
Jatuh cinta adalah perasaan terbaik yang pernah di alami setiap orang dalam hidup. Jantung kerap berdebar tidak karuan dan kepala sedikit pusing saat melihat orang yang kita cintai. Sesekali bulu kuduk terasa meremang dan nyaman di waktu yang bersamaan saat ada sentuhan kecil dari dia yang kita cinta. Tapi di sisi lain perasaan ini menyisakan kegundahan yang luar biasa terlebih saat harus berusaha menahan deru cinta dalam hati. Saat jatuh cinta, perasaan jadi lebih sensitif dan lebih lembut. Di setiap sudut hanya dia seorang yang kita lihat dan itulah yang dirasakan Kean saat ini.
Yang dilakukan Kean saat ini, terduduk di sofa bersama Arini yang sedang menonton film india yang membuatnya menangis dan tertawa di selang waktu yang tipis. Film favoritnya ini selalu menjadi mood boster untuknya. Tanpa Arini tahu, sejenis adegan di film ini juga yang membuat putranya akhirnya sadar akan perasaannya terlebih rasa takut kehilangan Disa.
Kemana Disa melangkah, ke sana bola mata Kean ikut bergerak. Seluas area gerak Disa seluas itu pula lapang pandang Kean. Sesekali Kean tersenyum saat tidak sengaja bertemu pandang dengan Disa dan membuat gadis itu tersipu salah tingkah.
Wajahnya memerah dan beberapa kali menarik nafas dalam untuk menenangkan diri saat mendapat perhatian yang intens dari tuan mudanya.
Jujur saja, jatuh cinta membuat segala sesuatunya terlihat lebih indah. Rasa cinta yang tumbuh dalam diri membuat segalanya terlihat lebih cantik. Bahkan, sebuah kesalahan pun terlihat mengagumkan ketika sedang dimabuk asmara. Itulah mengapa Kean tidak bisa mengalihkan pandangannya dari Disa. Sejak membuka mata di pagi hari yang pertama kali ingin ia lihat adalah wajah Disa. Senyumnya dan binar matanya yang menghangatkan. Walau sekarang wajahnya sering kali terlihat memerah dan tegang. Itulah yang membuat Kean gemas sendiri.
Arini yang duduk di sampingnya sesekali memperhatikan ekspresi putranya yang tidak biasa. Gadis yang di perhatikan berusaha terlihat acuh padahal perasaannya pun sedang sangat bergemuruh.
Bagi Kean, perasaannya saat ini sudah tidak dapat ditahan lagi. Ia kehilangan cara bagaimana keluar dari belenggu perasaan ini. Cinta, gairah, dan kasih sayang, seperti telah mengambil alih dunianya yang kini berpindah pada Disa.
Di otaknya mulai merangkai kata-kata puitis nan romantis. Suatu pikiran yang tidak pernah muncul sebelumnya.
Jatuh cinta membuat Kean merasakan kalau ia menemukan cinta terakhirnya, pelabuhan hati yang tidak akan berpindah lagi, dan sejenisnya. Ia merasa, Disalah yang ia cari selama ini, maka keputusan ini ia buat.
“Kean mau menemui papah.” Ujarnya tiba-tiba.
Arini yang sedang tersenyum haru melihat acting Shahruk khan dengan cepat mengubah ekspresinya dan menatap sang putra penuh tanya.
“Ada apa nak?” tidak biasanya putranya ingin bertemu Sigit. Saat di minta datangpun akan dengan keras ia menolaknya. Tapi kali ini, apa yang membuat pikiran putranya berubah?
“Ada yang harus kean bicarakan.” Ia beranjak dari tempat duduknya, mengambil kunci mobil dan sekilas menoleh Disa sebelum masuk ke dalam mobil. Tekadnya sudah sangat bulat.
“Kean akan pulang sebelum makan malam.” Imbuhnya pada Arini namun tatapannya pada Disa.
“Iya, hati-hati di jalan sayang.” Timpal Arini.
Kean hanya tersenyum. “Berdo’alah untukku sa.” Batinnya tanpa mengalihkan pandangannya dari Disa. Gadis yang menjadi porosnya saat ini.
Yang di tatap tersipu di tempatnya. Tangannya mencengkram kuat lap yang di genggamnya. Hari ini ia sampai kelelahan menghindar dari pandangan Kean yang sedari pagi tidak beralih darinya. Cukup membuatnya sesak namun memberi debaran nyaman yang membuat sudut hatinya merasa bahagia.
