Marry The Heir

Marry The Heir
Introgasi mamah



Butuh udara segar, mungkin ini lah yang di rasakan Disa saat ini. Ia perlu untuk menghirup udara baru selain oksigen yang ia hirup terus menerus dari rumah Kean yang mulai terasa pengap. Banyaknya masalah membuat ia tidak bisa berfikir jernih. Menangispun tidak lantas membuat perasaannya lega. Mungkin ia perlu pergi sejenak, menghirup udara luar yang bisa mengalihkan pikirannya yang buntu.


Beruntung Arini menyuruhnya untuk membeli beberapa barang di minimarket. Seperti anak kecil yang di suruh jajan, Disa langsung pergi menuju minimarket dengan sepedanya. Wajahnya terlihat lebih ceria karena seperti mendapat kesempatan untuk merubah suasana hatinya.


Udara malam yang mulai dingin membuat rambut-rambut halus di tangannya meremang. Ia menarik jaket di lengannya untuk menutupi jari-jari tangannya yang mulai pucat kedinginan.


Disa memilih untuk berbelanja di minimarket yang berada di pusat town house. Selain lebih dekat, ia merasa ini lebih aman. Dari tempatnya berdiri, ia bisa melihat taman town house yang sudah sepi dan hanya di terangi lampu taman yang menyala kekuningan. Ada beberapa lampu-lampu kecil yang menyala kerlap kerlip seperti bintang jatuh yang mendarat di atas pohon. Cukup menyenangkan untuk di lihat karena selain menenangkan juga membawa sedikit keceriaan.


Andai waktunya banyak, mungkin akan menyenangkan kalau ia duduk-duduk di taman sambil menikmati minuman hangat.


“Ingat disa, jangan lama!” ia mengingatkan dirinya sendiri. Pesan itu yang Arini ucapkan beberapa kali. Seolah wanita itu mencemaskan Disa, khawatir jika sesuatu terjadi padanya.


Mengambil keranjang di depan pintu, sapaan pegawai mart bersaudara menjadi hal yang cukup hangat. Disa hanya tersenyum membalas sapaan gadis manis berkerudung biru itu. Ia mengeluarkan note dari dalam saku jaket dan melihat kembali catatan belanjaan yang dipesankan Arini.


Mulai dari membeli pembalut tipis karena nyonya besarnya sudah mendekati Menopause sehingga menstruasinya hanya sedikit. Lanjut pada membeli bahan pasta untuk tuan mudanya, tidak lupa minuman ringan yang biasa di nikmati Kean dan terakhir spons cuci piring.


Sebuah tangan kekar nyaris bersentuhan dengannya saat ia hendak mengambil beberapa botol kecil minuman dan Disa refleks menjauh.


“Sorry,” ujar sebuah suara yang cukup di kenal Disa.


Disa langsung menoleh, “Kak reza?” cukup terkejut karena melihat Reza berada di minimarket yang sangat jauh dari rumahnya.


“Hay, belanja juga?” melirik keranjang yang di pegang Disa.


Entah sudah berapa lama mereka tidak bertemu apalagi berbincang. Padahal dulu Reza sangat rajin menghubunginya. Paling tidak, sapaan selamat pagi dan sebelum tidur menjadi pesan wajib yang ia kirim pada Disa.


“Em iya, ini pesanan nyonya arini. Kak reza beli apa?”


“Em ini?” mengacungkan sebotol minuman panas dalam yang di ambilnya random.


“Apa harus sejauh ini? Di mini market lain yang lebih dekat dari rumah kak reza juga ada kan?” tembak Disa seraya mengernyitkan dahinya. Terlalu aneh menurutnya, jauh-jauh ke minimarket ini hanya untuk membeli minuman untuk panas dalam.


“Hehehehe.. Ketauan ya kalo aku bohong.” Reza menaruh kembali minuman di tangannya yang memang tidak ada niatan untuk ia beli. Berganti mengambil minuman berbahan dasar kopi. Memang kedatangannya bukan untuk membeli minuman ini. Ia ingin bertemu Disa dan memastikan kabarnya baik-baik saja.


Disa hanya menggeleng, Reza masih sama, tidak pandai berbohong.


“Kamu mau? Kita bisa nikmati sama-sama di depan sana.” Menunjuk ke arah taman yang tadi di pandangi Disa.


