
Yogyakarta, menjadi kejutan manis untuk Disa.
Melipir dengan perjalanan sekitar satu setengah jam dari pusat kota yogayakarta, Disa di bawa pergi ke sebuah pedesaan yang asri di pinggiran kota Yogyakarta. Ini adalah salah satu properti milik keluarga Arini dulu yang di jaga dengan baik.
Sebuah peternakan dengan sebuah rumah besar yang sebagian besar terbuat dari kayu. Bangunannya sangat luas dan hanya satu lantai sehingga penghuni rumah bisa bebas bergerak kesana kemari.
Selama Kean menyelesaikan pekerjaannya, Disa di minta menunggu di tempat ini. Katanya pekerjaannya akan cukup lama karena Kean akan bertemu dengan manajemen perusahaan yang akan di belinya.
Ada mbok Mina yang setia menemani Disa di rumah tersebut. Ia sibuk membereskan beberapa barang dan menyiapkan makanan sementara Disa memilih berkeliling rumah.
Satu kamar yang di tempati Disa saat ini, berada di bagian belakang rumah. Sepanjang lorong menuju kamar ini, ada banyak foto yang terpasang di dinding. Ini seperti lorong kenangan dimana banyak foto keluarga Arini terpajang.
Beberapa foto Arini saat muda bersama orang tuanya menghiasi dinding dengan bingkai kayu. Cetakan foto lama dan sudah sedikit usang namun sepertinya tetap terawat.
Yang menarik perhatian Disa adalah foto Arini saat menggendong seorang bayi dengan Sigit di sampingnya. Arini tersenyum bahagia, penuh pesona dan anggun sementara Sigit tetap wajahnya yang tanpa ekspresi. Raut wajah ini yang belakangan sering Disa lihat dari wajah suaminya.
Di usapnya permukaan kaca yang melapisi foto tersebut, tidak berdebu sepertinya mbok Mina rajin membersihkannya.
Menarik, saat melihat foto Kean kecil dengan pipi yang bulat dan mata yang sedikit sipit. Hidungnya yang mancung sejak bayi juga bibirnya yang kemerahan. Sangat lucu, sampai rasanya Disa ingin menggigit pipinya.
“Kalo nanti kita punya anak, apa akan selucu ini ya a?” Disa hanya berani bertanya dalam hati.
Ya cukup dalam hati saja, tidak perlu ia ungkapkan.
Kadang ia meringis sendiri saat membayangkan hal seperti ini namun kembali ia tersadar kalau ia sudah bersedia menerima Kean dengan segala kekurangan dan kelebihannya. Hal sulit yang mungkin nanti ia hadapi adalah pertanyaan "Kapan punya anak?" dari keluarga dan kerabat.
Pertanyaan yang mudah dilontarkan tapi untuk sebagian orang sulit untuk di terima.
Akhirnya Disa hanya berusaha memantrai dirinya sendiri. "Kuat Disa, kamu hanya perlu menjawabnya dengan senyum. Anggap saja itu do'a."
Disa sudah mengukir kalimat itu dalam hatinya walau tidak bisa di pungkiri, pada kenyataannya itu akan sulit.
Di taruhnya kembali foto itu di tempatnya, ia berikan senyum termanis pada kenangan Kean yang tidak pernah di ingat oleh suaminya.
Masuk ke dalam kamar, ia di sambut dengan sebuah tempat tidur kayu dengan kasur kapuk mirip di rumahnya di Bandung. Sebuah kelambu tipis melingkupi tempat tidur berukuran king size tersebut. Suasananya tidak asing, nuansa kedaerahannya sangat kental.
Disa menghampiri sebuah jendela kayu yang ada di hadapannya. Saat membukanya, udara sore yang segar mengusap pipinya dengan lembut. Helaian rambut yang tidak terikat di buat bebas beterbangan seirama arah angin.
Beberapa saat ia berdiri di sana, memandangi riak air danau yang berkilauan saat terkena matahari sore. Menjelang senja, selalu menjadi potret penutup hari yang indah membungkus hari yang lelah.
