
POV Disa
Aku benci rumah sakit. Baunya yang khas, bangunan serba putih dan wajah orang-orang yang terlihat sendu seolah membayangi pikiranku yang sedang tidak karuan.
Ini tempat yang paling aku hindari. Karena di tempat ini aku kehilangan 2 orang yang paling berarti dalam hidupku hanya berselang 5 tahun saja.
Ya, aku selalu merasa kalau tempat ini bukan tempat yang seharusnya di tuju oleh banyak orang. Datang dengan rasa sakit, ketakutan selama berada di sini lalu pulang dalam keadaan berduka.
Mungkin tidak bagi semua orang, tapi bagiku ya.
Di tempat seperti ini aku dilahirkan namun dalam jeda waktu satu menit, aku menjadi seorang piatu. Lima tahun berikutnya aku menangis sejadinya di tempat ini, memaksa untuk menemani ayahku yang sekarat, tapi mereka tidak mengizinkan.
Mereka menutup pintu dengan rapat, tidak memperdulikan teriakan dan tangisanku hingga, aku tidak bisa menemani ayahku melewati detik terakhir dalam hidupnya.
Tidak pernah ada kesempatan untukku mengatakan "Ayah, bertahanlah, aku membutuhkan ayah."
Ya, ini tempat yang paling aku benci karena di tempat ini aku sempurna menjadi seorang yatim piatu. Sendirian, kesepian, menangis dan berjalan gontai tanpa tujuan.
Sudah sangat lama tapi rasa sesaknya masih tetap terasa.
Terduduk di sebuah bangku depan ruang UGD, jantungku masih berdebar tidak menentu. Ada seorang laki-laki yang sedang aku tunggu kabarnya dari dalam sana. Seraya tertunduk, aku menangkup wajahku yang masih basah dengan sisa air mata, berharap saat membuka mata aku berada di tempat yang berbeda dengan perasaan yang lebih baik.
Lama sekali orang-orang di dalam sana. Apa yang mereka lakukan pada tuan mudaku? Apa dia baik-baik saja? Kenapa mereka belum juga mengabariku?
AArrggghhhh!!! Aku frustasi. Kalau saja ada sedikit keberanian untukku mendobrak masuk, mungkin aku bisa menemani tuan muda dan memastikan ia baik-baik saja.
Aku membuka tangkupan tanganku. Masih gemetaran dengan sisa darah yang mulai mengering di jari-jari tanganku. Ini darah tuan muda. Karena kebodohanku membiarkannya ikut, aku menempatkannya dalam kondisi bahaya. Aku yang lemah membuatnya harus melawan laki-laki itu seorang diri dan berakhir dengan ia yang terkulai tidak sadarkan diri.
Bodoh! Ya aku sangat bodoh!
Tuhan, mengapa begitu mudah engkau membuatku merasa takut? Apa engkau masih kesal karena aku masih terlihat baik-baik saja hingga engkau menyakiti orang-orang di sekitarku?
Hatiku yang berbisik dan air mataku yang mulai menetes.
Aku tersedu sendirian, Kembali menangkup wajahku dengan kedua tangan yang gemetaran. Aku menangis sendirian dengan bahu yang naik turun seirama tangisku yang aku coba redam.
Tuhan, jika engkau sedang mengujiku lagi, tolong jangan dengan menyakiti orang-orang di sekitarku. Jangan buat aku merasakan kegetiran melewati semuanya seorang diri. Aku tidak mau sendirian, aku tidak mau kesepian dan aku tidak mau di tinggalkan.
Tuhan, aku takut. Tolong jaga tuan mudaku.
Aku berdo’a dalam hati dengan tangis yang tidak putus dan nafas yang tersengal. Kenapa aku begitu takut jika sesuatu yang buruk terjadi pada tuan muda?
“Disa,” sebuah suara membuatku terhenyak.
Aku segera mengangkat kepalaku dan menoleh ke arah datangnya suara.
Bu Kinar,
Dia berjalan dengan cepat bersama Tina.
“Kamu baik-baik saja?” tanyanya dengan cepat.
Aku mengangguk pelan seraya mengulum bibir menahan tangis.
“Hah, syukurlah,…” refleks bu Kinar memelukku. Membenamkan wajahku di bahunya. Terdengar helaan nafas lega dan usapan lembut di punggungku.
Entah mengapa aku semakin ingin menangis saat aku menemukan bahu yang aku butuhkan untuk bersandar.
Aku Kembali tersedu, tidak peduli jika Bu Kinar mungkin tidak menyukai kecenganganku.
“Saya takut bu, saya takut…” lirihku dengan isakan hingga kalimatku terbata-bata.
