Marry The Heir

Marry The Heir
Bapak Kean



Butik menjadi tempat Disa menghabiskan waktunya seharian. Hampir seminggu ini di tinggalkan, ternyata beberapa orang sudah mulai mencarinya.


Seperti saat ini, sudah ada 4 konsumen yang minta di buatkan baju. Katanya mereka melihat desain Disa dari media sosial miliknya dan Shafira.


Harus Disa akui, Shafira memang pandai memasarkan baju yang di buatnya. Kemahirannya dalam berpose di tunjang dengan wajahnya yang cantik, menjadi daya pikat tersendiri bagi para pembeli. Di kenal sebagai pemenang ajang desain pemula juga menjadi alasan Disa di cari cukup banyak orang. Media sosialnya sudah mulai ramai dengan pertanyaan tentang karyanya.


“Acaranya semi formal, saya mau yang warnanya agak kalem aja dan tidak mencolok.” Ujar konsumen terakhir Disa yang memesan langsung 3 baju.


“Untuk ukurannya ini ibu mengukur sendiri atau bagaimana?” Disa mengambil selembar kertas yang di sodorkan wanita itu.


“Iya, kami ngukur sendiri. Anak saya masih di jerman, baru pulang lusa. Paling nanti dia bisa ke sini lusa. Apa nggak masalah?”


“Em tidak masalah. Saya buatkan dulu desainnya, untuk ibu dan putri ibu lihat. Nanti bisa memberi catatan kalau ada yang kurang pas.”


“Oh ya, saya ada dua teman saya yang usianya seumuran putri ibu. Kira-kira, postur putri ibu mirip nggak dengan dua teman saya ini?” Disa meminta dua anak magang itu agar mendekat.


“Em, ade tingginya berapa?” tanya ibu tersebut pada gadis berambut coklat.


“Saya 158 bu.”


“Oh, iya putri saya yang pertama juga tingginya segitu. Tapi adiknya, lebih tinggi. Setinggi mba disa mungkin. Hanya saja, lebih berisi. Tinggi besar gitu.” Ibu tersebut memperagakan bagaimana postur kedua putrinya.


Disa kembali melihat catatan ukuran yang di buat ibu tersebut.


“Baik bu, kalau gitu saya akan buatkan dulu desainnya. Nanti saya kirimkan ke ibu.”


“Em gini aja mba, yang saya nanti saya liat langsung aja. Tapi yang putri saya, nanti tolong kirim lewat email aja, gimana?”


“Soalnya anak saya itu harus detail.”


“Oh baik bu. Bisa saya minta alamat emailnya?”


“Boleh, nanti saya kirim ke nomornya mba yaa.. Supaya gak salah nulis.”


“Baik bu, terima kasih.”


“Iya sama-sama.”


Ibu itupun beranjak tapi saat baru satu langkah, ia kembali berbalik.


“Mba maaf, boleh nanya sesuatu yang personal?”


“Em, gimana bu?”


Wanita itupun mencondongkan tubuhnya dan mendekat pada Disa.


“Mba disa udah menikah belum ya?”


“Kalau berkenan, saya punya keponakan yang masih lajang, dia kerjanya di kedutaan besar korea, barangkali mba disa mau di kenalkan?” tawar ibu tersebut dengan hati-hati.


Disa tersenyum tipis, ternyata hal personal seperti ini yang akan di tanyakan wanita tersebut.


“Terima kasih bu, tapi saya sudah menikah.” Disa menunjukkan cincin pernikahan yang tersemat di jari manis tangan kanannya.


“Ohh udah nikah yaa... Sayang banget yaaa...”


“Iya sih kalau gadis cantik sama berbakat kayak mba disa sih, pasti cepet lakunya. Maaf ya ibu udah tanya-tanya..” ia menepuk tangan Disa dengan lembut.


“Aamiin.. Terima kasih bu.”


“Heheheh iyaa... Ya udah saya permisi dulu yaa.. Selamat siang..”


“Iya bu selamat siang.”


Baru Disa dan ibu itu beranjak, seseorang di mulut pintu sudah mendekat. Adalah Kean yang kemudian mendekat dan menatap wanita itu dengan dingin. Wanita itu berjalan dengan cepat berusaha menghindari tatapan Kean.


