Marry The Heir

Marry The Heir
Nyaris tenggelam dalam arus



Malam Shafira benar-benar di habiskan di café yang di pilihkan Andini bersama teman-temannya. Mereka terlihat bahagia menikmati makanan enak gratis di temani live musik yang mereka kuasai sendiri.


Sudah lagu ke empat yang di nyanyikan Andini di atas panggung. Café ini terasa seperti milik mereka dan yang lain ngontrak. Mereka bebas bernyanyi dan membuat keseruan sendiri tidak hanya bagi mereka tapi juga bagi pengujung cafe lainnya.


Beberapa pengunjung tampak tidak segan untuk ikut memilih lagu dan meminta mereka untuk menyanyikannya. Mulai dari lagu romantis hingga lagu jingkrak-jingkrak ataupun R n B. Dan saat ini Andini sedang marathon membawakan lagu dangdut di atas panggung. Ia menari dengan gemulai bersama anak-anak padus yang ikut berjoget. Beberapa pengunjung memberikan saweran, membuat malam ini terasa semakin seru. Kalau di pikir lagi, baru kali ini mereka tahu kalau Andini yang pendiam ternyata seorang pecinta musik dangdut.


“Dulu kau janji bawa berlian untukku


Sehari makan sekali pun tak tentu


Kau bilang inilah, kau bilang itulah


Bosan dengan alasanmu


Kau pikir hidup ini cuma makan batu?


Kau pikir anakmu tak butuh susu?


Susu yang inilah, susu yang itulah


Susa, susi, susi, susah.”


“Buka sitik jos!” seru pengunjung café yang membuat mereka tertawa girang.


Hari ini Andini benar-benar tampil maksimal, bersikap seperti ia adalah bagian dari murid-muridnya. Mereka bebas berekspresi tanpa ada jarak. Mungkin inilah salah satu keindahan musik saat sudah dimainkan. Ia merangkul semua kalangan. Tidak salah rasanya kalau musik di sebut pemersatu bangsa.


Dari tempatnya, Shafira ikut tersenyum. Ia masih mencuci tangan dan bajunya yang terkena tumpahan makanan akibat teman-temannya terlalu asyik berjoget hingga tanpa sengaja menyenggol sepiring makanan dan mengenai bajunya.


Ia ikut tertawa membayangkan seperti apa penampilan Andini saat ini.


Saat tangannya sudah bersih dan bajunya pun tidak menyisakan noda makanan, tiba-tiba saja ada sesuatu yang hangat keluar dari lubang hidung kanannya. Shafira segera melihat ke cermin di hadapannya dan ternyata ada darah keluar dari hidungnya.


“Astaga! Kenapa ini?” gumamnya yang cukup kaget. Ia segera menangkup air dari wastafel lalu membasuhkannya ke wajahnya. Darah itu masih menetes dari hidungnya dan semakin banyak.


“Lo gak pa-pa?” Malvin menghampirinya dan memberikan selembar tissue. Entah sejak kapan laki-laki itu ada di dekatnya.


“Em.” Shafira segera mengambil tissue dari tangan Malvin lantas mendongakkan kepalanya untuk menahan laju darah yang semakin banyak.


“Jangan ngedongak fir, nanti darahnya masuk lagi dan malah masuk ke paru-paru.” Malvin terdengar ikut cemas.


Shafira segera menurunkan lagi kepalanya dan kembali mengambil tissue yang di sodotkan Malvin.


“Kita ke dokter aja ya fir?” semakin cemas, ia memperhatikan Shafira lekat-lekat. Darah yang keluar dari hidung Shafira lumayan banyak, tisue yang ia sodorkanpun sudah berubah warna menjadi merah.


Mendapati perhatian yang tiba-tiba dari Malvin, Shafira cukup terkejut. Terlebih saat Malvin memandanginya dengan jarak yang sangat dekat. Matanya membulat dan dengan segera memundurkan langkahnya.


“Gak pa-pa, paling ini panas dalam doang.” Timpalnya berusaha terlihat baik-baik saja.


“Ya udah, ganti lagi tisuenya.” Lembaran tissue ke sekian yang di sodorkan Malvin.


