
Melewati malam, Disa dan Kean sudah sama-sama bersiap dengan penampilan rapi. Seperti yang di janjikan Kean, mereka akan pergi ke suatu tempat yang sampai saat ini belum Kean jelaskan detailnya seperti apa.
Sebagai nona dan tuan muda Hardjoyo, mereka kompak memakai stelan serba hitam. Kean dengan jasnya yang membuatnya terlihat gagah dan Disa dengan dress selutut bercorak bunga kecil di bagian roknya, membuatnya terlihat cantik dan anggun.
“Silakan istriku.” Sambut Kean saat membukakan pintu mobil untuk Disa.
“Makasih suami.” Disa duduk dengan anggun di tempatnya disusul Kean yang duduk di balik kemudi.
“Udah siap?” tanyanya lagi.
“Hem!” sahut Disa dengan yakin. Kemanapun Kean membawanya, ia sudah sangat siap dengan penampilan terbaiknya malam ini.
Kean akui, malam ini istrinya terlihat sangat cantik dengan baju yang di pakainya. Baju yang ia jadikan tantangan siang tadi sebagai pemanasan untuk membuat desain sekaligus bajunya dengan cepat. Siapa sangka hasilnya sangat memuaskan saat ia kenakan.
Sepanjang jalan Disa memperhatikan jalanan yang ia lewati dengan dahi terkerut. Benar adanya kalau tidak baik membuat penasaran seseorang yang overthinking seperti Disa.
Sesekali Kean masih curi-curi pandang, pada istrinya yang tampak bingung akan di ajak kemana. Ia harus membagi fokusnya antara mengendalikan mobilnya dan asyik menatap Disa yang begitu menawan di sampingnya. Sapuan make up tipis membuatnya terkesan segar dan cantik. Bibirnya yang memakai lipstick tipis berwarna merah muda membuat Kean harus mengigit bibirnya sendiri, saat membayangkan betapa manisnya saat ia mengigit bibir Disa.
Pilihan tepat ia mengadakan acara yang private, agar tidak banyak pasang mata yang memandangi istrinya yang begitu menawan.
“A, kok aku rasanya kenal sama tempat ini ya?” ujar Disa saat mobil Kean masuk ke halaman sebuah hotel bintang 5.
“Iya, kita pernah ke sini.” Sahut Kean. Ia menghentikan laju mobilnya di depan lobby dan seorang petugas hotel menyambutnya. Membukakan pintu untuknya.
“Kamu tunggu bentar.” Pesan Kean yang diangguki Disa.
Ia turun lebih dulu, memberikan kuncinya pada petugas hotel dan berlari kecil untuk membukakan pintu Disa.
“Silakan, hati-hati.” Ujarnya seraya mengulurkan tangan menyambut Disa.
“Makasih a.” Disa meraih uluran tangan Kean hingga bisa berdiri tegak.
Untuk beberapa saat Disa memandangi bangunan hotel yang megah ini. Hotel yang pernah ia datangi saat memenuhi undangan orang tua Clara. Di hotel ini pula ia berdansa untuk pertama kalinya dengan Kean sekaligus mengalami kejadian yang cukup menakutkan dengan Marcel.
Mereka berjalan beriringan masuk ke dalam hotel. Seorang laki-laki yang mengenal Kean menyambutnya.
“Selamat malam tuan.” Mengangguk hormat pada Kean dan Disa.
“Malam.” Sahut Kean dan Disa membalasnya dengan anggukan.
“Semuanya sudah saya siapkan. Sebelah sini tuan.” Ia menunjukkan arah untuk Kean dan Disa.
Mereka masuk ke dalam sebuah lift namun tidak berhenti di lantai yang Disa kenali sebagai ballroom yang dulu mereka datangi. Tombol angka 21 di tekan oleh petugas hotel tersebut dan lift terus merangkak naik.
“Ding!” suara itu terdengar saat pintu lift terbuka dan mereka turun. Berjalan beberapa saat dan berhenti di depan sebuah kamar. “Sebelah sini tuan.”
Disa celingukan, karena ia pikir acaranya di sebuah ruangan luas dan terbuka. Ternyata di sebuah kamar.
