
Pernah menjadi satu-satunya tidak berarti akan menjadi selamanya, itu yang dirasakan Kinar saat ini. Jika mengingat apa yang terjadi saat ini, rasanya ia ingin memutar waktu dan memperbaiki banyak hal. Tapi kali ini semua hanya sesal yang membuatnya menangis sendirian di taman rumah sakit.
Selembar tissue di sodorkan seseorang yang kemudian duduk bersisihan dengannya.
“Nyonya?” Kinar begitu terkejut saat melihat Arini tiba-tiba ada di sampingnya. Ia segera menyeka air mata yang sedari tadi terus menetes agar tidak bersisa di wajahnya yang sembab. Sayangnya, Arini sudah melihat semuanya.
“Marwan bilang, kamu belum makan dan minum sejak tadi. Pergilah untuk makan. Masih ada 2 jam lagi sampai operasi mas sigit selesai.” Lirih Arini seraya memandangi langit malam yang semakin pekat.
Hampir melewati tengah malam dan belum ada kabar apapun dari ruang operasi. Yang berarti saat ini operasi Sigit masih berlangsung. Hanya satu kali pintu ruang operasi terbuka yaitu saat petugas dari unit transfusi mengantarkan darah untuk pasien yang sedang operasi.
“Terima kasih nyonya, tadi saya sudah minum.” Sahut Kinar dengan suara yang parau. Baru kali ini ia terlihat terpuruk dan menunjukkan kalau ia adalah seorang wanita biasa yang memiliki kelemahan. Satu hal yang tidak di duga, kelemahannya ternyata adalah Sigit.
Arini menghela nafasnya dalam, setelah menunggu Sigit dengan tidak karuan di ruang tunggu, ia memutuskan untuk keluar dan menghirup udara malam yang dingin. Udara di rongga paru-parunya sedikit terganti dan ia bisa bernafas bebas tanpa harus mencium bau cairan disinfektan.
“Kamu mau tahu satu rahasia kinar? Saya bersedia untuk menceritakannya.” Ujar Arini mengawali perbincangannya dengan Kinar. Ada sesak yang harus ia urai agar lehernya tidak terasa tercekik.
Kinar membalik tubuhnya menyerong pada Arini. Ia menatap lekat wajah wanita yang selalu terlihat tenang.
“Iya nyonya, saya akan mendengarkan.” Sahut Kinar. Berbincang dengan Arini mungkin saja akan mengusir sedikit rasa sesak di dadanya.
“Dulu, saat pertama kali saya bertemu mas sigit, hati saya seperti menemukan ujung dari sebuah perasaan. Dia terlalu menawan hingga dengan mudah membuat saya membukakan tempat khusus di hati saya. Lalu saya masuk ke rumah utama, saya mulai merasa takut. Saya takut kalau saya tidak bisa bertahan menghadapi sikap dingin mas sigit terhadap saya.”
“Tapi kemudian saya bertemu dengan kamu. Kita berbicang santai dan membuat saya tidak terlalu merasa berat melewati hari-hari di rumah itu.”
“Kamu tentu tahu, bagaimana usaha saya untuk mendapatkan hati mas sigit. Berdandan cantik layaknya seorang model, perawatan tubuh ke salon-salon terkenal. Padahal itu bukan hal yang saya sukai. Prinsip di cintai apa adanya ternyata tidak berlaku saat saya bertemu dengan mas sigit. Harus ada usaha keras untuk memikat hatinya.”
“Tapi walau semakin banyak hal yang berubah dari saya, saya merasa mas sigit masih belum bisa menerima kehadiran saya. Saya sempat merasa insecure pada diri sendiri dan bertanya, apa sebenarnya kekurangan saya sampai saya tidak bisa menjerat hati mas sigit. Padahal saya tahu, kelemahan seorang laki-laki adalah dari matanya.”
“Cantik iya. Modis, pasti. Cerdas, tentu saja. Tapi itu tidak cukup membuat hati mas sigit berubah.”