“Hem, thanks.” Shafira menyumpalkan tissue ke lubang hidungnya lantas memalingkan wajahnya dari Malvin. Cukup deg-degan juga kalau terus di tatap seperti ini oleh Malvin.


“Lo pake ini.” Malvin melepaskan kemeja kotak-kotak yang ia gunakan lantas menyampirkannya ke bahu Shafira. Shafira cukup terkejut hingga ia bergidik geli saat sapuan tangan Malvin mengusap punggungnya. “Mungkin lo masuk angin juga. Tapi kalo dalam 15 menit mimisannya gak berhenti, gue anterin lo pulang atau kita bisa ke klinik terdekat dari café.”


Shafira hanya mengangguk seraya menyelipkan anak rambutnya ke sela telinga. Salah tingkah, mungkin itulah yang terjadi sekarang.


Beruntung perdarahan di hidungnya mulai berhenti. Shafira dan Malvin kembali menghampiri teman-temannya. Mereka berjalan bersisihan dengan perasaan canggung.


“Hari ini lo keren.” Ujar Malvin tiba-tiba membuat Shafira cukup terkejut. Baru kali ini Malvin mengomentari penampilannya. Biasanya saat orang lain memujipun Malvin tidak terlihat tertarik untuk mendengarnya.


Kali ini bahkan ia tersenyum tipis membuat Shafira menolehnya dengan wajah bingung. “Gue bangga sama lo. Lo bisa nyelesein tugas lo dengan sempurna.” Imbuhnya seraya membalas tatapan Shafira.


Shafira kembali membuang pandangannya ke arah lain. Sebisa mungkin ia tidak melakukan kontak mata dengan Malvin. Ia tidak mau kalau nanti malam malah tidak bisa tidur karena bayangan wajah Malvin yang selalu muncul di pikirannya.


"Cukup berharapnya." Shafira mengingatkan dirinya sendiri.


Harus ia akui hari ini adalah hari yang berat. Penampilan kali ini mungkin akan menjadi penampilan terakhirnya sebelum ujian nasional dan akhirnya ia lulus dari SMA. Ia sangat berharap kedua orang tuanya bisa hadir menyaksikan salah satu penampilannya tapi nyatanya semua hanya harapan. Di sisi lain, ia merasa bahagia karena ada dua orang tidak di duga yang hadir untuk menyaksikan penampilannya. Ia bisa tersenyum senang, walau pun termehek-mehek, penampilannya cukup membanggakan.


Dan tentang Malvin. “Makasih vin.” Kalimat itu yang ingin ia ucapkan sedari tadi.


Selama penampilan berlangsung, beberapa kali Shafira mengubah nada yang di nyanyikannya. Padahal saat GR mereka sudah fix dengan tempo dan kunci yang digunakan. Namun saat mereka tampil, Shafira mengubah beberapa nada turun, mulai dari setengah hingga satu. Emosi yang menguasainya membuat nada yang keluar dari mulutnya nyaris tidak tepat. Beruntung Malvin bisa mengimbangi penampilannya hingga penampilan mereka terdengar sempurna.


“Terima kasih untuk apa?” tanya Malvin yang menghentikan langkahnya.


Shafira ikut berhenti lantas berbalik menghadap Malvin. “Buat semuanya.” Tegasnya.


“Selama tampil, gue pasti banyak nyusahin lo. Loncat-loncat nada, kebanyakan pake soft voice dan head voice yang bikin lo bingung. Kadang tempo gue juga agak berantakan, gak sesuai sama latihan kita.”


“Tapi lo gak ngeluh. Lo gak ninggalin gue. Lo nemenin gue sampe akhir. Dan gue cuma bisa bilang makasih.”


Mata Shafira terlihat berkaca-kaca. Ia menyadari benar peranan penting Malvin dalam penampilannya. Laki-laki yang ingin ia hindari ini, nyatanya malah semakin mendekat. Malvin seperti sangat paham bantuan apa yang dibutuhkan Shafira untuk membuat lagu yang dibawakannya selesai dengan sempurna.