“Tuan bisa memanggil saya jika memerlukan sesuatu.” Pesan petugas hotel tersebut sebelum ia pergi.
Kean hanya mengangguk tanpa sepatah katapun.
“A, kok acaranya di dalam kamar?” ia jadi sedikit parno saat mengingat Marcel yang memancingnya masuk ke dalam kamar hotel.
“Supaya kamu gak takut lagi masuk ke kamar hotel.” Timpal Kean seraya membukakan pintu untuk istrinya. Bagaimana bisa Kean tahu kalau Disa takut berada di dalam kamar hotel? Hal ini pula yang menjadi alasan Disa meminta menginap di rumah utama setelah resepsi pernikahannya. Tanpa sadar, kejadian itu memberinya trauma.
Kamar tipe Presidential Suite menyambut Disa di dalam sana. Ruangan yang sangat luas dengan didominasi warna emas membuat mata Disa langsung silau melihatnya.
“Masuklah.” Ajak Kean.
Ragu Disa masuk dan perlahan pintu pun tertutup.
Tempat ini seperti memiliki sihir yang menyihir mata Disa untuk memperhatikan detail segala sisi. Di dalam kamar terdapat dua zona yang memisahkan area istirahat dan hiburan. Kamar tidur utama yang luas dengan ukuran tempat tidur dua kali king size balut sprei putih berbahan sutra. Bantalnya terlihat sangat empuk dengan selimut tebal berwarna gold. Dan di hadapan mereka ada sebuah televisi besar yang menempel di dinding dengan satu sofa panjang di ujung tempat tidur. Di area istirahat ada sebuah meja makan yang sudah di tata cantik dengan lilin menyala di atasnya. Sudah pasti harga yang fantastis untuk membayar sebuah kenyamanan dalam kemewahan.
“A, ini cuma kita berdua?” tanya Disa ragu.
“Ceklek,” lampu utama padam, hanya bersisa cahaya redup kekuningan yang membuat suasana menjadi sangat romantis. Nyala lilin menjadi dominan di antara mereka.
“Hem. Duduklah, kita makan malam dulu.” Menarikkan kursi untuk Disa duduk lantas mereka duduk bersebrangan.
Tidak lama seorang pelayan masuk dan membawakan menu makan malam. Beberapa makanan terhidang di atas meja, makanan mewah khas hotel bintang lima. Mata Disa seperti disegarkan oleh penampilan cantik makanan yang di lihatnya. Hal ini jauh berbeda dengan cara ia menghidangkan makanan. Mungkin ia perlu belajar untuk menyenangkan hati suaminya.
“Kamu mau makan sama apa sayang?” tanya Kean setelah pelayan hotel pergi.
“Em, apa ya?” melihat banyaknya menu yang mengundang selera membuat Disa pusing sendiri.
“Mau steak?” tawar Kean.
“Em, boleh.” Walau ragu akhirnya Disa mengiyakan tawaran suaminya.
Kean mengambil satu piring steak lalu memotong-motongnya menjadi bagian kecil siap makan. “Spesial buat istriku yang cantik.” Ujar Kean, saat menempatkan sepiring steak di hadapan Disa.
“Makasih a.” dengan senang hati Disa menerimanya.
“Sama-sama. Makanlah,” di usapnya kepala Disa dengan lembut.
Mereka mulai menikmati makan malam dalam suasana hening. Tangannya asyik menyuapkan makanan sementara mata mereka asyik saling bertatapan penuh perasaan. Sesekali mereka saling melempar senyum, layaknya dua orang yang sedang di mabuk cinta.
“Gimana rasanya, enak?” suara Kean memecah keheningan.
“Iya a, enak.” Sahut Disa.
Kean sedikit mencondongkan tubuhnya, mendekat pada Disa dan mengusap sisa sauce yang ada di sudut bibir istrinya.
Disa segera mengusap sendiri sudut bibirnya, khawatir masih ada sisa makanan yang tersisa.
“Aku gak tahu kalo aa akan mengajakku makan malam di sini dengan suasana seperti ini.” Melihat kesekeliling ruangan yang terasa hangat dan romantis.
“Waktu kita ke sini, kita gak makan sama sekali. Cuma berdansa, itu saja. Jadi aku ingin melakukan hal-hal yang pernah terlewat oleh kita.” Terang Kean.