“Hingga suatu hari, tiba-tiba saja mas sigit mau makan nasi goreng yang saya buat. Kamu bilang, itu nasi goreng favorit mas sigit. Malam harinya, mas sigit mau masuk ke kamar saya. Kami sedikit berbicang walau sangat canggung. Saya sangat gugup karena untuk pertama kalinya mas sigit memeluk bahkan mencium bibir saya. Saya masih merasakan bagaimana lembutnya mas sigit mengusap wajah saya, bagaimana hembusan nafasnya yang hangat menyapu wajah saya.” Terlihat senyum tipis di bibir Arini, seraya memejamkan mata bayangan itu seolah kembali hadir.
“Saya merasa ada yang berubah dari mas sigit dan membuat saya sangat percaya diri kalau usaha saya selama ini benar-benar berhasil. Walau tetap bersikap dingin, tapi mas sigit memberikan sedikit perhatian untuk saya.”
“Tapi kali ini saya seperti menyadari satu hal.” Matanya terbuka, sinar cerah itu berubah sendu.
“Mas sigit makan nasi goreng buatan saya sambil senyum-senyum bukan karena rasa nasi goreng itu. Tapi karena dia tahu, kamulah yang memberi saya ide membuat nasi goreng itu.”
“Mas sigit mau masuk ke kamar saya karena mas sigit adalah seorang laki-laki, yang bisa melakukan hubungan intim walau tanpa perasaan sekalipun. Tatapan hangatnya bukan karena ia mencintai saya tapi karena gairah seorang laki-laki terhadap lawan jenisnya.”
“Dan mas sigit tidak pernah tertarik pada saya, bukan karena saya tidak cantik tapi karena ia memiliki seorang wanita tercantik di hatinya.”
“Mas sigit bukan tidak bisa berubah, tapi ia memang tidak ingin berubah karena saya bukan wanita yang ia inginkan.”
“Kenapa kinar, kenapa baru sekarang saya menyadarinya? Kenapa saya baru sadar kalau saya bukan harus cemburu pada seorang wanita lain semisal liana, melainkan pada pikiran dia tentang wanita yang ada di hatinya?”
“Dan kenapa saya baru sadar kalau mungkin kamulah yang membuat hati mas sigit tidak bisa saya masuki.”
Arini menatap Kinar dengan nanar. Satu hal yang berhasil ia simpulkan saat ia melihat sikap Kinar. Dulu ia terlalu fokus pada usahanya untuk meluluhkan hati Sigit hingga ia tidak menyadari kalau seharusnya ia mencari tahu apa yang membuat hati Sigit tidak pernah bisa luluh. Kinar ada di dekatnya dan itu cukup untuk membuat hatinya kuat dan mengabaikan Arini.
“Maafkan saya nyonya, maaf…” Kinar kembali terisak. Karena kebodohannya ia malah menunjukkan perasaan yang seharusnya ia simpan rapat hingga mati. Karena kebodohannya juga ia membuat nyonya besarnya kecewa.
"Bagian mana yang harus saya maafkan dari kamu kinar?" timpal Arini. Entah ini sebuah kekecewaan atau sebuah kemarahan yang saat ini bergejolak di hatinya.
“Andai saya mengetahuinya sejak dulu, mungkin saya akan sangat marah. Saya akan memaki kamu dan menyuruh kamu pergi sejauh mungkin. Saya tidak akan membiarkan laki-laki yang saya cinta memikirkan wanita lain.”
“Tapi kali ini semua berbeda. Melihat kamu dan mas sigit, lalu kean dan disa, cerita seperti berputar kembali dari awal. Mungkin ini yang membuat mas sigit begitu marah saat tahu kean menyukai disa. Baginya, ini karma yang terjadi pada putranya."
"Andai dia tau, ini bukan sebuah karma. Ini hanya bukti kalau hati tidak bisa memilih dimana ia akan terjatuh. Bodoh jika kemudian ini di sebut sebuah pengorbanan karena saat hati patah, tidak hanya satu orang yang menderita. Dan saya, tidak akan membiarkan putra saya membayar sesuatu yang bukan kesalahannya."