“Aa, kok gak kedengeran datengnya?” Disa segera menghampiri suaminya yang sudah memasang wajah perang.


“Aku dateng dari tadi, kamu aja yang asyik bahas cowok sama ibu-ibu tadi.” Sedikit banyak Kean mendengar bisik-bisik Disa dengan tamunya.


“Ish siapa yang bahas cowok, tadi ibunya mau ngenalin ponakannya terus aku bilang aku udah nikah.” Disa menunjukkan punggung tangannya pada Kean, dimana cincin pengikat janji mereka melingkar.


“Bener? Kamu gak ngasih nomor kamu sama ibu tadi kan?” Kean masih menyelidik.


“Ngg-..” Disa urung melanjutkan kalimatnya.


“Ngasih sih, tapi bukan buat ponakannya. Tapi buat anaknya yang di jerman.” Lirih Disa sambil melengos.


“Hey, mau kemana?!” dengan cepat Kean menahan tangannya.


“Nggak ke mana-mana a. Aku cuma mau bikinin aa minum..” Disa beralasan.


Sejujurnya ia sedikit takut berada di dekat Kean apalagi dalam kondisi suaminya cemburu tanpa alasan.


“Aku gak butuh minum! Aku butuh penjelasan.” Di gendongnya tubuh Disa dalam satu tarikan.


“Ihh aa, mau ngapain... Itu ada teman aku...” Disa melirik dua mahasiswi yang terpaku kaget melihat tingkah Kean. Wajah mereka memerah. Kean yang berbuat mereka yang malu.


Kean pun mengalihkan pandangannya pada dua mahasiswi itu tanpa menurunkan Disa meski istrinya berontak.


“Liat apa kalian?! Sana istirahat!” gertaknya membuat dua gadis itu tersentak.


“I-Iya kak.” Buru-buru mereka pergi sampai lupa mengganti sandalnya dengan sepatu.


“Aa ikhh!!!” Disa mencubit dada Kean, tapi sepertinya tidak tercubit. Ototnya terlalu tebal.


“Jangan kembali sebelum jam 3 sore!” seru Kean dengan lantang.


“Iya kak!!” seru gadis-gadis yang berlarian keluar butik.


“Ihh aa, aku malu tau.” Disa membenamkan wajahnya di dada Kean. Bagaimana nanti ia menghadapi dua mahasiswi itu setelah apa yang dilakukan Kean terhadap mereka.


“Ini hukuman kalo kamu ngasih nomor hp sembarangan.” Gerutu Kean yang membawa Disa masuk ke kamarnya.


“Ih a, masa di hukum. A!!!” seru Disa yang di paksa masuk ke kamar.


Tapi Kean tidak menanggapinya.


Pintu kamar pun tertutup rapat. Butik mendadak hening, hanya suara-suara halus yang terdengar dari kamar yang Kean buat senyaman mungkin. Sekarang Disa tahu, inilah fungsi kamar yang di beri kasur empuk berlapis itu.


Astaga tuan muda! Hukuman macam apa ini?


*****


Terbaring di atas lengan kokoh Kean yang dijadikan bantalan, Disa masih memejamkan matanya. Merasakan sisa-sisa gairah yang belum sepenuhnya turun. Sementara Kean masih memeluknya dengan erat dari samping, seolah suaminya ini masih enggan untuk melepaskannya.


Hukuman, itu yang diistilahkan Kean untuk olah raga siangnya kali ini.


Saat ia tiba di butik, ia sedikit mendengar perbincangan Disa dengan seorang ibu yang sedang mencari tahu hal pribadi tentang istrinya. Seperti apa persisnya, ia tidak terlalu mendengar dengan jelas. Yang ia tangkap hanya promosi si ibu tentang laki-laki yang katanya bekerja di kedutaan besar korea.


Argh! Rasanya Kean sangat kesal pada setiap orang yang berusaha mendekati istrinya. Lalu untuk alasan itulah ia menghukum Disa, agar istrinya tidak mudah dirayu oleh siapapun termasuk ibu-ibu yang mempromosikan anak atau keponakan mereka.


“Aa masih marah?” usapan jari Disa di wajah Kean membuat pria itu memejamkan matanya, menikmati sapuan halus tangan Disa.