Riak itu membuat Disa ingin pergi ke sana, menyentuh permukaan air yang dingin, persis gambaran yang pernah ia lihat dalam sebuah lukisan yang ia lihat di pameran lukisan beberapa waktu silam.
Sebuah pameran yang membuat ia tersadar kalau Reza selalu meninggalkannya sementara Kean selalu berusaha melindunginya. Hal itu baru ia sadari sekarang saat pria itu sudah resmi menjadi suaminya.
Jadi tersenyum sendiri kalau mengingat apa yang terjadi antara ia dan Kean dulu. Sangat indah untuk di kenang tapi tidak perlu di ulang. Menebak-nebak perasaan Kean itu melelahkan membuat ia merasa seperti di tarik ulur.
Tunggu, bukankah sekarang pun ia merasakan hal yang sama? Kean seperti masih belum menetapkan hatinya pada Disa.
“Tok tok tok”
Suara ketukan di pintu menyadarkan Disa dari lamunanya.
“Permisi nona muda,” di susul suara mbok Mina, panggilan akrab untuk wanita berusia senja itu.
“Iya mbok, ada apa?”
“Anu, nona muda belum makan. Apa mau mbok siapkan makan sekarang?” tawar wanita tersebut.
Iya, Disa baru tersadar kalau ia bahkan belum makan siang. Ia terlalu asyik menikmati pemandangan di rumah ini hingga lupa rasa laparnya.
“Nanti aja mbok. Saya mau ngeteh dulu aja.” Sahut Disa.
“Baik. Saya buatkan dulu.”
“Eh, tunggu sebentar mbok.” Menahan Mbok Mina yang hampir berlalu.
“Iya, gimana non?”
“Em, boleh gak kalo saya ngetehnya di sana?” menunjuk sebuah bangunan kayu yang berada di tepi danau. Kalau di sunda ia biasa menyebutnya Saung.
“Boleh. Nanti saya bawakan ke sana. Tapi non pake jaket ya, soalnya udaranya mulai dingin.”
“Baik mbok, terima kasih.”
Disa berjalan lebih dulu menuju bangunan itu. Ia membawa sebuah buku sketsa dengan pensil. Benar yang Arini katakan kalau tempat ini cocok untuk healing stress juga untuk melukis. Suasana yang nyaman memberi Disa banyak inspirasi.
Segelas teh dengan kue yang baru pertama kali Disa lihat. Mbok Mina bilang itu kue waru, yangko dan manten yang menjadi teman Disa menghabiskan waktu sambil melukis. Beberapa potong ia nikmati sebelum menggoreskan pensilnya di atas kertas sketsa.
Ruang imajinasi Disa mulai terbuka. Ia melukis sebuah gambar yang menggambarkan perasaannya saat melihat tempat ini. Seorang Wanita yang berdiri seraya memejamkan mata, merentangkan tangan, menikmati suasana yang hening. Seolah Disa ikut merasakan saat udara bergantian mengisi rongga dadanya tatkala ia menghirup udara segar di tepian danau. Suasana yang sangat Disa sukai dan membuat pikirannya tenang.
Tidak ada suara yang berarti, hanya riak air yang bergerak saat ikan berenang melewatinya. Sesekali terdengar suara ranting yang patah saat terinjak hewan melata sepert kadal atau suara nyayian dari kicauan burung yang sedang membuat sarang.
Berbagai tanaman danau tumbuh mengambang di atas permukaan air. Sebagian berbunga dan sebagian tumbuh liar menutupi permukaan danau. Airnya yang dingin seolah terasa hingga ke kulit Disa saat hembusan angin membawa uapnya serta naik ke udara.
Semuanya sangat alami, membuat imajinasi Disa menggulung di rongga kepalanya.
Dua buah gambar sudah ia buat beserta satu desain baju peri hutan. Ya begitu ia menyebutnya. Baju menjuntai dengan kain tipis-tipis yang membuat tubuh kurus nan tinggi tampak indah. Hiasan dari bunga teratai di rangkai dan di bentuk mahkota di atas kepalanya.
Beberapa helai daun Disa bayangkan sebagai penutup bagian dada dan punggung dengan tumbuhan berdaun memanjang dan tipis sebagai rok penutup setengah bagian perut memperlihatkan pusar dan menutupi hingga ke pertengahan paha.
