
“A, INI KITA BENERAN NAIK INI?” teriak Disa dengan suara lantang.
Di hadapannya ada sebuah helicopter yang menunggunya bersama Kean. Suaranya kalah terredam suara baling-baling helicoter yang menderu saat berputar.
“Iya, aku akan mengajak kamu keliling di atas sana.” Kean mengulurkan tangannya mengajak Disa naik.
Rupanya ini rencana yang di pikirkan Kean untuk mengisi waktunya bersama Disa. Walau tempat ini tempat yang biasa ia kunjungi dulu namun ia ingin membuat kenangan baru bersama istrinya, yang kelak bisa ia kenang saat mereka sama-sama menua.
Sudah sangat lama Kean tidak melakukan hal semacam ini. Kata liburan tidak pernah ada dalam rencananya selain di lakukan secara tiba-tiba dan situasional.
“Hah? Aa bisa bawanya?” ragu-ragu Disa mengulurkan tangannya pada Kean.
Ia pikir menjadi pilot hanya cita-cita Kean tapi siapa sangka pria ini benar-benar bisa menerbangkan burung besi.
“Kita lihat saja.” Kean merangkul bahu Disa, mengajaknya merunduk seraya berlari menuju heli.
“Naiklah!” imbuhnya saat pengemudi sebelumnya telah turun.
“A ini beneran? Gak bakalan jatuh kan?” masih tidak percaya kalau suaminya bisa menerbangkan burung besi ini.
"Nggaklah. Kita masih terlalu muda untuk jatuh dari ketinggian." terkecuali jatuh cinta, batin Kean berikutnya.
Ragu-ragu Disa duduk di kursi penumpang bersisihan dengan Kean yang terlihat tenang saja. Kean hanya tersenyum melihat wajah tegang Disa. Ia memasangkan headphone di kepala Disa sebagai sarana komunikasi.
“Test! Kedengeran?” tanya Kean, mencoba bersuara dari headphone yang di pakainya.
Disa terangguk dengan wajah tegang.
“Kamu gak perlu teriak-teriak lagi, kamu nafas aja aku bisa denger. Duduklah dengan tenang!” imbuhnya. Dipasangkannya sabuk pengaman yang melingkari tubuh Disa dan menguncinya. Sedikit menariknya untuk memastikan sabuk pengamannya mengunci sempurna.
“A, ini beneran gak pa-pa kan? Kita masih muda loh.”
“Aku ada nenek yang harus aku jaga terus mamah sama papah pasti nunggu kita pulang.”
“Gimana kalo kita,”
“Sstt!!” Kean menempatkan telunjuknya di bibir Disa.
“Penumpangnya yang tenang, orang pilotnya aja tenang.” Hibur Kean.
Meski Kean berusaha bersikap tenang, namun tidak begitu dengan Disa. Ia duduk tegak, sangat tegang. Tangannya mengepal kuat, menahan rasa takutnya saat membayangkan ia berada di ketinggian bersama Kean. Saat di pesawat saja ia tidak berani melihat keluar, terlalu menakutkan untuknya.
“Kamu percaya kan sama aku?” Kean memegangi kedua bahu Disa seraya menatapnya lekat. Mata bening itu balas menatap Kean dan perlahan mengangguk.
“Jangan takut, ada co-pilot handal yang nemenin kita. Kamu nikmati aja pemandangannya.” Lanjut Kean seraya menoleh seorang laki-laki yang duduk di kursi co-pilot.
Disa terangguk sopan pada laki-laki yang kini menatapnya.
“Tenang saja, abang kean ini udah tersertifikasi. Nona cantik tidak perlu khawatir.” Laki-laki tambun itu mengacungkan ibu jarinya pada Disa. Ternyata mereka saling mengenal.
“See?” Kean mencoba meyakinkan Disa.
Akhirnya Disa hanya terangguk, pasrah sambil berdo’a dalam hati. Lebih dari itu ia harus percaya pada suaminya.
Terduduk dengan tegang di kursi penumpang, saat Kean mulai menaikan tuas dan perlahan badan heli mulai terangkat. Disa hampir lupa bernafas sementara Kean masih fokus tugasnya mengatur kemudi.
Memperhatikan punggung Kean yang ada di hadapannya, semakin bertambah saja pesona seorang tuan muda Hardjoyo di mata Disa. Tampan iya, pintar tentu saja, dan banyak sekali kemampuan langka yang jarang di miliki laki-laki di luar sana. Sangat pantas kalau banyak wanita yang memuja sosok suaminya.
“Kita akan berkeliling di atas sini.” Suara Kean terdengar jelas di headphone membuat Disa harus menyudahi lamunannya tentang Kean.
