
“Jangan mempermainkan perasaan orang lain.” Kalimat itu terus berulang di pikiran Disa setelah kejadian semalam yang ia lewati bersama Reza.
Sambil menyiapkan sarapan, pikirannya melanglang buana mengingat kejadian yang tidak terlalu nyaman untuknya.
Semalam saat dalam perjalanan pulang, tiba-tiba ban mobil Reza pecah. Beruntung Reza tidak memacu kendaraannya dalam kecepatan tinggi sehingga ia masih bisa mengendalikan laju mobilnya dan menepi tanpa ada kejadian ikutan yang lebih parah.
Di tepi jalan mereka terdiam, Reza memeriksa ban mobilnya dan ternyata ia harus menggantinya. Sayangnya ia lupa membaca ban cadangan. Entah kemalangan apa lagi yang harus mereka alami setelah mengalami perdebatan tidak penting di pesta tadi.
Satu deringan telpon terasa menjadi penyelamat bagi mereka berdua.
“Iya len?” Reza langsung menjawab panggilan tersebut yang ternyata dari Ellen. Berusaha untuk tidak mendengar tapi Disa bisa mendengarnya dengan jelas.
“Aku di jalan baru pulang. Tapi ban mobilku pecah.”
“Gak pa-pa. Aku berdua bareng temen.”
Seketika Disa menoleh. “Teman.” Gumamnya. Rupanya seperti itu cara Reza memperkenalkan ia pada orang-orang.
Reza melanjutkan perbincangannya dengan Ellen dan di akhiri dengan janji Ellen akan datang menjemput mereka.
Tidak sampai 10 menit sampai Ellen tiba di tempat mereka. “Za!” serunya setelah menurunkan kaca mobilnya.
“Oh, Len!” Reza menyahuti dan menghampiri Ellen. Sementara Disa masih mematung di dekat mobil. Reza membukakan pintu mobil untuk Ellen seperti yang ia lakukan pada Disa.
“Kenapa gak nelpon dari tadi? Padahal aku juga langsung pulang begitu acara selesai.” Ujar Ellen. Mereka berjalan beriringan menuju mobil. “Oh kamu bareng disa?” sepertinya Ellen cukup terkejut.
“Selamat malam bu.” Sapa Disa pada Ellen.
“Malam. Jangan manggil ibu dong, saya belum setua itu loh.” Sahutnya dengan senyum cantik yang memperlihatkan barisan gigi putihnya.
“Oh iyaa, maaf.”serba salah jadinya.
“Di mobil saya ada jaket satu lagi. Barangkali mau kamu pake, supaya gak masuk angin.” Ellen memperhatikan Disa yang masih mengenakan gaunnya. Ia menyilangkan tangannya untuk memeluk tubuhnya sendiri yang terasa dingin di tiup angin malam.
“Astaga sampe lupa.” Dengus Reza. Ia baru ingat kalau Disa menggunakan gaun yang tipis. Dengan segera Ia melepaskan blazernya dan menyampirkannya di tubuh Disa. “Jangan sampe sakit ya.” Imbuhnya.
Disa hanya mengangguk, duduk di pinggiran jalan dan menunggu Reza yang masih berbincang dengan Ellen.
Mobil memang tidak bisa di perbaiki sekarang. Sudah terlalu malam untuk menelpon orang bengkel. Akhirnya Mereka memutuskan untuk pulang dengan mobil Ellen.
Ia duduk sendiri di belakang dan sepanjang jalan mendengarkan perbincangan Reza dengan Ellen yang tampak asyik. Tidak satu frekuensi, itu yang dirasakan Disa. Ia hanya menyimak tanpa sekalipun terlibat dalam obrolan Ellen dan Reza hingga mereka tiba di rumah Kean.
Sepertinya memang tidak seharusnya ia ikut ke pesta. Ini bukan temapat yang bisa ia datangi dengan orang yang tepat.
“DISA!”
“YA SAYA!”
Refleks nya selalu paling bagus saat Kean memanggil namanya. Ia segera menaruh pisau yang di genggamnya, mencuci tangan lantas berlari menghampiri Kean.
“Iya tuan. Ada yang bisa saya bantu?” ujarnya yang masih terengah.