Imajinasinya sedang sangat kuat hingga ia bisa menghasilkan beberapa karya.
Selesai membuat gambar itu, Disa meneguk kembali tehnya yang mulai dingin. Cepat sekali udara sekitar membuatnya dingin. Satu, dua tegukan ia habiskan lantas menyandarkan tubuhnya pada tiang saung. Di tatapnya riak yang seperti menyapanya membuat Disa tersenyum tipis.
Beberapa saat Disa memejamkan matanya seraya menengadahkan kepalanya, menghela nafas dalam kemudian menghembuskannya pelan. Hmmm… Sangat nyaman dan tenang. Rasanya ia tidak ingin beranjak.
Sebuah usapan lembut tiba-tiba mendarat di pucuk kepala Disa. Wangi parfum pria yang sangat ia kenali cukup menggoda indra penciumannya membuat ia lantas membuka matanya.
“Aa…” serunya seraya menoleh.
Benar saja, ada Kean yang berdiri di belakangnya. Ia tersenyum saat melihat wajah kaget bercampur senang milik Disa.
“Aa udah pulang?” memperhatikan Kean yang menghampirinya dan kemudian duduk di sampingnya.
Siang tadi Kean mengatakan kalau ia mungkin akan pulang malam karena harus menemui rekan bisnisnya, tapi ternyata sebelum magrib ia sudah sampai rumah. Sungguh kejutan yang menyenangkan bagi Disa.
Ada senyum yang ia tunjukkan pada Disa. Wajahnya yang tadi pagi terlihat dingin, sekarang lebih cerah.
Disa meraih tangan Kean lantas mengecupnya dengan lembut sebagai sambutan untuk suaminya yang baru pulang bekerja. Seketika perasaan Kean menghangat. Manis sekali sikap istrinya saat ini.
“Aa pasti cape, mau aku buatkan teh?” tawar Disa. Keceriaan ini yang Kean rindukan saat ia bekerja tadi hingga memutuskan pulang dengan cepat.
“Nggak usah, aku udah makan dan minum teh selama pertemuan. Perutku masih sangat penuh.”
“Kata mbok mina kamu gak makan siang?” Kean mengutip laporan Mbok Mina beberapa saat lalu.
“Heheheh iyaa.. Habisnya aku kenyang makanin terus kue bikinan mbo mina.”
“Lagian gak selera juga kalo makan sendirian. Nanti aja kita makan malam bareng.” Terang Disa.
Perutnya memang terasa penuh terisi makanan tapi tidak ada kesan saat ia menikmati makanan sendirian.
“Mau makan keluar gak?” tawar Kean tiba-tiba.
Padahal biasanya Kean lebih suka masakan rumahan terlebih itu buatan Disa.
“Em, mbok mina udah masak a. Tadi aku liat beliau sampe minta orang buat ngambilin kelapa buat bikin santen. Kayaknya mau masak yang spesial.”
“Kita makan di rumah aja ya?”
“Hem.” Sahut Kean pendek.
Ia menyandarkan tubuhnya pada dua tangan yang menopangnya dari belakang. Perlahan ia pun menghela nafas panjang sambil mengingat beberapa kenangan di tempat ini.
Dulu saat kecil, tempat ini juga favorit Kean. Kakeknya yang selalu menemaninya bermain. Masih ia ingat, di salah satu cabang pohon sebelumnya ada ayunan kayu yang di buatkan untuknya. Biasanya ia akan bermain ayunan di sana bersama anak desa lainnya. Tapi sekarang sudah tidak, mungkin rusak seperti rusaknya sedikit kenangan yang ia punya.
“Gambar apa yang kamu buat?” Kean menoleh buku sketsa yang masih ada di pangkuan Disa. Menarik menurutnya.
“Em bukan apa-apa. Cuma pemandangan sama desain baju.” Menaruh bukunya di bawah lantas menegakkan tubuhnya duduk di samping Kean.
“Kenapa gak ngelukis kita? Apa kamu masih takut menggambar manusia?”
Kean menoleh Disa yang ada di sampingnya. Jarak antar bahu mereka sangat dekat, mungkin beberapa senti saja.
