
“Abang, tante rini sakit.”
Sepenggal pesan itu yang diterima Kean saat ia tengah sibuk dengan pekerjaannya. Ralat, bukan sibuk. Tepatnya ia menyibukkan dirinya sendiri dengan pekerjaan. Tapi sepertinya kali ini ia tidak bisa melanjutkan pekerjaannya.
Mendengar Arini sakit tentu bukan sesuatu yang asing tapi tetap membuatnya takut. Untuk alasan itu Kean pulang ke rumah utama. Rumah yang pernah ia kutuk tidak ingin ia tinggali.
“Anak mamah sangat tampan.” Kalimat itu yang pertama di dengar Kean saat Arini membuka matanya.
Ia tersenyum di antara wajahnya yang pucat dan matanya yang berair seraya mengusap wajah Kean dengan tangan gemetar.
“Mah, apa yang mamah rasain sekarang?” Kean menggeratkan genggaman tangannya yang sedari tadi tidak pernah ia lepaskan dari satu tangan Arini.
Melihat Arini terbaring lemah tidak berdaya, rasa marahnya tiba-tiba hilang dan berganti rasa takut. Takut jika Arini pergi meninggalkannya.
“Perasaan mamah lebih baik nak. Apalagi setelah melihat kamu dan disa masih peduli terhadap mamah.” lirih Arini.
Disa? Ya sudah pasti Disa datang lebih dulu. Tapi entah dimana dia sekarang.
“Makasih kalian udah mau datang liat mamah. Masih peduli sama mamah. Mamah sangat bersyukur.” Arini mengecup tangan Kean dengan lembut.
Kean tersenyum samar. Semarah apapun ia pada Arini, tentu ia sangat peduli pada satu-satunya orang yang membuat ia tidak pernah menyerah menjalai hidupnya yang sulit.
“Mamah udah di periksa dokter? Aku minta pak Marwan nyuruh dokter ke sini ya..” Kean lebih suka mengalihkan pembicaraannya. Sebentar saja ia ingin melupakan alasannya marah pada Arini.
“Nggak perlu sayang. Semalem dokter udah ke sini dan mamah udah di kasih obat.”
“Hanya perlu istirahat aja katanya.” Arini berusaha menenangkan putranya.
Setelah tadi Disa yang datang dengan wajah cemasnya, kali ini berganti Kean masih terlihat panik, jadi tidak tega karena membuat banyak orang cemas.
“Gimana kabar kamu sama disa, hem?” imbuh Arini dengan bibir bergetar dan tangis yang kembali pecah.
Melihat Kean dan Disa rasa bersalahnya kembali hadir. Andai saja ia sabar menunggu Kean dan Disa melewati semua prosesnya dengan alami, bukan dengan paksaannya, mungkin semuanya tidak akan jadi seperti ini.
Harusnya ia lebih percaya pada jalan takdir, kalau yang semestinya bersama memang akan bertemu di titik yang sudah tuhan tentukan. Tapi rasa cemas dan khawatirnya seorang ibu, membuat Arini melangkah lebih dulu.
Atau mungkin Arini yang membuat jalan takdir seperti ini untuk anaknya.
“Aku sama disa baik-baik aja. Mamah gak perlu cemas.” Kean menjawab sambil tertunduk, lantas tersenyum hambar. Tentu Arini tahu kalau mereka tidak baik-baik saja.
Walau Kean dan Disa sama-sama menutupi kondisi rumah tangganya yang memburuk tapi perasaan seorang ibu tidak bisa di bohongi. Firasatnya kuat hanya untuk sekedar merasakan kalau mereka tidak baik-baik saja.
“Mamah minta maaf ya nak, mamah gak bermaksud melakukan hal yang buruk terhadap kamu dan disa. Tolong maafkan mamah.” Lagi Arini menangis.
Ia menggenggam tangan putranya dengan erat, sungguh rasa sesalnya sangat dalam.