“Iya a.” Ucapnya gemetar.
Kean tersenyum samar melihat ekspresi tegang Disa, “Jangan takut, kita akan baik-baik saja.”
Disa menatap mata Kean yang memandanginya lewat spion di hadapannya. Di helanya nafas dalam-dalam untuk menenangkan jantungnya yang berloncatan.
“Selamat menikmati perjalanan singkat ini dengan pilot kean malik. Nikmati saja apa yang kamu lihat dan jangan berpikir apapun. Karena aku hanya akan satu kali duduk di sini dan mengajakmu berkeliling. Jadi, jangan sia-siakan kesempatan langka ini.” tegas Kean.
“Iya a.” Lagi Disa menyahuti.
Berada di ketinggian yang cukup, perhatian Disa beralih ke luar jendela. Ia sempat memejamkan mata saat ia melihat tingginya jarak heli dengan tanah.
Tapi kemudian heli mulai bergerak perlahan, mengelilingi peternakan. Dari atas sini Disa bisa melihat awan putih yang terserak di langit biru, burung-burung yang beterbangan saat pohon tempat mereka berlindung terkena angin kencang dari baling-baling.
“Waw...” seru Disa, ia terpukau, tertarik pada keindahan alam yang terpampang di hadapannya.
Dari tempatnya, Danau yang luas itu menjadi kecil dengan bentuk yang ternyata tidak bulat sempurna, melainkan oval. Di tepiannya di tumbuhin pohon-pohon tinggi dan kokoh yang membuat suasana terasa begitu dingin. Bunga yang bermekaran seperti titik-titik kecil yang berwarna-warni di bawah sana.
Ini keindahan langka yang di lihat Disa. Seperti mata dan pikirannya kembali segar melihat semua keindahan ini. Mungkin inilah yang di sebut healing stress.
Sesekali Kean memperhatikan Disa yang terpesona dengan apa yang di lihatnya. Bibirnya tersenyum lebar dengan mata yang membulat penuh rasa takjub.
“Kamu suka?” suaranya lagi terdengar di headphone.
“Sangat! Aku sangat suka.” Seru Disa girang. Tangannya sampai menempel di kaca jendela dengan pandangan yang berpedar ke segala arah.
Di antara banyak keindahan yang juga di lihat Kean, ternyata melihat Disa sesenang ini lebih indah dari apapun. Ia bisa kembali melihat senyum ceria itu membuat suasana hatinya yang sendu ikut terbawa bahagia. Benar adanya pepatah kalau ingin bahagia, sesekali buatlah orang yang kita cintai bahagia, maka kita akan terbawa.
“A, itu peternakannya ya?” Disa menunjuk salah satu sudut yang terlihat seperti deretan kandang hewan atau sejenisnya.
“Iya. Di sana ada beberapa hewan yang di pelihara.”
“Iya, nanti kita turun di dekat sana. Kamu mau coba berkuda?”
“Berkuda?” menatap Kean tidak percaya.
“Hem. Kamu belum pernah mencobanya kan?”
“Belum.”
“Okey, kita ke sana.” Kean langsung mengarahkan kendalinya menuju peternakan. Menentukan titik untuk turun yang aman dan tidak terlalu dekat dengan hewan yang di pelihara Kemal.
“Tapi aku gak bisa naik kuda a. Maksudnya gak bisa nunggangin kuda.” Disa berusaha mengelak. Mana pernah ia naik kuda apalagi menungganginya sendiri. Kalau dokar sih pernah.
“Kalau belum pernah, maka cobalah.” Kean kukuh mengharuskan Disa mencobanya.
“Tapi,” baru Disa akan menolak, Kean sudah lebih dulu mendaratkan helinya di titik yang sudah di tentukan.
Ia turun lebih dulu, membukakan pintu untuk Disa lantas mengulurkan tangannya mengajak Disa turun.
“Yuk!” ajaknya.
Dengan berat hati Disa melepaskan sabuk pengaman yang melingkari tubuhnya. Di raihnya tangan Kean dan ikut turun.
Kembali Kean mengajak Disa membungkuk saat akan menjauh dari heli. Mereka berlari kecil menuju peternakan sambil berpegangan tangan. Hal yang tidak mereka sadari dan malah saling menggenggam dengan erat.
Di salah satu istal, Disa melihat seekor kuda yang langsung bersuara saat melihat kedatangannya bersama Kean. Disa sedikit menarik tubuhnya menjauh hingga tanpa sengaja menabrak Kean di belakang.
“Awh, maaf a.” Ujarnya saat terjerembab di dada Kean.
