Marry The Heir

Marry The Heir
Semakin merindukanmu



“Mba disa!” seru Shafira saat masuk ke ruang istirahat kontestan.


Ia mendorong kursi roda Arini untuk menghampiri Disa.


“Non fira? Nyonya?” Disa segera mendekat, membawa mereka ke sofa dan terduduk di sana.


“Mba disa, desain mba disa tadi tuh cantik banget! Aku suka!!” Shafira melonjak lalu memeluk Disa beberapa saat.


“Terima kasih non fira. Saya hanya berusaha mendesain yang sebaik mungkin untuk model saya.”


“Tapi seharusnya saya yang lebih berterima kasih, karena non fira dan nyonya mau datang ke sini.” Ungkap Disa kemudian. Ia tidak pernah menyangka kalau nyonya besar dan nona mudanya akan hadir. Benar-benar sebuah kejutan.


“Justru saya yang beruntung, karena memiliki kesempatan melihat kamu berjuang. Tidak semua orang loh memiliki kesempatan itu.” Timpal Arini.


“Terima kasih nyonya.”


Arini meraih tangan Disa lalu menggenggamnya dengan erat. “Kamu yang semangat yaa.. Bagaimana pun hasilnya nanti, kalau tidak di sini, saya yakin kamu akan berhasil di tempat lain.”


Arini mencoba menghibur Disa. Sikap Clara beberapa saat lalu yang tidak terlalu bersahabat, pasti sedikit banyak mempengaruhi rasa percaya diri Disa. Apalagi kalau mengingat perlakuan Clara pada Disa akhir-akhir ini. Terlalu banyak hal berat yang dialami Disa, selain harus membuat desain yang memukau.


“Iya nyonya, terima kasih. Saya anggap, tahap ini adalah pembelajaran. Tidak hanya bagi kemampuan saya tapi juga bagi mental saya.” timpal Disa yang berusaha tenang.


“Betul saya setuju.” Bangga sekali rasanya melihat Disa yang penuh semangat dan tidak pantang menyerah.


“Oh iya mba disa, aku dapet pesan dari temenku di ausie. Dia suka sama baju yang mba disa bikin buat aku. Katanya dia minta di desainin buat acara ulang tahun papahnya. 3 orang, dia, mamahnya sama kakak perempuannya. Gimana?” Shafira menunjukkan layar ponselnya yang berisi pesan sahabatnya pada Disa.


“Untuk kapan non?”


“Bulan depan. Aku bilang, kalau aku bikin baju itu dari desainer pribadi aku. Untuk biaya desain, tiga juta per baju. Dia mau, hehehe… Katanya kalau langsung sama bajunya, kira-kira berapa?”


“Astaga, apa itu gak kemahalan non?” Disa shock sendiri mendengar kalimat Shafira. Ia memang belum bisa membayangkan berapa biaya untuk memuat sebuah desain baju namun tidak menyangka akan semahal itu.


“Kata dia segitu mah murah. Kalo udah jadi desainer terkenal, bisa lebih mahal. Mba disa liat aja berapa harga baju dari desainer. Mahal kan? Inget, ide mba disa itu selalu keren. Pantas di hargai mahal.” Kalimat shafira memang selalu memberinya semangat.


Disa sedikit tercenung memikirkan ucapan Shafira. Jujur ini tidak seperti konsepnya dulu. Ia berharap bisa membuat baju untuk semua kalangan dan tidak semahal ini.


“Tenang, aku ngasih harga segitu karena aku tau siapa temenku. Kan nanti yang bikin beda kualitas bahan yang digunakan. Iya kan tan?” Shafira seperti bisa membaca kecemasan Disa atas harga yang ia tawarkan pada sahabatnya.


“Iya sa. Saya udah liat baju yang shafira pake dan saya pikir, harga segitu worth it kok.”


“Tapi saya bukan desainer terkenal nyonya. Saya masih belajar.”


“Loh memang para desainer terkenal itu gak lagi belajar? Mereka belajar juga sa, hanya saja mereka sudah memiliki nama besar. Dan kamu akan menyusul kemudian.” Arini berusaha meyakinkan.


Untuk beberapa saat ia masih harus berfikir. Entah ini keputusan yang tepat atau tidak, belum dapat ia putuskan.


“Mba, bersiap untuk pengumuman yaa. Kita mulai 5 menit lagi.” Salah satu panitia mengingatkan Disa dari mulut pintu.


“Oh baik mba.” Sahut Disa cepat.


“Udah, sekarang kamu fokus dulu sama acara ini. Masalah tawaran fira, bisa kamu pikirkan nanti. Semangat yaa…”


“Em baik nyonya, non fira. Saya permisi dulu.”


“Semangat mba disa!!!!” Shafira mengepalkan tangannya menyemangati Disa.