“Jangan menanggapi hal seperti itu lagi atau aku tidak akan membiarkan kamu kerja lagi.” Sahutnya dengan ketus. Rasa marahnya kalah dengan rasa cemburu.


“Aku nggak menanggapi apapun. Ibu tadi minta nomorku buat ngirim alamat email anak perempuannya agar tidak salah ketik.” Disa memberi penekanan pada kata “Perempuan.”


“Ya tapi itu tidak menjamin kalau ibu itu tidak akan menyebarkan nomor hp kamu kan?” masih kesal rupanya perkara memberi nomor hp pada orang lain.


“Iya, tapi aku bisa menjamin kalau aku tau cara merespon yang baik untuk pesan yang masuk ke kotak pesanku.” Tegas Disa.


“Aa bisa percaya kan kalau aku bisa menjaga sikap dan kehormatanku sebagai seorang istri?” Disa masih mengusap-usap pipi Kean dan menatapnya laman. Ia ingin meyakinkan suaminya.


“Aku percaya.” Ia meraih tangan Disa lantas mengecupnya.


“Hanya saja aku tidak suka kalau terlalu banyak orang yang mengusikmu.” Tegasnya.


“Apa bisa aku bilang kalau aa cemburu?” Disa memincingkan matanya menggoda Kean.


“Hahaha…” pria ini malah tertawa, membenamkan kepala Disa di dadanya untuk kemudian ia peluk.


“Em, gimana kalau kamu punya seorang assistant? Jadi nanti dia yang ngurus semua janji kamu dengan orang lain atau sekedar menerima pesanan desain. Jadi nomor pribadi kamu tidak terganggu.” Ide itu tiba-tiba saja muncul dari manusia over protective ini.


“A, aku belum butuh assistant. Usahaku aja baru di mulai dan aku masih bisa nge-handle semuanya sendiri.” Ia mengusap dada Kean yang bidang, rasanya sedikit keras karena otot semua.


“Lagi pula, aku kan baru buka butik ini. Belum ada pemasukan yang cukup untuk menggaji seorang assistant."


*"*Aku masih harus menghitung dulu berapa pendapatanku dan berapa pengeluaranku supaya butik ini bisa bertahan lama.”


“Aku bisa menggaji assitant-mu. Kamu mau berapa orang, dua atau tiga orang mungkin?” sahut Kean dengan cepat. Susah memang kalau berbicara tentang uang dengan seorang sultan.


“Ish aa,” Disa mendorong tubuh Kean sedikit menjauh darinya.


“Jangan kebiasaan ngasih aku yang berlebih, aku gak suka hal seperti itu.” di tatapnya netra pekat suaminya dengan lekat.


“Aku terbiasa berusaha, bukan meminta.”


“Aku ingin menjadi pengusaha yang sukses, yang melalui semua proses dan kesulitan lalu mencari solusinya sendiri. Jadi, tolong hargai proses dan usahaku.” prinsip Disa sepertinya tidak bisa di bantah.


Kean hanya bisa menghela nafas dalam, berusaha memahami pemikiran istrinya. Memang benar adanya, kalau seorang pemilik usaha harus melewati setiap tahapan dalam proses mempertahankan usahanya. Baik itu hal yang menyenangkan sekalipun menyedihkan. Seperti yang pernah di alami Kean saat mempertahankan salah satu anak perusahaan milik Hardjoyo group. Dari situlah ia belajar menyelesaikan masalah di perusahaannya.


“Ya udah okey aku setuju. Tapi,”


“Aku akan professional a. Aku akan belajar professional terhadap pekerjaanku, okey?” Disa menjedanya lebih dulu. Ia bisa membaca arah pembicaraan Kean untuk menjaga sikap.


Kean hanya tersenyum tipis. Ia suka semangat yang menyala di mata Disa.


Diraihnya dagu Disa sekali lalu ia mengecup bibir istrinya dengan lembut.


“Semangat yaa.. Aku mendukungmu.” Di peluknya tubuh polos Disa dengan erat.


“Hem, makasih a..” Disa menggeleng-gelengkan kepalanya dalam pelukan Kean.


“Hahahhahaa.. Geli, sa.” Kean tertawa terbahak-bahak saat rambut Disa mengusap kasar permukaan dadanya.


