
Keinginan Meri untuk pulang tidak bisa di bantah. Ia langsung mengatakan apa yang ia rasakan pada dokter yang di buat termangu saat memeriksanya. Penjelasan medis apapun yang disampaikan dokter, tidak membuat Wanita ini mengubah pikirannya.
“Saya diem di sini bukan tambah sehat dok, tapi tambah sakit. Di suruh istirahat tapi monitor di samping saya terus bunyi, ini selang juga ada di mana-mana, belum lagi kabel di dada saya. Saya udah kayak siap-siap di suruh mati. Saya gak bisa kayak gini dok, saya mau pulang aja.” ujarnya dengan nafas yang masih terengah menahan sesak.
“Kalo saya mati juga paling nggak saya gak ngerepotin anak dan keponakan saya.” imbuhnya bersikukuh.
“Bu,..”
Damar segera mendekat. Mendengar kata mati begitu ringan diucapkan Meri membuatnya semakin takut mendengar kata itu. Dua kali ia di tinggalkan dengan cara yang menakutkan itu, ia tidak siap kalau wanita satu-satunya yang ia punya juga akan pergi dengan cara yang sama.
"Ibu gak apa-apa damar, udah baikan. Tiduran di rumah juga bisa sembuh." Berusaha menenangkan putranya namun tidak begitu saja menghapus kecemasan Damar.
Dokter yang memeriksa Meri segera menengahi. “Mohon maaf kalau ibu merasa tidak nyaman. Kami melakukan semua ini, agar kondisi Kesehatan ibu selalu terpantau."
"Saya yakin, anak dan keponakan ibu masih mengharapkan ibu sehat dan lebih lama berada di tengah-tengah mereka.” Ujar dokter wanita berhijab tersebut. Sabar sekali ia meladeni semua keluh kesal Meri.
Meri menatap satu per satu wajah yang ada di hadapannya. Ada ketakutan yang terlihat di matanya. “Saya menyayangi mereka dok, tapi saya tidak suka menyulitkan mereka seperti ini. Saya bersedia kalau harus minum obat yang banyak dan saya pastikan saya akan meminumnya dengan teratur. Tapi, saya mohon. Saya mau pulang saja. Saya mau berkumpul dengan mereka di rumah.”
Meri yang keras kepala memang tidak bisa di bantah. Berada di rumah sakit lebih lama membuat bayang-bayang kematian terasa lebih dekat dan nyata. Belum lagi perasaan tidak berguna karena harus merepotkan Damar dan Disa yang menjaganya seharian ini.
Ia terbiasa melakukan semuanya sendiri, memikul bebannya tanpa melibatkan siapapun. Ia wanita yang mandiri dan ia tidak mau di masa tuanya ia malah membuat susah semua orang.
Dokter di hadapan Meri hanya bisa menghela nafas dalam. Sepertinya ia sudah tidak bisa mengubah pemikiran Meri. Bukan ia tidak percaya pada pengobatan yang mereka berikan namun secara psikologis yang tidak siap dan menolak. Dan itu tidak baik untuk proses penyembuhannya.
“Baik kalau ibu bersikeras untuk pulang. Saya akan memberikan resep obat-obatan untuk ibu di rumah. Selain itu, kami juga meminta penanggung jawab ibu untuk menanda tangani surat penolakan pengobatan. Apa ibu bersedia?”
“Iya, nanti saya tanda tangan. Yang penting saya bisa pulang.” Sahutnya dengan cepat.
Dokter itu hanya tersenyum dan meminta Damar untuk menemui bagian administrasi.
“Semoga di rumah ibu bisa lebih cepat pulih ya. Jangan lupa untuk atur pola makan dan istirahat karena itu penting untuk kesembuhan ibu. Lebih baik lagi kalau ibu berolah raga ringan supaya otot-otot tubuh ibu lekas kuat kembali.” Terang dokter pada akhirnya.
