
Ruang musik menjadi pilihan Shafira dan Diana untuk mengerjakan tugas. Mereka tengah sama-sama membaca potongan isi novel roman Romeo dan Juliete. Cukup serius dan dalam 10 menit selesai.
“Lo bisa bikin puisi?” pertanyaan pertama keluar dari mulut Shafira. Diana menggeleng, tentu ia tidak bisa. “Hah, mungkin ini alasan kenapa satu group harus berempat.” Dengus Shafira seraya menelungkupkan wajahnya di atas meja.
Karena rasa kecewanya, ia memilih untuk menghindar dari banyak orang dan memilih berdua saja dengan Diana, satu-satunya teman yang dirasa cukup nyambung dengannya.
“Ya udah, kita saling sambung kata aja gimana?” Ide itu muncul dari Diana.
“Maksudnya?” menangkat wajahnya dan menatap Diana penuh tanya.
“Iya, kita nulis apa aja di sini. Mau itu sajak, potongan lagu, ato kata apa aja yang lewat di pikiran kita. Nanti kita gabungin tapi harus nyambung.” Usul Diana.
“Kalo pake potongan lagu, itu gag nyalahin hak cipta?”
“Lah kita kan cuma ngambil beberapa kata, nggak satu lagu plek. Lagian Bahasa Indonesia kan milik kita semua. Milik penyanyi, milik tukang dagang, milik abang siomay, milik,..”
“Iya oke gue ngerti.” Shafira memotong kalimat sahabatnya yang semakin lama semakin melantur.
“Iya, gitu! Udah itu, lo translate ke Bahasa inggris, lo kan jago Bahasa inggris.”
“Ya udah. Hayuk mulai.”
Sepertinya ide Diana cukup bisa di jalankan.
Mereka mulai mengeluarkan kata atau kalimat untuk membuat syair atau puisi. Satu kalimat dari Diana dan satu kalimat dari Shafira, tidak jarang jatohnya tidak nyambung dan itu cukup membuat mereka tertawa.
“Fir, kata-kata lo gag nyambung…” protes Diana untuk kesekian kalinya.
“Iya, pembendaharaan kata gue emang miris di. Lo aja sih yang bikin, nanti gue yang translate.”
“Ih ogah, kan ini kerja kelompok.”
“Ya emang kerja kelompok. Lo yang kerja, gue anggota kelompoknya.” Sahut Shafira enteng.
“Ish dasar lo ya!”
Keduanya tergelak bersamaan.
Suasana mulai hening dan mereka tampak mulai berfikir. Gayanya sih sedang berfikir, entahlah isi di kepalanya apa.
“Fir,” suara Diana kemudian.
“Hem? Lo apa sih, gue lagi mikir nih.” Protes Shafira yang terpaksa membuka matanya lalu menoleh Diana yang tengah memandanginya. “Lo naksir sama gue?” tanyanya kemudian saat tatapan Diana terlalu lekat dan dekat.
Diana hanya tersenyum simpul, ternyata Shafira kocak, pikirnya.
“Lo kenapa milih satu kelompok sama gue dan ninggalin sahabat-sahabat lo?” akhirnya Diana mengeluarkan unek-unek dipikirannya. Ia tentu sadar siapa Shafira dan siapa dirinya.
Seorang tuan putri dengan sejuta pesona sementara ia hanyalah gadis biasa yang selalu terasing. Kasta mereka terlampau jauh, begitu pikir Diana.
“Kenapa, lo gag suka sekelompok sama gue?” Shafira tersenyum sinis mendengar pertanyaan Diana.
“Loh, nggak. Ya cuma aneh aja, lo biasanya sama mereka tapi sejak,.”
“Sejak kapan?” Shafira memotong kalimat Diana. Ia sedikit penasaran dengan pandangan orang lain tentang dirinya dan teman-temannya.
Katakan saja ia mulai membuka diri pada orang-orang di luar ketiga teman satu genk-nya.
“Sejak lo sering di hukum sendirian, sejak lo kemaren di skor sendirian dan sejak saat lo milih satu kelompok sama gue.”
“Di skor sendirian?”
Shafira menggaris bawahi separuh kalimat Diana.
Diana mengangguk dengan yakin.
“Maksud lo mereka gag di skors gitu?” Shafira mengulang pertanyaannya.
“Hah, emang lo gag tau? Mereka sekolah kayak biasa kok.” Kali ini Diana yang bingung. “Mereka bahkan minta maaf di depan kelas atas nama lo, sambil nangis-nangis malah.” Diana menunjukkan ponselnya pada Shafira.
