Marry The Heir

Marry The Heir
Kemalangan yang bersamaan



Permasalahan Reza dengan mantan suami Ellen, hampir mendekati ujungnya. Setelah aksi saling lapor, akhirnya mereka sama-sama sepakat untuk berdamai.


Ellen dan Reza masing-masing di dampingi kuasa hukumnya dan Darwin di dampingi oleh sang istri juga kuasa hukumnya.


“Saya mau untuk berdamai, asalkan kamu dan anak kamu tidak menampakan wajah kalian lagi di hadapan kami. Lagi pula, pernikahan kalian hanya sah secara agama dan kamu tidak punya hak untuk menuntut lebih pada suami saya.” kalimat pedas itu yang kemudian di ucapkan Marisa dengan lantang.


Wanita yang kerap memantik pertikaian di antara Ellen dan Darwin, sudah merasa di atas angin saat Darwin memilih untuk kembali kepadanya.


“Tidak masalah, saya tidak akan menuntut apapun. Hanya saja saya meminta, kalau suatu hari ghea menikah, saya harap mas Darwin masih mau menjadi walinya. Karena bagaimanapun, ghea adalah darah daging mas Darwin.” Suara Ellen terdengar sedikit gemetar, menahan tangis.


Sedari tadi, ia terus mengalah menerima apa yang diucapkan Marisa. Keinginnya hanya satu, agar masalahnya cepat selesai dan tidak membawa Reza lagi dalam pusaran masalahnya.


“Enak saja! Terus nanti kamu mau bilang kalau anak haram itu anak mas Darwin? Nggak! Nggak bisa!” sahut Marisa dengan cepat.


Wanita ini sudah sangat enggan berhubungan dengan Ellen dan putri semata wayangnya.


Ellen menghela nafasnya dalam, walau ia sangat marah dengan ucapan Marisa namun ia mencoba untuk tidak terpancing. Kemarahannya sudah di ubun-ubun dan bisa meledak kapan saja.


“Mba, saya dan mas Darwin memang melakukan kesalahan. Tapi tolong, jangan sebut putri saya anak haram.” Hatinya mencelos mendengar istilah itu disematkan pada anak perempuannya. Mata Ellen sudah merah dengan air mata yang terkumpul di sudut matanya. Masih ia tahan karena ia sudah bersumpah tidak akan menangisi perpisahannya dengan Darwin.


“Mba bisa membenci saya tapi tolong jangan perlakukan anak saya seperti itu.” Suara Ellen tercekat. Susah payah ia mengumpulkan kekuatannya tapi saat yang disinggung adalah putrinya, pertahanannya nyaris saja hancur.


“Udahlah kamu jangan banyak maunya. Toh saya juga gak yakin kalau anak itu anak mas Darwin. Buktinya kamu juga berhubungan dengan banyak laki-laki. Laki-laki ini misalnya.” Marisa melirik Reza dengan sudut matanya.


“Tolong jaga sikap anda nyonya. Klien saya sudah mau berdamai dengan anda, tapi kalau nyonya terus seperti ini, kami bisa saja melanjutkan masalah ini.” Pengacara Reza yang kemudian terpancing emosinya.


“Mah, udah dong.” Lirih Darwin yang takut-takut menatap Ellen dan Reza.


Reza masih berusaha tenang, ia hanya ingin masalah ini cepat selesai.


Wanita itu mendelik dengan tajam. “Mereka diem aja, berarti omonganku bener.” Sengit Marisa tidak mau kalah.


“Cukup mba, tolong jangan buat saya berubah pikiran!” Ellen mulai meninggikan suaranya. Ia tidak terima perlakuan Marisa terhadap Ghea ataupun Reza. Sudah cukup ia menyulitkan Reza dan saat ini ia tidak ingin berhutang budi pada siapapun.


“Mba mau semuanya berakhir sekarang, saya tidak masalah. Hanya perlu mas Darwin ingat, saat ghea dewasa, jangan minta dia untuk datang menemui mas Darwin. Saya masih bisa menghidupi ghea dengan cara saya sendiri.”


“Sudah cukup kalian merendahkan saya dan jangan pernah merendahkan orang-orang disekitar saya!” tegas Ellen dengan mata menyalak.