“Bukannya itu fungsi dari partner?” Malvin dengan santai. Belakangan ini ia pun sering perlihatkan senyumnya yang membuat perasaan Shafira tidak menentu. Semakin sulit saja menjauh dari pesona seorang Malvin.


“Ya, partner.” Timpal Shafira yang spontan menatap Malvin. Mereka saling melempar senyum dengan tatapan laman satu sama lain. Seperti ada moment dimana mereka saling berjalan menuju hati masing-masing.


“Em, kita ke sana sekarang?” Shafira yang berusaha mengalihkan pembicaraan mereka. Ia tidak mau terlarut terlalu lama.


Malvin hanya tersenyum kemudian mengangguk. Mereka berjalan dengan canggung.


“Oh iya vin, gue pikir, gue bisa nerima ajakan lo.” Ungkapnya tiba-tiba. Dengan ragu Shafira menoleh Malvin seraya menggigit bibirnya sendiri menunggu respon Malvin.


“Hem. Kalo lo gak keberatan, gue akan ngehubungin EO itu dan nanya jadwal latihan.” Ada rasa bahagia yang tiba-tiba mengisi hati Malvin. Ia tidak menyangka kalau gunung es di sampingnya mulai mencair.


“Iya.” Sahutnya perlahan.


Tidak lama terdengar suara musik yang sedang di putar dan sangat mereka kenali. Dari petikan gitar yang dimainkan, Shafira mengenal benar lagu itu.


“Lagu favorit lo.” Bisik Malvin seraya berjalan lebih dulu di hadapan Shafira.


“Ya udah ayok naik!” Shafira langsung berlari menuju panggung dan mengambil satu microphone. Tanpa ragu, Malvin segera menyusul Shafira dan duduk di tempat ia biasa bermain piano.


“Yeeeaaayyy!!! Kill it fir!!!” seru Andini menyemangati Shafira. Sepertinya jiwa muda Andini memang sedang sangat bergelora.


Shafira hanya tersenyum lantas menoleh Malvin yang mulai memainkan dentingan pianonya. Cahaya lampu mulai meredup, menyisakan cahaya temaram dan siluete bayang-bayang orang di dalam cafe. Lampu sorot tertuju pada Shafira dan Malvin. Suasana yang riuh berubah romantis dalam sekejap. Atmosfer pun berubah hangat dan Shafira terlihat cantik dengan stand mic yang ada di hadapannya. Perlahan, ia mulai memejamkan matanya dan aliran lagu itu mulai mengalir lembut mengisi rongga telinga penunjung café.


“…Mmmmm…..


Some people want it all


But I don’t want nothing at all


If I ain’t got you, baby


Some people want diamond rings


Some just want everything


But everything means nothing


If I ain’t got you, yeah”


Dentingan piano terdengar syahdu membuat suasana benar-benar terasa romantis. Satu lagu dinikmati bersama oleh Shafira dan pengunjung café. Mereka menyalakan flash light selama Shafira menyanyi. Lagu yang memiliki makna segala sesuatu di dunia yang bersifat material tidak penting, kecuali kita punya orang yang kita cintai terasa benar mengisi hati mereka.


Ya, tidak ada yang lebih penting di dunia ini selain kita punya orang-orang yang kita cintai. Bukankah itu saja akan terasa cukup?


******


Waktu 2 jam ternyata tidak sama dengan 120 menit bagi Kean. 2 jam bisa berarti menjadi ratusan menit saat sudah ada di tangan Kean.


Siang tadi, setelah acara di sekolah Shafira, alih-alih kembali ke kantor ia lebih memilih berjalan-jalan dari satu tempat ke tempat lain bersama Disa. Random memang karena tidak ada yang ia tuju selain keinginannya untuk menghabiskan waktu bersama Disa.


Setelah mendapat laporan dari Roy tentang gossip keluarganya yang mulai mereda, baginya urusannya di kantor sudah selesai.


Beberapa hari ini, ia memang disibukkan dengan banyaknya klarifikasi tentang masalah keluarganya. Gossip yang beredar tidak hanya mengganggu pikirannya melainkan juga mengganggu kestabilan perusahaannya.