Tetes demi tetes air mata meleleh dari sudut mata Arini. Perasaannya benar-benar campur aduk, antara marah, kecewa, kesal namun juga lega karena ia mulai mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Sayangnya ia terlambat. Ia menyadari semua di saat ia sudah tidak bisa memperbaikinya. Apa ia hanya bisa menyesal?
Sementara itu, dalam rasa sesalnya, Kinar hanya bisa tersedu. Bayangan dari kejadian beberapa waktu silam seperti berulang di rongga kepalanya. Ia masih mengingat bagaimana cerianya wajah Sigit saat akan berangkat ke luar negeri.
“Kinar, sekarang aku jadi orang kaya. Aku jadi putra tunggal dari pengusaha kaya. Bisa sekolah di luar negeri dan saat pulang aku akan menjadi bos perusahaan di salah satu perusahaan besar milik papah. Tidak akan ada lagi orang yang berani meremehkanku dan menatapku hina. Aku akan menyumpal mulut mereka yang dulu menghina kita dengan lembaran uang dolar yang baru selesai di cetak. Lihat saja nanti.” Ujarnya dengan semangat. Seperti ia ingin membuktikan sesuatu.
Baru kali itu Kinar melihat Sigit memiliki ambisi yang besar akan kekayaan. Belasan tahun bertahan dalam kesulitan, sangat wajar jika pola pikirnya berubah. Rasa disakiti itu berbuah dendam dan keinginan untuk membalas perlakuan semena-mena orang di masa lalu.
“Kamu harus tau, marwan dan kamu pun boleh ikut. Kita akan sekolah bersama di luar negeri, di sekolah paling bagus dan mahal. Ingat, kita punya janji untuk selalu tertawa di masa tua kita dan ini salah satu jalannya.”
“Saat reuni nanti, kita akan tertawa puas di hadapan bocah-bocah nakal yang mungkin hanya jadi bawahan di perusahaan besar milikku. Akan aku buat mereka tidak bisa berkata-kata saat bertemu dengan kita.”
Kinar hanya tersenyum melihat semangat yang membara di dada Sigit. Perlahan, Sigitnya mulai berubah atau mungkin inilah sifat asli Sigit yang sebenarnya.
“Tapi dan, sepertinya aku gak bisa ikut.” Kalimat sanggahan itu diucapkan Kinar dengan takut-takut.
“Loh, kenapa? Kamu yang paling pintar di antara kita bertiga. Kamu akan jadi salah satu orang sukses di masa depan. Kamu mau bikin sekolah untuk anak-anak miskin kan?” Sigit menggenggam tangan Kinar dengan erat. Seolah meyakinkan Kinar untuk meraih mimpi-mimpinya.
“Iya.” Tidak kuat rasanya melihat nyala semangat di mata Sigit, hingga Kinar melepaskan genggaman tangannya.
“Itu memang mimpiku. Tapi, aku gak mungkin bisa ninggalin panti.” Imbuh Kinar dengan wajah lesunya.
Sigit termangu, mencerna kalimat Kinar.
“Em, gini aja. Aku akan menyuruh orangku untuk memenuhi semua kebutuhan panti. Biaya sekolah anak-anak, biaya makan dan kebutuhan lainnya. Asalkan kamu ikut ya, ya ya..” Sigit merajuk manja pada Kinar.
“Hey, kamu pikir uang kamu bisa mandiin anak-anak? Atau nina boboin mereka?” Kinar mencubit hidung bangir Sigit dengan kesal.
“Sakit nar,..” lihat, laki-laki dingin ini bisa manja juga. Memegangi ujung hidungnya yang merah karena Kinar cubit.
“Hahahaha.. Ya lagi, kadang kamu mikir gak pake otak kanan. Otak kiri semua.” Ledek Kinar.
Mendengar penuturan Kinar, Sigit hanya tersenyum. Semakin bertambah saja rasa kagumnya pada Kinar.
