Marry The Heir

Marry The Heir
Peringatan



Di sebuah café yang menyajikan makanan barat sebagai menu utamanya, Kean tengah menikmati makan siangnya. Ia bersama Reza yang tadi datang ke kantor dan mengajaknya makan bersama. Memang sudah cukup lama mereka tidak makan siang bareng dan suasana pun menjadi cukup canggung.


Seperti ada jarak yang membentang di antara mereka. Entah sejak kapan ini di mulai, mungkin sejak semalam atau sejak mereka berdebat dan Reza memilih pergi. Sedikit menghindar alih-alih menyebabkan rasa tidak nyaman antara ia, Kean dan Disa.


Ajakan makan siangnya kali ini sebenarnya sengaja ia buat untuk memperbaiki hubungan mereka. Bagaimana pun persabahatan mereka tidak seharusnya terpengaruh karena kehadiran seorang gadis di antara mereka.


Ketakutan Reza kalau ia dan Kean akan jatuh hati pada gadis yang sama, rasanya benar-benar terjadi. Ia mengakui benar rasa tertariknya pada Disa sementara Kean, ia masih berusaha menutupinya. Reza tahu, Kean bukan seseorang yang bisa terbuka tentang perasaannya namun sikapnya belakangan ini membuat Reza menyimpulkan kalau sahabatnya memiliki perasaan pada Disa walau ia tidak yakin itu bisa di sebut cinta.


“Gimana acara semalam.” Reza memecah keheningan di antara ia dan Kean.


Sudah hampir habis makanan di hadapannya tapi belum ada perbicangan di antara mereka.


“Lancar.” Sahut Kean dingin. Seolah ia tidak ingin mengingat kembali kejadian semalam yang ia lewati bersama Disa. Cukup ia dan Disa yang akan mengenangnya tanpa perlu berbagi cerita.


“Claire ngehubungin gue dan cerita soal kejadian semalam. Apa disa baik-baik aja?” pertanyaan Reza terdengar menyelidik, membuat Kean mulai tidak nyaman.


Apa yang di tangkap Reza dari cerita Clara semalam? Apa ia berfikir kalau Kean tidak bisa menjaga Disa hingga menempatkannya pada bahaya?


“Lo punya nomor disa, kalian juga sering berkirim pesan dan bertelpon. Kenapa gak lo tanya langsung sama orangnya.” Cukup sinis jawaban Kean. Ia pun menaruh garpu yang ia gunakan untuk menusuk steik di hadapannya. Selera makannya hilang begitu saja.


Mendengar jawaban Kean, Reza hanya tersenyum simpul. Sensitif sekali sahabatnya kalau membahas Disa.


“Lo tau, gue serius deketin disa. Gue harap, lo gak bawa disa dalam masalah lo.” Kalimat Reza terdengar seperti sebuah penegasan kalau Kean telah membawa Disa dalam bahaya.


Cukup menyebalkan ucapan Reza, hingga membuat Kean mengepalkan tangannya kesal.


“Lo pikir cuma lo yang bisa lindungin disa?” tantang Kean. Ia menatap Reza dengan tajam. Merasa di remehkan, adalah hal yang tidak bisa di terima Kean.


“Ya!” sahut Reza dengan yakin. “Gue gak cuma bisa ngelindungin disa secara fisik tapi juga secara perasaan."


"Gue cinta sama dia dan gue berniat buat ngungkapinnya langsung.” Tegas Reza. Entah Reza hanya menggertak atau benar-benar serius, Kean tampak mulai berfikir.


Reza seperti menantang Kean yang hanya bisa terpaku tanpa bisa menimpali kalimat sahabatnya. Sejak kapan persahabatannya menjadi semenyebalkan ini?


“Bokap lo, bukan orang yang bisa di ajak kompromi soal perasaan.”


“Perjodohan lo sama claire, bukan hal yang sepele yang kalo lo bilang gak mau, dia bakal nerima.”


“Akan ada banyak konsekuensi yang lo hadapi dan mungkin bakal berimbas sama disa.”


