
Melalui hari yang berat dengan banyaknya pekerjaan yang harus di selesaikan, sama-sama dirasakan Kean dan Disa saat ini. Tidak hanya tubuh yang lelah bergerak ke sana kemari tapi juga otak yang terus berpikir seharian.
Jika Kean banyak menggunakan otak kiri, maka Disa banyak menggunakan otak kanannya.
Belum terlalu malam, saat mereka memutuskan masuk ke kamar dan mengistirahatkan tubuhnya yang lelah. Menunggu kantuk datang mereka memilih untuk melakukan kembali kebiasaan mereka baru-baru ini. Sambil bersantai, mereka menonton tayangan national geographic di televisi. Dulu Kean hanya menontonnya sendiri tapi kali ini di temani sang istri yang tidak pernah jauh darinya.
Mereka terbaring bersisihan di atas tempat tidur di selimuti oleh selimut tebal yang menghangatkan keduanya. Lengan kokoh Kean yang jadi bantal Disa sementara satu tangan lainnya asyik memainkan rambut Disa yang sesekali ia sesap wanginya. Entah mengapa rambut Disa tercium lebih wangi dari rambutnya padahal shampo yang mereka gunakan sama. Mungkin ini yang membuat Kean betah berlama-lama di dekat Disa.
Sudah jam 10 malam dan Kean belum terlihat mengantuk sama sekali. Matanya menonton televisi tapi sepertinya pikirannya tidak di sini. Sesekali ia pun menghela nafas dalam, seperti ada beban berat yang sedang di pikulnya.
“A,” Disa mengusap dada Kean seraya menatap suaminya dengan laman.
“Hem,” Kean sedikit tersentak mendengar suara Disa. Benar adanya kalau ada yang sedang ia pikirkan hingga suara Disa seperti membuyarkan lamunannya.
“Gimana di kantor hari ini?” biasanya tidak jauh dari masalah pekerjaan yang mengganggu pikiran suaminya.
Kean kembali menghela nafas dalam, Disa begitu peka hingga bisa menyadari kalau ada yang sedang di pikirkannya.
“Cukup baik.” Ia berusaha tersenyum, lantas mengusap pipi Disa dengan lembut. Melihat wajah polos di hadapannya membuat perasaannya selalu lebih baik.
“Hanya saja, ada salah satu anak perusahaan yang sedang terkena masalah dengan rekanan.”
Ternyata benar, Kean sedang memikirkan perusahaannya.
Prinsip tidak membawa pikiran tentang pekerjaan saat pulang ke rumah, ternyata tidak bisa dengan mudah di lakukan. Terlebih ada masalah yang cukup berat dan menanti untuk di selesaikan. Tidak Kean pungkiri, sedikit banyak ini membuatnya tidak tenang.
“Apa masalahnya serius.” Disa beranjak dari tempatnya, memilih terduduk di samping Kean. Perhatiannya tidak lepas dari wajah suaminya yang dingin.
“Lumayan.” Terangguk lemah.
“Besok aku akan menemui mereka dan menyelesaikannya. Mudah-mudahan tidak berkepanjangan.” Kean ikut duduk di samping Disa. Menegakkan tubuhnya mungkin akan menambah semangatnya.
Memegang sebuah group perusahaan dengan banyak anak perusahaan, menjadi tantangan tersendiri bagi Kean. Banyak peluang untuk munculnya masalah terlebih setiap pimpinan anak perusahaan memiliki cara sendiri untuk memimpin perusahaannya. Ada yang terbuka dan beberapa di antaranya masih sibuk dengan kepentingan pribadi karena rasa tidak cukup dari apa yang mereka dapat.
Sebuah loyalitas itu mahal, tidak pernah cukup dibayar dengan hitungan rupiah, itu yang ada di benak Kean saat ini.
Sementara saat terjadi masalah yang besar, Kean tentu tidak bisa berpangku tangan apalagi hanya duduk diam menonton aksi pimpinan anak perusahaan menyelesaikan masalahnya. Ia harus turun tangan untuk menyelesaikan semuanya karena ini menyangkut kondisi perusahaan ke depannya. Jika perusahaan sampai bangkrut, tidak hanya ia yang rugi tapi banyak perut yang harus kehilangan sumber penghidupannya. Untuk itulah Kean harus berpikir cepat.