Kean menunjukkan dasinya yang belum ia pakai. Sudah lama rasanya Disa tidak memasangkan dasi untuknya.
“Baik tuan.”
Disa segera mendekat, mengambil bangku kecil yang biasa ia pijak agar tinggi tubuhnya bisa mengimbangi Kean.
Melingkarkan dasi di leher Kean dan tangannya dengan telaten mengatur letak dasi.
Sementara Kean masih memandangi wajah Disa yang berada di bawahnya.
Ada hal yang mengganggunya. Entah mengapa ia mulai tertarik untuk memperhatikan detail wajah Disa. Harus ia akui, melihat Disa lebih dekat telah mengubah penilaiannya tentang wanita cantik. Dulu standarnya, wanita cantik itu berkulit putih, dengan bibir tipis yang berwarna merah di hiasi gincu. Alisnya tebal dan rapi dengan mata sedikit sipit sehingga saat tersenyum seperti bulan sabit. Lantas garis wajahnya tegas dengan hidung yang tinggi menjulang, seperti artis china Xiao yi fei. Begitu tipe wanita cantik versi Kean yang ada di kepalanya.
Tapi kali ini seleranya berubah. Bukan mata yang sipit yang ia sukai tapi mata bulat yang menatapnya hangat. Bukan pula bibir tipis yang ia sukai melainkan bibir berisi yang selalu tersenyum padanya.
Ia sadari Disa telah mengubah banyak hal. Mulai dari cara pandangnya hingga kepeduliannya pada orang lain. Perlahan dan tidak terasa namun ia sadari, banyak hal yang berubah dari dirinya karena Disa.
“Aku menemuinya.” Tiba-tiba saja Kean mengatakan dua kata itu.
Sejak semalam, orang pertama yang ingin ia jumpai setelah kejadian di siang hari adalah Disa. Ia ingin bercerita banyak hal dan mendengar apa pendapat Disa tentang langkah yang ia ambil. Belakangan ini pendapat Disa menjadi penting untuknya.
“Iya tuan?” Disa mengernyitkan dahinya, tidak terlalu paham dengan maksud Kean.
“Papah. Aku menemuinya.” Ia melengkapi kalimatnya. Wajahnya tidak lagi sendu saat mengingat sosok yang disebutkannya.
Disa tersenyum tipis lantas melanjutkan untuk mengikat dasi Kean.
“Lalu, apa yang anda rasakan tuan?” tanyanya seraya menatap Kean yang masih memandanginya. Ada rasa bangga saat mendengar Kean mulai melangkah maju menghadapi hal yang membuatnya merasa marah dan sakit selama bertahun-tahun.
“Takut.” Akunya seraya menghela nafas dalam. “Tapi lega.” Imbuhnya. Ia menghembuskannya pelan seperti berusaha mengurai beban yang ia rasakan.
“Papah memintaku untuk meneruskan perusahaannya, suatu hal yang paling tidak aku inginkan. Tapi entah mengapa aku menerimanya begitu saja."
"Satu-satunya alasan adalah karena papah terlihat sangat lelah dan membuatku cemas.”
“Dia memintaku saat aku lengah, saat aku luluh dan dengan cara yang ia tahu, kalau aku tidak akan menolaknya. Lalu, apa aku bisa disa?”
keraguan kembali memenuhi perasaannya. Di satu waktu ia mulai terbuka hingga tanpa sadar Ia mulai merubah panggilannya sendiri. Terdengar lebih mendekat seolah tengah mengikis jaraknya dengan Disa.
Mendekat pada seseorang dan menaruh kepercayaannya pada orang asing, bukan perkara yang mudah bagi Kean. Ketakutannya terlalu besar jika suatu saat ia menaruh kepercayaannya pada orang lain namun kemudian orang itu mengabaikannya seperti Sigit yang mengabaikannya begitu lama.
Tidak hanya menakutkan tapi menyakitkan. Lebih dari itu ia tidak ingin merasakan lagi kekecewaan.
“Saya percaya anda bisa tuan.” Disa menyelesaikan pekerjaannya lantas mengusap dada Kean agar kemejanya terlihat rapi.
Begitu yakin kalimat itu diucapkan Disa seolah memberi Kean kekuatan yang lebih untuk melangkah.