“Kamu tau nar, saat kita dewasa nanti, aku yakin kamu akan menjadi seorang ibu yang baik. Penyayang, ngemong dan aku mau jadi ayah yang membantu kamu mengurusi anak-anak kamu nantinya.” Cetus Sigit dengan polos.
Kinar hanya terkekeh mendengar ucapan Sigit. “Jadi ayah! Belajar dulu yang bener, baru mikirin jadi ayah.” Sengit Kinar, menyikut perut Sigit dengan sengaja.
Sigit menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Kalau sudah berbicara dengan Kinar pasti melantur kesana kemari.
Kinar berbalik berhadapan dengan Sigit. Menengadahkan kepalanya hingga ia bisa menatap mata Sigit lekat.
“Kamu inget ya tuan muda, kalau nanti kamu sukses, kamu jangan lupa sama anak-anak panti. Kasih mereka sedikit rejeki kamu. Tidak perlu banyak, asalkan cukup saja, mereka pasti seneng.” Kinar mengusap dada Sigit dengan lembut. Matanya menatap hangat sepasang mata elang yang tajam.
Sigit hanya terangguk, permintaan Kinar itu ia ingat baik-baik di alam bawah sadarnya.
Tahun-tahun berganti, Sigit dan Marwan pulang dengan gelar double degree-nya. Suatu kebanggan bagi mereka bertiga karena bisa meraih salah satu cita-cita yang mereka impikan. Sigit langsung menduduki jabatan penting di perusahaannya dan Marwan selalu menjadi orang kepercayaannya.
Yang tidak menyenangkan adalah mulai munculnya kabar kalau Sigit di jodohkan dengan para putri konglomerat di Indonesia.
Sebenarnya bukan hal yang aneh karena itu lumrah terjadi di kalangan orang kaya. Menikah karena perjodohan dan dengan orang yang setara. Tapi sangat menyesakkan untuk mereka yang tidak memiliki kesetaraan itu.
“Aku akan menikah nar.” Kalimat itu menjadi petir di antara pelangi indah milik Kinar.
“Oh ya, dengan siapa?” Kinar masih menahan rasa sesak di dadanya mendengar kabar tersebut.
“Wanita ke delapan pilihan papahku. Beliau mengancam akan mengambil semuanya dariku kalau aku menolak lagi. Aku harus gimana nar?” wajah Sigit terlihat frustasi. Tertunduk lesu seraya menjambak-jambak rambutnya sendiri.
“Hey.” Kinar meraih tangan Sigit agar menghentikan apa yang ia lakukan. Ini kebiasaan buruk Sigit yang tidak Kinar sukai.
“Aku mau nanya dulu, apa kamu bahagia sekarang?” tanyanya seraya menatap Sigit lekat.
Laki-laki itu tampak berfikir, menatap netra bening milik Kinar yang siap meneteskan air mata jika jawaban Sigit mengecewakan.
“Hem. Tidak ada yang berani merendahkanku, itu salah satu kebahagiaanku.” Jawabnya dengan jujur.
Seperti ada belati yang menghujam dada Kinar saat mendengar jawaban itu. Perih dan nyeri, menjadi perpaduan yang pas untuk melukai hati dan harapannya.
“Kalau begitu, menikahlah.” Sahutnya pendek.
“Hah?” Sigit tidak percaya dengan jawaban KInar.
“Kamu tau dan, aku akan sangat bahagia kalau kamu Bahagia. Itu sudah lebih dari cukup buatku.” Suara Kinar terdengar parau. Ia tidak sehebat itu untuk menyembunyikan lukanya.
“Tapi nar, janji kita?” Sigit meraih tangan Kinar untuk ia genggam. Erat dan hangat, seperti tidak ingin terpisah.
Kinar berusaha melepaskannya. Genggaman tangan Sigit membuatnya merasa semakin lemah.
“Itu hanya obrolan kita saat remaja. Tidak perlu kamu ingat.” Memalingkan wajah dari Sigit, ia sudah tidak sanggup menahan bulir air matanya untuk tidak menetes.
