
Melewati malam, Disa tengah menikmati waktunya bersama Kean. Disa duduk bersandar pada dada suaminya yang menyandarkan tubuhnya pada headboard tempat tidur. Tangan Kean tidak berhenti membelai rambut Disa dengan lembut sementara sang istri senyum-senyum sendiri melihat foto dan video di ponsel suaminya.
“Ada yang lucu?” tanya Kean saat mendengar tawa Disa yang ringan. Ia jadi penasaran pada video yang ditonton Disa.
“Hahaahha… Iyaa.. ini muka aku tegang banget, kayak manekin yang mukanya di corat coret naka.” Menunjukkan video saat Ia maju ke depan.
“Mama I don’t like her face, I’m scare! Dia biasanya teriak gitu. Tadi teriak gitu juga gak a pas dia liat aku?” menatap suaminya penuh tanya.
“Em, nggak sih, cuma dia pegangan kenceng banget ke baju aku.” Timpal Kean.
“Ish ya itu sama aja, artinya dia takut.” Disa mencubit perut suaminya dengan kesal. Matanya mengerling, bisa-bisanya Kean semudah ini mengerjainya. Seperti suaminya sudah menemukan semakin banyak celah untuk menggodanya.
“Ahahahha… Ampun iya ampun…” Kean menarik tubuhnya menjauh, menghindari cubitan Disa yang terasa pedas.
“Tapi muka aku emang semenakutkan itu ya buat naka?” Disa jadi bertanya pada dirinya sendiri. Membuka kamera di ponsel suaminya dan berkaca.
“Hahahaha… Ya nggak lah sayang!” mengusap wajah Disa dengan tangannya yang lebar. Membawa Disa kembali ke pelukannya.
“Buat aku, muka kamu tuh nakutin kalau lagi, *******.” Kean berbisik di ujung kalimatnya.
“Hah? Nakutin gimana? Gara-gara rambut aku berantakan kayak singa?” dengan cepat Disa menimpali. Menuntut pertanyaannya untuk segera di jawab.
“Nope!” Kean menggeleng.
“Terus?” lihat dahinya yang berkerut dan wajahnya yang penasaran. Rasanya Kean ingin menjawil dagunya atau mencubit pipi karena gemas.
“Takut aku gak bisa berhenti, HAHAHAHHAHA!!!” Kean tertawa keras hingga terbungkuk-bungkuk. Puas sekali ia karena berhasil mengerjai Disa.
“Iihhhh aa!!!!” geram Disa.
“Hahahhaha… Ya emang gitu sa. Coba aja nanti kita coba sambil ngaca.” Hasut Kean, tidak mau kalah.
“ISH gak mau. Aa aja sendiri.” Disa bergidik. Membayangkannya saja malu, apalagi melakukannya.
“Ya udah, kita cobain sekarang, nanti aku mau liat.” Bujuk Kean yang mulai mengusap-usap punggungnya.
“Iihh aa beneran yaa, ngeselin!” Disa langsung beranjak dari tempatnya, meninggalkan Kean yang asyik tertawa-tawa. Menggoda Disa seperti candu baru baginya.
“Hahhaha.. Kok marah sih, aku kan becanda.” Kean berusaha membujuk.
“Gak lucu!” timpal Disa. “Ini videonya kirim ke aku yaa…” membuka aplikasi chat yang biasa digunakan Kean untuk menghubunginya.
“Kok di password a? Ada rahasia ya dalemnya? Hayoh, aa selingkuh sama siapa?” Disa langsung memincingkan matanya penuh prasangka.
“Loh, siapa yang selingkuh? Emang kalo aplikasi chat di password berarti selingkuh?” Kean yang sedang bersandar tenang langsung duduk tegak. Bagaimana bisa Disa mengiranya selingkuh.
“Ya aku kan dengernya gitu. Di mulai dari hape banyak pake password, terus nama cewek di ganti nama tukang galon lah, tukang sumur terus apalagi ya?” jadi ingat eerita pengalaman para wanita yang membahas ciri-ciri suami yang selingkuh.
“Hahhahaa gimana ceritanya nama wanita kesayangan di kasih nama tukang? Gak ada artinya dong itu perempuan?” Kean sampai geleng-geleng kepala mendengar cerocosan Disa.
“Ya ada lah, artinya itu perempuan disembunyiin, ya artinya selingkuh.” Ada yang mulai ngotot.