Selama di hukum oleh dadynya, Shafira memang tidak di perbolehkan memegang ponselnya. Baru tadi pagi ia kembali memegang ponselnya dan saat melihat notifikasi group kelasnya ramai, Shafira berfikir, mungkin karena banyak tugas.
Memutar video dan melihat sendiri apa yang di katakana Nara dan kedua sahabatnya di depan kelas.
“Gue minta maaf atas nama fira. Tapi kalian harus percaya, fira bukan seorang pemakai. Dia anak baik-baik. Mungkin kadang menyebalkan dan judes tapi, dia temen kami.” Nara Kembali menangis dan berangkulan dengan kedua sahabatnya.
Shafira tersenyum sarkas, ucapan Nara seolah menegaskan alasan ia di skors. Lebih dari itu, ia tidak pernah meminta mereka untuk meminta maaf mewakili dirinya.
Lantas, mengapa mereka tidak di skors? Bukankah mereka ada di tempat yang sama?
Shafira menjatuhkan ponsel Diana begitu saja. Bahunya melorot lalu bersandar pada sandaran kursi. Rasanya ia tahu apa yang terjadi dan mengapa tidak ada bahasan tentang masalah ini.
Padahal biasanya mereka akan datang ke rumah saat Shafira sakit atau hanya sekedar ingin bolos sekolah.
Mereka sudah tidak peduli, lebih dari itu ia tidak berarti apa-apa bagi ketiga temannya.
“Fir, lo gag pa-pa kan?” Diana dengan wajah cemasnya memandangi Shafira. “Apa gue salah ngomong?” ia bertanya pada dirinya sendiri.
Shafira hanya menggeleng dengan semburat senyum di bibirnya. Ia mengambil kertas yang ada di hadapannya serta pena di hadapan Diana.
“Fir, lo mau ngapain?”
“Nulis!” ketusnya.
“Lo ada ide?”
“Hem?”
“Pertemanan t*i!” dengusnya dengan kesal.
Terlihat raut wajah Shafira yang berubah dingin. Ternyata sangat menyeramkan. Diana hanya bisa mengunci mulutnya rapat-rapat sambil mengintip tulisan Shafira dalam Bahasa Inggris.
Entah ini puisi atau curhatan hati yang pasti terbaca sangat emosional.
Bahkan di beberapa bagian Shafira menyertakan kata, Damn! Shit! Dan kata-kata lainnya yang lebih kasar. Diana merinding sendiri, ternyata seperti ini rupa tuan putri saat sedang marah.
*******
“Fir!” suara panggilan terdengar dari belakang sana, saat Shafira tengah berjalan menuju ruang musik bersama Diana.
Di tangan masing-masing memegang milkshake yang baru mereka beli dari kantin.
Shafira dan Diana kompak menoleh.
Ada Fia, Nara dan Ira yang tengah berjalan menghampiri mereka.
Shafira menyeruput minumannya dengan acuh, ia sudah sangat malas bertemu dengan ketiga drama queen ini.
“Fir, lo kok gag sekelompok sama kita dan malah milih sekelompok sama cewek cupu mata empat ini?” Fia bertanya dengan nada sinisnya sekaligus memandang tidak suka pada Diana.
“Kenapa? Masalah buat lo?” tantang Shafira dengan acuh.
Nara ikut menoleh mendengar jawaban kasar sahabatnya. Tidak biasanya Shafira bersikap seperti ini.
“Lo kenapa sih fir jadi berubah gini?” Ira mendekat lalu menyentuh lengan Shafira.
“Gag usah pegang-pegang gue!” gertak Shafira seraya mengibaskan tangan Ira. “Lo nanya gue kenapa? Kalian bertiga yang kenapa?!” tunjuk Shafira pada Fia.
“Lo kenapa sih fir? Perasaan kemarin lo baik-baik aja?” Nara ikut bersuara dan mendekat.
“Perasaan? Sejak kapan kalian berteman sama gue karena perasaan? Bukannya kalian cuma datang kalo lagi butuh duit gue doang?” sinis Shafira, menyapu pandangan ketiga sahabatnya.
“Fir, udah fir. Jangan disini, gag enak di liatin orang-orang.” Diana memegangi tangan Shafira, yang di pegangi malah mengibaskan tangannya.
Para siswa memang sudah berkumpul, melihat perdebatan seru geng cewek yang paling terkenal di sekolah mereka. Kaya, cantik, modis dan dipuja banyak orang. Itulah mereka.
“Kenapa diem? Gag bisa jawab ya?” Shafira mendekat lalu merapikan kerah baju Fia yang ada di hadapannya. Suaranya pelan namun penuh penekanan.
