
Shafira dan Malvin sama-sama berdiri tegak dengan wajah yang tegang saat sepasang mata elang seolah tengah mencercanya dengan banyak pertanyaan tanpa kata-kata. Adalah Sigit yang berdiri menghadang mereka dengan tatapannya yang penuh selidik.
Malam itu setelah latihan Shafira memang meminta Malvin untuk menemaninya ke gallery Reza. Mengajak Diana katanya harus pulang cepat sementara Shafira tidak mau datang sendirian, takut di sana nanti mati gaya. Maka ia putuskan untuk sedikit memaksa Malvin menemaninya agar ia tidak sendirian. Paling tidak ada teman bicara jika ia nanti hanya jadi penonton setia.
Alasan Shafira untuk berganti baju dan meminta izin pada Sigit sebelum keluar malam-malam, membawa Malvin sampai di rumah besar ini. Ini kali kedua ia datang ke rumah ini. Kalau saat SMA dulu ia hanya sampai pintu gerbang, menitipkan buku catatan pada security unuk diberikan pada Shafira, kali ini ia masuk hingga ke ruang tamu. Siapa sangka yang menghadangnya saat ini adalah tuan besar dari keluarga Hardjoyo.
“Dady,” Shafira beralih ke samping Sigit, melingkarkan tangannya di lengan Sigit, berusaha sesantai mungkin. Tatapan Sigit yang tajam memang wajar mengingat baru pertama kali Shafira membawa pulang seorang laki-laki ke rumah ini.
“Kenalin, ini malvin temen satu band aku. Kami baru selesai berlatih dan aku memintanya untuk menemaniku ke gallery kak reza. Dan vin, ini dady-ku.” Terang Shafira, sebelum sang ayah bersikap menyebalkan dan membuat Shafira tidak enak pada Malvin.
“Selamat malam om, saya malvin.” Malvin meraih tangan Sigit dan menyalaminya.
“Malam.” Suara besar Sigit terdengar tegas.
“Okey, lo duduk dulu ya vin. Gue ganti baju bentar, santai aja. Dady gue baik banget kok orangnya. Iya kan dad?” Shafira menepuk lengan sang ayah yang menolehnya dengan dingin. Ia langsung bergidik dan berlari kecil meninggalkan ruang tamu. Biarkan para lelaki ini saling mengenal dengan cara mereka sendiri.
Di tinggalkan oleh shafira membuat dua laki-laki itu sama-sama mematung. Malvin yang ragu untuk duduk dan Sigit yang masih memandangi laki-laki yag di bawa Shafira dengan teliti. Mode siaga satu ia tujukkan pada anak muda yang terlihat tenang tanpa rasa bersalah bertamu malam-malam ke rumah seorang gadis.
“Kamu kerja?” melihat tampilan Malvin yang masih rapi, pertanyaan itu yang kemudian muncul di benak Sigit.
Memakai celana kain warna hitam dengan kemeja abu muda yang bagian lengannya di gulung. Rambutnya pun tertata rapi seperti laki-laki muda ini cukup menjaga penampilannya. Tidak urakan, kesan pertama yang di tangkap Sigit.
“Iya om.” Jawabannya pendek dengan senyum santun. Barulah Sigit menunjuk sofa di dekat mereka memberi isyarat agar Malvin duduk.
“Terima kasih om.” Malvin mengambil tempat di salah satu sisi sofa panjang dan Sigit tepat di hadapannya, masih memandanginya.
“Di perusahaan mana?” masih penasaran rupanya dengan latar belakang anak muda ini.
“Saya mengajar di sekolah om.” Sahutnya tegas.
Sigit terangguk-angguk saja mendengar jawaban Malvin. “Ngajar apa?” penasarannya berlanjut.
“Pendidikan fisika untuk SMA.” Dua orang dengan kutub yang nyaris sama ini terasa saling tarik menarik walau hanya berdasarkan rasa penasaran.
Malvin sedikit bisa menyimpulkan, sikap dingin Shafira dulu ternyata berasal dari pohon yang ada dihadapannya. Sorot matanya sama persis saat berusaha menguliti isi pikiran lawan bicaranya. Setelah pertanyaan itu, keduanya kembali terdiam. Malvin yang tertunduk canggung dan Sigit yang masih memandanginya dengan penuh penasaran.