Mobil Kean melaju dengan kencang mengisi kekosongan jalan yang luas di sore hari. Dipikirannya ia sudah merangkai kalimat untuk ia utarakan pada pada Sigit. Ia masih percaya kalau Sigit adalah ayahnya. Laki-laki itu pun sudah berjanji untuk berperan sebagai ayahnya. Besar harapan Kean kalau laki-laki itu mau mendengarkan permintaannya.
“Selamat sore tuan muda.” Sapa Kinar yang menyambut Kean di mulut pintu. Wanita ini cukup terkejut melihat kedatangannya ke rumah utama.
“Papah ada?” tanyanya tanpa basa-basi.
“Oh, ada tuan. Sedang di taman samping dengan pak Marwan.” Menunjuk arah dimana Sigit berada.
Kean segera menuju tempat yang di sebutkan Kinar. Wanita itu masih memandangi arah berlalu tuan mudanya dengan langkah yang panjang dan tegas.
Apa yang membuat tuan mudanya begitu semangat untuk bertemu tuan besarnya? Apa bumi sedang berputar melawan arah rotasinya? batin Kinar dengan senyum lega melihat usaha tuan mudanya untuk mendekat pada Sigit.
Rasa terkejut juga di rasakan Marwan dan Sigit saat melihat sosok putranya berdiri di hadapan mereka.
“Ada yang harus kean bicarakan dengan papah.” Suaranya terdengar tenang membuat Sigit tersenyum tipis.
Keinginan Kean untuk berbicara dengannya adalah sesuatu yang mahal, maka mana mungkin ia tolak.
Ia memberi isyarat pada Marwan untuk meninggalkan mereka berdua di taman dan Marwan mengangguk takjim sebelum ia berlalu dari hadapan majikannya.
“Duduklah.” Di bangku taman Sigit duduk lebih dulu.
Tubuhnya terlihat lebih terbungkuk dengan tongkat yang di genggam erat sebagai kaki ketiga untuk menegakkan postur tubuhnya. Serentan itu kondisi Sigit saat ini. Entah karena usianya yang memang sudah tidak muda lagi atau memang karena kondisi penyakitnya yang membuat ia menua lebih cepat. Yang tidak hilang hanya satu, kharismanya.
Kean menghampiri Sigit tanpa ragu. Mereka duduk bersisihan, masing-masing di ujung bangku taman.
“Katakan.” Sama dengan putranya, Sigit bukan orang yang bisa berbasa-basi. Pembicaraan mereka harus langsung pada intinya.
Dan Kean, bukan tipe yang pandai mengemas kata-katanya. “Kean datang untuk menagih janji papah.” Timpalnya dengan yakin.
“Janji?” Sigit mengernyitkan dahinya seraya menatap wajah sang putra yang begitu yakin.
“Hem.”
“Papah udah janji akan berperan sebagai papah untuk kean kalau kean mau meneruskan perusahaan. Jadi kean datang untuk menagih janji itu.” Ia mempertegas alasan kedatangannya. Berbicara dengan Sigit harus memiliki alasan yang jelas agar tidak mentah di tengah-tengah.
“Tentu, apa ada masalah?” dengan senang hati Sigit menanggapi permintaan putranya. Baru kali ini putranya membuat permintaan, maka tidak ada salahnya untuk ia mengabulkan.
“Tolong batalkan perjodohan kean dengan claire.” Pintanya lugas. Ia menatap Sigit tanpa ragu seolah yakin kalau Sigit akan mengabulkan permintaannya.
Lagi, Sigit di buat cukup terkejut. Sebenarnya ia sudah mengira kalau putranya akan meminta hal ini tapi ia tidak menyangka akan secepat ini.
Ia masih tersenyum, mengusap dagunya pelan lantas mengalihkan pandangannya dari Kean. Ada satu titik yang di pandanginya dengan perasaan kecewa.
“Siapa gadis itu?” tanya Sigit. Seperti dejavu saat ia melakukan hal yang sama pada mendiang ayahnya dulu.
Kalimat yang sama seperti di ucapkan Kean saat ini dan berhasil merubah hidupnya jadi seperti sekarang.
Kean terpaku di tempatnya, masih tidak percaya kalau ayahnya tahu alasan Kean menolak perjodohan ini karena seorang gadis.
“Siapa gadis yang membuat kamu berani datang kemari dan meminta ini dari papah?” Sigit memperjelas pertanyaannya.
“Kean, jatuh cinta.” Aku Kean tanpa ragu.
