Marry The Heir

Marry The Heir
Yang akan menikah siapa?



“Okey, kita sudah ada di puncak acara. Di hadapan kita, sudah ada ketiga model professional yang memperagakan baju rancangan finalis kita.”


“Kami pun sudah mendapatkan hasil dari penjurian. Kira-kira, siapa yang akan menjadi juara kali ini. Ada yang tahu? Apa jagoan kalian?” lagi sang MC melempar pertanyaan kepada penonton.


Masing-masing supporter meneriakan nama finalis jagoan mereka masing-masing.


“Disa! Disa! Disa!” teriak Shafira yang duduk paling depan. Ia mendukung dengan penuh semangat dan se-bucket bunga yang selalu ada dalam pelukannya. Rencananya akan ia berikan saat Disa naik ke atas panggung nanti.


“Waw!! Semangat sekali pendukung dari tiap-tiap finalis.” Seru MC.


“Tan, baju rancangan mba disa bagus banget yaa… Sayang yang makenya kak Claire.” Bisik Shafira tidak terima.


Ia masih ingat beberapa kali Clara berusaha menjatuhkan dan merendahkan Disa. Tapi kali ini, ia berdiri dengan penuh percaya diri, berpose cantik dengan gaun yang indah dan senyum yang selalu terkembang. Baginya tidak adil.


“Emang seharusnya siapa yang make, kamu?” goda Arini dengan senyum ringan di ujung kalimatnya.


“Ya nggak juga sih, aku jalan aja ngangkang, mana bisa jalan anggun kayak gitu.” Shafira merutuki dirinya sendiri.


“Tante juga dulu tomboy, gak masalah kok. Yang penting jadi diri kamu sendiri, supaya bisa percaya diri kayak claire.” Timpal Arini dengan santai. Bisa ia mengerti kekesalan Shafira terhadap Clara.


Satu hal yang sangat Arini syukuri saat ini, masalah pribadi keduanya tidak menjadi penghalang dalam kerjasama mereka.


Shafira dan Arini kembali memandangi Clara di atas panggung. Tumbuh tinggi semampainya memang patut di jadikan bahan sirik para Wanita yang menjadikan tolak ukur tubuh wanita ideal adalah tinggi, putih dan langsing. Jangan bayangkan toge.


Dan harus mereka akui juga kalau clara memiliki peranan penting dalam membantu Disa mempresentasikan karyanya.


“Baiklah, saat ini kita sambut bersama, para finalis lomba desain ke 18 tahun ini. Please welcome, Amelia pramesti, Paradisa Sandhya dan Teguh Mulyana.”


Lagi suara tepukan bergemuruh di seluruh ruangan.


Ketiga finalis yang di panggil segera naik ke panggung menghampiri model masing-masing. Kaki Disa terasa lemas seperti tidak bertenaga saat melangkahkan kaki di atas catwalk dan di sambut dengan suara tepuk tangan yang riuh dari setiap sudut ruangan.


“Mba disaaaa!!! I love you!!!” seru Shafira dari bangku VVIP.


Disa tersenyum tipis seraya melambaikan tangannya pada Shafira. Demam panggung yang dirasakannya membuat bibirnya begitu sulit untuk tersenyum lebar.


Berdiri di samping Clara yang tinggi menjulang, tubuh Disa terlihat mungil. Walau ia sudah menggunakan heels setinggi 5 cm, tentu tidak bisa mengimbangi tinggi Clara di tambah heels 15 cm yang di pakainya. Tubuh Disa hanya setinggi pertengahan lengan atas Clara.


Dari tempatnya, Disa memedarkan pandangan ke penjuru ruangan. Ia melihat keberadaan Arini dan Shafira di bangku utama. Sedikit ke belakang ada Marcel dan Kean yang menatapnya dan Clara. Wajahnya sama tegang walau berusaha terlihat tenang. Lalu di area penonton yang lebih jauh, ada Damar, Eko, Rina dan tentu saja Meri. Lihat, ternyata ia tidak sendiri. Banyak orang yang memberinya dukungan dan semangat.


"Jangan takut disa, apapun yang terjadi nanti, kamu jelas memiliki orang-orang yang menyayangimu." bisik Disa dalam hatinya, menguatkan dirinya sendiri.


