Marry The Heir

Marry The Heir
Langkah baru



Di pagi yang tenang, keluarga Hardjoyo mengawali rutinitasnya dengan sarapan pagi. Suasana sarapan yang selalu ramai setiap harinya dengan celoteh anak kecil yang asyik berbincang santai dengan sang kakek. Hidup yang baru seperti didapatkan Sigit terlebih setelah Naka berada di tengah-tengah keluarga mereka.


“Do you want it naka?” tawar Sigit, menunjukkan roti isi buatan Disa.


“No grandpa, I love scramble egg.” Timpal anak kecil itu dengan mulut penuh makanan. Ia duduk di samping Sigit yang berada di kursi utama.


“Sorry mama, could you give me more?” mengangkat piringnya mendekat pada Disa. Lihat gayanya seperti orang dewasa saja.


“Sure baby.” Disa menambahkan beberapa sendok scramble egg di atas piring makan Naka.


“Thanks mama.” Ujarnya yang tersenyum manis.


"You're welcome."


Arini ikut gemas melihat tingkah Naka, di usapnya kepala Naka lantas ia kecup dengan gemas.


“No grandma. Naka bukan anak kecil.” Tolaknya dengan mata membulat berusaha menghindar dari Arini.


“Hahahahha…  Okey-okey, sorry. *But you still 3 years old naka, remember that.*” Arini terkekeh gemas dengan sikap Naka yang sok dewasa.


“Tapi aku tidak suka di cium-cium grandma.” Tetap anak kecil itu menolaknya.


“Hahaha… Baiklah. Boleh grandma cubit pipi kamu?” menyentuh pipi Naka yang gembil.


“No grandma. Jangan lakukan seperti yang sering dilakukan wanita-wanita dewasa. I don’t like that.” Naka bersidekap marah.


“Hahahahha….” Sigit jadi ikut tertawa melihat tingkah cucunya.


Setiap ia dan Arini mengajak Naka bermain ke luar, memang sering kali wanita dewasa menghampirinya karena gemas lalu mencubit pipinya. Saat di cubit Naka memang tidak protes namun matanya membulat kesal dengan bibir mengerucut. Biasanya Sigit yang akan membelanya.


“Mereka tidak bermaksud menyakiti kamu, mereka hanya gemas sayang.” Bela Disa yang ikut gemas dengan tingkah anaknya. Sikap dinginnya saat di dekati orang asing memang sangat mirip Kean.


“But I don’t like mama.” Timpal Naka, kesal.


“Okey, okey. Next time  no one can touch you without my permission.” Kalimat penguatan dari Sigit seperti dukungan besar bagi Naka yang membuat anak itu tersenyum senang.


“Thank you grandpa.” ucapnya seraya terangguk takzim.


“Adduuhhh rasanya nenek ingin menggigitmu.” Arini geram sendiri melihat tingkah cucunya.


“Hahahhaha… Ini baru cucuku.” Ujar Sigit dengan bangga. Baginya penting bagi Naka untuk mengungkapkan apa yang ia sukai dan tidak sukai.


“Morning boy!” Kean yang baru turun segera bergabung untuk sarapan. Ia mengusap kepala sang putra lantas mengecupnya.


“Morning papa.”


“Pagi sayang, mah, pah.” Tidak lupa ia mencium leher Disa dari belakang tanpa ragu. “Love you, I like your smell,” bisiknya menggoda, membuat Disa mengerlingkan matanya kesal karena malu.


“Pagi sayang, ayo sarapan. Jangan godain disa terus.” Ada Arini yang membela.


“Godain disa adalah bagian dari sarapanku.” Kean duduk di sisi kanan antara Sigit dan Disa tanpa rasa bersalah.


“Biarin lah mah biar kita cepet nambah cucu. Do you want to have little sister or brother naka?” Sigit ikut ambil suara. Seperti mendukung apa yang dilakukan putranya.


“Yes grandpa. Give me 5.” Naka menunjukkan seluruh jari tangan kanannya pada sang kakek.


“Hahahaha.. tuh kalian dengar itu.” Timpalnya semangat.


“Udah aku proses tiap malam pah, kadang sehari dua kali. Tunggu aja.” Kean tersenyum tipis pada Disa.


“Nah gitu dong.” Entang sekali Sigit menyahuti.


“Aa,,” desis Disa dengan wajah merah merona karena malu, tapi Kean hanya tersenyum begitupun Arini dan Sigit. Ternyata bapak dan anak ini bisa kompak dengan masalah beginian.


Menarik nafas dalam lalu menghembuskannya untuk mengurangi rasa malu di hadapan mertuanya, Disa mencoba mengalihkan pembicaraan. “Aa mau sarapan apa?” Disa mendekatkan piring pada suaminya.