“Aa yang semangat yaa.. Semua pasti bisa aa hadapi. Fighting!!”
Disa mengepalkan tangannya dan memasang wajah ceria yang ia tunjukkan pada suaminya. Walau tidak bisa membantu menyelesaikan masalah Kean, tapi ia bisa menyemangati suaminya agar tidak merasa sendiri.
Kean tersenyum kecil, Disa memang selalu bisa membuat mood-nya berubah. Inilah pentingnya ada seseorang yang menemani kita melewati banyak hal, membuat kita merasa lebih baik.
“Makasih ya..” di usapnya pipi Disa lantas ia kecup keningnya.
“Hem!” disa terangguk semangat.
“O iya, kamu sendiri, gimana di butik? Gimana temen barunya?” Kean baru ingat kalau Disa belum bercerita apapun tentang butiknya.
“Em seru! Aku jadi berasa punya kakak.”
“Dia ngemong aku banget loh a.” Disa berujar dengan antusias.
“Maksudnya?” suatu kejutan Disa tampak suka pada orang yang dipilihkan Roy, mengingat sebelumnya istrinya selalu menolak dan mengatakan kalau ia masih bisa mengaturnya sendiri.
Disa berbalik menghadap Kean, ia siap bercerita kesehariannya di butik.
“Dia ngingetin aku minum terus. Katanya, jangan lupa minum soalnya kamu banyak duduk de.” Disa memperagakan cara Mila berbicara. Matanya yang membulat dengan pipi chuby-nya yang mengembang.
“Dia juga beliin aku jajanan ini dan itu, katanya biar aku gak kurus. Padahal kurus sebelah mananya coba? Kalo di liat pake sedotan sih iya.” Disa terkekeh. Ia memperhatikan tubuhnya sendiri yang menurutnya standar saja.
Kean jadi ikut tertawa kecil melihat tingkah Disa.
“Aku ngerasa dia terlalu ngurusin aku a. Aku gak terbiasa. Rasanya aku tuh ngerepotin dia banget.” Disa kemudian tercenung, mengingat apa yang Mila lakukan padanya.
“Tapi sayangnya aku juga gak bisa nolak. Karena aku tahu rasanya saat kita berusaha keras dan orang lain mengapresiasinya, itu sangat menyenangkan. Dan aku gak mau bikin dia kecewa.”
Selama ini, Disa terbiasa mengurusi keperluan orang lain. Walau banyaknya hal kecil tapi saat di apresiasi baik oleh orang tersebut, rasanya membanggakan. Usahanya tidak sia-sia.
Dan kini semua seolah berbalik. Disalah yang banyak diurusi Mila saat ini. Ternyata tidak mudah untuk terbiasa dengan apa yang ia alami sekarang.
“Hey, denger aku.” Kean meraih tangan Disa untuk ia genggam. Di tatapnya dengan lekat sepasang mata yang teduh itu.
“Aku memang mempekerjakan dia untuk itu. Untuk menjaga kamu, mengurus kamu dan memperhatikan kamu. Karena aku gak bisa liat kamu kelelahan mengurus semuanya sendiri. Mengurus aku, kerjaan dan papah.” Aku Kean dengan penuh kesungguhan.
“Apa termasuk ngelaporin apa yang aku lakuin?” Disa menjeda kalimat Kean. Ia sudah ingin protes tentang hal ini.
“Hahahaha.. Tau dari mana kamu kalau dia laporan soal kamu?” Kean mencubit hidung Disa dengan gemas. Ternyata Disa sudah mengetahuinya, padahal ia ingin Mila dan Roy melakukannya secara diam-diam.
“Ih aa... Bener berarti ya? Padahal aku cuma nebak lo."
"Aa gak percaya banget sih sama aku. Di pikir aku bakal ngalakuin hal aneh-aneh gitu di butik?” bibirnya langsung mengerucut tidak terima.
“Hey, bukan itu konsepnya sayang.” Kean langsung menarik tubuh Disa yang membelakanginya, untuk ia dekap.