Setelah di cari siapa dalang dari pelaku penyebar berita hoax tersebut, permasalahan pun selesai. Marcel, adalah orang yang dengan sengaja memberikan informasi tentang keluarganya kepada media. Ini bentuk kesungguhan yang ia lakukan atas ancamannya beberapa hari lalu pada Sigit. Citra seorang Sigit Hardjoyo sempat turun dan tentu saja sang empunya tidak tinggal diam. Kean hanya perlu melihat Marcel memetik buah yang di tanamnya.


Sebelum pulang, tempat yang mereka kunjungi adalah pasar. Kean beralasan agar besok pagi Disa tidak perlu ke pasar sehingga bahan masakan untuk satu minggu ke depan mereka beli hari ini. Mereka sudah meminta bantuan kuli angkut untuk membawa barang belajaan sementara mereka berjalan santai menuju mobil yang terparkir cukup jauh.


“Jam berapa pasar ini tutup?” Kean memecah keheningan di antara mereka. Sambil menikmati semilir angin menjelang malam, Kean memperhatikan sekeliling pasar yang tidak pernah sepi. Perputaran uang di tempat ini memang sangat cepat. Mulai dari hanya membeli sebungkus garam hingga jual beli mas, semua terjadi di tempat ini. Pantaslah kalau pasar menjadi tempat perputaran uang paling cepat.


“Em kata bu kinar, pasarnya 24 jam. Sehari bisa dua sampai tiga kali ada mobil yang mengirim bahan makanan sehingga jam berapa pun belanja, bahan masakan yang di jual tetap segar.” jelas Disa.


Pasar ini memang tidak seperti pasar dekat rumah Meri yang akan tutup setelah jam dua siang.


“Lalu kenapa kamu harus belanja subuh-subuh?”


“Em karena udara pagi itu lebih segar. Penjual juga banyak yang masih lengkap barang dagangannya jadi saya leluasa memilih.” Penjelasannya cukup di mengerti oleh Kean dan membuatnya teranggguk.


Lagi pula, kalau ke pasar pagi biasanya banyak penjual akan memberikan harga miring. Walau selisih harganya tidak terlalu jauh, tetap saja menyenangkan bagi seorang pembeli.


“Tunggu tuan.” Tiba-tiba Disa menghentikan langkahnya dan menahan tangan Kean. Ia sedikit merunduk dan memperhatikan lingkungan sekitarnya.


“Kenapa?” Kean sedikit kebingungan melihat tingkah Disa.


“Sssstttttt!!!” desisnya lantas menunjuk ke arah segerombolan laki-laki di sebrang mereka


“Kenapa?” Kean ikut memelankan suaranya.


“Menunduk tuan, “ menarik bahu Kean untuk ikut sedikit menunduk. Kean hanya begong melihat tingkah Disa. “Itu preman yang nyelekain tuan. Kita harus hati-hati.” Bisik Disa dengan wajah cemas.


Kean ikut memandangi ke arah gerombolan preman. Mereka asyik bermain kartu dengan banyak botol minuman di hadapan mereka. Sepertinya sebagian di antara mereka sudah teler.


“Kamu yakin itu preman yang waktu itu nusuk saya?” Kean memang tidak terlalu kuat dalam mengingat wajah seseorang terlebih preman yang rasanya semua mirip.


“Iya tuan. Yang pake kaos abu-abu.” Disa berujar dengan yakin. Yang paling Disa ingat adalah, tato di punggung tangannya yang terlihat jelas saat laki-laki itu menenggak minumannya.


Tanpa menunggu lama, Kean mengambil sebuah batu lantas melemparnya ke arah preman tersebut. “PRANK!!!!!” lemparan Kean tepat mengenai botol minuman yang kemudian pecah berantakan.


“Yes!” serunya dengan bangga.


“Astaga Tuan! Apa yang anda lakukan?” Disa terkejut melihat yang dilakukan Kean. Ia mulai takut kalau preman-preman itu menangkap mereka dan kembali melukai tuan mudanya.


“WOY! Siapa itu?!” teriak sang preman yang beranjak dari tempatnya dengan sempoyongan.


“Noh di sono!” sahut preman satunya.


Kean tidak tinggal diam, ia segera menarik tangan Disa dan berlari menjauh dari kejaran preman. Di pikir akan di hadapi dengan berani ternyata tetap kabur juga.