Disa melakukan hal yang sama, lantas segera menuju panggung yang menunggunya.


“Tante, kira-kira mba disa masuk tiga besar gak? Aku kok cemas ya. Karya dia bagus banget tapi tanggapan kak Claire, ish aku gak suka!” dengus Shafira dengan kesal.


Ia masih ingat bagaimana tanggapan enteng Clara pada karya Disa padahal ia tahu kalau Disa sudah bersusah payah memikirkan konsep itu dalam puluhan menit saja.


“Ya kita do’akan yang terbaik saja. Dan kita harus percaya, berlian, di rendam lumpur segimana kotornya pun akan tetap jadi berlian. Buktinya, di dalam perut bumi aja dia masih di cari kan?” timpal Arini menenangkan anak tirinya.


“Em iya sih. Ya udah, kita ke ballroom sekarang yuk, aku harus video call lagi sama abang, supaya dia ngeliat langsung gimana penampilan mba disa.” Langsung teringat pada tugasnya untuk melakukan panggilan Video dan membuat Kean merasa ada di tempatnya, ikut merasakan perjuangan Disa.


"Iya, tante juga pengen liat hasilnya."


*******


Waktu yang dinanti tiba. Seluruh peserta di minta naik ke panggung dan mendengarkan pengumuman pemenang. Atmosfer ruangan makin terasa tegang saja, orang-orang saling bersahutan memberikan semangat untuk kontestan yang mereka dukung.


“Waw!! Tegang sekali yaaa. Apa kalian gugup?”


MC bertanya pada para kontestan yang terlihat pucat, harap-harap cemas menunggu hasil pengumuman. Mereka menjawabnya dengan senyuman. Tidak mampu berkata-kata. Jangan di tanya lagi perasaan mereka seperti apa. Antara ingin buang air kecil, buang air besar dan tentu saja ingin semua cepat berlalu.


“Baik, kita akan segera melihat siapa yang masuk ke dalam 3 besar dan berkesempatan mewujudkan desain mereka.”


“Kami telah selesai melakukan perhitungan score terhadap desain dari kontestan. Semua juri telah memberikan nilainya terhadap semua karya secara professional.”


“Di hadapan juri utama, Mba marisa, ada tombol warna merah yang akan di tekan dalam hitungan ke tiga dan saat itu juga, tiga kontestan yang masuk ke tiga besar akan muncul namanya di layar ini berikut perolehan score mereka. Apa kalian siap?”


“SIAP!!!” seru penonton saling bersahutan.


“Baik, kita hitung mundur bersama-sama, tiga, dua, satu YA!”


“TETTT!!!”


Bell di hadapan Marisa di tekan dan tidak lama munculah nama peserta berikut score yang terus merambat naik.


“Kita lihat sama-sama, posisi 3 sudah berhenti, ada Amelia prameswari, posisi dua ada teguh mulyana dan posisi satu, selamat paradisa Sandhya!!!” seru MC yang disahuti sorakan oleh penonton.


Disa yang tidak percaya segera menoleh ke belakang dan benar saja, namanya berada di posisi atas dengan score tertinggi.


Ia tidak pernah menyangka, kalau ia akan lolos di babak ini. Terlihat Shafira yang teriak-teriak namun tidak terdengar karena tergulung suara supporter yang lain. Sementara Damar mengacungkan kedua ibu jarinya ke udara dengan senyum penuh kebanggan.


Disa tidak bisa menahan rasa harunya. Di tatapnya Clara yang bertepuk tangan santai dengan ekspresi wajahnya yang tidak berubah. Hanya senyum tipis saat sesekali teman-temannya ikut memberikan selamat padanya.


“Baik, untuk kontestan yang belum lolos, jangan patah semangat yaa… Masih ada kesempatan lain untuk menunjukkan karya terbaik kalian. Dan bagi para model yang desainernya lolos ketiga besar, silakan untuk naik ke atas panggung mendampingi desainernya masing-masing.”


“Sa, selamat yaa.. Gue bangga sama lo.” Adalah Rianti yang memberinya ucapan selamat sekaligus memeluknya.


“Makasih ri.” Timpal Disa perlahan.


Sayang sekali Rianti tidak masuk ke babak berikutnya padahal ia sangat berharap kalau Rianti akan menjadi salah satu lawannya kelak. Pasti akan menyenangkan bisa sama-sama menujukkan segala potensi yang mereka punya. Namun, ya begitulah sebuah perlombaan. Terkadang hasilnya sulit di tebak.


Masing-masing model sudah berdiri di samping desainernya. Disa memandang takjub pada Clara yang ternyata memeluknya seperti model lain pada desainernya. Entah ini sebuah ketulusan sebagai sebuah ucapan selamat atau hanya sebuah formalitas.