“Roti isi aja.” Pinta Kean. Di ambilnya dua potong roti isi dan menaruhnya di atas piring Kean. “Thanks.” Ujarnya.


Disa sahuti dengan sebuah senyuman manis.


“Nanti siang papah mau ngajak naka jalan, sekalian nyari sekolah buat dia. Biar dia mulai beradaptasi dan punya teman.” Suara Sigit kembali memecah keheningan.


“Kami juga mau ngajak naka ke seaworld yaa, mungkin pulang sore.” Sambung Arini yang tidak kalah semangat.


“Iya mah, pah. Kamu gak masalah kan sayang?” Kean menoleh istrinya yang duduk di sampingnya.


“Hem, gak apa-apa.” Walaupun semakin jarang saja waktu yang ia habiskan bersama Naka tapi melihat Naka yang senang karena dekat dengan kakek dan neneknya membuat Disa merasa cukup bahagia.


“Naka jadi anak yang baik yaa main sama grandpa dan grandma. Temani grandma dan grandpa jalan-jalan saja.” Disa memperingatkan putranya agar tidak terus berlarian hingga membuat kedua mertuanya kelelahan. Walau pun Arini sudah bisa berjalan tapi mengejar Naka yang hobi berlari cukup membuatnya kerepotan.


“Okey mama.” Sahut Naka.


“Good boy!” Disa mengacungkan jempolnya pada Naka.


“Oh iya, papah juga rencana mau ketemu dokter spesialis jantung. Mungkin papah akan mulai melakukan tindakan operatif untuk pemasangan ring jantung. Papah masih ingin lebih lama bareng-bareng cucu papah.” Sigit mengusap kepala Naka dengan sayang.


“Kapan rencananya, biar kean temenin.”


“Gak usah, cuma konsul aja. Papah denger kamu lagi banyak kerjaan di kantor, jadi biar Marwan yang nemenin papah. Papah cuma mau di temenin pas nanti operasi, ya sa.” Sigit menatap Disa penuh harap. Baginya dengan Disa ada di sampingnya akan selalu membuatnya tenang.


“Iya pah.” Sahut Disa.


“Teteh, abang! Liat deh!” suara Shafira terdengar tergesa-gesa di sertai langkah kakinya yang cepat.


“Kenapa dek?” Disa sampai berbalik.


“Fira pelan-pelan. Kebiasaan kamu, grasak grusuk.” Suara Sigit yang memperingatkan.


“Ini emergency dady.” Sahutnya serius, membuat Sigit menggelengkan kepalanya tidak habis pikir dengan tingkah anak perempuannya yang rusuh. Tidak ada anggun-anggunnya sebagai wanita dewasa.


“Misi abang!” Shafira menyelinap ke sela-sela Kean dan Disa membuat Kean bergeser walau tidak rela, lantas menunjukkan layar ponselnya pada Disa.


“Notif medsos aku jebol teh. Follower-ku pada komenin baju yang aku peragain kemaren.” Ujar Shafira dengan cepat-cepat.


“Hah? Bagus apa jelek komennya?” Disa jadi penasaran. Dilihatnya ada belasan ribu komentar di salah satu feed milik Shafira.


“Baguslah! Mereka pada nanya bisa beli baju samaan kayak aku gimana caranya? Lah aku bingung, jadi belum ada yang aku jawab satu pun.”


“Liat, yang ngedm pun banyak banget. Aku jawab apa ini?” Shafira menatap Disa penuh tanya.


“Hah, kok bisa ya?” Disa malah balik bertanya. Ia tidak menyangka kalau baju yang Shafira pakai akan menarik perhatian banyak orang.


“Oh ya? Wah gila sih ini, baju bikinan teteh viral gini, kayaknya harus bikin banyak.” Ungkap shafira yang senang bukan kepalang, sementara Disa hanya tercenung.


Belum usai keterkejutannya mendengar kabar dari Shafira, ponselnya tiba-tiba saja berbunyi. Ada Mila yang melakukan panggilan video.


“Maaf aku jawab sebentar ya?” izinnya pada orang-orang di meja makan. Mereka hanya mengangguk.


“Iya kak mila?” jawabnya.


“Deekkkkk, yaa ampuuunnn!!!!” seru Mila membuat kaget saja.


“Hah, ada apa kak mila?” Disa jadi ikut terkejut melihat Mila berteriak histeris dan berurai air mata.


“Dek! Eh maksud saya nona muda.” Ralatnya saat melihat Kean yang ada di samping Disa.


“Gimana kak?” sedikit menghindar dari Kean yang kepo karena istrinya di teriaki sang assistant.


“Nona, baju kita most wanted di laman website Yayasan. Banyak orang yang mau beliii. Gimana iniii? Bu mareta terus-terusan menelpon saya dan bertanya ketersediaan baju yang nona muda buat?”


