
“Kean lepas! LEPAS!!!” Clara kembali mencoba berontak, mengibaskan tangan Kean yang mencengkramnya dengan erat.
Dari hadapan Arini dan Disa, Kean menarik paksa Clara keluar dari rumahnya dan menjauh dari keduanya.
Kedua wanita itu masih mematung, saat ia tinggalkan, seperti tengah mencerna baik-baik apa yang terjadi di depan matanya. Pikirannya masih belum mengerucut sampai akhirnya mereka sadar kalau arti kalimat yang di ucapkan Clara itu penting.
Arini menoleh Disa yang terpaku dengan ekspresi wajah yang sulit dijelaskan. Ia seperti tengah menelan bulat-bulat rasa terkejut yang belum sepenuhnya ia mengerti. Seperti hatinya belum siap untuk mengakui kalau yang ia dengar mungkin benar adanya.
“Sa, apa kamu tahu sesuatu tentang mereka?” Arini bertanya dengan ragu.
Ia benar-benar baru mendengar kabar ini. Setahu Arini, Kean memang berteman akrab dengan Clara tapi tidak pernah terbayangkan kalau kedekatan mereka lebih dari teman. Sifat keduanya yang seperti air dan minyak, tidak akan mungkin cocok sebagai pasangan kekasih.
“Tidak nyonya.” Pertanyaan Arini seperti alarm yang menyadarkan Disa agar keluar dari lamunannya.
Dadanya masih berdebar kencang dengan perasaan mengganjal yang makin terasa hingga ia tidak leluasa menarik nafas.
“Saya permisi nyonya.” Ia lebih memilih melanjutkan pekerjaannya yang belum selesai. Di sinilah tempat seharusnya ia berada. Dengan piring-piring kotor dan kain pel.
“Ingat disa, cinderela itu hanya karangan para gadis patah hati sepertimu.” Disa mengingatkan dirinya sendiri dan bersiap jika yang ia dengar itu adalah suatu kebenaran.
Di tempatnya, Arini memandangi Disa dari kejauhan. Ia berusaha membaca air muka yang berusaha di tutupi Disa. Satu hal yang bisa ia duga, Disa pasti tidak pernah berharap mendengar kabar ini. Entah apa yang terjadi antara Disa dan putranya yang jelas pasti sebuah keterikatan yang serius hingga Kean harus menjauh demi berbicara dengan Clara.
Selama beberapa hari ia pergi, ternyata cukup banyak hal yang tidak ia tahu.
Di luar sana, Kean masih berdebat dengan Clara. Gadis keras kepala itu masih enggan untuk menolak perjodohan.
“Claire, gue gak tahu apa yang bikin lo berubah pikiran. Tapi lo harus tau, gue gak akan mau di jodohin sama lo.”
“Hubungan kita sebagai sahabat udah cukup, gue bersyukur bisa berteman sama lo. Tapi itu tidak akan pernah membuat kita berakhir sebagai pasangan suami istri.” Lagi Kean menegaskan keengganannya untuk menerima perjodohan.
“Lo kenapa sih gak nurut aja mau bokap lo? Lagian apa susahnya lo married sama gue, punya anak sama gue, toh gak rugi juga.” Clara masih bersi keras dengan pikirannya. Baginya, apa yang kurang dari dirinya hingga Kean begitu sulit menerima keinginan orang tuanya.
“Claire, menikah dengan seseorang itu bukan tentang untung atau rugi.”
Kean mulai merendahkan suaranya. Ia mengenal benar siapa Clara. Seorang gadis yang keras kepala, tidak bisa di bantah keinginannya. Berdebat dengan gadis ini akan menjadi hal yang sulit saat ia tidak menurunkan tendensi kalimatnya. Mungkin ia harus menghadapainya dengan cara yang lain.
Kean mendudukkan tubuhnya di bangku taman, mencoba menenangkan pikirannya sebelum melanjutkan kalimatnya. Perlu ketenangan untuk menghadapi Clara. Dipandanginya gadis yang masih berdiri dengan kukuh seraya menyilangkan tangannya di depan dada. Inilah bukti keangkuhan Clara.