Kean hanya tersenyum. Jujur ia sudah memaafkan Arini atas semua yang ibunya lakukan. Tapi, rasa kecewa itu masih ada dan sedang berusaha ia kikis. Mungkin ini hanya perkara waktu saja.
Keluar dari kamar Arini, Kean bertemu dengan Shafira. Gadis itu langsung memalingkan wajahnya saat bertemu pandang dengan Kean.
“Heh, mau kemana kamu?!” jeda Kean, menghalangi langkah Shafira. Ia tidak suka adik sambungnya melengos begitu saja.
Shafira hanya menatapnya sebentar dan berdecik lantas berlalu meninggalkan Kean.
“SHAFIRA!!” seru Kean dengan suara dalam dan tegas.
Langkah Shafira langsung terhenti. Suara Kean mengagetkan ritme normal jantungnya lalu nyaris berhenti karena takut.
Takut-takut ia berbalik menghadap Kean. Sepertinya kali ini ia tidak bisa menghindar walau ingin.
“Apa sih bang?!” tanyanya ketus.
Kedua tangannya bersidekap, pura-pura menunjukkan otoritasnya kalau ia tidak bisa di injak seperti yang Kean lakukan terhadap Disa.
“Dimana disa?” pertanyaan itu yang Kean lontarkan.
Shafira mengerlingkan matanya malas. Sudah ia duga.
“Ngapain nanyain teteh segala? Kenapa, kangen?” pertanyaan mengandung ledekan yang membuat Kean mengeram kesal. Padahal ia tidak berniat mencari masalah dengan adik sambungnya.
“Abang lupa ya kalo abang udah nyakitin teteh?”
“Mana mau dia liat muka abang yang ngeselin ini?!”
Ini yang tidak Kean sukai dari jenis perempuan seperti Shafira. Gampang menghakimi.
“Kamu tidak perlu ikut campur anak kecil. Saya hanya bertanya dimana disa?!” suara Kean terdengar tegas. Ia tidak suka cara Shafira berbicara dengannya. Ia sangat yakin kalau Shafira tahu kemana istrinya pergi.
“Yeee nyolot lagi! Ya cari aja sendiri. Ngapain nanya-nanya?”
“Kan abang sendiri yang bikin teteh pergi.”
Benar bukan, ia memang tidak akan mendapat jawaban apa-apa dari anak kecil ini.
“Kenapa? Mau marah? Mau ngamuk?!” tantang Shafira saat melihat wajah kesal Kean dan tangannya yang mengepal menahan geram.
Kean hanya mendengus. Berurusan dengan Shafira hanya membuang waktunya. Akhirnya ia memutuskan untuk pergi.
“Pergi sana, cari teteh sampe ketemu.”
“Jangan sampe lo telat dan teteh keburu ketemu sama taehyung, lee jongsuk, nam joo hyuk, lee min ho, park seo joon, song jongki apalagi ji chang wook. Repot lo, kagak bakal bisa di rebut lagi!”
“Lo pikir yang ganteng dan keren cuma lo doang? Mana lo gak romantis lagi. Bakal kalah lo!”
“Iiisshhh gedek gue!” cerocos Shafira dengan berapi-api.
Kean tidak menimpali, ia mempercepat langkah kakinya untuk keluar dari rumah ini dan mencari Disa.
*****
Di Butik
“Tuan, bagaimana ini? Ada laki-laki tampan yang nemuin nona muda.” Bisik Mila saat menelpon seseorang.
“Laki-laki tampan siapa?” sahut Roy yang ikut berbisik.
“Saya kurang tahu. Tapi kalau saya cocokkan dengan foto yang tuan kasih, seperti wajah mantan pacar nona muda. Tapi aslinya lebih tampan.” Terang Mila, sambil memandangi foto Reza.
“Astaga..” hanya sahutan itu yang di katakan Roy.
Ini yang ia takutkan, Reza datang di waktu yang tepat untuk menambah runyam masalah.
“Apa yang mereka lakukan?”