“Gimana ini? Banyak sekali request dari pelanggan yang meminta baju yang semalam di tampilkan di fashion show. Apa kita mau open PO atau gimana?” Cerocos Mila tidak kenal titik koma.


“Kak, aku juga gak tau,…” lirih Disa yang kebingungan. Ia masih sangat shock dengan berita bertubi-tubi hari ini. Apa benar kalau bajunya di sukai banyak orang?


“Tuh kan, apa aku bilang teh. Gak cuma aku, ig nya kak clara sama kak naomi juga di serbu fans-nya. Mereka nanya baju yang semalam mereka pake. Beneran banyak yang suka.” Imbuh Shafira dengan menggebu-gebu.


“Terus aku mesti gimana, aku juga gak tau kalo bakal serame ini.” Disa menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi dengan rasa bangga dan bingung yang bercampur jadi satu.


Melihat Disa yang terdiam, akhirnya Kean mengambil alih. Ia tahu saat ini istrinya masih belum bisa berpikir jernih.


“Mila, kamu dan roy kemari, kita bicarakan di sini.” Tegas Kean yang terdengar lebih seperti perintah.


“Baik tuan, saya akan segera ke sana.” Cepat-cepat Mila mengusap air mata bahagianya lantas bersiap untuk pergi ke rumah utama.


“Gimana ini a?” lirih Disa seraya menoleh suaminya.


“Hey, jangan sedih gitu dong. Harusnya kamu seneng sayang.” Kean meraih tangan Disa untuk ia genggam.


“Aku tahu kamu gak pernah nyangka akan seperti ini, tapi, aku udah memprediksi ini karena aku tau karya buatan tangan kamu itu istimewa.” Dikecupnya tangan Disa yang masih gemetaran.


“Iya teh, aku juga yakin kalo baju bikinan teteh bakal banyak yang suka. Uuu… aku bangga banget sama teteh.” Shafira memeluk sang kakak ipar dari samping.


“Selamat ya sa, mamah juga ikut bangga.” Sambung Arini. Sigit ikut mengacungkan jempolnya pada Disa.


“Makasih dek, mah, pah… Dan aa..” ungkap Disa dengan penuh rasa haru walau ia belum tahu harus seperti apa langkah yang ia lakukan selanjutnya.


*****


Di ruang kerja Sigit saat ini mereka berada. Masing-masing dengan wajah seriusnya membahas permasalahan yang saat ini di hadapi Disa.


“Papah akan investasi.” Ujar Sigit dengan yakin seusai mendengarkan gambaran permintaan baju yang masuk melalui Mila.


“Tapi pah, belum tentu disa bisa menyelesaikan baju yang diminta konsumen walau sistemnya open po.” Sanggah Disa melihat banyaknya baju yang harus ia buat dalam waktu singkat.


“Butik disa juga butik yang kecil, belum bisa menghasilkan pendapatan yang besar untuk memberi investor keuntungan.” Imbuhnya menatap Sigit pesimis.


“Sayang, kok pesimis gini sih?” pertanyaan itu dilontarkan Kean.


“Bukannya aku pesimis a, aku cuma mencoba realistis dengan kemampuan aku sendiri. Aku memang mau memenuhi permintaan konsumen dan ini kesempatan langka yang tidak pernah aku bayangkan sebelumnya. Tapi, aku gak bisa mengorbankan banyak hal hanya untuk ini.”


“Aku bayangin, mungkin seharian aku akan bermain-main dengan kain, mesin jahit dan gambar. Aku belum siap mengorbankan sebagian besar waktuku untuk ini dan melupakan kewajiban dan tanggung jawabku yang lainnya.”


“Selain itu, kalau aku menjanjikan bisa memenuhi permintaan konsumen tapi ternyata gagal, aku akan mengecewakan banyak orang dan aku gak siap untuk itu.” Terang Disa dengan penuh rasa khawatir.


Membayangkan ia seharian akan bergelut dengan pekerjaan dan melupakan kewajiban lainnya bukan pilihan yang bijak untuk Ia ambil. Waktunya untuk keluarga semakin sedikit sementara bagi Disa, keluarga adalah prioritasnya terlebih saat ini ia adalah seorang ibu. Kean mungkin bisa memakluminya tapi Naka belum tentu.


“Papah tidak meminta keuntungan yang besar.” Suara Sigit kembali terdengar, membuat perhatian peserta rapat darurat ini beralih pada laki-laki kharismatik yang berwajah serius dihadapan mereka.


“Papah pernah berada di posisi kamu sa, ingin maju tapi banyak rasa takut. Tapi, itulah dinamika seorang pebisnis harus bisa merubah kondisi terpuruk itu menjadi sebuah kesempatan. Seperti yang kamu bilang, ini kesempatan langka.”