“Sayang, kamu jangan baca yang aneh-aneh deh.” Kean mulai beranjak dari tempat tidurnya, duduk di tepian tempat tidur seraya menghadapakan tubuh Disa menghadapnya.
“Hubungan kita itu terlalu special untuk di bagi sama orang lain. Untuk sampai titik ini, kita nyaris kehilangan akal sehat kita, aku tidak ingin apalagi punya niatan merusaknya.” Kalimat Kean terdengar tegas.
“Lagian, coba aja buka, passwordnya juga tanggal lahir kamu kok.” Sahut Kean enteng.
“Hah? Beneran?” tanya Disa tidak percaya. Kean hanya mengendikan bahunya.
“Terus apa gunanya di password kalo masih tanggal lahir aku?” Disa masih penuh selidik.
Kean beranjak dari tempatnya, menghampiri Disa lalu memeluknya dari belakang.
“Ya karena alasan keamanan aja dari orang lain.” Disesapnya wangi rambut Disa kuat-kuat lantas menempatkan dagunya di bahu kanan Disa.
Dari sudut matanya ia bisa melihat istrinya yang tersenyum manis.
“Ya aku kan cuma antisipasi aja, waspada boleh dong.” Disa mulai menekan password ponsel suaminya dan benar saja tanggal lahirnya yang dijadikan password aplikasi chat oleh Kean.
“See?” bisik Kean saat laman aplikasi chatnya terbuka.
Disa terangguk pelan dengan senyum terkulum. Ia memperhatikan halaman chat itu dan hanya ada 8 nama yang menjadi history chat suaminya. Tidak ada chat dari nomor tanpa nama , hanya ada Roy, mamah, papah, Fira, Clara, bu Kinar, pak Marwan dan tentu saja, My paradisa dengan emoticon cinta berwarna hitam di awal dan ujung nama Disa.
4 tahun menikah baru kali ini Disa membuka ponsel suaminya dengan alasan masing-masing berhak menjaga privasinya sendiri. Kontak yang ada di ponsel Kean memang semuanya memiliki nama dan hanya orang dekat saja, hal ini menunjukkan kalau hanya orang terdekat saja yang memiliki nomornya dan ia hubungi. Hal yang lebih mengejutkan adalah nama yang digunakan suaminya untuk menamai kontaknya.
“Kenapa?” tanya Kean saat melihat istrinya tersipu.
Disa menoleh wajah suaminya yang berada di sisi kanannya. “Kok namanya my paradisa?” tanyanya mengulum senyum.
“Ya kamu kan memang paradisanya aku.” Sahut pendek Kean membuat Disa menatapnya penuh tanya, butuh penjelasan lebih rupanya.
Kean menegakkan tubuhnya, membalik tubuh Disa menghadapnya lantas menatapnya laman. “Nama kamu udah special, paradisa yang kalo dalam bahasa latin artinya perempuan atau tempat yang indah. Ya seperti itulah kamu, perempuanku atau rumahku yang indah. That’s all.” Terang Kean tenang.
“Terus kenapa di pin?” Disa melihat kalau kontaknya disematkan.
Kean tersenyum melihat ekspresi Disa yang penasaran. Di tangkupnya wajah Disa dengan kedua tangannya yang lebar, “It’s mean, you are my priority.” Satu kecupan ia berikan di bibir Disa untuk melengkapi jawabannya.
“Ada yang perlu di jelaskan lagi?” imbuhnya saat melihat Disa yang terpaku dengan wajah merona. Seperti bunga Sakura baru saja mekar dan berguguran di sekitarnya saking tersentuhnya.
Disa menggeleng, jawaban Kean yang tidak terduga sangat cukup untuk menjawab rasa penasarannya.
“Kamu tau, kamu dan naka adalah prioritas terbesar dalam hidup aku. Maka, jangan ragu apapun terhadapku, hem?” dibawanya tubuh Disa kedalam pelukannya lalu diusapnya punggung Disa dengan lembut.
“Iya a,” lirih Disa seraya mengusap dada suaminya dengan lembut.
Merasakan kedamaian seperti ini, membuat Disa ingin berlama-lama di pelukan Kean sampai kemudian ia tersadar akan sesuatu.
“Oh iya sayang, nama aku di kotak kamu apa?” nah, pertanyaan ini yang membuat Disa sadar kalau mungkin Kean akan balik bertanya.