Suasana ruangan sangat formal, seperti sedang ada fit and proper test.
“Okey, sorry nunggu lama.” Cepat sekali Shafira berganti pakaian. Ia benar-benar hanya berganti pakaian tanpa mandi atau merias ulang wajahnya.
Sebenarnya ia berniat membersihkan tubuhnya tapi membiarkan dua orang ini duduk berhadapan seperti ini, membuat Shafira tidak bisa berlama-lama meninggalkan keduanya. Ia bahkan sampai mengucap mantra selama berganti baju, “Jangan perang, jangan perang.” Gumamnya.
Di dalam rumah berlarian hanya sekedar untuk mempercepat langkahnya dan memastikan kondisi ruang tamu sama seperti awal ia datang.
“EHM!” Sigit berdehem saat melihat Malvin yang ikut memandangi putrinya. Ada perasaan tidak rela putrinya di pandangi dengan lekat oleh laki-laki asing.
Malvin segera mengalihkan pandangannya saat ia sadar deheman Sigit ditujukan padanya.
“Acara apa yang kamu hadiri dengan pakaian seperti itu?” lagi mata tajam itu penuh selidik.
“Em acara apa ya? Aku jelasin juga dady gak akan ngerti. Tapi intinya, ini acaranya kak reza sama calonnya, ada tante nita juga.” Kok agak berat ya menjelaskan hal ini pada Sigit, dadanya agak sesak gitu.
“Lalu, tugas kalian apa disana?” nah begini kalau tuan besar tidak pernah menikmati masa muda yang indah dan penuh gelora.
Tapi tunggu, Sigit benar, mau apa nanti Shafira di sana? Apa untuk yayayaya yeyeyeyeye seperti pemandu sorak menyemangati Reza melakukan tugasnya untuk mendekatkan Nita dan Elllen atau hanya jadi penonton setia drama peresmian hubungan dua orang yang sudah lama memiliki komitmen bersama?
Shafira jadi tercenung, menatap Malvin berusaha minta bantuan untuk menjelaskan tapi sepertinya laki-laki itu tidak ada niatan untuk membantunya.
“Ikut makan malam dad, seru-seruan. Dady mau ikut juga?” balas dengan candaan saja sepertinya lebih baik.
“Kamu clubbing?” pertanyaan Sigit semakin panjang. Rupanya sang ayah ini sedang mencemaskan putrinya yang beranjak dewasa.
“Ya enggak lah! Mana ada clubbing ngajak pak guru. Yang ada aku di setrap sama diceramahin. Ayolah dad, bisa gak sih just calm down. Percaya sama aku, aku pergi di temenin malvin. Dia tuh high quality friend, always care his friend. Okey?” begini cara Shafira meyakinkan sang ayah.
Kembali Sigit memandangi Malvin beberapa saat sebelum akhirnya, “Jangan pulang terlalu larut. Jaga dia!” kalimat itu ia tujukan pada Malvin.
“Baik om.” Amanat besar kini ada di pundak Malvin.
“Thanks dad, see you!” seru Shafira lantas mengecup pipi Sigit. Bergegas ia menarik tangan Malvin sebelum Sigit berubah pikiran atau bertanya hal rumit lebih lanjut.
“Hem,” sahut Sigit.
“Saya permisi om, selamat malam.” Menahan tangan Shafira sejenak sebelum ia selesai menjabat tangan Sigit.
Sigit hanya terangguk dan membiarkan putrinya pergi bersama Malvin.
Sepeninggal Shafira dan Malvin, Sigit terdiam sejenak di depan pintu, memperhatikan putrinya yang pergi dengan Malvin memakai sepeda motor. Dia tidak menggunakan mobil yang berarti laki-laki itu akan mengantar Shafira untuk pulang. Bisakah ia mempercayai laki-laki lain untuk menjaga Shafira selain Kean dan Reza? Kenapa baru sekarang rasa cemas itu ada saat ia sadar kalau putrinya sudah tumbuh dewasa?
Di pandanginya foto keluarga yang saat ini terpajang di dinding. Foto ia bersama Arini, Kean, Disa, Shafira dan tentu saja Naka saat bayi. Di satu sisi ada foto ia bersama Liana dan Shafira.
"Aku akan menjaganya, kamu tidak perlu khawatir." lirih Sigit pada wajah Liana yang tersenyum.
*****