Di kejauhan Beberapa kali Mery menyusut air matanya yang menetes sedari tadi. Sejak Damar menujukkan baju yang di rancang Disa dan di pakai oleh seorang model terkenal, ia begitu terharu dan tidak bisa menahan air matanya.


Masih teringat jelas saat mendiang suaminya meminta bantuan agar membujuk Disa kuliah dan mengambil jurusan yang katanya di masa depan akan menjanjikan. Susah payah ia meyakinkan Disa yang bersi kukuh hanya ingin kuliah seni, memperdalam kecintaannya pada seni lukis. Beruntung ia berhasil membujuk Disa walau harus dengan sedikit ancaman kalau Sugih tidak mau membiayai kuliah Disa jika tidak sesuai keinginan pamannya.


Ternyata pilihan Sugih kala itu tepat. Saat ini Disa berdiri di depan sana. Terlihat cantik dan mungil, membuat Mery begitu bangga. Dadanya sampai sesak karena tangis yang di tahannya. Jika Sugih melihatnya saat ini, ia pun pasti merasa bangga.


Andai dulu ia mau untuk mengambilkan raport Disa saat keponakannya ini naik ke atas panggung sebagai juara kelas, mungkin kebanggan yang sama akan ia rasakan sedari dulu. Tapi ia selalu menolak dengan alasan Disa bisa melakukannya sendiri seperti biasa ia melakukan banyak hal.


“Ibu kok inget bapakmu ya,,” Mery jadi mellow. Ia menyandarkan kepalanya ke bahu Damar yang duduk di sampingnya.


“Ibu jangan sedih, bapak pasti seneng karena sampe sekarang ibu selalu sayang sama Disa.” Damar menepuk-nepuk bahu Mery untuk menenangkannya.


“Iyaa, ibu harap bapakmu gak kecewa sama ibu ya walaupun kuliah disa harus putus di tengah jalan.” Jadi menyesal pada perkataannya sendiri kalau perempuan ujung-ujungnya di dapur. Harusnya ia tidak mengecilkan hati Disa saat itu, beruntung Disa tidak membencinya.


“Baik, kita akan segera melihat, siapa juara lomba desain kali ini.”


Clara menarik tangan Disa yang tergantung di sisi tubuhnya, agar mendekat. Lantas ia genggam dengan erat dan baru terasa kalau tangan keduanya sangat dingin, sama-sama gugup.


“Lo jangan norak ya. Gimana pun hasilnya, lo tetep harus senyum soalnya banyak kamera yang mengarah ke kita berdua. Jangan sampe lo mewek kalo kalah. Jelek di kamera.”


Clara berbisik pelan di telinga Disa, penuh peringatan. Sang model ini memang sangat sadar kamera. Ia tahu kapan kamera mengarah kepadanya hingga ia harus mengontrol wajahnya dan tersenyum.


“Iya Claire, saya janji akan baik-baik saja.” Sahut Disa, berusaha menguatkan hatinya.


“Kita hitung bersama-sama, 3, 2, 1. Ya!” layar di belakang mereka mulai menampilkan perolehan nilai dari para juri.


Tangan Clara semakin erat menggenggam tangan Disa. Mereka sangat gugup hingga tidak berani melihat ke belakang.


“Juara satu lomba desain ke 18 jatuh kepada,”


Jantung Disa dan Clara berdebar semakin kencang. Rasanya lama sekali MC ini melanjutkan kalimatnya. Tubuhnya terasa lemas dan kalau lebih lama lagi mungkin dadanya bisa meledak saking tegangnya.


“Waw, selamat Paradisa Sandhya dengan desain psyche!”


“Aaaaaa…” Clara refleks berteriak kegirangan. Tanpa sadar ia memeluk Disa dengan erat walau badannya harus sedikit merunduk, menyesuaikan dengan tinggi Disa.


“Kita menang disa! Kita menang!” seru Clara di telinga Disa denagn penuh haru. Tanpa sadar pula air matanya menetes. Ia lupa pada peringatannya sendiri agar jangan norak di hadapan kamera.