“Aku belum tau. Lift di kantor pusat tidak memiliki mural seperti yang kamu buat di kantorku.” Ia terlihat cemas saat mengingat kelemahannya sendiri. “Kemarin aku naik tangga darurat 6 lantai saat akan menuju ruang rapat di kantor pusat.” Akunya, merutuki kelemahannya sendiri.
“Kenapa tuan tidak mencoba naik lift saja? Mungkin saja sensainya berbeda.”
Kean menggeleng. “Aku terlalu takut. Otakku seperti otomatis mengingatkanku pada kejadian itu.” Sedikit termenung seperti tengah meraba perasaannya sendiri.
“Apa tuan tahu, sebenarnya saya memanipulasi anda.” Cetus Disa seraya turun dari bangkunya, membuat jarak mereka merenggang.
“Maksudnya?”
Disa mengambil jas Kean lantas memakaikannya. Kean dengan tidak sabar mendengar penjelasan Disa. Setelah Kean rapi, Disa kembali berdiri di hadapan Kean.
“Mural yang saya buat sebenarnya memanipulasi anda, tuan.” Akunya dengan yakin.
“Saya membuat seolah mural itu jalan keluar dari ketakutan anda. Tanpa anda sadari, lift tetaplah lift yang mungkin bisa seaktu-waktu berhenti dan mengurung anda tanpa ada yang bisa menolong.”
“Saya memanipulasi pikiran anda tuan. Padahal seharusnya saya membantu anda menghadapi rasa takut anda, bukan mengalihkannya.”
“Saya memiliki keyakinan, setiap ketakutan di masa lalu harus disembuhkan seluruhnya. Karena saat kita masih menyimpan rasa takut di hati kita, kita tidak akan pernah bisa melangkah maju.”
“Dan seharusnya, saya membantu tuan menyelesaikan rasa takut itu. Bukan menekannya dan menyisakan ketakutan untuk anda.”
“Jadi mulai sekarang, hadapilah. Percayalah, tuan bisa masuk ke lift mana pun tanpa rasa takut. Jangan sisakan sedikitpun rasa takut yang akan menyiksa tuan sendiri.” Tandas Disa dengan tatapan laman pada Kean.
Ia tahu, tidak semudah itu mengatasi rasa takut dan kesakitan. Namun Kean sudah melangkah sejauh ini. Maka tidak mungkin Kean tidak bisa menghadapi traumanya karena buktinya, ia telah berhasil untuk mengesampingkan egonya dan melupakan rasa sakitnya saat menghadapi Sigit.
Kean hanya terdiam, berusaha mencerna apa yang Disa katakan. Ia tidak menyangka, hal kecil yang Disa lakukan memiliki banyak arti dan maksud.
Jika Disa bilang yang ia lakukan adalah sebuah manipulasi, baginya ini awal keberanian untuk memulai sesuatu yang baru.
"Tolong tetaplah di sini dan perlahan saja bantu aku menghilangkan rasa sakit ini." batin Kean seraya menatap Disa. Ia sangat berharap bisa melupakan rasa sakitnya namun jika kemudian ia bisa mengendalikan perasaannya, apa Disa masih mau tetap berada di sini?
“Saya sudah menyiapkan sarapan. Tuan bisa turun kalau sudah selesai.” Ujarnya mengakhiri perbincangan mereka.
Kean masih terdiam, memandangi Disa hingga berbalik lalu menghilang di balik pintu. Ia tersenyum sendiri seraya mengguyar rambutnya. Kenapa pagi terasa begitu indah dan mendebarkan?
*****
Hari yang baru dengan jabatan baru sedikit membuat bahu Kean terasa berat. Seperti ada ribuan kilo beban yang di tambahkan di pundaknya. Ia masih pergi ke kantor lamanya, untuk membereskan pekerjaannya sebelum memulai pekerjaannya di kantor baru.
Para karyawan yang berpapasan dengannya kompak membungkuk memberi hormat. Ternyata jabatan baru menambah ketakutan baru bagi para karyawannya. Terlihat mereka mencoba mencari perhatian agar tetap di nilai sebagai karyawan yang berprilaku baik. Kemana saja mereka selama ini, bukankah mereka selalu menyepelekan kemampuan Kean sebagai pemimpin perusahaan?