Suaranya yang berat dan dalam memang cocok di ajak berumah tangga. Seperti suara Kean memenuhi seluruh rongga di telinga dan kepalanya.
“Dan lagi, anggap saja ini ajak makan malam pertama kita setelah kita menikah.” Imbuhnya. Ia menggenggam satu tangan Disa yang berada di atas meja.
Disa terangguk setuju. Moment kebersamaan itu memang di ciptakan bukan di tunggu.
Selesai makan, mereka menutupnya dengan bersulang minuman di hadapan mereka. Masing-masing meneguknya hingga tandas setengahnya.
“Alhamdulillah, enak banget makanannya.” Ungkap Disa saat sesi makan malam itu selesai.
Setelah makan, Ia beralih menuju ke jendela besar kamar hotel tersebut. Perlu untuk menghela nafas dalam agar makanannya turun.
“Jangan keluar ya, dingin.” Kean menghampiri Disa lantas memeluknya dari belakang.
“Iya a.”
“Tapi aa kok gak bilang sih kalo mau bikin acara kayak gini? Aku kan bisa lebih siap-siap.” Disa masih protes karena Kean sudah membuatnya over thinking seharian, memikirkan acara yang akan mereka hadiri.
“Aku udah bilang kan kalau kamu tokoh utamanya malam ini?” bisik Kean di telinga Disa.
Disa menoleh Kean yang menempatkan dagunya di bahu Disa. Tubuhnya yang jangkung, melengkung mengungkung tubuh Disa yang mungil.
“Hehehe.. Iya sih. Kenapa aa jadi romantis gini? Gara-gara hasutan fira ya?” wajah Disa penuh tanya. Ia tahu kalau Shafira berkirim pesan dengan suaminya tapi entah tentang apa.
Yang jelas adik iparnya bilang, “Siap-siap bakal ada abang reborn.” Begitu pesan singkat yang di kirim Shafira semalam.
Kean hanya tersenyum, dikecupnya bibir Disa singkat. Mereka sama-sama memandang keluar jendela hotel yang lebar.
“Anak itu memang iseng. Ya anggap saja dia seperti memberi inspirasi untukku agar memperlakukan kamu dengan baik. Tapi apa yang aku lakukan bukan karena permintaan anak itu.” Sahut Kean tegas. Ia tidak mau kalau Disa berpikir apa yang ia lakukan kali ini karena permintaan Shafira.
“Kamu harus tahu, menikahi kamu pada dasarnya bukan sebuah keterpaksaan buat aku, ini sudah aku rencanakan sejak jauh hari. Menikahi wanita yang aku cintai dan membuatnya merasa terhormat dan bangga menjadikanku suaminya."
"Hanya saja keadaannya yang membuat semua tidak berjalan seperti yang aku harapkan.” Ujar Kean mengawali kalimatnya untuk menjelaskan lebih.
“Aku memang sangat ingin menikahi kamu dan tempat ini menjadi tempat yang aku rencanakan untuk melamar kamu.”
“Buat aku, tempat ini memberi kesan mendalam, karena tempat ini seolah menjadi sejarah bagaimana aku membebaskan diri dari rasa takut selama bertahun-tahun. Tempat ini membuat keberanianku muncul untuk tidak takut berada di dalam ruang yang sempit demi menyelamatkan kamu.”
Kean mengingat jelas saat ia mengumpulkan semua keberaniannya demi menyelamatkan Disa dari Marcel. Walau ia merasa sesak dan takut saat berada di dalam lift, keinginan untuk menyelamatkan Disa jauh lebih besar.
“Tempat ini juga yang menyadarkan aku, kalau aku ingin selalu ada di dekat kamu.” Membalik tubuh Disa menghadapnya lantas melingkarkan satu tangannya di pinggang Disa dan tangan lainnnya mentautkan jemari mereka.
“Berdansa sepanjang malam, sampai kita lelah.” Tubuhnya bergerak ke kanan dan kiri mengajak Disa berdansa. Seperti ada melodi yang tiba-tiba terdengar di telinga keduanya membuat suasana hangat dan intim jelas terasa.