“Tidak ada tuan. Mereka hanya berbincang di ruangan nona muda. Pintunya juga tidak di tutup, mungkin nona muda tidak mau ada fitnah.”
Roy terangguk paham, ia percaya nona mudanya selalu bijak.
“Ya udah, kamu tidak perlu lapor pada tuan muda. Kamu cukup pastikan tidak ada hal lain yang terjadi selain mereka berbincang.” Menurut Roy ini bukan waktu yang tepat melaporkan hal semacam ini pada tuan mudanya yang sedang emosi.
“Tidak tuan, saya tidak akan lapor. Karena tuan muda mendengar sendiri obrolan nona muda dan mantan pacarnya.”
“HAH DIMANA?” mata Roy melotot nyaris copot karena kaget.
“Di sofa depan meja saya."
"Hanya saja nona muda dan mantan pacarnya tidak tahu kalau tuan muda juga ada di sini. Beliau menyuruh saya diam. Tapi saya tidak mau tegang sendiri, makanya saya menelpon tuan.” Takut-takut Mila mengintip dari pintu toilet tempat ia bersembunyi.
“Astaga MILAAAAAA. Bisa benar-benar hancur ini dunia gara-gara perang dunia.” Rutuk Roy.
"Terus kamu di mana sekarang?"
"Saya di toilet tuan. Perut saya sakit, keringet dingin juga." keluh Mila sambil mengusap keringat di dahinya. Entah mengapa sejak Kean datang ia jadi berkeringat dingin, padahal ia tidak sedang berolah raga.
“Saya harus bagaimana tuan?” Mila ikut mengkerut takut.
Melihat wajah Kean yang dingin, sudah membuatnya ketar-ketir tidak karuan. Bisa ia bayangkan perang yang mungkin terjadi.
“Ya udah, kamu Kembali ke meja kamu dan tenang saja. Kamu lihat apa yang terjadi dan yang pasti, tugas kamu adalah untuk melindungi nona muda.” Pesan Roy.
“Baik tuan.” Akhirnya Mila hanya bisa patuh.
Dengan takut-takut ia kembali ke meja kerjanya dan duduk bersidekap di atas meja. Seperti anak SD yang akan mulai belajar.
Sementara Kean, terdiam di tempatnya sambil memainkan ponselnya. Tapi bisa diyakini kalau telinganya menyimak pembicaraan Disa dan Reza.
“Maaf, aku terpaksa datang ke sini untuk melihat langsung keadaan kamu.” suara itu yang membuat Mila meruncingkan telinganya, mencuri dengar pembicaraan nona mudanya.
“Aku mencemaskan kamu sa, tapi kamu bahkan tidak pernah membalas pesanku.” Alasan itu yang disebutkan Reza saat Disa bertanya alasan kedatangannya.
Disa tersenyum tipis mendengar jawaban Reza. Pria ini pasti tahu kondisinya dari Nita yang tadi pagi sama-sama datang menjenguk Arini. Sudah pasti Arini curhat panjang lebar pada sahabatnya.
“Aku baik-baik saja kak. Bisa kakak liat, aku cukup banyak pekerjaan yang bisa mengalihkan pikiranku. Jadi kak reza gak perlu cemas.”
“Dan tentang berkirim pesan,” Disa menatap Reza laman, ia ingin menegaskan.
“Aku wanita bersuami, tidak mungkin aku berkirim pesan dengan laki-laki lain di belakang suamiku.” Sahutnya dengan tegas.
Reza tersenyum samar mendengar jawaban Disa. Tangannya memainkan pinggiran cangkir yang ada di hadapannya.
“Kamu semakin tegas sama aku sa. Kadang aku merasa ini tidak cukup adil.” Suara Reza terdengar sendu.
“Jujur aku katakan, saat aku dengar kamu ada masalah sama kean, aku masih sangat mencemaskan kamu. Ya aku tau ini memang tidak seharusnya, aku mencemaskan seorang wanita yang sudah menjadi istri sahabatku sendiri.”