Miris, itu yang di rasakan Kean saat ini. Mereka berusaha bersikap lebih baik saat menyadari kalau Kean memiliki kekuasaan penuh atas perusahaan.
Di depan lift ia berdiri, menunggu pintu lift terbuka. “Kamu naik lift yang lain.” Titahnya pada Roy.
Roy memperhatikan Kean yang berbicara tanpa menolehnya, seperti tengah memikirkan sesuatu. Dari sikpanya, rasanya ia paham alasan Kean menyuruhnya menggunakan lift yang lain. “Baik tuan,” sahutnya.
“Ding!” pintu lift terbuka dan Kean segera masuk. Ia tersenyum sendiri saat melihat mural yang di gambar Disa. Mengusap dinding lift perlahan, kelak ia akan merindukan lukisan awan-awan ini.
Ada rasa tidak siap kalau ia harus meninggalkan kantor yang selama ini menjadi saksinya memulai semua langkah dari awal yang penuh kesulitan dan keraguan. Masih teringat jelas bagaimana jantungnya begitu berdebar saat mendapat kejutan dari Disa. Saat ini pun rasanya masih sama. Semakin di pikirkan semakin terasa pentingnya Disa di dekatnya.
Pintu lift kembali terbuka, menunggunya keluar dari ruang sempit ini. Jika yang Disa lakukan ini di sebut sebagai manipulasi maka ia akan sangat berterima kasih. Baginya, manipulasi ini cukup memberinya kekuatan secara perlahan.
“Silakan tuan.” Roy sudah tiba lebih dulu dan menyambutnya di depan pintu ruangan. Membukakan pintu untuk Kean dengan penuh kebanggan.
Kean memandangi ruangannya dengan perasaan yang bergejolak. Siang ini, ia harus membiarkan ruang ini di isi oleh orang lain. Ia tidak bisa lagi menikmati wangi ruangan dari aromaterpai yang di siapkan Disa. Rasanya tidak rela kalau orang lain mengambil kenyamanan ruangan ini dan merasakan hal yang sama dengannya.
“Roy.” Panggilnya pada Roy yang berdiri beberapa langkah saja darinya.
“Ya tuan.” Mendekat untuk menunggu perintah tuan mudanya.
“Bisakah kalau ruangan ini tidak di gunakan oleh orang lain?” tanyanya tiba-tiba.
“Maksudnya oleh pengganti anda tuan?” Roy memperjelas pertanyaan Kean.
Kean terangguk lantas kembali memandangi sekeliling ruangannya. Tempat ini terlalu bersejarah dan ia tidak mau membaginya pada orang lain.
“Saya tidak mau orang lain merusak ruangan ini.” Tegasnya seraya menatap Roy. Sepertinya tuan mudanya benar-benar tidak rela.
“Anda tidak ingin orang merusak ruangan ini atau merusak kenangan anda tuan?” batin Roy yang terangguk menyanggupi perintah tuan mudanya. “Baik tuan.” Sahutnya patuh.
Kean beranjak menuju kursi kebesarannya. Terduduk di sana lantas mengusap lengan kursi perlahan, seperti tengah mengingat masa-masa yang ia lewati saat bekerja di kursi ini. Ia pun membuka laci kerjanya, tempat ia menyimpan essensial oil yang di simpan Disa. Mengeluarkannya dan menatanya dengan rapi.
“Saya akan membawa ini.” Ujarnya.
"Dengan humifier-nya tuan?"
"Hem."
“Baik tuan.” Lagi Roy mengangguk patuh.
"Baiklah tuan, apa lagi yang tidak ingin anda bagi dengan orang lain?" batin Roy yang mengikuti langkah Kean kesana kemari.
Rasanya lucu melihat sikap tuan mudanya yang banyak berubah. Lebih banyak berfikir sebelum berbicara, lebih banyak tersenyum dan yang terpenting ia lebih terlihat tenang. Sesuatu yang tidak dimiliki Kean sebelumnya.
Setelah Kean berkeliling kantor dan melakukan perpisahan dengan manajeman di perusahaan ini, ia bergegas ke kantor pusat karena direksi sedang menunggunya.
Inilah saatnya, tugas barunya benar-benar di mulai. Berharap saja semuanya berjalan lancar walau masih harus memimpin dari lantai 2 kantor pusat.
*****