“Gue gak bisa biarin bokap lo ganggu disa. Disa penting buat gue.”


Kalimat-kalimat Reza lebih terdengar seperti peringatan kalau Disa berada dalam bahaya. Sejenak Kean berfikir, apa yang mungkin dilakukan Sigit pada Disa. Sigit memang bukan orang yang bisa di ajak kompromi namun ia berpegang pada janji Sigit kalau laki-laki itu akan bersikap sebagai seorang ayah yang dalam artian bisa menerima permintaan putranya.


“Bokap gak bakal berani nyentuh disa.” Kean sangat yakin. Ia masih berusaha percaya pada janji Sigit.


“Jaminan lo apa bisa seyakin itu? Lo sendiri masih hidup di bawah bayang-bayang bokap lo.” Lagi Reza meragukan keyakinan Kean.


Ia mengenal benar siapa Sigit. Tidak mempunyai belas kasihan pada siapapun termasuk Kean sebagai putranya. Membiarkan Disa masuk ke kehidupan pribadi Kean, sama dengan merelakan Disa masuk ke dalam bahaya.


“Lagi pula, lo gak ada perasaan apa-apa kan sama disa? Jangan sampe lo jadiin disa tameng buat ngehindarin perjodohan sama claire yang akhirnya cuma bikin dia sakit.” Tandas Reza.


Kean hanya termangu, mempertimbangkan apa yang Reza katakan. Seperti apa perasaannya dan seperti apa keinginanya, ia pun belum bisa memahaminya.


Mungkin ia masih perlu waktu, untuk memikirkan banyak hal.


*****


Langkah Disa terlihat lemah saat memasuki gerbang rumah Kean. Hari ini terasa begitu melelahkan bagi Disa tidak hanya secara fisik juga secara mental. Kakinya yang masih terasa sakit membuat ia lebih cengeng. Rasanya ia ingin menangis di pojokan seorang diri ketika mengingat kejadian beberapa saat lalu.


“Jam berapa kamu pulang? Apa urusanmu belum selesai?” ini pesan ke sekian yang di kirim Kean dan masih ia pandangi.


Setelah tuan mudanya mengaktifkan GPS di ponselnya, ia lebih mudah mengecek keberadaan Disa. Ia pun tahu kalau sore ini Disa pergi ke rumah utama.


“Ada beberapa barang yang harus saya ambil tuan.” Itu alasan yang Disa katakan saat tuan mudanya bertanya alasan ia ke rumah utama.


Memang ada beberapa barang yang harus ia ambil untuk berlatih menjahit. Beberapa lembar kain dan tentu saja mesin jahit mini miliknya.


“Malem disa, kok tumben baru pulang?” sapa Rahmat yang hari ini giliran berjaga. Laki-laki berkumis tipis itu memandanginya dengan heran.


“Em, iya pak. Ada beberapa yang harus saya urus.” Sahut Disa. Dengan segera Ia memalingkan wajahnya agar Rahmat tidak terus memandanginya dengan tatapan aneh.


“Saya masuk dulu ya pak.” Pamit Disa, menyudahi interaksinya dengan Rahmat.


“Iya sa.” Hanya itu sahutan Rahmat yang masih tetap memperhatikannya.


Disa segera berlalu dan masuk ke rumah melalui pintu belakang.


“Assalamu ‘alaikum..” lirihnya saat mendorong pintu belakang.


“Wa’alaikum salam.” Sahut suara rendah dari laki-laki yang sedang berdiri di depan wastafel.


“Selamat malam tuan.” Ternyata tuan mudanya tengah berdiri di sana untuk mencuci tangan. Disa melirik meja makan yang masih rapi, rupanya tuan mudanya belum makan.


“Anda belum makan tuan?” padahal Disa sudah menyiapkan makan malam tapi Kean belum menyentuhnya.


Ia segera menaruh barang bawaannya dan menuju meja makan untuk menata meja.


“Apa ada yang menyuruhmu ke rumah utama?” Kean lebih tertarik untuk bertanya alasan Disa pergi ke rumah utama.