Sedikit berfikir tapi kemudian, “Boleh.”


Anggap saja ini kesempatan yang baik untuk sedikit mengurangi beban pikirannya. Ia membutuhkan teman untuk bicara atau paling tidak menemaninya saat ia merasa sendirian.


“Okey.” Reza langsung tersenyum lega. Mengambil dua kaleng kopi instan dan membawanya ke kasir. Disa mengekori dari belakang dengan keranjang kuning di tangannya.


Mereka membayar belanjaan masing-masing kemudian keluar minimarket untuk menuju taman. Mereka memilih sebuah bangku panjang di tepian taman untuk duduk-duduk santai walau pada kenyataannya tidak ada kata santai saat mereka masih merasa canggung.


Malam yang sudah cukup larut, membuat tidak banyak orang yang berlalu lalang. Hanya serangga kecil yang beterbangan mendekati cahaya lampu temarang. Di tangan masing-masing menggenggam sekaleng kopi.


“Aku bukain.” Reza mengambil kembali kopi di tangan Disa dan membukakan penutupnya.


“Makasih kak.”


“Hem, sama-sama.” Sahutnya.


Mereka sama-sama meneguk kopi yang ada di tangan mereka dan menikmati rasa manis bercampur sedikit pahit. Efek cafein memang langsung terasa, fokus dan kewaspadaan mereka meningkat dengan cepat.


“Gimana kabar kamu?” pertanyaan pertama yang sudah sangat ingin Reza tanyakan pada Disa.


Mendengar kabar perjodohan Kean dan Clara membuat Reza langsung teringat Disa. Ia memikirkan bagaimana perasaan Disa saat ini, mungkin takut, sedih, patah hati atau perasaan lainnya yang sudah bisa Reza perkirakan.


“Baik.” Jawaban Disa terdengar pelan. Ia memandangi kopi yang ada di tangannya dengan segaris senyum yang bisa Reza tebak maknanya.


Disa tahu, Reza bukan benar-benar bertanya kabar kesehatannya, tapi kabar hatinya yang saat ini sedang galau.


Reza menoleh Disa dan menatapnya sejenak. Entah mengapa selalu ada gejolak perasaan yang tidak bisa ia kendalikan saat melihat gadis ini. Ia masih sangat peduli pada Disa. Benar-benar sangat peduli hingga rasa kesedihannya membuat Reza merasakan sesaknya.


“Kalau ada yang mau kamu ceritakan, aku bisa dengerin. Aku masih reza yang sama, yang bersedia menemani kamu untuk alasan apapun.” Ia mencoba menegaskan kehadirannya. Ia ingin menghapus rasa canggung yang ada antara ia dan Disa.


Disa menoleh dengan segaris senyum. Hanya beberapa saat sampai kemudian ia memandangi lagi nyala lampu yang kekuningan di tambah kerlap kerlip lampu warna warni yang cukup menyegarkan penglihatannya.


Saat ini tidak ada yang ingin ia ceritakan. Ia hanya ingin seperti ini, terduduk tenang, tanpa banyak berfikir dan menikmati kopi yang ada di tangannya. Biarkan saja waktu merambat pelan, detik demi detik berganti, siapa tahu kelak ada keputusan yang bisa ia ambil untuk menghadapi semuanya.


Terkadang, kita hanya perlu di temani tanpa perlu di tanya atau di beri nasihat.


Sebuah helaan nafas berat terdengar jelas dari mulut Disa. Reza menolehnya namun kemudian ia hanya tersenyum. Disa yang ada di sampingnya saat ini adalah Disa yang berbeda. Disa yang berusaha tidak banyak berfikir dan mencemaskan banyak hal. Namun ia tahu Disa merasakan sedikit ketakutan.


Mungkin hanya perlu seperti ini, menemani Disa memahami perasaannya sendiri agar ia lebih kuat menghadapi waktu-waktu berikutnya.


****


“Mah, mana disa?” kepulangan Kean langsung berbuah pertanyaan saat ia tidak melihat Disa di rumahnya.


“Disa lagi ke minimarket nak. Kamu butuh sesuatu?” Arini segera menghampiri putranya yang tampak celingukan.


“Nggak mah. Disa ke minimarket mana? Sendirian?”


Ekspresinya berubah cemas, seperti mengkhawatirkan sesuatu.