“Tenanglah disa, semua baik-baik saja. Tuan muda juga akan baik-baik saja.” Bisiknya menenangkanku.
Aku hanya mengangguk seraya mengaminkan ucapana Bu Kinar dalam hati.
Detik ini aku merasa, kalau Bu Kinar tidak semenakutkan yang aku pikirkan. Pelukannya hangat, usapannya lembut dan membuatku merasakan ketenangan. Aku kembali terisak, bukan lagi karena rasa takut. Aku membayangkan jika yang memelukku saat ini adalah ibuku, mungkin akan lebih hangat dari ini.
Hah, aku hanya bisa membayangkan tanpa pernah bisa merasakan yang sebenarnya.
Menit berganti, aku baru bisa mengendalikan diriku. Aku sedikit menjauh, melepaskan pelukanku dari Bu Kinar.
“Maaf bu,..” lirihku seraya mengusap ingus yang keluar dari hidungku.
Bu Kinar tersenyum seraya mengusap bahuku. “Tidak apa-apa. Duduklah.” Ujarnya dengan segaris senyum.
Baru kali ini aku melihat Bu Kinar tersenyum, rasanya sangat hangat.
Kami kembali duduk di bangku bersisihan.
“Minum sa,” kak Tina yang menyodorkan sebotol air mineral kepadaku.
“Makasih kak.” Saat kepanikan itu menyerangku sendiri, aku bahkan lupa cara menenangkan diri.
“Bu, dokter masih belum keluar, apa tuan muda baik-baik saja?” aku bertanya dengan ragu.
“Tuan muda baik-baik saja. Tadi dokter Frans sudah menelpon saya, tuan muda hanya perlu istirahat sebentar.” Terang Bu Kinar.
“Dokter frans?” aku bergumam mengingat nama yang di sebutkan bu Kinar.
Pikiranku mengulang kejadian saat setengah jam lalu ada seorang laki-laki yang menghampiriku dan bertanya, “Apa kamu yang mengantar tuan kean?”
“Iya, iya saya. Tolong cepat selamatkan tuan muda saya, tolong!” pekikku yang masih panik.
Laki-laki itu hanya mengangguk lalu pergi dari hadapanku. Mungkin laki-laki itu yang bernama dokter Frans.
“Udah sa, kamu yang tenang. Tuan muda pasti baik-baik aja. Ini rumah sakit bertaraf internasional, semua pelayanannya yang terbaik.” Kak Tina mencoba menenangkanku. Ia menggenggam tanganku dengan erat, membuat tanganku yang luka mulai terasa perih.
“Awwhh,,” lirihku.
Dengan cepat Bu Kinar dan Kak Tina menoleh.
Aku melihat telapak tanganku yang tadi di genggam Kak Tina. Luka tipis dengan darah putih dan tipis ini ternyata baru terasa perih sekarang.
“Kamu luka? Kenapa gag bilang?” dengan cepat Bu Kinar meraih tanganku yang luka bercampur dengan darah tuan muda dan sisa-sisa pasir yang menempel.
“Tidak apa-apa bu, hanya luka tipis saja.” Aku berusaha melepaskan tanganku dari Bu Kinar. Sudah cukup aku bertingkah cengeng di hadapannya.
“Luka seperti itu bisa infeksi kalau tidak dibersihkan dengan benar. Ayo ketemu dokter.” Menarik tanganku agar berdiri.
“Tidak usah bu, nanti saya cuci sendiri dan kasih obat luka juga akan sembuh.” Aku masih berusaha menolak. Aku tidak mau membuat mereka semakin repot.
“Ini rumah sakit disa, buat apa kamu mengobati diri kamu sendiri kalau ada dokter di sini.” Ia bersikukuh. Membawaku masuk ke ruang tindakan UGD dan mencari dokter. Aku hanya bisa menurut sambil menutup mata dan menguncupkan hidungku, tidak kuat mencium bau alkohol seperti ini.
Di dalam ruang tindakan ada beberapa bed yang berjejer rapi. Salah satunya tertutupi tirai yang menjuntai tinggi. Aku mencari tuan muda tapi tidak ada. Sepertinya ia berada di balik tirai itu.
“Dok tangannya luka, bisa tolong di obati juga?” ujar Bu Kinar pada seorang dokter laki-laki yang mengenakan sneli.
“Oh silakan duduk.” Menunjuk salah satu bed untuk tempatku duduk.
Aku segera berpindah dan duduk di sana.
Seorang perawat menghampiriku sementara Bu Kinar masih di kursi hadap meja dokter seperti berbincang dengan laki-laki di hadapannya.