“Kean dan papah pernah membahas masalah butik sebelumnya. Kean sangat yakin kalau usaha butik kamu bisa maju karena ini adalah passion kamu. Hanya saja, papah yakin kalau kamu akan menolak kalau papah bilang papah ingin memberi kamu bantuan secara finansial. Jadi, anggap saja ini challenge dari papah dan kean. Ambil kesempatan ini.” Ungkap Sigit dengan sungguh-sungguh.


“Iya sayang, jangan sia-siakan kesempatan ini.” Kean ikut mengamini kalimat Sigit.


“Yang harus kita pikirkan adalah strategi yang tepat agar kamu tidak merasa kehabisan waktu dengan membuat baju hingga melupakan hal lainnya. Dan aku sudah memikirkan beberapa alternatif solusinya.” Berganti Kean yang terlihat bersungguh-sungguh dengan ucapannya.


Disa tercenung di tempatnya. Jujur ia sangat bersyukur karena segala pintu terbuka lebar untuknya. Hanya saja ia tidak mau salah melangkah yang akan membuat ia menyesal akhirnya. Tapi mendapat dukungan dari banyak orang membuat semangatnya menggelora.


“Terus menurut aa sama papah aku harus gimana?” menatap Kean dan Sigit bergantian.


Sigit hanya tersenyum, mempersilakan putranya yang menjelaskan.


“Aku berpikir kalau butik kamu mungkin harus mulai punya vendor rekanan. Vendor rekanan ini yang nantinya akan membuat baju sesuai kebutuhan dan permintaan konsumen. Jadi tugas kamu hanya mendesain dan memastikan kalau vendor itu membuat baju sesuai dengan kualitas yang diharapkan. Tidak terjun langsung membuat baju.”


“Kamu masih bisa melakukan pekerjaan lain yang tidak bisa dilakukan oleh vendor, semisal membuat pakaian yang berdetail rumit. Gimana?” tawar Kean, terdengar sebagai ide yang cemerlang.


Disa tampak berpikir. Ia perlu waktu untuk memutuskan.


“Selain itu sa, papah pikir ini kesempatan yang bagus untuk kamu membuat brand. Papah dengar dari kean, saat kompetisi kamu membuat konsep brand yang bagus hingga kamu di wawancarai majalah fashion. Kenapa tidak konsep itu kamu matangkan dan benar-benar kamu jadikan brand milik kamu. Papah yakin, itu akan semakin menarik minat calon konsumen secara luas.” Lagi Sigit memberi ide.


“Benar itu nona muda, saya juga setuju.” Mila menyahuti paling semangat.


Pikiran Disa seperti mulai terbuka. Puzzle yang semula terserak di kepalanya seperti mulai menemukan polanya.


“Lalu gimana cara aku menemukan vendor rekanan? Bukankah aku juga harus mencari penyedia bahan untuk baju dan lainnya? Aku juga cuma berdua sama kak mila, tim ku hanya bekerja saat kamu ada undangan fashion show, aku belum bisa membayangkan bagaimana mengatur semuanya.” Disa mulai mengungkapkan keresahannya.


Berada di dunia bisnis seperti ini tidak pernah masuk dalam bayangannya. Ia hanya tahu membuat desain lalu di buat baju dan dijual. Tidak terpikirkan semuanya secara detail apalagi dalam skup besar.


“Papah akan meminta Marwan untuk membentuk manajemen kecil di butik kamu. Kalau masalah rekanan, suamimu jagonya memilih rekanan.”


“Selain itu, sambil berjalan papah akan membenahi anak perusahaan yang tidak terlalu baik kondisinya. Semisal anak perusahaan yang di tinggalkan marcel yang saat ini manajemennya ancur-ancuran. Sepertinya itu bisa di restrukturisasi dan disiapkan sebagai pabrik yang akan menyuplai kebutuhan kain untuk butik daripada melanjutkan kerjasama dengan buyyer yang tidak kompetitif. Bagaimana?” berganti Sigit yang menatap Disa dan Kean bergantian.


Kean terangguk setuju. Disapun mulai yakin kalau ia berada di tengah-tengah orang yang tepat dalam bidang ini. Tidak ada salahnya untuk menyetujuinya. Bagiannya adalah sesuai yang ditugaskan Sigit dan Kean sementara timnya akan mulai bergerak setelah Marwan siapkan.


“Bismillah… Iya pah, disa setuju.” tegas Disa tanpa ragu.


“Good job!” dengan bangga Sigit mengangkat dua jempolnya pada Disa. Inilah keputusan yang seharusnya di ambil Disa tanpa ragu.


*****