“Lo tau, kita akan menghabiskan seluruh hidup kita dengan orang yang kita nikahi. Seneng, susah namun tetap mengasihi. Dan itu memerlukan perasaan yang lebih dari sekedar berteman.”
“Lo sama gue gak cocok untuk hubungan macam itu. Gue gak ada perasaan yang bisa bikin gue yakin bisa bertahan ngejalanin semua itu seumur hidup sama lo.”
Kean mencoba meyakinkan sahabatnya. Gadis itu mulai menoleh tapi kemudian kembali membuang pandangannya.
“Claire, come on, jangan pertaruhkan hidup kita buat sesuatu yang udah kita tahu ujungnya bakal gimana. Hem?”
Clara tampak menghela nafas dalam, seperti mengusir kegundahan yang juga dirasakannya.
“Lo harus tau, bokap lo tetep yakinin bokap gue buat nikahin kita. Dia ngerasa kalo cuma gue yang layak buat jadi menantunya. Dan lo, bisa kehilangan segalanya kalo lo nolak perjodohan kita.” Clara menatap Kean dengan tajam, menyampaikan penegasan yang di katakan Sigit.
Kean menghela nafas dalam dan kembali berdiri di hadapan Clara. Ia tahu, ini adalah senjata Sigit untuk mengancamnya dan sudah pasti akan kembali ia lakukan untuk membuat Kean patuh.
“Lo gak perlu berkorban buat gue, gue gak butuh itu."
"Belakangan ini gue banyak berfikir, gue menimbang banyak hal dalam hidup gue. Dan belakangan ini, gue tahu apa yang sebenarnya gue butuhkan.”
Memandangi sejenak seseorang di dalam rumah yang sedang menyelesaikan pekerjaannya dengan lambat. Seperti banyak hal yang ia pikirkan. Mungkin ia masih terkejut, ya pasti sangat terkejut mendengar perkataan Clara pagi ini.
“Gue mulai tahu apa yang gue butuhkan dan gue memutuskan akan melindungi apapun yang gue yakini bakal bikin gue bahagia. Dan kekayaan bokap gue, bukan bagian yang harus gue pertahanin.”
Kean menatap Disa dengan nanar. Bertemu dengan Disa dan keluarganya, telah mengajarkan banyak hal yang tidak ia dapatkan dari keluarganya. Banyak kepingan yang hilang dan perlahan mulai ia temukan dan membuatnya sadar apa yang sebenarnya ia butuhkan.
Tidak munafik, kekayaan itu memang diperlukan. Tapi tidak pernah menjadi jaminan kalau ia bisa menemukan kebahagiaan. Banyak kebahagiaan yang justru ia temukan dari hal-hal yang sederhana namun memiliki kesan mendalam.
Clara mengikuti arah pandang Kean yang masih tertuju pada Disa. “Jadi gara-gara cewek itu lo bersi keras nolak gue? Apa sih kurangnya gue sampe lo dan om lo sama-sama ninggalin gue dan lebih milih merhatiin perempuan itu?”
“Dia Cuma pelayan kean. Apa lebihnya?” merasa tidak terima karena sadar kalau ia tengah di perbandingkan dengan Disa yang membuat ia kehilangan seseorang.
“Om gue? Maksud lo hubungan lo sama om gue berakhir gara-gara disa?” perhatian Kean beralih pada Clara yang hanya mematung kemudian mendelikkan matanya saat Kean menatapnya. Untuk apa juga ia ikut memandangi Disa.
“Hem. Sejak di pesta itu, yang dia bahas cuma perempuan itu mulu. Keliatan banget kalo dia kagum sama pelayan itu. Dan yang lebih gue gak suka, dia perbandingin gue sama pelayan itu. Brengsek!” Clara mengupat kesal mengingat apa yang dilakukan Marcel.
Kean mulai berfikir banyak hal dari kalimat Clara. Ia menatap sahabatnya yang tampak kesal.