“Kalian pikir, gue gag tau apa yang kalian lakuin di belakang gue?" bisik Shafira yang membuat mata Fia membulat seketika.
Kembali mundur satu langkah, lalu menatap ketiga temannya bergantian. Tatapannya mulai sinis dengan kedua tangan terlipat di depan dada. Senyum samar terlihat di bibirnya yang tipis.
"Kalian cuma datang pas butuh duit gue. Kalian gag peduli kondisi gue seperti apa."
"Lo tau fi, gue sempet cemas kalian dapet masalah dari orang tua kalian, sama seperti gue. Tapi apa yang terjadi, kalian jalan-jalan kan ke singapur? Kalian bahkan gag kena hukuman apapun karena berhasil kabur sebelum polisi dateng.”
“Kalian umpanin gue, seolah gue yang ngadain acara dan bikin michael teler, terus kalian pergi setelah bersenang-senang. Dan sekarang, lo masih nanya gue kenapa."
"Menurut lo sendiri, gue kenapa fi?”
Menatap Fia dengan tajam, seolah ia tengah menguliti isi kepala gadis di hadapannya.
Mundur satu Langkah menjauh dari Shafira, nafasnya terasa sesak dan nyaris tidak ada kata yang keluar saat melihat kedua mata Shafira yang menatapnya tajam. “Fir, gue,…” ia menoleh Ira dan Nara.
Nara segera mendekat, ia menarik tangan Fia untuk menjauh.
“Bukan fia yang salah, tapi lo!” tunjuk Nara pada Shafira.
Ia berdiri menantang Shafira yang ada di hadapannya.
“Oh ya?!” tersenyum sarkas tanpa menurunkan pandangannya dari Nara yang menyalak.
“Ya! Semua salah lo!” gertak Nara dengan emosional.
“Lo pikir, gue sama fia dan ira gag bosen liat tingkah lo? Halooo tuan putri, lo bukan poros dunia. Lo gag usah merasa jadi pemeran utama dalam segala hal."
"Wajar aja kita manfaatin duit lo, itu kompensasi dari waktu yang kami buang cuma-cuma buat nemenin lo yang egois dan keras kepala.” Nara mulai merepet.
“Lo ambil perhatian semua orang, belaga paling cantik, paling kaya. Lo tarik semua perhatian cowok terus lo bikin mereka seolah berlomba buat dapetin lo. Tapi, lo malah terus ngejar malvin yang selalu lo jadiin topik pembicaraan di antara kita. Gue muak fir, GU-E MU-AK!” kalimat Nara terdengar penuh penekanan dan menggebu-gebu.
“Dan satu lagi,” Nara menarik tangan Ira yang tertunduk untuk mendekat. “Lo tau pelayan yang lo pecat dan lo siram dengan air panas di tangannya? Itu kakak sepupunya ira! Dia cacat sekarang fira, lo tau itu, dia cacat! Lo puas hah? Lo puas?” tandas Nara yang berteriak, meneriaki Shafira.
Shafira cukup tersentak namun ia tidak menurunkan pandangnya sedikitpun dari Nara. Inilah batas seorang Shafira yang tidak akan menyerah di hadapan siapapun yang menentangnya.
“Gue memang egois, gue jahat, gue kasar, tapi gue gag munafik."
"Gue gag pernah ngasih lo madu yang gue kasih sianida di dalamnya. Lo mau berteman sama gue, lo boleh datang. Lo gag suka, lo mau minta pertanggung jawaban dan lo muak deket gue sekalipun, lo boleh ngomong. Gue gag keberatan untuk sendirian di banding punya temen fake kayak lo.”
“Fir, kita sahabatan yaa… Kita ini sister. Forever dan ever.” Mencibir kalimat Nara sebelumnya.
“Gue yang seharusnya lebih muak nara. Lo brengsek! Lo munafik! Gue gag butuh temen kayak lo.” Tandas Shafira tidak kalah menyalak.
Seperti ada kilatan petir di atas kepala keduanya. Para siswa yang mengerumuni mereka pun ikut bungkam dan tersihir oleh perdebatan panas genk wanita di hadapan mereka.
Tanpa menunggu lama, Ia berbalik meninggalkan ketiga mantan sahabatnya. Namun langkahnya terhenti saat ia melihat Malvin yang berdiri seraya menatapnya. Entah apa arti dari tatapannya.
Shafira menghela nafas dalam, lantas melanjutkan langkahnya dan meninggalkan kerumunan yang terasa tengah menghakiminya.
Biarkan saja mereka dengan pikiran mereka, Shafira sudah tidak peduli.
****