Mendengar jawaban Kean, Sigit langsung berdiri dari tempatnya. Ia membelakangi putranya dengan tangan yang mencengkram tongkatnya dengan erat. Ada energi kemarahan yang ia alirkan pada kaki ketiganya.
“Kamu tahu kan, kalau jatuh cinta itu bisa membuat laki-laki lemah?” tanyanya tanpa mengalihkan pandangannya pada Kean.
Kean tersenyum samar, ia ikut berdiri di belakang Sigit. Melihat reaksi Sigit, ia tahu permintaannya bukan sesuatu yang bisa dengan mudah di terima oleh Sigit.
“Papah salah.” Timpalnya dengan mantap.
“Jatuh cinta membuat kean berani menghadapi papah. Dan inilah alasan kenapa kean datang kemari.” Ia mempertegas alasan kedatangannya.
“Tapi papah merasa kalau kamu hanya sedang memohon.” Bukan Sigit kalau ia mengalah dengan cepat.
Sigit menoleh sang putra dengan ekspresi yang tidak seramah tadi. “Pastikan pilihan kamu lebih baik dari pilihan papah, baru kamu boleh meminta ini dari papah.” Kembali membuang mukanya, seperti permintaan Kean tidak bisa di terimanya.
“Tapi kean bahagia pah sama dia.” Kilah Kean dengan cepat. Mulai tidak terima kalau wanita yang ia hormati di rendahkan oleh Sigit.
“Apa dia juga bisa memberi kebanggan untuk keluarga ini?” pertanyaan mendasar yang membuat Kean bungkam.
“Wanita yang akan menjadi istrimu, akan mengandung dan melahirkan putra yang akan menjadi penerus dari keluarga hardjoyo. Tidak boleh ada kekurangan yang dia miliki terlebih dia tidak setara dengan kita.” Kalimat Sigit terdengar sinis. Terang-terangan menolak permintaan putranya.
“Apa bagi papah hal semacam itu lebih penting di banding kebahagiaan kean?”
“YA!!!” Sigit menjawab dengan lantang. Matanya menyalak menatap sang putra yang sulit untuk di buat paham.
“Kamu boleh jatuh cinta, tapi jangan pada wanita yang salah.”
“Dia harus layak berada di tengah-tengah keluarga ini.”
“Bisa membawa kebanggan bagi keluarga ini.”
“Dan memberikan papah seorang penerus yang sempurna tanpa cela.”
“Bukan wanita dari kasta rendahan yang hanya memberi iming-iming cinta.”
“Ingat kean, itu semua semu! Tidak pernah nyata!” tegas Sigit tanpa bisa di bantah.
Bahu Kean yang tegak terasa mulai melorot. Bukan karena ia tidak bisa mempertahankan wanita yang ia cintai tapi karena ia sadar, kalau Sigit tidak pernah bisa menjadi ayahnya. Rasa kecewanya kembali hadir. Pada akhirnya, ayahnya hanya tuan besar yang melihat segala sesuatu dari kesetaraan kasta.
Sepertinya keputusannya untuk mendekat pada sang ayah adalah salah besar. Selamanya akan selalu ada jarak yang membuat ia tidak pernah merasa menjadi putra dari Sigit Hardjoyo. Ia hanya laki-laki yang dilahirkan untuk tumbuh sempurna sebagai penerus kerajaan bisnis ayahnya. Maka tidak ada alasan lagi untuk ia berdiri di sini.
“Lusa, om brata mengundang kita makan malam. Jam 7. Pastikan kamu datang tepat waktu. Dan tinggalkan pikiran-pikiran bodoh itu di rumah. Jangan buat clara atau om brata tersinggung.” Tutup Sigit yang lebih terdengar sebagai perintah.
Kean tidak menanggapi. Ia lebih memilih pergi dengan tangan mengepal kuat. Sepertinya ia salah telah datang ke tempat ini.
*****
“Anda pulang tuan?” sambut Disa saat melihat kedatangan Kean.
Sedari tadi ia menunggu Kean pulang namun baru sekarang tuan mudanya datang. Janji untuk makan malam di rumah tinggallah janji. Makanan sudah sepenuhnya dingin. Disa bahkan sudah dua kali jatuh terkantuk di meja makan.
“Bawakan saya teh hangat ke atas.” Hanya itu timpalan Kean sebelum kemudian berlalu meninggalkan Disa.