“Aku tuh cuma mau mastiin kalo kamu selalu baik-baik aja. Itu aja kok.” Untung Kean tidak sampai melototi CCTV butik hanya untuk memperhatikan Disa.
“Ish gombal! Gak cocok sama gunung es kayak aa.” Wajah Disa langsung memerah. Malu rasanya mendengar pengakuan hal seperti itu langsung dari suaminya.
“Sa, aku sedang berusaha loh. Bukannya di dukung.” suara Kean di buat pura-pura sedih. Biasanya ini berhasil untuk meluluhkan hati istrinya.
Ya, Kean memang sedang berusaha bersikap manis seperti laki-laki pada umumnya. Ia tidak mau kalah saing oleh cowok-cowok di drama korea yang selalu di ceritakan Shafira pada istrinya.
“Tapi aku suka aa yang sebelumnya. Terkesan acuh tapi sekalinya romantis bikin aku meleleh, hehehe..” Disa terkekeh geli sendiri.
“Oh jadi kamu suka aku yang sebelumnya, ketus gitu?” ia jadi ingat saat pertama kali mereka bertemu. Sikap dan cara berbicaranya sangat jauh berbeda dari sekarang.
“Maksudku, aa tetep jadi diri aa sendiri. Jangan berubah jadi orang lain hanya karena mau bikin aku seneng. Nanti aa sendiri yang kesiksa.”
“Lagian, apa yang ada di diri aa, aku menyukainya kok.” tegas Disa, yang menoleh Kean ragu-ragu. Wajahnya masih bersemu kemerahan.
“Manis banget kamu.” Dengan gemas Kean mencium bibir Disa dan sedikit mengigitnya.
“Aa, sakit tau.” Protes Disa. Iseng sekali memang suaminya.
“Katanya suka aku apa adanya, ya ini aku apa adanya.” Goda Kean sambil terkekeh.
“Tau akh! Gak gitu juga kali.”
“Udah ah, udah malem. Kita tidur, besok kan aa ada kerjaan penting.” melepaskan tubuhnya dari pelukan Keaan, Disa kembali membaringkan tubuhnya di samping Kean. Di tariknya selimut hingga ke batas dada.
“Beneran udah mau tidur?” bisik Kean.
Ia tidur menyamping dengan kepala tertopang lengannya. Ia masih ingin memandangi Disa.
Ia perhatikan, Disa yang mengulum bibirnya. Agak kemerahan, sepertinya ia memang cukup kuat menggigit bibir Disa.
“Sakit ya?” meraih dagu Disa dan sedikit melihat bibirnya.
“Gak apa-apa, nanti juga sembuh.” Takut-takut Disa membalas tatapan suaminya yang laman.
“Aku obatin ya...”di usapnya bibir Disa dengan lembut membuat gadis itu harus menahan nafasnya beberapa detik.
Diobatain macam apa coba?
Satu kecupan mendarat di bibir Disa.
“Udah lebih baik?” bisik Kean. Ternyata seperti ini pengobatan yang di berikan suaminya.
Disa terangguk, dengan wajah yang merona.
“Kayaknya belum deh, masih merah ini.” Timpal Kean sendiri.
Di kecupnya lagi bibir Disa beberapa kali hingga akhirnya ia terpancing dengan keisengannya sendiri. Gairahnya seperti bangkit dan meminta untuk di salurkan.
Beberapa kecupan kecil itu berganti menjadi sebuah pagutan dan Disa mulai mengimbanginya. Tidak terasa lagi sakitnya bekas gigitan Kean yang ada hanya gairah yang mulai bangkit di dalam diri Disa.
Dan malam ini, semuanya di mulai kembali. Mungkin cara ini akan lebih ampuh untuk menyegarkan pikiran mereka.
******
Keesokan harinya, beberapa pekerjaan diselesaikan Kean dengan cepat. Tubuhnya sudah full terisi baterai dan ia sudah siap menghadapi kerumitan di hari ini. Pekerjaan terberat adalah ia harus segera pergi menemui manajemen anak perusahaannya.