Tanpa terasa air matanya menetes namun dengan cepat ia mengusapnya. Mengapa sakit sekali menghadapi konsekuensi atas kebodohannya? tidak hanya ia yang harus menanggung akibat dari kesalahannya melainkan orang-orang disekitarnya.


“Ellen,” baru satu kata yang terucap dari mulut Darwin namun dengan cepat Marisa menyikutnya, membuat laki-laki itu kembali bungkam.


Ellen tidak menunggu lebih lama lagi. Ia mengambil berkas yang sedari tadi dipandanginya. Ia mengambil pena dan dengan penuh keyakinan membubuhkan tanda tangan di atas namanya. Sejenak ia memejamkan mata, merasakan hentakan yang menyakitkan yang menghantam jantungnya. Namun kemudian ia bisa bernafas lega karena pada akhirnya yang harus di akhiri benar-benar berakhir.


Satu tanda tangan itu menyatakan kalau hubungannya dengan Darwin telah berakhir. Tidak ada lagi janji manis Darwin yang harus ia ingat. Yang menjadi fokusnya saat ini adalah membesarkan Ghea sebaik mungkin.


“Ada lagi yang harus saya tanda tangani?” suara Ellen tidak lagi terdengar berat. Seperti sebagian besar bebannya telah terangkat. Ternyata seperti ini rasanya melepaskan apa yang tidak seharusnya ia genggam.


Kedua pengacara saling memeriksa berkas dihadapan mereka. Tidak ada point yang terlewat. Mereka mengangguk sebagai tanda bahwa semuanya berakhir.


Di hadapannya, Darwin masih memandanginya dengan rasa bersalah. Selama empat tahun tinggal bersama wanita yang ia cintai hingga memiliki seorang anak perempuan yang cantik dan pintar, tapi sayangnya semua harus berakhir.


Ia sadar, kalau ia telah menempatkan Ellen dan Ghea pada posisi yang sulit dan ia tidak bisa melakukan apapun.


Kelak, tidak akan adalagi suara seorang anak yang membangunkannya di pagi hari yang bisa ia ciumi wangi asam khas anak kecil yang baru bangun. Dengan Marisa ia hanya berdua. Tidak ada yang memanggilnya ayah.


“Kalau tidak ada lagi yang harus saya urus, saya permisi. Selamat siang.” Ellen beranjak dari tempatnya, meninggalkan orang-orang di hadapannya lebih dulu.


Satu tempat yang sekarang ia tuju dengan langkahnya yang Panjang. Mobil.


Di sana ia menangis sepuasnya, merutuki semua kebodohannya yang berujung pada perpisahan ini. Bukan perpisahannya dengan Darwin yang ia sesali namun karena ia tidak bisa mengambil apa yang menjadi hak putrinya.


Di luar sana, Reza masih berdiri mematung memandang ke arah mobil Ellen. Wanita itu menangis sendirian tanpa sempat berkata apapun padanya. Jika mengingat kalimatnya beberapa waktu lalu, ia mungkin telah melukai hati Ellen. Wanita itu benar-benar menjauh darinya. Tidak ada pesan atau panggilan yang mampir ke handphonenya. Ia juga tidak pernah kedatangan Ghea yang sangat suka belajar piano. Dan yang pasti, Ellen selalu menghindar setiap kali mereka bertemu.


“Ya tuhan, apa yang aku lakukan?” batin Reza seraya mengusap dadanya.


Melihat Ellen seperti ini, mengapa hatinya ikut sakit?


*****


Menjelang siang, Meri sudah mulai terbangun. Ia sudah bisa duduk bersandar pada bantal yang di buat bertumpuk. Wajahnya sudah tidak terlalu pucat di banding awal dilihat Disa.


“Kamu dari kapan di sini?” pertanyaan itu terdengar pelan diucapkan Meri.


“Pagi ini tante. Tadi kak damar yang ngabarin disa kalau tante sakit.” Ujar Disa pelan.


Ia sangat bersyukur karena akhirnya bisa melihat Meri membuka matanya walau masih terlihat lemah.


“Duh jadi ngerepotin, padahal kamu juga kerja.” Kalimat itu terdengar manis di ucapkan Meri. Tidak seperti biasanya. Berjarak ternyata bisa membawa banyak perubahan termasuk sikap Meri terhadap Disa.


Wanita ini tidak lagi bersikap ketus. Entah karena sedang sakit atau karena memang seorang Meri sudah berubah.


