Marry The Heir

Marry The Heir
Meski harus mengambil resiko



Melangkah dengan gontai, masuk ke rumah Kean yang seperti masuk kembali ke dalam pilihan yang sulit. Apa yang terjadi saat ini seperti membuka celah baru untuk membuat tuan besarnya mengendalikan hidupnya.


Saat di rumah utama, tidak ada yang berani menyapanya. Tidak ada yang berani mendekat, baik Tina, Nina ataupun Wita. Mereka mengabaikan Disa, seperti tidak melihat keberadaan Disa.


Masing-masing terlihat sibuk dengan pekerjaannya mengabaikan Disa yang duduk termangu di kursi. Mereka seperti takut hanya untuk sekedar menyapa Disa dan bertanya kabarnya.


“Saya dengar, tantemu masih berjualan makanan di depan rumahnya dan tidak banyak pembeli yang datang. Padahal itu sumber pendapatan dia satu-satunya."


"Apa mungkin saya perlu memberikan bantuan modal?” tawaran Sigit yang selintas terdengar menggiurkan tapi bagi Disa itu seperti sebuah peringatan.


Peringatan kalau tuan besarnya cukup tahu tentang keluarganya.


Disa menghela nafas gusar. Terlalu menakutkan kalau ia harus membayangkan apa yang bisa Sigit lakukan pada Meri.


“Tolong jangan lakukan apapun pada keluarga saya tuan.” Ia hanya bisa memohon.


“Oh ya? Apa kamu sedang memohon?” tuan besar di hadapannya memandang Disa dengan remeh. Menyenangkan baginya membuat orang kecil seperti Disa langsung paham maksud kalimatnya.


“Saya mohon tuan.” Disa bersimpuh di hadapan Sigit dan laki-laki itu hanya tersenyum. Senyum yang sangat menakutkan bagi Disa. Rasanya Disa tidak ingin mengulang pertemuannya dengan Sigit seperti tadi.


Di rumah ini sangat sepi, memberi Disa kesempatan untuk melakukan banyak hal. Satu hal yang ingin segera ia lakukan adalah masuk ke kamarnya dan menghubungi Meri.


“Assalamu ‘alaikum tan,..” sahut Disa segera saat mendengar Meri menjawab panggilannya.


“Wa’alaikum salam. “ suaranya terdengar ringan, seperti semuanya baik-baik saja.


Walaupun menurut Imas, Meri sudah bukan lagi bagian dari keluarga mereka, tapi tidak bagi Disa. Selama bertahun-tahun ia tinggal bersama Meri dan Meri mau mengurusnya walau kesulitan. Membiarkan Sugih membagi hasil pekerjaannya untuk menyekolahkan Disa, tentu itu bukan hal yang bisa Disa lupakan dengan mudah. Ada banyak jasa yang tidak bisa Disa balas apalagi kalau harus berujung kemalangan.


“Tante apa kabar?” rasanya langsung sedih kalau berbicara dengan Wanita ini. Wanita yang kerap memakai koyo di sisi kiri dan kanan pelipisnya dengan penampilan yang jarang terlihat segar.


“Baik. Kamu apa kabar?”


“Alhamdulillah baik tan.” Disa tersedu. Sedikit menjauhkan ponselnya agar Meri tidak mendengar isakan yang ia tahan.


Sayup-sayup ia mendengar suara lain yang berbincang dengan Meri.


“Saya sayapnya aja, yang di goreng garing.” Ujar sebuah suara. Bisa terbayang tantenya sedang melayani pembeli dan ponselnya ia kempit di sela telinga dan bahu.


“Tante lagi sibuk ya?” Disa kembali bertanya setelah berhasil mengendalikan getaran pita suaranya.


“Iya lagi ada yang beli.”


“Em ya udah, disa tutup dulu ya tan. Nanti disa mampir main ke rumah tante.”


“Iya. Tante tunggu.”


Tante tunggu katanya, membuat senyum Disa mengembang. Padahal dulu Meri selalu bertanya, kapan Disa bisa hidup mandiri dan keluar dari rumahnya yang kecil serta berhenti merepotkannya. Tapi kali ini semua membaik.


Panggilan terputus dan Disa bisa menghela nafas lega. Tantenya baik-baik saja dan ia harus memastikan kalau tuan besarnya tidak akan melakukan apapun pada tantenya.