“Nar!” seru Sigit.
Kinar memilih beranjak dari tempatnya. Ia memerlukan jarak yang sedikit lebih jauh dari Sigit.
“Kinar!” Sigit menarik tangan Kinar lantas memeluk tubuhnya dengan erat. “Kamu mungkin hanya menganggapnya candaan, tapi sampai sekarang aku selalu serius. Aku hanya ingin menikahi kamu. Menjadikan kamu ibu dari anak-anakku. Kita akan menua bersama, sesuai janji kita, kita akan tertawa sampai tua.” Tegas Sigit tanpa memberi jarak pada Kinar.
Mendengar ucapan Sigit membuat Kinar harus susah payah menahan air matanya. Keputusan ini sulit tapi harus ia ambil.
“Dan.” Kinar mendorong tubuh Sigit menjauh. Ia sudah tidak bisa lagi menahan air matanya. “Aku gak mau jadi istri kamu. Aku cuma mau jadi sahabat kamu. Sahabat yang selalu ada dalam kondisi apapun.” Suaranya terdengar tersengau-sengau.
“Tapi,”
“Aku mohon dan, kamu menikahlah dengan pilihan papah kamu. Kamu gak mau kan di masa tuan nanti kita yang di tertawakan orang lain?"
"Kamu gak perlu mikirin aku. Kita udah beda sekarang. Kamu seorang tuan muda dan aku, aku hanya pantas jadi pelayan. Seorang pelayan tidak akan cocok menjadi ibu dari anak-anak kamu.” Tolak Kinar tidak dengan sesungguhnya. Namun memang hanya ini yang bisa ia lakukan.
“Oh, jadi kamu pikir kamu cuma cocok jadi pelayan?” tanya Sigit dengan penuh kekecewaan. Bagaimana bisa wanita yang ia puja merendahkan dirinya sendiri.
“Ya!” sahut kinar dengan lantang. Bibirnya sudah bergetar menahan tangis yang nyaris pecah.
Sigit tertawa kesal, ia benar-benar tidak menyangka dengan isi pikiran Kinar. “Sekarang aku tanya sama kamu, kamu cinta gak sama aku? Sebagai orang dewasa, sebagai perempuan terhadap laki-laki.”
Kinar tampak berfikir. Membalas tatapan Sigit yang berubah dingin. Apapun yang terjadi, ia tidak boleh goyah.
“Nggak! Aku gak pernah cinta sama kamu. Kita cuma bisa bersahabat, tidak ada perasaan lain.” Tegasnya.
Seperti ada hantaman keras di dada Sigit saat mendengar jawaban kinar. Tidak hanya kesal, ia kecewa sangat kecewa dengan jawaban Kinar.
“Okey, kalo kamu gak cinta sama aku dan kamu hanya merasa cocok jadi pelayan, maka mulai besok kamu jadi pelayan di rumahku. Kamu ingin kita selalu dekat sebagai sahabat bukan? Maka aku akan mengabulkannya.” Terlihat jelas mata Sigit yang menyalak menyimpan kemarahan.
“Dan, aku gak mungkin jadi pelayan di rumah kamu. Aku gak bisa ninggalin anak-anak. Aku,”
“CUKUP! Aku gak mau denger alasan lagi. Kalau kamu masih beralasan, maka aku akan berhenti mengurusi anak-anak panti dan kita gak perlu mengenal satu sama lain.” Tegas Sigit tidak bisa di bantah.
Mulai saat itu, Kinar sadar kalau ia telah membuat kesalahan. Sayangnya, ia tidak bisa mengubah kata-katanya. Sigit terlanjur mengikuti kemarahan dan kekecewaannya hingga tidak ada kesempatan bagi Kinar untuk menolaknya.
Andai saja dulu ia tidak sebodoh itu, apakah semuanya akan berbeda? Apa pengorbanannya tidak cukup untuk membayar semua kesalahannya?
****