“Disa udah izin kok tan sama majikan disa dan beliau mengizinkan. Malahan pas Disa bilang kalo tante sakit, beliau langsung nyuruh disa ngeliat kondisi tante.” Terang Disa dengan apa adanya. Ia memang sangat bersyukur karena memiliki majikan yang sangat baik seperti Arini. Permaklumannya sangat tinggi.


“Bu, udah dong. Diikhlasin aja. Yang penting ibu cepet sehat, pelanggan nanti bisa di cari lagi.” Damar mencoba menenangkan. Ia tahu kemarahan ibunya masih belum reda.


“Iya, tapi kalo aja ibu gak tergiur sama pesanan banyak gitu, mungkin pagi ini ibu di rumah. Melayani pelanggan yang biasa datang ke rumah buat beli lauk makan siang.” Meri yang kuat, akhirnya tidak dapat menahan air matanya. Ia menyesal karena merasa telah serakah dan tanpa berpikir panjang menerima orderan dalam jumlah besar.


“Tan, ini musibah. Percaya sama disa, suatu hari allah akan ganti dengan yang lebih baik dan lebih banyak.” Disa menggenggam tangan Meri yang lemas. Ia mencoba menguatkan wanita tangguh yang selalu berusaha keras untuk dirinya dan keluarganya.


Meri hanya terangguk pelan. “Aamiin.. Terima kasih sa.” Ungkapnya penuh haru. Anak yang selalu ia omeli ternyata memiliki perhatian yang besar padanya.


“Tapi, ini ibu di rumah sakit mana? Kok ruangannya bagus banget?” Meri mulai berusaha mengenali ruangan tempat ia dirawat.


Desain ruangan yang bagus dengan 3 tempat tidur berjejer di sampingnya. Bukan kelas khusus, hanya saja kondisi ruangannya yang bagus, sudah pasti ini salah satu rumah sakit mahal.


“Maaf bu, damar bawa ibu ke rumah sakit terdekat. Tadi damar panik, jadi yang penting ibu di tolong dulu.” terang Damar yang baru tersadar.


“Nak, ini rumah sakit mahal. Lampu kamarnya aja kayak hotel. Harusnya kamu bawa ibu ke puskesmas aja. Kartu asuransi ibu mana bisa di pakai di sini.”


“Iya bu maaf. Kata perawatnya, kalo pelayanan di UGD bisa di jamin tapi kalo di ruangan gak bisa. Tadi mereka nawarin supaya ibu di rujuk ke rumah sakit lain biar kartunya bisa di pake. Tapi, damar nolak. Damar gak mau bawa ibu pake ambulan. Damar masih takut denger suara ambulan.” Terang Damar penuh sesal.


Meri memandangi putranya yang tertunduk lesu. Ia bisa membayangkan kepanikan putranya saat tiba-tiba ia terjatuh tidak sadarkan diri. Ia tahu, putranya hanya ingin menyelamatkannya. Dan ia pun paham, trauma Damar masih cukup besar saat mendengar suara sirine ambulan. Dua kali ambulan datang ke rumahnya dan membawa jenazah kedua suaminya yang telah tiada. Ketakutannya sangat beralasan.


“Kalo gitu, tolong panggilin lagi dokter. Ibu mau ngomong penting.”


“Ibu mau ngomong apa? Ada yang sakit lagi?” Damar kembali panik. Ia mencoba menahan Meri yang coba untuk bangkit tapi Meri mengibaskan tangannya.


“Panggilin aja. Tolong sa.” Beralih meminta bantuan Disa setelah putranya hanya terpaku kebingungan.


“I-Iya tan. Disa panggilin.” Disa segera beranjak dan di susul Damar.


Setelah berada di luar, Damar tidak melanjutkan langkahnya. Ia malah terduduk di bangku seraya meremas rambutnya kasar.


“Lo kenapa mong?” Disa memperhatikan Damar yang tampak frustasi.


“Sa, gue yakin ibu pasti minta pulang.” Gumamnya yang masih bisa di dengar oleh Disa.


Disa sedikit mengintip Meri di dalam ruangan dan ternyata tantenya sedang menangis. Ia menghembuskan nafasnya kasar, melihat sikap Meri, sepertinya dugaan Damar benar.