Sampai kemudian terdengar bisikan, “Lo masuk tiga besar, bukan karena gue tersentuh sama deskripsi lo tentang gue. Gue hanya mencoba professional dengan pekerjaan gue saat ini. Jangan sampe lo bikin gue kecewa dengan hasilnya nanti.” Bisik Clara dengan penuh penekanan.


Seperti alarm bagi Disa agar lebih bersungguh-sungguh di tahap berikutnya.


Tidak lama mereka berpelukan sampai kemudian Disa terangguk mengiyakan ujaran Clara.


Clara hanya tersenyum sinis dan itu tidak masalah bagi Disa, karena memang seperti inilah modelnya.


“Baik para kontestan sekalian, sekali lagi saya mengucapkan selamat karena berhasil melaju ke tiga besar.”


“Di babak 3 besar nanti, kontestan akan di berikan waktu satu minggu untuk menyelesaikan 3 looks yang mereka desain.”


“Kontestan akan di karantina selama 7 hari di hotel ini, agar lebih fokus pada kompetisi ini. Dipastikan bahwa baju yang di buat adalah sesuai desain yang diserahkan kepada panitia, kami tidak menerima perubahan desain setelah ini.”


“Penilaian akan dilakukan dengan mekanisme mini fashion show, dimana baju yang di buat akan diperagakan langsung oleh modelnya saat ini.”


“Kami sudah menyiapkan mekanisme penjurian yang adil jadi, selamat mewujudkan desain yang kalian buat.” Terang MC dengan panjang lebar.


Perlombaan hari ini di tutup dengan tepuk tangan meriah. Setiap kontestan menghampiri supporter mereka tidak terkecuali Disa.


Sementara Clara lebih memilih untuk pergi meninggalkan ruangan ini. Baginya, tugasnya sudah selesai.


"Terima kasih clara."


******


Satu deringan telpon menyadarkan Shafira dari euphoria kebahagiaannya saat memeluk Disa. Ia sampai lupa kalau ia sedang melakukan panggilan video dengan abangnya dan entah mengarahkan kamera kemana.


“Astaga, bentar mba.” Serunya seraya melepas pelukannya dari Disa.


Ia melihat layar ponselnya dan benar saja, Kean mengulang panggilan videonya.


“Buat mba disa.” Ia menyodorkan ponselnya pada Disa agar menjawab panggilan Kean.


“Saya non?” ia menatap Shafira ragu. Untuk apa ia menjawab panggilan untuk nona mudanya.


“Iya, jawab dulu. Itu abang yang video call.” Shafira membenamkan ponselnya di tangan Disa.


“Hah?” bingung jadinya. Belum pernah ia melakukan panggilan telpon apalagi video selain berkirim pesan dua hari lalu.


“Jawab dulu sa.” Sambung Arini.


Disa sedikit terpaku, harus seperti apa ia memulai perbincangannya dengan tuan mudanya.


“Ish mba disa. Jawab dulu.” Shafira menekan tombol hijau untuk menerima panggilan Kean dan tidak lama, wajah tampan menghiasi layar ponsel Shafira.


Kean cukup terkejut, begitupun dengan Disa. Sebelum panggilannya terputus, ia hanya mendengar teriakan para supporter yang entah meneriaki apa. Apa Disa menang atau gagal, ia tidak mengetahuinya sama sekali. Kamera Shafira tiba-tiba mengarah ke sembarangan tempat dengan suara riuh yang tidak jelas untuk di dengar.


“Ke toilet gih. Biar gak berisik.” Ujar Shafira yang hanya bisa di turuti oleh Disa.


“Hay!” sapa Kean mencairkan suasana.


“Iya tuan. Sebentar saya berpindah tempat, karena terlalu berisik.” Sahut Disa yang tengah melangkah cepat menuju toilet.


Kean hanya memperhatikan Disa dari layar ponselnya. Setelah tidak jelas Shafira melakukan panggilan Video, akhirnya ia memilih untuk break rapat marathonnya sekitar 10 menit demi bisa mendengar kabar terbaru dari Shafira. Namun siapa sangka, saat ia melakukan panggilan video, malah wajah Disa yang ada di hadapannya. Jantungnya refleks berdebar dengan kencang, seperti ia menemukan hidupnya lagi.


Tiba di toilet, Disa masuk ke dalam salah satu bilik toilet. Mengunci pintu dan terduduk di atas dudukan toilet.


“Maaf tuan, saya harus menjawabnya di sini.” Dengan malu-malu Disa mengatakan hal itu.


Melihat tempat keberadaan Disa, Kean jadi tersenyum sendiri. Pikirannya jadi bersafari kemana-mana, seperti remaja beranjak dewasa dengan fantasi liarnya.


“Tidak masalah.” Sahutnya. Ia menghela nafas dalam untuk menetralisir pikirannya yang aneh-aneh.


“Gimana hasilnya?” memilih untuk mengajukan pertanyaan penting ini dari pada memikirkan hal lain.