“Hah nama aa?” otak Disa langsung blank. Ia bahkan belum merubah nama suaminya sejak pertama Kean memberikan ponsel ini padanya.
“Em, itu..” gelagapan jadinya.
“Hem, kenapa?” Kean jadi melepaskan pelukannya agar bisa melihat wajah Disa, dan rupanya panik.
“Apa namaku tidak seindah yang aku pikirkan?” tanya Kean lagi.
“Kenapa? Let me see?” Kean mengulurkan tangannya, meminta ponsel Disa. Tambah curiga dia. Tapi Disa malah menggeleng, tidak mau.
“Kamu menyembunyikan sesuatu dariku?” Kean memincingkan matanya penuh selidik.
“Em , nggak kok. Cuma,” kehilangan alasan dan Kean tetap menengadahkan tangannya meminta ponsel Disa.
“Ya udah.” Pasrah, Disa menyerahkan ponselnya.
Dengan semangat Kean pun mengecek namanya di ponsel Disa. Sedikit mengernyitkan dahi karena namanya dengan tulisan korea.
“Ini apa artinya?” tanya Kean.
“Em, di bacanya bing-san.” Jawab Disa.
“Artinya?” kali ini Kean menatapnya penuh tanya.
Otak Disa masih berputar, berpikir apa ia akan memberitahu artinya atau tidak. “Gunung es.” Memutuskan menjawab dengan takut-takut.
“Aku? Gunung es?” mata Kean sampai melotot tidak percaya mendengar jawaban Disa.
“Hehehehe… Aku lupa ganti nama aa, itu nama dari sejak aa beliin ponsel ini.” Disa beralasan. Kean hanya terdiam, seperti memberinya kesempatan untuk menjelaskan.
"Gunung es itu maksudnya, keliatan dari luar aja dingin tapi orang-orang gak tau kalo dalemnya sih hangat. panas malah. Gak ada gunung es yang gak punya lava bukan?"
"Ya aa juga gitu dan cuma aku yang tau hangatnya aa, hehe..." cepat-cepat Disa menjelaskan.
Kean jadi membolak-balik ponsel Disa, perhatiannya beralih pada banyaknya goresan di cashing-nya dan jauh tertinggal dari ponsel zaman sekarang.
“Kenapa kamu gak menggantinya? Apa selama 4 tahun kamu gak memiliki waktu untuk menggantinya?” tanya Kean dengan kesal.
“Em nanti aku ganti a. sekarang deh aku ganti namanya.” Disa berusaha meraih ponselnya dari tangan Kean. Harus segera di ganti sebelum lava gunung esnya menyembur.
“Bukan namaku, tapi ponselnya.” Kean menjauhkan ponsel dari jangkauan tanggan Disa dengan mengangkatnya tinggi-tinggi.
“Oh," Disa pikir Kean akan protes dengan nama yang ia gunakan di kontak tapi ternyata ini perkara ganti hape. "Itu karena,”
“Hp ini udah gak cocok kamu pake sa, ini jauh tertinggal.” Protes Kean. Mana mungkin ia membiarkan istrinya menggunakan ponsel lama sementara ia bisa membelikan yang baru.
“Tapi hp itu di beliin aa. Aku gak mau ganti.” Timpal Disa dengan cepat. “Lagian di hp itu banyak hal penting. Foto-foto kita, foto naka waktu bayi, foto-foto desain dan baju yang aku bikin.”
“Sayang, itu kan bisa di back up. Aku gak kebayang gimana lemotnya ini hp.” Kean jadi mengecek ponsel Disa dan benar saja, mulai lamban.
“Tapi kan gak bisa nge-back up chat kita.” Kilah Disa.
“Hah?” Kean sampai bengong mendengar jawaban Disa. “Chat mana yang mau kamu back up? Emang kita pernah bikin perjanjian lewat chat sampe harus di back up?” lanjut Kean.
“Ya enggak. Maksud aku, semua chat aku sama aa itu gak mau aku hapus. Chat pertama aa bilang sayang, nanya aku udah makan atau belum. Chat marahnya aa waktu aku sakit di paris. Chat waktu aa bilang kangen. Belum lagi voice note yang selalu aa kirim tiap waktu, lebih dari jadwal minum obat. Gak ada yang mau aku hapus satupun karena semuanya terlalu indah.” Terang Disa dengan mata berkaca-kaca.