“Tunggu, jadi lo mau dijodohin sama gue gara-gara lo kesel sama disa dan kecewa sama om marcel?” Kean mulai menarik benang merah dari pikiran Clara.
“Ya lo pikir ada perempuan yang mau bertahan kalo laki-laki yang dia cinta malah mengagumi perempuan lain?” sahut Clara dengan kesal.
“Gue cinta sama marcel tapi gue gak bisa terima kalo dia terus nunjukin sikap mengagumi perempuan lain terlebih dia cuma pelayan. Dia bandingin gue sama pelayan, lo pikir gue bakal diem aja?” imbuhnya dengan mata berkaca-kaca.
Hatinya masih terasa perih saat mengingat perdebatannya dengan Marcel beberapa waktu lalu yang berujung pada kandasnya hubungan mereka.
“Lo yakin om marcel ngelakuin itu?” Kean mencoba meyakinkan Clara.
“Lo pikir gue bego sampe gak ngerti pikiran dia?” Clara menyalak tidak terima.
“4 tahun kean, gue berhubungan sama dia. Ngumpet-ngumpet dari papah, berusaha bikin dia terlihat layak di depan papah. Dan sekarang dia malah bandingin gue sama pelayan. Lo pikir itu gak brengsek apa?” suara Clara mulai terdengar bergetar, ada tangis yang coba di tahannya dan nyaris pecah.
Di pandanginya gadis cantik yang masih berdiri angkuh di hadapannya. Dalam kesedihan dan kemarahannya Clara masih berusaha bersikap acuh. Seperti itulah sahabatnya, sangat pandai menyembunyikan perasaannya di hadapan orang lain.
“Gue capek ken, berjuang buat dia. Gue ngerasa sendirian memperjuangkan apa yang penting buat kami. Tapi dia,” ada air mata yang menetes dari sudut mata Clara yang segera ia usap untuk meninggalkan jejak.
Ia menengadahkan wajahnya untuk menghalau air matanya agar tidak kembali menetes.
Melihat Clara yang seperti ini, kekesalan Kean berubah jadi iba. Tidak pernah ia melihat sahabatnya menangis karena seorang laki-laki. Clara yang selalu menjadi rebutan banyak laki-laki tampan dan mapan, namun tidak pernah menghiraukan satu pun. Baru belakangan ini ia tahu kalau ternyata Clara menjatuhkan hatinya pada Marcel.
“Lo 4 tahun sama om marcel. Itu bukan waktu yang singkat Claire.”
“Gue tau om marcel adalah orang yang gigih. Dia berani menentang papah demi apapun yang dia tuju. Menggunakan segala cara buat terlihat layak depan bokap lo.”
“Kalo sekarang dia nyerah dan malah bandingin lo sama disa, apa lo pernah berfikir kalo mungkin lo sendiri yang ngasih celah om marcel buat ngelakuin itu?”
Kean mencoba realistis dengan sudut pandangnya sebagai seorang laki-laki. Bagaimana Marcel mencoba merebut perusahaan dan menghalalkan segala cara untuk mengalahkan ayahnya, pasti bukan tanpa alasan.
Kalau sekarang ia menyerah, mungkin saja ia bertemu denga rasa lelah. Bukan hanya clara yang lelah untuk bertahan, mungkin juga Marcel?
Rasanya Kean mulai tahu harus memulai semuanya dari mana. Ia segera beranjak dari tempatnya saat sebuah pikiran terlintas di benaknya.
“Apapun yang terjadi sekarang, simpan keputusan lo buat nikah sama gue. Bukan itu yang harus lo pikirin. Hem?” Kean menepuk pudak sahabatnya yang terlihat lesu. Ia beranjak dari tempatnya, meninggalkan Clara seorang diri.
“Tapi ken, lo gak bakal bisa lawan bokap lo.” teriak Clara mengingatkan sahabatnya. Kean mengabaikan seruan Clara. “Kean! Keaaan!!!”
Kean memilih pergi dan memulai apa yang harus ia lakukan.
*****