yang kamu bilang, itu hanya sebuah manipulasi pikiran. Dimana saya merasa kalau itu nyata padahal hanya sebuah kebohongan. Dan semanis apapun kebohongan, tidak pernah berakhir dengan sebuah kebahagiaan.” Tandas Kean.
Disa berusaha memahami apa yang Kean dan nyonya besarnya pikirkan. Ia pernah melakukan hal yang sama, memanipulasi pikiran Kean agar berani naik lift. Mungkin saja saat itu Kean pun merasa kecewa atas apa yang ia lakukan.
“Maafkan saya tuan karena telah membuat tuan kecewa dengan apa yang saya lakukan.” Tiba-tiba saja ia merasa bersalah. Benar kalau semanis papun sebuah kebohongan tidak pernah berakhir menjadi kebahagiaan.
Kean menggeleng. “Tidak ada yang perlu dimaafkan disa. Baik cara mamah ataupun cara kamu tetap memiliki maksud untuk membantu saya. Saya menghargai itu. Paling tidak untuk beberapa saat saya pernah berharap kalau berada di ruang sempit ini tidak semenakutkan itu.” Kean tersenyum di ujung kalimatnya.
Selama bertahun-tahun Arini mengulang cerita itu. Tapi seiring bertambahnya usia, Kean mencari kebenaran cerita itu yang ternyata hanya cara Arini untuk mengurangi ketakutannya. Selama bertahun-tahun itu pula ia menikmati cerita itu walau tetap saja ia tidak pernah berani untuk naik lift.
Tapi malam ini, ia seperti punya cerita baru. Bagaimana rasanya mengumpulkan keberanian demi menyelamatkan seseorang yang berharga untuknya. Bagaimana ia melewati batas takutnya demi seseorang yang bisa membuatnya cemas selain Arini. Demi seseorang yang ternyata ingin ia lindungi.
Sejenak Kean menoleh Disa yang berdiri di sampingnya. Gadis ini, mengapa ia harus merasa cemas saat membayangkan ia tidak baik-baik saja?
“Ding!” pintu lift terbuka menjadi akhir dari lamunan Kean.
Mengambil langkah lebih dulu lalu berjongkok. “Naiklah.” Titahnya.
Disa cukup terkejut melihat apa yang Kean lakukan. Mana mungkin ia berani naik ke punggung Kean.
Kean menoleh, memandangi Disa dengan penuh keyakinan. “Akan ada banyak hal yang kamu lakukan dengan kedua kaki itu. Naiklah, supaya bengkaknya tidak tambah parah.” Ia benar-benar berjongkok menunggu Disa naik ke punggungnya.
“Saya bisa berjalan tuan, lagi pula, Awh!” baru satu langkah ternyata kaki Disa tidak bisa di ajak kompromi. Nyeri dan pegal menjadi kombinasi yang pas membuatnya tidak bisa meneruskan langkahnya. Perasaan tadi ia masih bisa melangkah tapi setelah lama berdiri malah terasa sakit.
“Masih mau keras kepala?” tanya Kean. Ia menatap Disa dengan tajam. Susah sekali membujuk gadis keras kepala ini.
Tidak ada pilihan, dengan tergopoh-gopoh Disa menghampiri Kean lantas naik ke punggungnya.
Kean tersenyum samar, menyerah juga gadis ini.
Dengan menggunakan pintu darurat Kean membawa Disa keluar dari hotel. Ia meminta petugas valet untuk mengambil mobilnya.
“Duduklah.” Kean mendudukan Disa di kursi penumpang. “Mana kakimu?”
“A-ada apa tuan?” Disa menyembunyikan kakinya, tidak mungkin ia menunjukkan kakinya pada Kean.
Kean menengadahkan tangannya seraya menatap Disa. Sudah cukup ia berdebat dengan gadis keras kepala ini.
Baiklah, walau merasa tidak enak, akhirnya Disa menunjukkan bagian kakinya yang keseleo. Kean melepas sandal dan menaruh kaki Disa di pahanya.
“Relaks.” Titahnya yang mulai menguruti kaki Disa.
“Tuan, kita bisa melakukan ini di rumah. Tidak perlu tuan yang melakukannya.” Menahan tangan Kean yang mengusap kakinya perlahan. Malu juga kalau sampai orang-orang melihat apa yang Kean lakukan padanya.
Kean tidak peduli, ia masih terus menguruti kaki Disa.
“Perjalanan ke rumah cukup lama. Kamu mau kaki kamu semakin bengkak?” ujarnya tanpa menghentikan usapan di kaki Disa.
Disa hanya termangu, memperhatikan Kean yang mengurut kakinya pelan. Sangat telaten. Sesekali Disa menggerakkan kakinya saat pijatan Kean kena pada bagian yang sakit, Kean memandanginya seolah memintanya untuk menahan rasa sakitnya, lantas Disa kembali diam.
Cukup berguna juga cara mengurut otot yang keseleo yang di ajarkan Nasep. Ia kira mempelajari ilmu ini hanya sia-sia tidak akan terpakai karena ia cukup berhati-hati saat workout. Tapi siapa sangka ada orang lain yang menerima manfaat dari ilmu yang diajarkan Nasep.
Beberapa menit berlalu Disa masih memperhatikan Kean yang mengurusi kakinya. Laki-laki kaku ini ternyata bisa perhatian dan peduli padanya. Walau bicaranya sering kali ketus tapi di balik itu ia memiliki rasa kepedulian yang mulai terasah.
“Coba gerakkan.”
“Hah?” Disa masih terkejut. Selama kean mengurut kakinya ia terus melamun memikirkan hal aneh-aneh hingga akhirnya Kean juga yang mengakhiri lamunannya.
“Sudah mendingan tuan.” Ia menekuk pergelangan kakinya beberapa kali dan rasa sakitnya sudah jauh berkurang.
“Pakai sandalmu, kita pulang.”
“Baik tuan.”
Semuanya membaik. Rasa cemasnya, rasa sakit perlahan mulai hilang. Jika Disa mengingat kembali kejadian tadi, rasanya sangat menakutkan. Tapi kemudian rasa takut itu sirna begitu saja setelah melihat Kean yang tampak baik-baik saja.
****