“Ada yang sakit?” kemudian pertanyaan itu yang di lontarkan Kean, membuat wajah Disa bersemu kemerahan.
Melihat tubuhnya yang di pegangi Kean dengan tangan Kean yang melingkar di pinggangnya, Disa segera menegakkan tubuhnya. Adegan romantis seperti di film-film ini membuat jantungnya berdesir.
“Enggak.” Ucapnya lirih. Salah tingkah, ya Disa sedang salah tingkah.
“Dia kayaknya gak suka kita nyamperin.” Memperhatikan seekor kuda hitam yang menatapnya.
“Dia bukan gak suka tapi menyambut Kita.”
Kean berjalan pelan menghampiri kuda tersebut memberinya rumput yang ia dekatkan ke mulut kuda. Kuda itu seperti berusaha mengenali laki-laki di hadapannya. Sama seperti manusia, kuda pun tidak langsung percaya pada orang asing.
“A, hati-hati.” Disa sedikit menjauh. Ia tidak mau kalau kuda ini berontak dan mecelakainya juga Kean.
“Gak pa-pa, di lagi nyoba ngenali aku.” Kean tetap berusaha tenang. Dan benar saja, kuda itu mau memakan rumput dari tangan Kean.
“Good job!” lirih Kean. Setelah makanan di tangannya habis, ia berganti membelai kuda itu dengan lembut. Seperti mulai percaya ia tidak berontak saat Kean mendekat bahkan menyentuhnya.
“Aku akan naik kuda ini.” Ujarnya dengan yakin.
“Hah, aa kan baru ketemu sama kudanya. Emang gak apa-apa?” sedikit ngeri membayangkan kalau kuda ini berontak.
“Gak apa-apa. Kuda ini percaya sama aku. Kamu lihat kan?” kuda tersebut tampak nyaman saat di belai Kean. Mungkin kudanya betina, jadi gampang nyaman. Eh?
“I-Iya a..” ikut menatap kuda yang sepertinya tidak risih di dekati Kean.
Tidak terbayang Kean menunggangi seekor kuda hitam padahal biasanya seorang pangeran itu menunggangi kuda putih. Terlihat keren seperti di film-film.
“Kok aa milih kuda yang ini? Kan ada kuda lain yang berwarna putih dan terlihat keren.” Protes Disa. Karena menurutnya Kean memilih terlalu cepat.
“Karena dia memperhatikan kedatanganku. Dia pasti jatuh cinta pada pandangan pertama terhadapku, hanya perlu di yakinkan.” Terang Kean dengan jumawa.
Iya sih, ya siapa juga yang tidak akan jatuh cinta pada pemilik wajah dengan karakter sempurna terlebih memiliki pembawaan yang berkharisma dan keren. Disa saja tidak bisa menolaknya apalagi kuda.
“Kamu korban dunia khayal para wanita. Seorang pangeran dengan kuda putihnya. Begitu bukan?” ledek Kean. Ternyata suaminya bisa membaca apa yang ada di benaknya.
“Hehehe… Kok aa tau sih.”
“Uda bisa aku tebak. Semua wanita kan seperti itu, berharap bertemu dengan seorang pangeran yang akan menyelamatkannya dari sebuah kastil tua. Selamat, kamu termakan dongeng.” Kean mencolek hidung Disa dengan gemas.
“Iihh.. Aa… Nggak lah aku gak kayak gitu.” Wajah Disa langsung merona.
“Tapi bayangan seperti itu ada kan di kepala kamu?” Kean menatap Disa lekat. Senyumnya yang tipis selalu berhasil membuat Disa berdebar.
“I-Iya tapi, aku gak percaya kalau pangeran berkuda putih akan tiba-tiba datang dalam hidupku. Yang mereka selamatkan adalah para tuan putri, bukan seseorang sepertiku.” Lirih Disa.
Ya, mana ada seorang pangeran menyelamatkan seorang pelayan bukan? Akan hancur imajinasi anak-anak tentang jodoh pangeran adalah seorang tuan putri.
“Kamu salah, mereka bukan menyelamatkan tuan putri. Tapi menyelamatkan wanita yang mereka cinta. Terlepas dia seorang tuan putri atau bukan.” Sahut Kean dengan ringan.
Sejenak ia menatap Disa yang terlihat terkejut mendengar ucapannya. Wanita itu terlihat menarik saat sedang berfikir keras.
“Hehhehee… Iya kali ya..” mungkin Kean salah satunya.
“Ya udah, kamu juga pilih kuda. Kuda yang itu kayaknya jinak.” Kean membawa Disa menghampiri seekor kuda berwarna krem dan coklat. Seperti masih cukup muda di banding kuda pilihan Kean.