Ia segera mengeluarkan ponselnya dan melihat posisi Disa. Sial, ponselnya tidak di bawa.


“Minimarket town house. Kamu kenapa sih sayang, pulang-pulang kok langsung nanyain disa? Cemas banget kayaknya,” Arini balik bertanya, jadi penasaran melihat ekspresi wajah Kean yang berubah kalut.


“Kebiasaan dia kalo pergi gak bawa hp.” Pria tampan ini malah mendengus kesal.


“Kean, ada ada sih? Sini duduk dulu. Disa bisa jaga diri kok, gak usah secemas itu.” Arini menarik tangan putranya untuk duduk di sofa.


Kean menurut tapi tidak lantas merubah raut wajahnya yang dingin. Ia mengguyar rambutnya dengan kasar lantas mengusap wajahnya yang di akhiri helaan nafas dalam.


Arini memandangi putranya yang cemas sekaligus kesal. Seperti ada ketakutan yang ia simpan.


“Kamu belum mau cerita apa-apa sama mamah? Mamah nungguin loh. Ini mamah bingung, sebenarnya kamu kenapa? Muka di tekuk, over protecting sama disa dan tiba-tiba bolak-balik singapura di hari yang sama, udah kayak mau ke tanah abang aja seharian PP.”


Arini sudah tidak bisa menyembunyikan rasa penasarannya. Tidak biasanya ia melihat Kean seperti ini.


“Tidak seharusnya disa keluar sendiri.” Hanya gumaman itu yang kemudian Arini dengar.


“Loh kenapa? Disa bukan anak kecil. Dia bisa pergi sendiri. Lagi pula deket nak, cuma ke minimarket.” Kecemasan Kean mulai tidak beralasan pikir Arini. “Kalau ada sesuatu, cerita sama mamah. Kamu bahkan belum cerita masalah perjodohan kamu sama Claire. Dan kinar, tumben-tumbenan gak laporan sama mamah.”


Kekesalannya beralih pada wanita kepercayaannya di rumah utama. Selama beberapa hari ini tidak ada pesan atau panggilan yang ia terima dari Kinar. Padahal biasanya Kinar selalu melaporkan hal sekecil apapun pada Arini, tapi di waktu yang penting ia malah bungkam.


Mendengar pertanyaan Arini, Kean jadi berfikir sendiri. Jujur ia bersyukur saat Arini pergi ke Malaysia bersama teman-temannya. Ia tidak perlu mencemaskan Arini melihat dan mendengar apapun yang terjadi di sini. Ia tidak ingin menambah beban pikiran Arini yang kemungkinan akan mempengaruhi kesehatannya. Prognosis Kesehatan Arini sudah sangat baik dan Kean tidak ingin merusaknya. Dan Kinar, sepertinya memiliki pemikiran yang sama dengannya.


“Papah pernah nyulik disa.” Kalimat itu menjadi kalimat awal yang terdengar menakutkan. Masih teringat jelas kekalutan saat ia mengejar mobil yang membawa Disa.


“APA?!” Arini berseru tidak percaya. Ia tahu suaminya memang seseorang yang keras tapi tidak menyangka kalau bisa melakukan kejahatan seperti itu.


Kean terangguk pelan. Sudah bisa ia tebak kalau reaksi ini yang akan muncul.


“Bagaimana bisa? Terus disa gimana? Kok papah kamu bisa ngelakuin itu?” pertanyaan beruntun yang kemudian ia lontarkan.


“Semuanya terjadi waktu kean dan disa pulang dari bandung. Papah nyuruh om marwan ngerahin akan buahnya buat nyulik disa. Kean juga gak nyangka papah bisa melakukan hal seperti itu.”


Arini masih tidak habis pikir. Ia masih sangat terkejut dengan apa yang dilakukan suaminya.


“Setelah kejadian itu, kean tau disa pasti trauma. Kean dengar dia nangis malam-malam habis solat. Kean bener-bener ngerasa bersalah karena membuat disa masuk ke masalah keluarga kita.” Ujar Kean penuh sesal.


Bisa terbayang bagaimana ketakutan yang dirasakan Disa saat itu. Gadis polos yang selalu ceria, pantas saja kalau sekarang lebih banyak diam dan tidak banyak bicara. Rupanya ketakutannya belum sepenuhnya hilang.