“Saya bersihkan ya mba.” Perawat itu meraih tanganku. “Wah, lukanya cukup perih sepertinya.” Imbuhnya.
Aku hanya meringis, tidak menjawab saat sebuah kapas basah di tekankan ke lukaku. Mengusapnya beberapa kali hingga bersih baru membubuhkan obat luka. Ia juga memasangkan seperti jaring-jaring tipis di atas lukaku.
“Jangan dulu terkena air ya. Atau kalau melakukan sesuatu, di tutup dulu lukanya dengan plester kedap air.” Terangnya.
Aku mengangguk paham. Ia beralih ke lututku yang ternyata juga lecet. Kembali membersihkannya dengan telaten dan hanya beberapa menit saja selesai.
“Nanti di rumah juga di bersihkan seperti yang saya contohkan tadi yaa supaya lukanya tidak infeksi.” Perawat itu menerangkan sebelum ia pergi.
“Baik sus.” Sahutku.
Tidak lama Bu Kinar kembali menghampiri bersama dokter di sampingnya. Laki-laki jangkung berwajah indo itu membuka tirai dan terlihat seseorang sedang terduduk di sana sama sepertiku.
“Sepertinya keadaan tuan muda sudah membaik.” Ujar dokter Frans.
Aku sedikit tercengang saat tirai itu semakin terbuka dan ku lihat tuan muda yang duduk berhadapan denganku.
Ada helaan nafas lega saat aku bisa melihatnya duduk tegak dengan wajah dinginnya. Bagiku ini lebih baik dari pada melihat wajahnya yang ketakutan.
Oh ya, ia hanya menggunakan kaos singlet karena sepertinya bajunya robek terkena pisau.
“Bisa pulang sekarang?” tanyanya seraya melirikku.
Aku hanya tertunduk, rasa bersalahku masih begitu besar saat melihat wajahnya.
“Apa tidak sebaiknya di rawat inap saja dok?” kali ini suara Bu Kinar yang terdengar.
“Saya lebih suka di rumah.” Timpal Kean.
Ia turun dari bed-nya, sepertinya ia sudah baik-baik saja.
“Okey, tuan muda boleh pulang tapi perhatikan perawatan lukanya. Kami akan mengirimkan seorang perawat untuk merawat luka tuan muda,”
“Tidak perlu.” Sahut tuan muda dengan cepat. “Cukup ajari dia acara merawatku.” Ia menunjukku membuatku mengangkat wajahku dengan ekspresi bingung.
Dokter Frans menoleh bu Kinar dan bu Kinar hanya mengangguk mengiyakan.
“Baiklah.” Dokter Frans mengalah.
Dia mendekatiku, membawa alat peraga tangan dan beberapa obat luka.
“Saya ajarkan cara merawat lukanya.” Ujarnya agar aku fokus.
“Baik dok.” Mulai bersiap menyimak.
“Prinsip membersihkan luka dari bersih ke kotor. Gunakan kasa yang sudah di basahi dengan cairan ini lalu tekan kearah luka seperti ini.”
Aku sedikit meringis membayangkan rasa ngilu jika aku menekan luka seperti itu.
“Apa tuan muda tidak akan kesakitan?” tanyaku, ragu.
Dokter Frans tersenyum simpul.
“Tuan muda laki-laki yang kuat. Kamu bisa lihat badannya otot semua.” Ujarnya seraya menoleh tuan muda.
Aku ikut menoleh dan terlihat tuan muda tengah memandangiku. “Baik.” Sahutku akhirnya.
“Gunakan feeling untuk menekan luka agar tidak terlalu keras ataupun terlalu pelan. Kalau terlalu pelan dan tidak bersih, resikonya akan mudah infeksi apalagi kalau sampai ada nanah. Kalau terlalu keras, mungkin tuan muda akan membentakmu.” Lanjut dokter Frans dengan senyum terkulum di ujung kalimatnya.
“Kasih obat luka ini. Lalu yang ini. Baru tutup.” Menunjuk dua obat luka bergantian, salah satunya yang berbentuk jaring seperti di Lukaku. “Apa ada pertanyaan?”
“Tidak dok, saya mengerti.” Sahutku.
“Okey, gadis yang pintar.” Pujinya.
Aku hanya tersenyum dan membiarkan dokter Frans kembali ke mejanya untuk berbicara dengan bu Kinar.
Aku yang semula tertunduk, lantas mengangkat wajahku. Tanpa sadar tuan muda sedang memandangiku. Entah apa arti tatapannya. Aku berusaha tersenyum kelu tapi ia masih terdiam.
Hah, sebaiknya kupalingkan wajahku agar kami tidak merasa begitu canggung.
*****