“Apa karena masalah biaya?” tanya Disa hati-hati. Ia mendudukan tubuhnya di samping Damar, bisa ia rasakan beban besar yang saat ini di pikul Damar.


Damar mengangguk pelan, ia bahkan tidak berani untuk menatap Disa. Terlalu menyedihkan pikirnya.


“Mong, gue ada sedikit tabungan. Kita coba tanya dulu ke bagian administrasi, berapa biaya di rawat di sini. Tante belum membaik, kita gak mungkin bawa tante pulang. Apalagi ada infusan dan oksigen, sementara di rumah kita bisa apa?”


Melihat kondisi Meri, sangat tidak memungkinkan ia membawa tantenya pulang. Tidak terbayang kalau ia harus melihat Meri terbaring tidak berdaya di rumahnya karena tidak ada biaya untuk membawanya berobat.


“Iya gue tau sa. Tapi gue juga gak mungkin pake duit lo. Berapa kali gue ngambil duit lo buat maen poker sama balapan liar. Gue gak bisa nyusahin lo lagi.”


“Tapi lo udah ngeganti semuanya mong. Lebih dari cukup!” timpal Disa dengan cepat. Ia masih mengingat struk penerimaan uang yang di simpan Imas di bandung.


“Lo?” akhirnya Damar berani mengangkat wajahnya.


Disa mengangguk yakin. “Gue udah tau semuanya.”


“Lo ngeganti uang yang lo ambil dan lo kirimin ke nenek kan?”


Damar tersenyum samar. “Gue pengecut banget kan? Karena gak berani ngehadapin lo, gue pake cara kayak gitu.” Di tatapnya Disa dengan lekat. Ia sudah sangat siap kalau Disa akan memaki atau mencemoohnya.


“Lo gak pengecut. Lo laki-laki bertanggung jawab. Dan gue beruntung, pernah punya kakak kayak lo.”


“Setiap orang punya cara sendiri menghadapi rasa sesalnya dan gue gak mempermasalahkan itu.” Tegas Disa dengan segaris senyum.


Damar hanya tercenung memandangi Disa. Sekarang ia paham mengapa Disa tiba-tiba mengiriminya pesan dan mengucapkan terima kasih. Mungkin untuk hal ini.


“Kalo tante minta pulang, kita tanya dulu sama dokter gimana baiknya. Kalo tetap harus di rawat, kita bisa pindah ke rumah sakit lain. Di Jakarta ini banyak kok rumah sakit pemerintah yang akan membebaskan biaya rumah sakit tante karena tante punya kartu jaminan Kesehatan.”


“Cuma peer kita, kita harus ngeyakinin tante supaya mau di rawat. Buat nungguin tante, gue bakal coba minta izin sama majikan gue buat jagain tante selama lo kerja. Paling nggak, di jam pemeriksaan dokter gue usahain ada. Dan lo gak perlu bolos kayak sekarang.”


Disa mencoba memberi solusi. Ia merasa Meri masih keluarganya dan akan selalu menjadi bagian dari keluarganya. Sudah sepatutnya ia ikut mengurus Meri.


Damar menghembuskan nafasnya kasar. ia menyandarkan tubuhnya dengan bahu melorot.


“Gue udah gak kerja sa, gue pengangguran.” Lirihnya, tersenyum ketir.


“Maksud lo? Bukannya kontrak lo buat satu tahun ke depan?” Disa tidak bisa menyembunyikan wajah terkejutnya.


“Hem. Cuma, tadi pagi tiba-tiba gue dapet pesan kalo gue udah gak usah dateng lagi. Katanya proyeknya udah di take over sama pihak lain. Mereka juga ngirim gue duit sebagai pesangon. Entahlah, gue pengen percaya juga tapi janggal tapi kalo gak percaya, gue gak ada bukti buat mempertanyakan keputusan mereka.” Berganti Damar yang termenung. Ia masih tidak habis pikir bagaimana bisa kemalangan Meri dan dirinya terjadi di waktu yang sama.


Mendengar penuturan Damar, rasanya pikiran Disa mulai mengerucut. Ini bukan sebuah kebetulan. Ada alasan mengapa semua kemalangan ini terjadi bersamaan pada orang terdekatnya.


Lalu, apakah nenek baik-baik saja? Kenapa perasaan Disa jadi ketar ketir?


****