Suara langkah kaki terdengar menaiki anak tangga. Disa segera mengusap air matanya. Dari langkah kakinya, Disa mengenal benar kalau itu suara langkah kaki tuan mudanya.


Berkaca sebentar sebelum menemui tuan mudanya. Ia harus memastikan ekspresi wajahnya tidak terlalu murung agar tidak menambah pikiran tuan mudanya.


“Anda pulang tuan?” sambut Disa saat membuka pintu kamarnya.


Matanya langsung membulat saat ia melihat wajah Kean yang di penuhi luka.


“Hem,“ sahut Kean dengan kepayahan. Tenaganya seperti habis setelah berkelahi hebat dengan orang-orang suruhan Marwan.


Baru sekarang Disa melihat dengan jelas wajah Kean yang di penuhi luka setelah tadi hanya berusaha menghindar untuk bertemu pandang dengan tuan mudanya.


“Saya baik-baik saja disa.” Ujar Kean saat melihat Disa yang mencemaskannya.


Melihat Disa yang baik-baik saja jauh lebih penting di banding keadaannya sendiri. Ia bisa menahan sakit bekas pukulan tapi ia tidak bisa menahan perasaannya kalau melihat Disa seperti tadi.


“Saya ambilkan kompres.” Dengan cepat Disa meninggalkan Kean. Turun ke dapur mencari wadah dan air panas. Ia pun mengambil kain untuk mengompres luka tuan mudanya.


Selama mengisi air, pikirannya melayang-layang tidak karuan. Ia yakin kalau Kean berkelahi dengan orang-orang yang menculiknya. Jadi menyesal sendiri, karena marah dan butuh menenangkan diri ia pergi ke toilet dan meninggalkan tuan mudanya. Tapi siapa sangka saat akan kembali ke mobil, Kean tidak ada di sana.


Berganti dua orang laki-laki bertubuh tegap dengan wajah sangar yang menyeringai melihat kedatangannya. Laki-laki itu melihat sesuatu di layar ponselnya sampai kemudian ia mengangguk pada temannya.


Disa celingukan, karena tidak mengenal dua orang tersebut. Berusaha menghindar dengan segera berbalik mau mencari tuan mudanya, namun siapa sangka tiba-tiba ada sebuah tangan kekar yang menahannya. Membekapnya dengan sesuatu. Entahlah, baunya sangat menyengat hingga beberapa detik kemudian ia kehilangan kesadaran.


Wadah hampir penuh di isi air. Disa segera membawanya menghampiri Kean. Kean sudah tidak ada di depan kamarnya dan Disa segera menuju kamar tuan mudanya.


Terlihat Kean yang terduduk di tepian tempat tidur dan tengah memainkan ponselnya. Disa ragu untuk menghampiri sampai akhirnya Ia ingat pada rencanannya untuk mengompres wajah Kean.


Berdiri di hadapan Kean dan laki-laki itu menatap Disa sejenak sebelum kembali membuang pandangannya.


"Berhenti mencemaskanku seperti itu." batinnya.


“Saya kompres tuan.” Menarik satu kursi di dekatnya untuk ia duduki berhadapan dengan Kean.


Kean tidak menimpali sampai kemudian Disa menyentuh wajahnya dan membawa pandangan mereka bertemu. Terlihat Disa yang menghela nafasnya dalam dengan mata yang berkaca-kaca. Hatinya berdesir, melihat wajah tuan mudanya yang terluka begitu banyak.


Tidak terbayang seperti apa sakitnya luka-luka lebam di wajah Kean di tambah luka robek di sela bibirnya. Lagi, karena Disa, Kean terluka untuk kedua kalinya. Ia sangat menyesalkan hal ini. Kenapa ia selalu saja membawa kemalangan bagi tuan mudanya, seperti di takdirkan untuk berada di dekat Kean sebagai seseorang yang menyulitkan hidup tuan mudanya. Kenapa harus seperti ini?


Tangan Disa terangkat dengan gementar. Menekan pelan satu luka lebam di pipi Kean yang membuat tuan mudanya menahan diri agar tidak meringis kesakitan. Disa tahu benar usaha tuan mudanya untuk tidak membuatnya merasa bersalah. Tapi jelas, itu semakin membuatnya merasa bersalah.