“Terus, luka-luka ini, apa papah kamu yang melakukannya?” perhatian Arini beralih pada beberapa luka lebam di wajah Kean. Sudah samar namun belum sepenuhnya hilang.


“Bukan mah, papah gak nyentuh kean sedikit pun. Ia kean berantem sama orang-orannya om marwan.” Bagaimana pun kean harus menjaga pandangan baik Arini pada suaminya.


Terlihat Arini menghela nafas lega. Seperti sebagian kecemasannya hilang karena ternyata bukan Sigit yang tega memukul putranya.


“Lalu, perjodohan kamu dengan clara?” suara Arini terdengar berat. Mengucapkan kata perjodohan seperti membuka ingatannya pada apa yang terjadi antara ia dan Sigit. Ia masih merasakan keengganan itu. Walau pada akhirnya ia bisa menerima kehadiran Sigit sebagai suaminya dan mulai merasakan cinta.


“Kean udah nolak langsung perjodohan kean sama Claire. Tapi sepertinya papah dan om brata masih belum bisa terima. Mereka tetap melanjutkan perjodohan ini dengan atau tanpa persetujuan kean?”


Terdengar hembusan nafas kasar dari Arini dengan wajah yang berubah sendu. Jawaban Kean seperti sudah ia duga.


“Ya begitulah papah kamu. Dia sudah tau kesalahannya selama ini apa, tapi malah di ulang.”


Arini meraih tangan putranya untuk kemudian ia genggam dengan erat.


“Tapi mamah setuju kamu menolak perjodohan kamu dengan claire. Mamah mendukungnya.” Arini dengan penuh keyakinan.


Kean sedikit mengernyitkan dahinya. “Bukannya mamah sangat menyukai claire?” entah apa yang membuat pikiran Arini berubah. Padahal dulu, ia bilang Clara adalah sosok menantu ideal untuk para ibu.


“Ya tapi itu sebelum mamah tahu seperti apa claire sebenarnya.” Wajah Arini menunjukkan kekecewaan. Ingatannya memutar kembali bagaimana Clara memperlakukannya selama di Amerika.


“Waktu kamu masih di amerika, claire menunjukkan sikapnya yang menyenangkan. Sering berkunjung dan membawakan mamah makanan.”


“Tapi setelah kamu pulang, sikapnya berubah. Mamah baru tahu kalau claire wanita bersumbu pendek. Bisa seharian pelayan dia omeli hanya karena kesalahan kecil. Beberapa perawat yang menjaga mamah sering kali ganti karena tidak terima dengan perlakuan claire terhadap mereka.”


“Kalau tidak ada kerjaan dia seharian hanya rebahan di kamarnya setelah semalaman mabuk-mabukan dengan teman-teman modelnya. Salah satu pelayan bahkan pernah bilang kalau ia melihat clara melakukan panggilan video dengan laki-laki cuma pake underwear dan bicara ngelantur kemana-mana.”


“Ya mamah tau, kehidupan claire itu bebas. Dia juga mungkin punya pacar dan hal seperti itu wajar di negara barat. Tapi bagaimana pun, seorang wanita harus tetap menjaga kehormatannya dimana pun dia tinggal.”


“Pernah suatu Ketika, saat claire pulang dini hari dan mabuk, dia dateng sama temennya. Dia teriak-teriak. Dia bilang hidupnya membosankan karena harus mengurus bayi tua. Dan mamah sadar, kalimat itu dia tujukan sama mamah.”


“Mamah bersyukur marcel ngajak mamah pulang. Apapun alasannya, tapi mamah lebih bahagia karena bisa berkumpul dengan anak mamah lagi.”


Tanpa terasa air mata Arini menetes. Selama Kean tidak ada di sisinya, hidupnya di Amerika terasa seperti di neraka. Sempat beberapa kali ia berfikir untuk mengakhiri hidupnya agar tidak merepotkan orang lain. Tapi ia berusaha bertahan dengan harapan suatu hari Kean akan membawanya pulang.


Mendengar cerita Arini Kean jadi merasa menyesal. Harusnya saat itu ia tidak meninggalkan Arini. Seharusnya ia bisa menjaga Arini lebih baik lagi. Membiarkan Arini melewati masa sulitnya sendiri, tentu bukanlah hal yang mudah.