“Tapi tidak bisa aku pungkiri, kalau aku masih mengharapkan ada sesuatu yang lebih baik untuk kita.”
Reza tidak lagi menutupi perasaannya. Ia ingin Disa tahu kalau perasaannya selama ini tulus walau terlihat samar.
Tapi setelah Disa menolaknya, ia semakin sadar akan kesalahannya. Harusnya dulu ia lebih bersungguh-sungguh terhadap Disa.
“Jika suatu hari kamu memutuskan untuk keluar dari rumah itu, aku akan menjemputmu.” Imbuhnya dengan penuh keyakinan.
“Jangan bicara seperti itu kak. Aku tidak suka.” Tolak Disa dengan keyakinan yang sama.
“Aku dan aa baik-baik saja. Kami hanya sedang mencoba memahami lebih dalam satu sama lain."
"Seperti yang orang-orang katakan, 5 tahun pertama pernikahan adalah waktu untuk beradaptasi satu sama lain. Dan kami sedang menjalani itu.”
“Aku ingin lebih tahu suamiku dan aku ingin suamiku tahu seperti apa aku sebenarnya. Jadi bisa aku bilang, ini sebuah proses.” Jawaban Disa terdengar penuh percaya diri.
Reza tersenyum mendengar jawaban Disa. Wanita di hadapannya masih saja menutupi apa yang terjadi antara ia dan sahabatnya.
“Aku mengenal kean dengan baik. Malah sangat baik.”
“Harus kamu tau, dia bukan seseorang yang bisa terbuka dengan mudah. 5 tahun tidak akan menjadi waktu yang cukup untuk kamu memahami dia."
"Seperti saat ini, sampai kamu menikah dengan keanpun kamu bahkan tidak tahu dia seperti apa bukan?” tegas Reza.
Jangan bayangkan seperti apa ekspresi Kean di luar sana, satu lengan sofa mungkin sudah habis ia remas dengan kesal.
“Kak reza mungkin lebih mengenal suamiku daripada aku tapi, itu bukan alasan kak reza untuk mengolok hubungan kami."
"Kami memiliki hubungan yang lebih dari sekedar keterikatan karena pernikahan. Hubungan emosi kami kuat.” Lagi Disa berkata dengan penuh percaya diri. Walau dalam hatinya ia ragu, apa Kean merasakan hal yang sama dengannya.
"Kalau kak reza mengenal suamiku dengan sangat baik, kasih aku alasan kenapa aku harus pergi di saat dia membutuhkanku?" imbuhnya dengan tatapan lekat pada Reza.
"Karena dia akan semakin membuat kamu terluka sa." tegas Reza yang menghampiri Disa.
Ia meraih tangan Disa untuk ia genggam dengan erat.
Mila yang di luar sana sampai mengepalkan tangannya saat melihat Reza melakukan hal yang tidak seharusnya dilakukan oleh seorang laki-laki pada wanita yang bersuami. Bagaimana jika Kean melihatnya? Sudah pasti akan ada perang bukan?
"Aku masih sangat peduli sama kamu sa."
"Saat kamu memutuskan keluar dari rumah itu, aku akan menjadi orang pertama yang menunggu kamu."
"Aku bisa membantu kamu melupakan rasa sakit kamu karena kean. Dan kita bisa melakukan banyak hal yang bisa membuat kamu bahagia."
"Dan aku akan bersabar untuk itu." tegas Reza tangan tatapan tajam penuh keyakinan pada Disa.
Namun Disa memilih beranjak. Sampai titik ini, rasanya ia cukup tahu seperti apa seorang Mahreza Adjie.
Satu hal yang Disa yakini, semakin seseorang mengenal kita, semakin mudah ia mencari celah untuk menyakiti kita, lebih dan lebih lagi.
"Maaf." Disa melepaskan genggaman tangannya dari Reza.
"Aku belum berencana untuk pergi, terlebih dengan kak reza." mundur beberapa langkah menjauh dari Reza.