Saat melihat posisi Disa yang berada di rumah utama, perasaannya sedikit tidak nyaman. Perbincangannya dengan Reza siang tadi tiba-tiba saja mengisi pikirannya. Apa benar Disa sedang terancam?


“Tidak ada tuan. Saya memang ada keperluan.” Menjawab tapi tidak berani menatap Kean, bukan Disa sama sekali.


“Saya hangatkan dulu makanannya tuan.” Disa menyibukkan diri dengan berpindah dari meja makan ke depan kompor dengan kedua tangan yang memegang dua piring besar lauk yang ia masak.


Kean masih memperhatikan Disa yang menurutnya sedikit aneh. Gadis ini bukan orang yang pandai berbohong, gelagatnya ketara sekali kalau ada yang sedang Ia sembunyikan.


Kean menghampiri Disa lantas mengambil dua piring besar itu dari tangan Disa untuk ia taruh. Ia membalik tubuh Disa hingga menghadapnya lantas menatapnya lekat-lekat.


Disa tidak memiliki cukup keberanian untuk membalas tatapan Kean yang membuatnya terasa sesak. Ingat batas yang harus ia buat dengan Kean.


“Muka kamu kenapa?” Meraih dagu Disa, memperhatikan warna kemerahan di pipi Disa.


“Em tidak apa-apa tuan. Tadi ada sedikit kecelakaan.” Mengibaskan tangan Kean lantas memilih memalingkan wajahnya.


“Kecelakaan seperti apa yang bisa meninggalkan kemerahan di pipi kiri?” luka seperti pukulan cukup membuat Kean curiga kalau gadis ini tengah membohonginya.


“Em, ini..” gelagapan. Ia kehabisan kalimat untuk membuat alasan.


“Tatap mata saya saat saya sedang bicara!” gertak Kean membuat Disa tersentak.


Tiba-tiba saja, air mata berkumpul di sudut matanya dan siap menetes kapan saja. Disa mencoba menahannya dengan mengeratkan kepalan tangannya.


Flash back


“PLAK!” satu tamparan keras mendarat di pipi kiri Disa setelah ia menjawab pertanyaan Tuan besarnya.


“Iya tuan, saya menemani tuan muda ke pesta.” Akunya dengan takut-takut.


Dan tamparan itu di berikan Kinar padanya di hadapan Sigit. Matanya menyalak seolah tengah meluapkan kemarahannya pada Disa.


Sore tadi, tiba-tiba saja Kinar menyuruhnya ke rumah utama. Wanita paruh baya itu mengatakan ada hal yang harus ia sampaikan. Sedikit merasa ragu karena tidak biasanya Kinar bersikap misterius seperti ini. Saat ada yang ingin ia katakan biasanya Kinar akan bertanya langsung melalui telpon atau pesan singkat. Tapi kali ini ia di minta datang ke rumah utama.


Setibanya di rumah utama, Disa sudah di tunggu oleh Marwan dan Kinar yang berdiri di depan tangga menuju lantai atas. Marwan dengan wajah tenangnya dan Kinar dengan ekspresinya yang tidak bersahabat.


“Tuan besar menunggu kamu.” Suara Kinar terdengar tegas.


Disa cukup terkejut mendengar tuan besar menunggunya. Ia merasa tidak ada kesalahan yang ia buat sampai kemudian laki-laki paruh baya itu bertanya,


“Sudah berapa lama kamu bekerja di sini?” suara rendahnya terdengar menakutkan dan tatapannya yang dingin membuat bulu kuduk Disa meremang. Baru kali ini ia berbicara langsung dengan tuan besarnya dan membuatnya gemetaran.


“5 bulan tuan.” Sahut Disa berusaha berani. Walau perasaannya mulai gelisah, ia berusaha untuk terlihat tenang.


“Apa menurutmu gaji dari saya terlalu kecil?” pertanyaan menjebak yang belum pernah di dengar Disa.