Langkahnya yang lemah, membuat Disa memperhatikan laki-laki itu dengan perasaan tidak menentu. Seharian ini ia melihat Kean selalu tersenyum dan menatapnya dengan hangat. Tapi kali ini, matanya layu. Cahaya bintang terbit itu hilang, berganti rasa sakit yang ia lihat dari sorot matanya. Seperti ia melihat lagi sepasang mata yang pertama kali ia lihat dari tuan mudanya.
“Apa yang terjadi tuan?” gumam Disa dengan perasaan cemas. Secepat itu ekspresi Kean berubah dan membuat ia ikut resah.
Makanan yang sudah ia buat kembali ia tutupi. Piring di tumpuk rapi, karena sepertinya tuan mudanya tidak selera untuk makan. Ia membuatkan teh seperti yang di minta Kean dengan beberapa potong kue coklat dan cake keju sebagai pelengkap. Walau tidak yakin membuat tuan mudanya kenyang, paling tidak ini bisa mengganjal perutnya yang kosong.
Langkah kecil di ambil Disa, menapaki anak tangga menuju kamar Kean. Pintunya masih terbuka membuat Disa langsung melihat tuan mudanya yang tertunduk lesu di ujung tempat tidur.
“Permisi tuan, ini teh nya.” lirih Disa sebelum masuk.
Kean terpaku di tempatnya, menoleh Disa dan kembali tertunduk. Ia mengusap wajahnya dengan kasar, berusaha untuk tidak menunjukkan ekspresi wajah menyedihkannya pada wanita yang ia cinta.
“Masuklah.” Sahutnya dengan senyuman samar.
Disa menaruh minuman Kean di meja sofa dengan beberapa cemilan. Memperhatikan tuan mudanya beberapa saat sampai akhirnya ia memutuskan untuk keluar. Tuan mudanya memerlukan waktu sendiri.
Tiba-tiba saja sebuah tarikan kuat menarik tubuh Disa untuk masuk ke pelukan Kean. Kean memeluk Disa dari belakang dengan lengan yang mengalung di leher Disa. Tubuh Disa menegang seketika dengan jantung yang berdebar kencang.
Apa yang dilakukan tuan mudanya hingga membuat ia tidak bisa bergerak?
“Sebentar saja seperti ini. Saya tidak ingin sendirian.” Bisik Kean dengan hembusan nafas menderu di telinga Disa.
Ia membungkukkan tubuhnya, menaruh dagunya di bahu Disa seraya memejamkan mata. Ia butuh seseorang untuk bersandar dan Disa adalah orang yang bisa dengan cepat menghapus kegundahannya.
Untuk beberapa saat mereka saling terdiam. Hanya hembusan nafas Kean yang semakin lama semakin terdengar beraturan. Ia menemukan kenyamannya.
“Maaf,” lagi Kean berbisik. “Sepertinya, saya tidak bisa memenuhi janji saya.” Ia melepaskan pelukannya setelah merasa lebih baik.
Disa berbalik menatap tuan mudanya yang tertunduk lesu. Janji? Mencoba mengingat janji yang mana yang Kean langgar?
Ia meraih tangan Disa untuk ia genggam dengan erat lantas menatap sayu sepasang telaga bening yang tengah memandanginya cemas.
“Saya pernah berjanji untuk memperbaiki keadaan. Menggunakan kesempatan yang ada untuk memperbaiki hubungan saya dengan papah.”
“Tapi sepertinya saya tidak bisa.” Ada sesal yang coba ia pendam.
“Saya masih belum bisa memahami pikiran papah dan kami tidak bisa mengisi satu sama lain seperti yang pernah kamu katakan.”
“Kami terlalu asing. Tidak memahami keinginan masing-masing bahkan kebahagiaan saya bukan sesuatu yang penting untuknya.”
Kean tersedu di hadapan Disa. Tanpa sungkan ia menujukkan rasa sedihnya.
“Dan saya tidak bersedia melepaskan kebahagiaan saya pada keegoisan papah.”
Seperti sebuah tekad baru, dimana ia berniat untuk tidak menyerah. Ia ingin memperjuangkan apa yang membuatnya bahagia dan meninggalkan apa yang membuatnya tidak merasa di hargai.
Jikapun itu berarti ia akan menentang Sigit habis-habisan, ia tetap tidak akan menyerah.
Melihat tatapan Kean yang tertuju padanya, Disa hanya termangu. Namun ia yakin kalau tuan mudanya akan selalu melakukan hal terbaik.
Tanpa ia tahu, yang terbaik untuk Kean mungkin harus membuatnya bersiap bertemu sakit.
****