Satu butir air mata lolos menetes begitu saja. Disa tidak bisa membayangkan rasa sakit di wajah Kean yang coba di tahannya. Seandainya ia tidak pernah pulang ke Bandung bersama Kean, seandainya tuan mudanya tidak sebaik ini, dan seandainya ia dengan tegas menolak perasaannya sendiri, mungkin hal ini tidak akan pernah terjadi.


Ada gumpalan besar yang bejogol di dadanya, membuatnya sesak dan sakit di waktu yang bersamaan.


“Hey, saya baik-baik saja.” Akhirnya Kean bersuara. Melihat Disa seperti ini ia jadi tidak tega.


“Tapi gara-gara saya tuan jadi tidak baik-baik saja. Saya tidak bisa melihat tuan seperti ini.” Disa terisak. Tidak bisa lagi menahan tangisnya untuk tidak pecah. Ternyata ia tidak sekuat itu menyembunyikan perasaannya.


“Kalau begitu jangan di lihat.” Kean menggunakan telapak tangannya untuk menutupi mata Disa agar tidak melihatnya.


“Saya akan baik-baik saja asalkan kamu baik-baik saja.” Imbuhnya.


Walau di tutupi tangan Kean, nyatanya air mata Disa tetap lolos menetes. Ia memang tidak terisak, hanya bahunya saja yang terlihat bergerak naik turun dengan bibir yang terkulum menahan tangis.


Sebegitu besar rasa takut dan rasa bersalah Disa, sepertinya Sigit benar-benar telah berhasil mengancam Disa.


“Tolong jangan menangis. Jangan menangis untuk saya.” lirih Kean yang membuat Disa semakin bersikeras menahan tangisnya. Gadis itu sesegukan di hadapannya. Kenapa sangat menyakitkan melihat Disa mencemaskannya.


Tanpa menurunkan tangannya, Kean mendekati Disa. Sangat dekat sampai ia bisa merasakan hembusan nafas Disa yang menderu bercampur tangis. Kean semakin mendekat, mengikis jaraknya dengan Disa. Sampai akhirnya hidungnya menyentuh hidung Disa dan membuat ia bisa mencium bibir Disa dengan lembut.


Ia memejamkan matanya, membiarkan aliran listrik dalam tubuhnya sampai pada Disa. Disa tidak menolaknya. Hanya terpaku karena kaget. Selalu seperti ini, ia seperti tidak bisa menolak ataupun membalas.


Perlahan Kean menurunkan tangannya, ia ingin melihat mata Disa yang ternyata tengah terpejam. Tangannya turun melewati garis wajah Disa, menelusur lehernya yang membuat gadis itu mengendikan bahunya bergidik lantas meraih tengkuknya.


Kean meneruskan apa yang sudah ia mulai dan tidak belum berniat untuk mengakhirinya.


Perlahan Disa membalasnya walau dengan terengah bercampur tangis. Keduanya berpagutan sampai terhenti saat mereka nyaris kehabisan nafas.


Kean menempelkan dahinya di dahi Disa tanpa melepaskan tangannya dari tengkuk Disa yang masih meremang. Mereka menghela nafas masing-masing yang kemudian berhembus hangat di wajah keduanya.


Saat ini, ia masih enggan membuka matanya, lebih memilih menikmati sensasi bergemuruh di dadanya.


“Sa,” lirih Kean.


Gadis itu membuka matanya, seperti baru tersadar dari kemabukan.


Kean tersenyum tipis melihat mata merah yang masih basah itu.


“Saya sangat berharap kamu mengerti apa yang saya rasakan tanpa harus mengatakannya.”


“Saya membutuhkan kamu sampai saya tidak berani untuk mengatakan apapun karena takut kalau kamu pergi.”


“Bisakah kita tetap seperti ini?”


Kean mengusapkan dahinya di dahi Disa. Gadis itu menatapnya sendu tapi kemudian ia mengangguk.


Kean tersenyum tipis melihat respon Disa. Mereka sama-sama mengambil resiko untuk sesuatu hal yang mungkin akan menyakitkan keduanya.


Dan Kean, siap memulai kecupan yang baru yang lebih dalam dan hangat. Mereka kembali berpagutan, mengungkapkan perasaan satu sama lain dengan cara yang lebih pekat. Semua berjalan begitu saja dan entah sampai kapan.


Terkadang perlu mengambil resiko agar seseorang tahu apa keinginan kita sebenarnya.


*****