Sementara Disa, masih mematung. Ia masih tidak percaya dengan hasil yang ia dengar. Apa ini nyata atau hanya mimpi indah karena kurang tidur.


“Hey! Lo menang disa! Kita menang!” melihat Disa yang masih terpaku, Clara melepas pelukannya dan mengguncang-guncang tubuh Disa lantas kembali memeluknya. Seperti apa perasaannya tidak bisa ia utarakan.


“Kita beneran menang claire?” nyaris mengeja kalimatnya dengan lemas. Seperti tubuhnya akan tumbang.


“Iya begok! Lo budeg apa gimana sih?!” seru Clara. Ia melepaskan pelukannya dan menatap Disa dengan kesal.


Disa tidak merespon. Untuk beberapa saat rasanya ruangan begitu hening. Orang-orang berteriak namun tidak ada suara yang di dengar Disa. Waktu terasa melambat dan semua bergerak pelan. Dilihatnya, dari kejauhan, Eko dan Damar pun ikut berseru, mengacungkan kedua jempolnya pada Disa. Disa hanya tersenyum tipis, ia benar-benar tidak mendengar apapun.


“DISA!” teriak Clara saat beberapa kali Disa di panggil tapi malah melongo.


“Hah, iya?” Disa tersentak. Suara Clara seperti menyambungkan kembali aliran syaraf yang ada di kepalanya.


“Lo masih belum sadar? Noh liat!” Clara membalik tubuh Disa menghadap layar lebar di belakangnya. Barulah ia sadar kalau ia memang berhasil menjadi juara di ajang ini.


Tanpa menunggu lama, Disa segera membungkuk, lalu bersujud mengucap syukur. Ada tangis yang di tahannya yang membuat dadanya sesak. Rasanya ia ingin berteriak sepuasnya dan mengatakan kalau ia sangat bahagia.


“Alhamdulillah ya Allah, terima kasih.” Batin Disa dengan ribuan syukur yang tidak bisa ia utarakan.


*****


“Mba disaku sayang, selamat yaaa…” seru Shafira yang menyambut Disa setelah turun dari panggung.


Ia memberikan bucket bunga untuk Disa. Bucket bunga kesekian yang ia terima setelah di nobatkan sebagai juara satu lomba desain.


“Makasih non fira.” Di rangkulnya Shafira dengan erat dan terdengar helaan nafas lega.


“Proud of you mba, mba disa yang terbaik.” Puji Shafira dengan tulus.


“Makasih non, makasih banyak.” Andai saja dulu Disa tidak mengikuti saran Shafira untuk mengikuti lomba desain ini, mungkin ia tidak akan sampai di tahap ini.


Mengenal dunia baru, bekerja dengan orang-orang yang professional dan tentu saja menambah pertemanan. Banyak hal yang harus ia syukuri karena bisa berada di titik ini. Kesempatan yang tidak semua orang bisa dapatkan.


Melepaskan pelukan Shafira, berganti Arini yang merentangkan tangannya menyambut Disa. Dengan senang hati Disa berjongkok di hadapan Arini lantas memeluk Arini.


“Lihat kan, kalau kamu bisa sejauh ini?” bisik Arini, penuh dengan rasa bangga.


Ia berharap, andai saja Sigit melihat apa yang di raih oleh gadis yang kerap direndahkannya, Arini pasti lebih bahagia dari ini. Melawan sebuah hinaan dengan prestasi adalah pembalasan paling menohok untuk siapapun.


Langkah ia untuk meminta Kinar agar membujuk Disa keluar dari rumahnya, ternyata membuahkan hasil. Saat itu Kinar bersi keras menolak untuk menyuruh Disa keluar dari rumah utama ataupun rumah Kean. Di tengah permasalahannya dengan tuan mudanya, Disa masih sangat di butuhkan di keluarga Hardjoyo. Tapi Arini bersi kukuh dengan pilihannya. Ia tetap ingin Disa keluar dari rumahnya. Kalaupun suatu waktu gadis ini kembali masuk ke keluarga mereka, tentu bukan sebagai seorang pelayan tapi seorang wanita yang akan mendampingi putranya kelak.


“Terima kasih nyonya, untuk selalu menguatkan dan menyemangati saya.” tutur Disa dengan tulus.