“Maafin kean mah. Harusnya kean bisa lebih menjaga mamah. Menghadapi ancaman papah dan menyelesaikan semuanya dengan cepat.” Kean mengeratkan genggaman tangannya pada Arini.


“Iya sayang,.. Itu semua bukan salah kamu. Mamah udah jadi beban buat kamu dan bikin kamu harus selalu menuruti apapun keinginan papah.”


“Sekarang kamu udah dewasa, kamu memiliki tanggung jawab terhadap diri kamu sendiri.”


“Lakukan yang menurut kamu benar, jangan ragu. Mamah akan selalu mendukung kamu.”


Arini mengusap wajah putranya yang terlihat lelah. Memar di wajahnya masih cukup terlihat walau tidak menutupi ketampanannya. Namun tetap saja, hati ibu mana yang tidak sedih melihat putra yang sangat ia sayangi harus mengalami hal seperti ini.


“Makasih mah, makasih banyak.” Kean meraih tangan Arini lantas mengecupnya dengan lembut. Ia sangat bersyukur karena Arini selalu menguatkannya.


“Oh iya, mamah jadi pengen nanya, kenapa kamu nolak di jodohin sama clara? Padahal clara itu tipe ideal seorang wanita loh. Cantik, pintar, badannya bagus, berprestasi lagi.” Arini mencoba menelisik perasaan putranya.


Berteman dengan seorang gadis cantik tentu banyak godaannya namun Kean seperti tidak terpengaruh oleh pesona Clara dan hal itu membuatnya penasaran.


“Ya, karena kean gak punya perasaan apa-apa buat claire. Masa kean nikahin wanita yang nggak kean cinta.” Sahutnya dengan polos.


“Cinta? Sejak kapan anak mamah tau cinta? Dan siapa gadis yang bikin kamu tahu cinta?” pancing Arini dengan senyum tertahan. Ia jadi gemas sendiri melihat Kean yang salah tingkah di hadapannya.


Tidak pernah sebelumnya ia dan Kean membahas masalah seperti ini tapi saat mendapat kesempatan, ternyata jadi hal yang menyenangkan untuk ia menggoda putranya.


“Mah, kean udah dewasa. Masa ngobrolin hal kayak gini sama mamah.” Wajahnya sedikit memerah dan ia tidak berani menatap Arini.


“Loh kenapa? Bukankah setiap ibu itu cinta pertama putranya? Mamah harus tau dong siapa saingan mamah sekarang. Hem?” Arini menaik turunkan alisnya menunggu jawaban Kean.


Kean malah senyum-senyum sambil mengusap tengkuknya canggung. Rasanya sangat malu kalau ia harus mengakui ini secara langsung di depan Arini.


“Em, dia..” Kean menatap Arini dengan ragu.


“Iya, siapa?” Arini semakin tidak sabar.


“Duh mah, bisa nanti aja gak ngobrolnya?” Kean kembali melengos. Keberaniannya masih belum cukup besar, ia hanya menggaruk kepalanya walau tidak gatal.


“Ih kamu mah, mamah nungguin tau.” Gemas juga Arini sampai memukul lengan putranya. Kean hanya terkekeh karena berhasil mengerjai ibunya.


“Dia,”


“Assalamu ‘alaikum..” sebuah suara di pintu mengalihkan fokus Kean dan Arini.


Terlihat Disa yang membuka pintu dengan satu keresek belajaan di tangannya. Syukurlah, Kean bisa menghela nafasnya lega. Lega karena berhasil keluar dari zona introgasi Arini juga lega karena melihat Disa pulang dalam keadaan baik-baik saja.


“Wa’alaikum salam.” Kean dan Arini kompak menyahuti.


Yang membuat terkejut adalah ternyata Disa tidak datang sendiri. Ada seseorang yang ikut di belakangnya.


“Malem tante, bro!” sapa Reza yang masuk menghampiri Kean dan Arini.


Raut wajah Kean berubah dengan cepat. Bagaimana bisa selarut ini Disa pulang dengan Reza?


Mereka bertemu dimana? Atau mungkin janjian?


Kean langsung menatap Disa dengan tajam dan yang di tatap berusaha menghindar dengan menghampiri Arini. Keberaniannya langsung menciut kalau harus menghadapi sang singa yang sedang cemburu dan butuh penjelasan.


****