Dulu saat ia mencari pekerjaan dan membaca beberapa contoh interview, masalah gaji memang di pertanyakan. Namun bukan dengan cara seperti ini. Dan lagi ia sudah bekerja, bukan baru akan bekerja.


“Gaji yang saya dapatkan lebih dari cukup tuan. Terima kasih.” Disa menjawab dengan diplomatis.


Tidak bisa ia pungkiri kalau ia di gaji dengan nominal yang sangat cukup sebagai seorang pelayan. Jika di bandingkan dengan kebutuhannya, apa yang ia dapat sudah lebih dari cukup.


Sigit memandangi Disa dari atas hingga bawah. Tatapannya yang sinis membuat Disa hanya menunduk tanpa berani membalas tatapan tuan besarnya. Kalau ia pikir tuan mudanya adalah laki-laki paling dingin, sepertinya ia salah. Biangnya kutub sedang berdiri d hadapannya.


“Jika kamu merasa uang yang saya berikan lebih dari cukup, bukankah kamu harus cukup sadar batas dirimu sendiri?”


Pertanyaan Sigit terdengar seperti pertanyaan psikotest yang berujung pada memberi ketegasan pada Disa kalau martabatnya jauh berada di bawah Sigit dan keluarganya.


Ya Sigit benar, besarnya gaji yang di ingatkan Sigit, memberi Disa penegasan siapa majikannya di sini dan harusnya Disa cukup tahu diri. Rasanya ia sudah mulai paham alasan Sigit memanggilnya.


“Apa kamu pergi ke pesta itu untuk menemani putra saya?” suaranya pelan tapi tendensinya begitu menyentuh harga diri Disa. Seperti mengingatkan Disa dan Kean pada posisinya masing-masing.


“Iya tuan.” Tanpa ragu Disa menjawab.


Dan, “PLAK!” Kinar menimpalinya dengan tamparan keras.


Rasa sakit di pipinya menjalar hingga ke kepala dan membuat telinganya berdengung. Kuat sekali tamparan Kinar, seolah menyadarkan Disa dari kesalahan yang di buatnya.


“Kamu masih begitu percaya diri menjawab pertanyaan tuan besar? Kamu pikir kamu siapa hah?!” teriak Kinar di hadapan Disa.


Baru kali ini Disa melihat Kinar sangat marah dan itu pada dirinya.


Disa hanya terpaku tanpa berani menimpali. Mengusap pipinya yang berdenyut nyeri saja ia tidak berani. Ia merasa telah di hakimi oleh ketiga orang di hadapannya dan membuat ia mengakui, “Ya, saya salah.” Batin Disa.


“Bawa dia keluar!” titah Sigit kemudian. Seperti ia tengah memberi Kinar keleluasaan untuk menghukumnya.


“Sa-saya mohon maaf atas kelancangan saya tuan.” Lirih Disa tanpa berani menatap Sigit.


Sigit tidak menimpalinya. Ia memberi isyarat pada Kinar agar membawa Disa keluar. Sepertinya ia sudah sangat muak melihat Disa.


“Ikut saya!” Kinar menarik tangan Disa dan membawanya keluar dari ruangan Sigit.


“Bu sebentar, tuan besar belum mengatakan apapun. Saya harus mendengar maaf dari tuan besar dulu.” kilah Disa.


Ia berusaha melepaskan cengkraman tangan Kinar yang begitu kuat. Ia sadar ia salah. Karena kebodohannya menemani Kean ke pesta, ia telah membuat tuan besarnya merasa di permalukan. Harga dirinya terasa di injak.


Tapi hatinya belum lega kalau belum mendapat maaf dari tuan besarnya.


“Keluar Disa!” gertak Kinar.


“Tuan, saya benar-benar minta maaf. Saya tidak bermaksud mempermalukan anda. Saya mohon tuan.” Disa menghiba.


Dalam pikirnya, jika sampai Sigit tidak memaafkannya, maka mungkin Kean akan terkena imbasnya. Dan ia tidak mau hal itu terjadi.


“Pergilah.” Marwan yang menengahi.