Di samping Roy Kean terduduk, dengan ipad yang selalu menyala di atas pangkuannya. Ia tengah mengecek file pekerjaan yang di kirimkan pimpinan anak perusahaan. Mobil masih melaju cukup kencang membelah jalanan ramai ibu kota. Teriknya matahari seperti menjadi pelengkap keruwetan masalah yang dihadapi Kean.
“Roy, tadi kamu sudah cek berapa proyeksi kerugian kita kalau rekanan kita yang satu ini lepas?”
“Sudah tuan. Sekitar 21 persen, dalam satu bulan ke depan.” Sahut Roy dengan yakin.
“Gila! Apa saja yang dilakukan mereka di perusahaan. Kenapa bisa sampai membuat masalah sebesar ini?”
Kean mengusap wajahnya kasar. Ia benar-benar tidak menyangka kalau masalah seperti ini akan terjadi di salah satu anak perusahaannya.
“Maaf tuan, saya sudah memeriksa beberapa dokumen keuangan mereka, sepertinya ada data fiktif yang mereka laporkan pada kita. Tapi nilai pastinya, saya sedang menelusurnya lebih jauh.” Imbuh Roy yang membuat Kean menatapnya tidak percaya.
Roy memang selalu bisa di andalkan untuk pekerjaannya. Untuk itulah Kean merasa sangat beruntung memiliki orang kepercayaan seperti Roy.
“Kamu minta laporan keuangan mereka 3 bulan terakhir. Kita lihat, bagaimana cara mereka mempermainkan kita.” Tegas Kean dengan penuh kekesalan.
“Baik tuan.”
“Oh iya tuan, bisa kita mampir sebentar ke rumah assitent pak dirga? Dia berjanji akan memberikan saya salinan dokumen penting perusahaan.”
“Hem.” Sahut Kean singkat.
Berbelok ke sebuah perumahan dan Roy langsung menuju rumah Assistent Dirga. Ia turun sendiri dan Kean lebih memilih menunggu di dalam mobil.
Tidak tahu jelas apa yang Roy bicarakan dengan assitent Dirga namun Roy memang cukup lama di dalam rumah tersebut.
Melihat barisan angka yang melandai, membuat kepala Kean berdenyut pening. Ia butuh penyegaran, mungkin sekedar mendengarkan musik.
Menyalakan music box tapi sepertinya tidak ada CD yang terpasang di dalamnya. Kean membuka laci dashboard dan bingo, ada beberapa kaset CD di sana.
Cukup terkejut saat tahu kalau selera musik Roy ternyata metal. Mungkin ini cocok untuk menghilangkan kepenatannya selama bekerja. Selera musiknya cukup mirip dengannya.
Tapi kemudian perhatian Kean tertuju pada sekeping CD bercover transparan. Polos saja dan terdapat tulisan dengan spidol hitam, “Mareta.”
Kean sedikit mengernyitkan dahinya, rasanya nama ini tidak asing di ingatannya.
Seketika ia ingat pada seorang wanita yang menemui Disa di butiknya. Wanita bernama Mareta yang menjadi ketua yayasan tempat Disa mengikuti ajang desain.
Kean masih belum yakin kalau ini Mareta yang sama. Sampai akhirnya Kean mencari lebih lanjut apa yang bisa membuat rasa ragunya hilang. Tepat, Kean menemukan sebuah kartu nama milik Mareta yang ia kenal.
“Darimana roy mengenal mareta?” gumam Kean.
Ia tidak pernah melihat Roy bertemu Mareta begitupun sebaliknya. Kean memandangi CD yang ada di tangannya, entahlah ia jadi penasaran. Apa mungkin ini CD yang berisi kegiatan perlombaan? Tapi, kenapa Roy yang memilikinya?
Kean masih termenung, berusaha menarik garis merah hubungan Roy dan Mareta, buntu.
Dari kejauhan, Kean melihat Roy yang sudah keluar dari rumah assistant Dirga. Cepat-cepat Kean memasukkan CD di tanggannya ke dalam saku. Mungkin ia harus mengeceknya langsung dan tidak membiarkan Roy tahu kalau ia mengambilnya.
******