“Kita bisa bercinta semalaman, saling berciuman, saling memeluk dan aku ingin membuat banyak kesempatan untuk sepenuh hati aku mengatakan, aku mencintai kamu dan aku beruntung memilikimu. Semua tentang kamu dan kita ada di rencanaku, sa.” Tandas kean.
Di tatapnya mata bening itu dengan lekat, mata yang sedikit berkaca-kaca menahan haru.
“Jadi, jangan lagi berpikir kalau kita bersama karena terpaksa. Hanya keadaannya saja yang tidak tepat. Kamu, adalah rencana terbesar dan keputusan teryakin yang pernah aku buat.” Lirih Kean menegaskan.
Tanpa sadar air mata Disa menetes begitu saja. Manis sekali ucapan Kean, seolah menghapus semua kegelisahannya selama ini.
“Sssttt… Ini bukan saatnya untuk menangis sayang.” Kean mengusap air mata Disa dengan lembut.
“Aku menangis bukan karena sedih tapi karena terharu a,” suara Disa terdengar tersengau-sengau.
Kean jadi tersenyum gemas. “Aku mencintaimu.” Di peluknya tubuh Disa dengan erat seolah ia tidak ingin melepaskannya.
Disa terangguk dalam pelukan Kean dengan perasaannya yang rasa bahagia yang memenuhi rongga hatinya. Ia semakin yakin kalau memutuskan untuk menjadi istri Kean adalah pilihan yang tepat dan tidak akan pernah ia sesali.
Beberapa menit mereka saling berpelukan, mengisi hati masing-masing dengan perasaan saling memiliki. Perlahan tangan Kean mengusap punggung Disa dengan lembut, sangat lembut sampai kemudian berubah menjadi sensual.
Sedikit menarik tubuhnya menjauh dari Disa, lantas ia menangkup satu sisi wajah Disa sebelum ia mengecup bibir Disa dengan lembut.
“I love you,” kata pertama yang selalu di katakan Kean sebelum ia memulai semuanya. Terlihat jelas tatapannya yang mengundang gairah.
“Love you more,” balas Disa, sekali lalu ia lebih dulu mencium suaminya.
Kean tidak lagi menunggu lama, ia meraih tengkuk lalu mencium bibirnya dengan serakah. Ini yang sedari tadi ingin ia lakukan, memagut Disa, menggigit kecil-kecil bibir yang terasa manis saat ia kecup. Di sesapnya bibir Disa dengan penuh gairah. Dengan leluasa lidahnya menjelajahi seisi rongga mulut Disa membuat keduanya terengah sesak bercampur gairah.
Nafas keduanya nyaris habis membuat Kean melepaskan pagutannya beberapa saat.
Ia menempatkan dahinya di dahi Disa, menatap mata yang nyaris bersentuhan. Hidung keduanya yang bersinggungan, memberikan hawa hangat yang menerpa wajah masing-masing. Ia tersenyum gemas melihat wajah Disa yang memerah seperti buah cerry. Pancingan yang cukup untuk ia berbuat lebih.
Jangan tanya wajahnya seperti apa kali ini, ada banyak kilatan gairah yang ia tunjukkan lewat tatapan matanya pada Disa.
Setelah rongga dadanya terisi udara yang cukup, ia kembali memagut Disa lebih ganas lagi. Membawa Disa di atas tempat tidur lantas mendudukannya di atas pangkuan. Perlahan ia melepas resleting baju Disa dan membiarkan Disa melepas jas hingga kancing kemejanya.
Hasrat yang sudah tidak tertahan membuat Kean tidak hanya menikmati saat ******* bibir Disa. Ia mengecupi tengkuk Disa, memberi jejak kemerahan di leher dan dada Disa membuat wanitanya melenguh tidak tertahan.
Berikutnya ia membawa Disa berguling ke atas tempat tidur. Menarik selimut untuk menutupi tubuh polos mereka. Satu per satu kain penutup tubuh mereka beterbangan tidak tentu arah. Yang terdengar berikutnya hanya suara erangan dan lenguhan dari keduanya. Malam yang panjang benar-benar baru di mulai oleh sepasang kekasih yang sedang di mabuk cinta. Mengungkapkan perasaan dengan cara yang berbeda.
******