“Hehehe.. Iyaa…” Disa tersenyum kelu seraya memandangi riak air danau.
“Waktu lomba desain, aku jadiin wajah aa sebagai gambar di kaos yang aku bikin. Tapi tidak lama dari itu, aku terpaksa harus keluar dari rumah dan meninggalkan aa.”
“Saat itu aku berfikir kalau mungkin gara-gara aku ngegambar siluete wajah aa makanya aku pergi ninggalin aa.”
“Sekarang aku gak berani lagi gambar manusia.” Aku Disa dengan sesungguhnya.
Kean tersenyum paham dengan ketakutan Disa. Seperti halnya dirinya yang pernah memiliki rasa takut, Disa yang kuatpun memilikinya.
“Mungkin karena kamu menggambarnya hanya satu.” Sahut Kean pendek.
“Maksudnya?” Disa mengernyitkan dahinya seraya menatap Kean penuh tanya.
Kean tersenyum gemas melihat ekspresi ingin tahu Disa.
“Ya, di kaos itu kamu hanya menggambarku. Tapi coba kalau kamu menggambar kita berdua, mungkin kalaupun harus pergi, kita akan pergi kemana-mana berdua.”
Kean tersenyum di ujung kalimatnya. Ia berusaha meyakinkan Disa dengan kalimat yang tiba-tiba muncul di benaknya.
"Apa iya ya?” gumamnya, memikirkan perkataan Kean.
“Coba aja..” menunjuk buku sketsa dengan ujung matanya.
“Okey, aku coba. Bismillah..”
“Wah pake bismillah segala.. Pasti kamu sangat takut yaa kalau aku pergi.” Kean cengengesan menggoda Disa.
“Enak aja! Jangan geer, semua pekerjaankan harus di awali dengan bismillah supaya hasilnya baik.” Jujur ia memang agak takut.
“Oh ya?”
“Hem!”
“Kalau gitu aku mau liat kamu gambar apa?” Kean semakin mendekat
“Gak boleh. Nanti aa liat kalo udah jadi aja.” Disa menarik tubuhnya dan menyembunyikan halaman buku sketsanya di balik tubuhnya.
“Sa, aku mau liat.” Kean merajuk manja.
“Jangan atuh a, nanti aja. Suka gak jadi nanti gambarnya.”
“Sa,” Kean menunjukkan puppy eyes-nya untuk memohon pada Disa. Tangannya berusaha menggapai buku sketsa yang Disa sembunyikan di balik tubuhnya.
Tanpa sadar jarak mereka sangat dekat. Tangan kekar Kean berhasil meraih tangan Disa tapi tidak lantas merebut buku itu. Ia lebih fokus pada sepasang mata yang menatapnya penuh perasaan. Wajahnya yang polos tampak kemerahan saat Kean semakin mendekat.
“Nggak!” terpaksa Disa memejamkan matanya agar tidak melihat wajah meresahkan Kean. Akh, jantungnya tidak aman.
"Pelit!" ledek Kean.
Di tariknya kaki Disa lantas membaringkan tubuhnya dengan paha Disa sebagai bantalannya.
“Menggambarlah di dekatku, jangan jauh-jauh.” Gumam Kean seraya memejamkan matanya dan menyilangkan tangannya di depan dada.
“Hem,” sahut Disa dengan segaris senyum di bibirnya.
Diam-diam ia memperhatikan wajah suaminya yang ada di atas pangkuannya. Proporsi wajah yang pas yang memberi kesan tampan dengan segaris senyum dari bibirnya yang sedikit kemerahan karena Kean bukan perokok.
Sementara yang di tatap, asyik memandangi langit yang mulai berubah jingga. Ia menikmati setiap kenangan manis yang perlahan melintas di pikirannya. Andai saja ia masih bisa mengenang semua itu tanpa rasa kecewa.
Disa yang asyik memandangi suaminya hanya tersipu. Mengalihkan salah tingkahnya ia mulai menggoreskan pensil di buku sketsa. Sesekali ia mengusap dadanya yang berdebaran tidak karuan. Haish! Kenapa suaminya tampan sekali. Jantung, hey jantung, kamu baik-baik saja?
******