Walau wajahnya terlihat tenang, Disa bisa merasakan kalau laki-laki ini menyimpan kemarahan. Tidak mungkin tuan besarnya mengurusi masalah seperti ini walau apa yang dilakukan Disa dan Kean telah merusak nama baiknya. Jika saja Disa bukan seorang Wanita, mungkin Sigit sudah melakukan hal yang lebih gila dari ini.


“Saya benar-benar minta maaf tuan.” Lagi Disa mengulang kalimatnya walau tidak di sahuti Sigit. Akhirnya hanya bisa pasrah, kewajibannya adalah meminta maaf dengan tulus, terlepas Sigit memaafkannya atau tidak.


Kinar kembali menarik tangan Disa dan Disa mengikuti kemana pun Kinar membawanya.


“Kamu tahu kesalahan kamu?” Kinar mengawali pertanyaannya setiba di pavilion. Rupanya ini tempat yang cukup private untuk berbicara serius.


Disa terangguk, ia sadar benar akan kesalahannya. Tidak ada cinderela di dunia nyata. Semuanya hanya sebuah dongeng yang memberi harapan kalau kehidupan akan membaik saat kita menemukan laki-laki yang tepat dan tentu saja memiliki kekayaan melimpah. Semakin di pikirkan, semakin ia sadar, kalau semuanya memang hanya dongeng. Untuk meraih mimpinya, Ia harus berdiri di atas kakinya sendiri, memijak tanah tanpa melupakan siapa dirinya.


Terdengar helaan nafas dalam saat Kinar memandangi Disa yang hanya terdiam. Ia tidak pernah berniat menyakiti gadis di hadapannya namun keadaan memaksa ia bersikap tegas. Disa harus diingatkan. Karena saat ia terlena oleh tuan mudanya, mungkin ia tidak bisa lagi menolongnya. Ia mengenal benar siapa tuan besarnya. Menghilangkan seorang gadis seperti Disa bukan hal sulit untuknya dan Kinar tidak menginginkan hal itu terjadi.


Di balik sikap kerasnya, ia berusaha melindungi Disa.


“Jangan kamu ulangi. Karena saat tuan besar benar-benar marah, bukan hanya kamu yang akan menanggung akibatnya.” Lebih baik mengingatkan Disa di awal daripada membuat gadis ini menyesal.


Disa hanya terangguk. Ia merasakan perubahan drastis antara Kinar saat di hadapan Sigit dengan Kinar saat ini. Berbalik 180 derajat.Seperti dua orang yang berbeda.


Flash back off.


“Saya ceroboh tuan.” Aku Disa pada akhirnya. Ia kembali mengalihkan pandangan dari Kean dan meneruskan pekerjaannya. “Saat tidak fokus, dan akhirnya membuat saya celaka.” Imbuhnya.


Memanaskan makanan dan tetap membelakangi Kean. Ia tidak siap berbalik dan melihat mata Kean yang menatapnya tajam. Rasa sakit di pipinya memang sudah berkurang, tapi goresan ingatan tentang siapa dirinya membekas begitu kuat di hatinya hingga hatinya berdenyut ngilu. Ia memejamkan matanya, berusaha mengubur rasa sesak yang terkadang datang tiba-tiba.


Terdengar langkah kaki Kean yang melangkah menjauh. “Syukurlah.” Batin Disa. Akhirnya ia bisa menghela nafas lega.


Berusaha mengukir senyum, ia kembali menyajikan makanan di atas piring. Membawanya pada Kean. “Silakan tuan, sudah saya panaskan.” Imbuhnya.


Kean masih memandanginya dengan rasa penasaran. Ia sangat yakin kalau Disa sedang menyembunyikan sesuatu. Gadis itu bahkan tidak pernah menatap wajahnya seperti menghindar saat mereka bertemu pandang.


Setelah menyiapkan segelas air, Disa pergi ke ruang linen. Di sini lebih baik. Tidak terasa sesak dan ia bisa membiarkan air matanya lolos menetes untuk beberapa saat.


"Aku cukup tahu diri, aku hanya seorang pelayan."


*****