Bagi Disa, Arini memiliki peranan penting dalam hidupnya. Ia selalu meyakinkan Disa kalau Disa bisa melakukan hal yang lebih baik dengan bakatnya.


“Sama-sama. Sekali lagi, selamat ya…” mengusap punggung Disa dengan lembut, seolah menunjukkan kasih sayangnya yang begitu besar pada gadis ini.


Kean yang sedari tadi memperhatikan dari kejauhan, mulai mendekat. Rasanya tenang dan damai melihat kedekatan Disa dan ibunya. Saat melihat Disa beranjak dari tempatnya, Kean memberikan bunga yang sedari tadi di simpannya.


“Selamat ya.” Ucapnya dengan senyum terkembang.


“Terima kasih tuan.” Malu-malu Disa mengambil bucket bunga dari Kean lantas menciumnya. Wangi bunga yang ia sukai. Ternyata Kean bisa romantis juga.


“Cie, cie, cie….” Shafira menyenggol lengan abangnya dengan sengaja. Tingkah isengnya untuk menggoda Kean kembali muncul.


“Diem!” seru Kean, penuh penekanan. Anak kecil ini, aduuhhh suka sekali mengganggunya.


“Peluk dong peluk…” bukan Shafira namanya kalau tidak berhenti mengerjai abangnya. Disa tersipu malu dan menyembunyikan wajahnya di balik bunga yang di berikan Kean.


Baru Kean akan mendekat namun tiba-tiba beberapa orang wartawan mendekat.


“Permisi, boleh minta waktunya untuk wawancara sebentar?” tanya salah seorang wartawan yang menyodorkan microphone ke arah Disa.


Ini serangan kedua setelah tadi Disa di paksa berbicara setelah di nobatkan sebagai juara satu. Rasanya kata-katanya sudah habis terlebih saat melihat kamera yang mengarah padanya.


Dengan sigap Kean menghadangnya. Ia tidak mau Disa merasa terganggu apalagi dengan saling dorong yang antusias membuat mereka terlalu dekat dengan wanitanya.


“Oh, anda calon suami dari paradisa ya?” nah kan, malah Kean yang di tanya. Niat hati melindungi Disa, malah ia yang diserang.


Kean celingukan, entah seperti apa ia harus menjawab. Berbicara di hadapan banyak kamera bukan keahliannya.


“Benar, mereka pasangan yang kalian gosipkan.” Sahut Arini seraya melirik Kean dan Disa.


“Oh, nyonya hardjoyo, rupanya anda juga hadir. Boleh kami wawancara sebentar?” sepertinya Arini sudah cukup di kenal olah para wartawan, mungkin setelah insiden tiba-tiba di serbu wartawan ke rumah sakit.


“Mau nanya apalagi, kan sudah saya jawab semua.” Sahut Arini dengan tenang, tanpa beban.


“Jadi benar, putra anda akan segera menikah?” tanya salah satu wartawan dengan antusias.


Entah harus merasa beruntung atau tidak karena perhatian para wartawan teralihkan. Tapi yang tidak jadi beruntung karena mereka mulai tertarik untuk mencari tahu jawaban dari gossip yang beredar.


Arini menoleh Kean dan Disa yang ada di belakangnya. Tersenyum tipis lantas kembali menatap kamera.


“Iyaa. Rencana akhir bulan ini. Sebelum disa pergi ke paris untuk belajar.” Tegas Arini dengan penuh keyakinan.


“Hah, akhir bulan?” Disa dan Kean saling menatap dengan wajah bingung.


Wartawan semakin antusias bertanya dan Arini dengan tenang meladeni mereka. Tangannya memberi kode agar Disa dan Kean pergi, sementara ia menahan wartawan agar tidak mengejar mereka berdua.


“Akhir bulan? Yang benar saja? Ini yang mau nikah kita apa mamah?” tanya Kean pada Disa.


Disa hanya mengedikkan bahunya, ia pun masih tidak tahu harus berkata apa. Semangat Arini sangat menggebu-gebu untuk menikahkan mereka.


Tapi tidak harus akhir bulan ini juga kali. Coba hitung, berapa hari lagi?


*****