Senyuman lebar langsung mengembang dari bibir Disa. Wajah cantik itu terlihat semakin cantik dengan binar matanya yang menyala indah.


“Saya, lolos 3 besar!” pekiknya seraya mengepalkan tangan, menggerak-gerakkan kakinya riang.


“Alhamdulillah…” seru Kean refleks. “Selamat ya… Kamu memang yang terbaik.” Imbuhnya dengan perasaan bahagia. Andai saja Disa ada di sampingnya, mungkin Kean akan memeluknya dengan erat.


“Terima kasih tuan. Saya tidak menyangka kalau saya akan lolos.” Masih terasa seperti mimpi, ya seperti mimpi saat ia berada di tahap akhir dari perlombaan ini.


“Saya sih udah yakin kalau kamu akan lolos karena ide kamu itu brilian.” Ungkap Keaan dengan sungguh-sungguh.


“Tuan tahu? Tuan melihatnya?” masih tidak percaya dengan kalimat Kean.


“Hem. Fira melakukan panggilan video selama kamu tampil.”


Senyum-senyum jadinya saat mengingat bagaimana ia harus menyeimbangkan otak kiri dan otak kanannya, antara memikirkan bahasan rapat dengan menyimak kalimat-kalimat pemaparan Disa yang menurutnya sangat menarik.


Raut wajah Disa tanpa sadar berubah, saat ia mengingat apa yang terjadi seharian ini. Bagaimana ia berusaha meredam perasaannya yang berkecambuk agar tidak mempengaruhi jalannya perlombaan ini.


Menghadapi Clara, memberi banyak kesulitan untuknya. Ia harus menahan perasaannya yang tidak stabil saat mengingat kalau wanita ini adalah calon istri dari laki-laki yang ia pernah cintai. Bukan pernah, tapi selalu. Hanya saja perasaan itu ia coba tekan agar tidak terlalu menyiksanya.


Bohong kalau Damar bilang Disa move on secepat itu. Itu hanya kamuflase agar ia terlihat baik-baik saja dan tidak menjadi kecemasan bagi orang sekitarnya. Ia tidak pernah benar-benar bisa beralih dari bayangan Kean. Kebersamaannya dengan Kean seperti mimpi indah yang melekat di alam bawah sadarnya yang terlihat jelas bahkan saat ia membuka matanya.


Ia hanya berusaha menahannya, walau harus memberi sedikit rasa perih yang lebih karena gejolak itu perlahan mengiris hatinya.


Lalu, Clara bukan seseorang yang menyukainya. Sejak awal bertemu, kesan Clara sudah buruk terhadapnya. Seperti kata pepatah, orang yang membencimu tidak akan pernah menemukan kebaikan apapun walau kamu berusaha keras untuk menunjukkannya.


Kesulitan itu yang ia hadapi saat bersama Clara. Beruntung, model idolanya itu masih bisa bersikap professional. Walau Clara tidak menyukainya, ia berusaha menilai karya Disa dengan objektif. Dan jujur, itu menambah kekagumannya pada Clara.


Tunggu, bukankah seharusnya Disa membenci Clara? Wanita itu selalu merendahkannya, menganggapnya sebelah mata terlebih Clara mengambil satu-satunya laki-laki yang Ia cintai.


Ya, Disa memang marah dengan keadaan ini, namun ia tidak pernah membenci Clara. Baginya, Clara tetap menjadi alasan ia menyukai dunia desain.


Aarghh bodoh, ya mungkin ia bodoh. Namun seperti itulah kenyataannya.


“Disa!”


“Ya saya!” Disa kembali terperanjat saat Kean memanggil namanya. Walau sudah tidak bekerja sebagai pelayan di keluarga Hardjoyo, panggilan Kean itu masih melekat dengan sempurna di pikirannya.


Di sebrang sana, Kean berusaha menahan senyumnya. Sahutan itu yang ia rindukan setiap waktu. Ia ingin mendengarnya lebih dan lebih lagi.


“Lalu bagaimana babak selanjutnya? Apakah lebih sulit?” Kean kembali bertanya.


Untuk beberapa saat, Disa seperti lupa dengan rasa sakitnya. Ia menikmati sesi berbincang dengan Kean dalam toilet. Dengan semangat ia menceritakan tantangan di babak selanjutnya dan Kean asyik menyimak.


Nyaman sekali Disa bercerita, seperti bertemu teman lama yang ingin ia ajak berbincang semua hal yang ia alami.


Kean menikmati ini. Mendengar suara Disa seperti membangkitkan kembali semangatnya. Setiap Gerakan bibirnya, ia perhatikan dengan seksama, juga binar matanya yang membuat jantungnya selalu berdebar kencang.


“Mengapa aku malah semakin merindukanmu dan ingin ada di sampingmu?”


******