“Woy, berhenti lo!” teriak preman tersebut, namun Kean  semakin kencang berlari tanpa melepaskan genggaman tangan Disa. ia baru merasakan kalau hal seperti ini terasa sangat menyenangkan. Seperti ia telah melewati batas yang ia buat sendiri dengan harus patuh dan menerima.


Membalas dendam ternyata cukup membuat adrenalinnya melonjak.


Para preman terus mengejar. Kean mengajak Disa untuk bersembunyi di balik bangunan sebuah gudang. Disa menyandarkan tubuhnya yang kelelahan pada dinding seraya berusaha mengatur nafasnya yang terengah. Sementara Kean masih mengintip preman yang sepertinya masih mencari jejak mereka.


Kean tersenyum puas, balas dendamnya seperti tertunaikan dengan cara yang tidak di duga. Preman itu kebingungan mencari keberadaannya dan Disa.


“Mereka gak bisa nemuin kita.” Tuturnya dengan senyum terkembang. Nafas yang masih menderu karena berlari dengan cepat.


Disa tidak menimpali. Ia masih berusaha menenangkan dirinya sendiri. Ia pun memperhatikan tangannya yang masih di genggam Kean.


“Kenapa? Kamu takut?” bisik Kean yang ikut bersandar di samping Disa.


Disa hanya menggeleng sambil berusaha melepaskan genggaman tangan Kean. Ia masih cukup terkejut, saat tiba-tiba Kean menarik tangannya dan membawanya berlari tanpa aba-aba.


Dalam beberapa saat, ekspresi wajah Kean yang senang karena berhasil mengerjai preman, berubah menjadi serius. Ia menatap Disa dengan laman tanpa melepaskan genggaman tangannya. Untuk beberapa saat ia begitu menikmati hangatnya tangan Disa yang ia genggam dengan erat. Rasanya tidak ingin ia lepaskan.


Dan melihat telaga bening yang menatapnya dengan polos membuat sudut hati Kean terasa berdenyut. Detak jantungnya berubah cepat, bukan karena berlari melainkan karena ada perasaan yang menggelitik sudut hatinya yang tidak bisa ia jelaskan.


Cukup lama mereka saling bertatapan, hingga Kean semakin mendekat dan membuat Disa mengkerut. Wajahnya terlihat tegang dengan telapak tangan yang terasa basah. Sangat gugup.


Semakin lama, jarak mereka semakin dekat dan membuat perasaan Disa tidak menentu. Ia bisa merasakan hembusan nafas Kean yang menerpa wajahnya, semakin dekat dan dekat lagi sampai akhirnya, Disa memalingkan wajahnya.


Kean menghembuskan nafasnya dengan kasar. Beberapa detik lalu waktu terasa berhenti berputar dan semua terlihat indah. Langit malam yang cerah, bintang-bintang yang bersinar terang juga semilir angin yang menggerakan anak rambut Disa dengan begitu menggoda. Tapi sepertinya ini bukan waktu yang tepat.


Kali ini, tidak ada yang bisa ia lakukan selain menarik tubuhnya menjauh dari Disa.


“Mereka sudah pergi.” Ujar Kean yang lebih terdengar seperti gumaman. Akhirnya Disa bisa menghela nafasnya lega. Sejak Kean mendekat, jantungnya berloncatan dan baru sekarang ia bisa mengatur kembali kedalaman nafas yang di helanya.


“Bisa kita pulang sekarang tuan?” sungguh Disa masih sangat gugup bercampur canggung. Beberapa saat lalu hampir saja ia tenggelam di dalam arus yang diciptakan Kean dan tidak seharusnya ia terbawa.


“Disa, dia majikanmu.” Mungkin suara itu yang menyadarkannya hingga memilih untuk memalingkan wajahnya dari Kean. Sungguh jantungnya masih berdebar sangat kencang.


Melihat Kean yang masih terdiam seraya menyandarkan kepalanya ke dinding, membuat Disa memilih untuk pergi lebih dulu. Mungkin tuan mudanya pun sedang merutuki kesalahan yang hampir saya mereka lakukan.


****