“Aku itu, orang yang paling miskin. Miskin oleh kenangan bersama orang-orang yang pernah ada di samping aku. Jadi, aku bertekad aku gak mau kehilangan lagi kenangan sekecil apapun. Pleaseee….” Disa menggenggam tangan Kean dengan erat dan tatapannya yang penuh harap.
“Lagian, seperti apapun bentuk ponselnya, yang penting kan kita tetap bisa berkomunikasi dengan baik. Kalo aa marah aku denger apalagi kalo aa bilang cinta, kuping aku denger banget, hehehe…” Disa tersenyum sambil mengusap air matanya yang tiba-tiba menetes.
Kean masih tidak habis pikir dengan ucapan Disa. Ia tidak menyangka kalau Disa ingin menyimpan semua kenangan mereka hingga hal sekecil ini. Hal yang sepele bagi Kean ternyata hal besar bagi Disa dan itu sangat menyentuhnya.
“Sayang,” Kean mengeratkan genggaman tangannya lantas mengusap air mata Disa. Jujur ia bingung sampai tidak bisa berkata-kata.
“Ponsel ini akan tetap jadi milik kamu, kamu bisa menyimpannya bersamaan dengan semua kenangan kita.”
“Tentang semua hal yang manis yang pernah aku lakukan, aku bisa mengatakannya lebih sering. Aku bisa menulisnya lebih rajin dan mengirimkan pesan itu ke ponsel kamu yang baru. Aku juga bisa mengirim lebih banyak voice note untuk mengombali kamu.”
“But, ponsel hanya alat. Aku tau, kamu gak mau kehilangan apapun termasuk kenangan kita dan aku janji kamu gak akan pernah kehilangan apapun. Tapi bukan berarti kamu tidak mengganti ponsel. Bukan apa-apa, menurut aku dengan rutinitas kamu sekarang, ponsel ini sarana yang penting. jangan sampe karena ponselnya udah kepayahan, pas mau kamu pake malah rusak. Foto-foto di sini juga bisa hilang.” Kean berusaha meyakinkan Disa walau Disa masih terlihat enggan.
“Biar aku kasih liat satu hal,” Kean mengambil ponselnya dari tangan Disa. Mematikan layarnya lantas menyalakannya kembali.
“Liat ke sini.” Menunjukkan layar ponselnya pada Disa. Disa menurut saja dan tidak lama laman ponsel Kean terbuka.
“Hah, password hp aa muka aku? Kok bisa?” Disa jadi kaget sendiri.
“Hem, wajah kamu sama sidik jari aku.”
“Loh kapan aa bikinnya?” Disa jadi penasaran.
“Dari foto kamu lah. Kamu juga bisa kayak gini.” Kean berusaha membuat Disa tertarik.
Disa tampak berpikir, “Kalo pake wajah naka juga bisa dong?”
“Hah, naka?”
“Iya password hp aku pake wajahnya naka.” Mata Disa langsung berbinar.
“Em bisa, tapi aku pikir mau pake muka aku.” Kean cemberut kesal.
“Hehehhe… Bisa gak pake wajah banyak orang?”
“Ya enggak sayang, satu aja.” Baru kali ini ia merasa cemburu dengan putranya sendiri.
“Ya udah, nanti kalo beli pake wajah aa sama tanggal lahir naka.” Disa mulai luluh.
“Asyiiikkk.. Mau muka aku pas gimana? Pas jadi gunung es, pas senyum apa pas,…” Kean membisikkan satu kata nakal di telinga Disa yang membuat istrinya tertawa geli.
“Ish porno!” timpal Disa.
“Hahahhhahahaa…” puas sekali Kean tertawa.
“Ya udah, sekarang kita mulai dengan membuat kenangan manis, beli ponselnya besok siang.”
“Eh eh eh mau apa?” seru Disa saat Kean tiba-tiba menggendong tubuhnya ke tempat tidur.
“Jangan protes, katanya mau bikin banyak kenangan, eh banyak anak juga sih.” Astaga ini gunung es mulai random.
“Tapi, aku belum ngecek naka a,” protes Disa.
“Bisa nanti!” tegas Kean. Setelah ini ya tentu saja lampu mulai padam dan selimut yang menutupi tubuh mereka mulai bergerak ke sana kemari. Keduanya kembali membuat kenangan yang tidak akan bisa mereka lupakan.
******