“Hhahahaha..” Disa ikut tertawa. Untuk beberapa saat mereka saling bertatapan dan memberi senyum satu sama lain.


“Apa aku udah pernah bilang kalau aku mencintaimu?” lirih Kean dengan penuh perasaan.


“Belum.” Disa menggeleng seraya mengulum senyum. Gilirannya untuk menggoda Kean.


“Oh ya? Lalu semalam sama siapa ya aku bilang cinta?” pura-pura berfikir.


“Ish aa!!!” Disa menjawil dada suaminya, memberi cubitan pedas. Kesal juga kalau jawaban ini yang dilontarkan Kean.


“Aahahhahaa… Ampun-ampun. Iya aku becanda.” Menahan tangan Disa agar tidak lagi mencubitnya lalu memaksanya untuk masuk ke dalam pelukannya.


“Kamu nyubitnya sakit banget sih?” mengusap dadanya beberapa kali. Tidak sakit sebenarnya, hanya iseng saja mengerjai Disa.


“Ya lagi aa becandanya ngeselin.” Timpal Disa dengan kesal.


“Hahahaha… Aku suka kalo lagi becandain kamu. Ini bibirnya uuuhhh….” Kean mengerucutkan bibir Disa dengan gemas. Sejak kapan gunung es ini bertingkah seperti abg pertama kali jatuh cinta.


“Em, sakit a…” Disa berusaha melepaskan tangan Kean.


“Hahaahhaha.. Masa sih.” Tanpa sadar Kean jadi banyak tertawa saat bersama Disa.


“Iyalah sakit.” Disa mengusap-usap pipinya yang baru lepas dari cengkraman Kean.


“Iya maaf.. Habis kamu gemesin.” Di ciumnya lagi bibir yang mengerucut itu.


“Aku bahagia sa, sangat bahagia.” Lirih Kean kemudian. Tatapannya yang hangat membuat jantung Disa berdesir lembut. Benarkah pria ini bahagia di sampingnya?


“Aku juga. Aku merasa bersyukur punya suami kayak aa. Mirip nano-nano, hahaha..”


Kean ikut tertawa mendengar ledekan istrinya. Kembali ia memeluk Disa dengan erat, rasanya ingin selalu seperti ini.


Sebuah deringan ponsel mengusik keintiman Disa dan Kean. Ponsel Disa yang kemudian menyala dan menunjukkan sebuah notifikasi pesan masuk.


“A, aku liat bentar ya..” Disa melonggarkan pelukan suaminya.


“Hem.” Untuk beberapa saat Kean melepaskan pelukannya.


Ia memandangi istrinya yang beranjak menjauh untuk mengambil ponselnya. Terduduk di tepian tempat tidur seraya memandangi pesan yang masuk.


“Siapa?” Kean jadi ikut penasaran saat Disa hanya terdiam. Ia mendekat dan duduk persis di belakang Disa.


“Bu mareta, katanya mau ke sini.” Menunjukkan layar ponselnya pada Kean.


“Ibu yang mana lagi itu?” agak sedikit was-was ya dengan label ibu-ibu yang menghubungi Disa.


“Itu a, ketua Yayasan yang aku ikut lomba. Katanya dia mau ngasih aku berkas-berkas buat ke paris nanti.”


“Sekarang?”


“Iya, dia lagi di jalan. Katanya 10 menitan lagi nyampe.”


“Aaahhhh kenapa banyak banget ibu-ibu yang ganggu kitaaa….” Kean menjatuhkan tubuhnya telentang ke tempat tidur. Entah berapa ibu-ibu lagi yang akan mengusiknya dan Disa.


“Ish aa.. Aku juga nanti jadi ibu-ibu. Aa jadi bapak-bapak…” timpal Disa dengan santai. Istrinya mulai beranjak dan memunguti pakaian untuk ia kenakan. Ia harus bersiap.


“Ya baiklah, setelah bu Mareta, ibu siapa lagi yang mau datang? Bu Roni, bu eva bu nana atau siapa? Silakan masuk.” Ucap bapak-bapak yang sedang tidak ingin di ganggu.


Disa hanya tersenyum samar. Sejak kapan bapak ini hobi menggerutu?


Deeuuhh dasar bapak Kean.


*****