"Kak reza bisa menghiburku dan meyakinkanku kalau aku akan membaik setelah meninggalkan suamiku."
"Tapi sayangnya, aku tidak percaya dengan prinsip mengobati hati dengan mencari hati yang baru."
"Aku tahu batasanku. Aku lebih percaya bahwa untuk bersama hati yang baru, aku harus selesai dengan lukaku sebelumnya. Sembuh dengan sendirinya tanpa melibatkan hati yang lain."
"Terima kasih atas kepedulian kak reza terhadapku, tapi tolong, berhenti dan cukup sampai di sini."
"Kak reza tidak perlu menungguku."
"Kak reza mulailah hidup kak reza yang baru dengan orang yang baru."
"Karena sekalipun hatiku telah sembuh, aku tidak bisa menjaminkan kalau aku akan memilih bersama kak reza." tegas Disa tanpa rasa ragu.
Uraian kalimat itu menjadi jawaban yang cukup, baik untuk Reza ataupun Kean yang berada di luar sana. Pria tampan itu beranjak dari tempatnya dan pergi tanpa berkata-kata. Ia sudah cukup mendengar apa yang harus ia dengar. Ketulusan Disa dan kebrengsekan sahabatnya.
Sahabat? Entahlah, apa ia masih bisa memanggil Reza seperti itu?
Mila akhirnya bisa menghela nafas lega, setelah laki-laki gagah yang tidak memiliki ekspresi sedikitpun itu pergi meninggalkannya.
"Arrghh Astaga." nyaris saja jantungnya copot setelah ia terlepas dari keadaan yang menjebaknya. Tidak bisa protes, beranjak atau melakukan hal apapun. Ia hanya bisa terdiam menjadi saksi hidup jika mungkin perang dunia ke tiga itu terjadi.
Sementara di dalam sana, Reza hanya tersenyum samar mendengar apa yang Disa katakan. Sudah sangat jelas kalau Disa menolaknya, bahkan sebelum Reza melangkah lebih jauh.
Tersenyum samar, ya Reza hanya bisa tersenyum samar mendengar semua penolakan Disa. Menyakitkan, tapi sepertinya ini lebih baik agar ia bisa benar-benar mengakhiri harapannya.
"Kamu tahu sa, tidak pernah sekalipun aku iri sama kean. Tapi kali ini, jujur aku sangat iri." kembali Reza memecah keheningan di antara mereka.
"Kean menjadi orang beruntung dan bodoh di waktu yang bersamaan. Dan aku,"
"Aku bahkan tidak pernah bisa menjadi alasan kean untuk cemburu atau merasa takut kehilangan kamu."
"Kamu tidak pernah memberi siapapun ruang untuk berharap. Tapi kenapa aku malah semakin berharap kalau kelak aku menemukan seseorang seperti kamu?"
Reza menatap Disa penuh harap, lantas ia tertunduk lesu. Walau ia sedang tidak berkompetisi dengan Kean, rasanya ia layak untuk merasa kalah dan iri dari sahabatnya.
"Jangan berpikir untuk mencari seseorang sepertiku, kak. Carilah seseorang yang jauh lebih baik dari aku. Karena, kak reza berhak untuk bahagia tanpa memikirkan aku dan wanita yang kelak mendampingi kak reza, berhak untuk menjadi dirinya sendiri tanpa perlu di bandingkan dengan aku." tegas Disa.
Reza hanya tercenung menatap Disa. Ia tersenyum pada wanita cantik di hadapannya. Sungguh, ini patah hati karena ini ketegasan terdalam yang pernah di terima sang casanova dari seorang wanita.
Mungkin selama ini pikirannya salah, kalau ia bisa mendapatkan wanita manapun.
Yang benar, ini hanya beruntung karena banyak wanita yang bersedia memberinya kesempatan untuk merasa di cintai dengan dalam. Hanya saja, pada akhirnya semua harus berakhir dan karena ia menyia-nyiakan setiap kesempatan yang ada.
*****