Meri memandangi tangan kirinya yang memang sedikit lemah. Kata dokter sebelumnya, ini bukan stroke. Beruntung masih bisa diobati hanya saja memakan waktu yang cukup lama selain itu ia harus mengatur pola hidupnya agar lebih sehat.
“Iya dok.” Sahutnya penuh keyakinan. Ia memang bertekad untuk sembuh tapi tidak di sini prosesnya.
Damar dan Disa akhirnya menghadap kebagian administrasi. Biaya rawat inap dalam sehari memang cukup besar walau sudah dikurangi biaya saat di UGD. Belum lagi Damar harus menandatangani surat pernyataan pulang paksa. Beberapa point-nya membuat nyalinya menciut karena apabila sesuatu terjadi pada pasien, itu di luar tanggung jawab pihak rumah sakit. Bisa di pahami karena memang ia yang mengambil keputusan ini. Lagi pula ia hanya bisa menuruti kemauan Meri. Berdebat dengan ibunya tidak akan menghasilkan keputusan yang baik apalagi kalau harus memaksa.
“Ini mong, lo bisa pake ini dulu.” Disa menyodorkan kartu ATMnya untuk membayar biaya rumah sakit.
Damar menatapnya nanar namun lantas tersenyum.
“Gak usah sa, kan gue ada uang pesangon. Masih cukup kalo buat bayar ini doang sih.” Ia memilih untuk menolak bantuan Disa. Baginya terlalu memalukan kalau ia terus merepotkan Disa.
“Duit lo, bisa lo pake buat biaya sehari-hari atau kalo tante perlu kontrol. Ayolah mong, tante meri juga orang tua gue. Gue mau berbuat sesuatu buat dia, ya walaupun cuma dengan cara seperti ini.” Disa membenamkan kartu ATM nya di tangan Damar. Keinginannya sudah bulat untuk meringankan sedikit beban Damar.
Lagi pula, jika ia melihat penyebab dari apa yang di alami Meri dan Damar, bantuannya tidak seberapa. Ia tidak hanya membuat Meri dan Damar kehilangan rupiah tapi juga kehilangan ketenangan dan kebahagiaan. Sesuatu yang tidak bisa ia bayar pakai uang.
Damar terangguk setuju. Benar yang diucapkan Disa, pengobatan Meri jangka panjang dan tentu ia perlu menyiapkan biaya yang cukup selama ia belum mendapatkan lagi pekerjaan.
“Makasih sa, makasih buat kebaikan lo.” Lirih Damar pada akhirnya.
Disa hanya terangguk, seraya menepuk bahu sahabatnya untuk ia semangati.
“Gue nemenin tante ya, lo selesein dulu semuanya.”
“Hem. Gue gak lama kok.”
Disa segera kembali ke ruangan. Ia harus membereskan barang-barang Meri sebelum pulang. Namun baru beberapa langkah ia berjalan, ia harus berhenti saat tiba-tiba ia melihat sosok laki-laki yang berdiri di ujung lorong.
Entah harus senang atau sedih saat ia melihat Kean berdiri di sana dengan sebuah parcel buah di tangannya. Laki-laki itu tersenyum dengan hangat menunggu Disa di tempatnya namun senyuman hangat itu yang kemudian membuat hatinya bergejolak.
Beberapa saat ia mematung, memikirkan apa yang harus ia lakukan kemudian. Semakin Kean mendekat semakin ia mulai merasa takut. Ada banyak hal yang membuat ia takut saat Kean memberikan perhatian tidak hanya pada dirinya melainkan pada keluarganya. Karena apa yang Kean lakukan mungkin akan memantik kemarahan tuan besarnya.
Namun pada akhirnya, Disa tetap harus menghadapi Kean.
“Maaf karena aku baru ke sini. Tadi ada yang harus di urus di kantor. Gimana kondisi tantemu?” pria tampan itu berbicara dengan tenang. Perhatian dan kepeduliannya membuat Disa merasa tersentuh dan sesak di waktu yang bersamaan.
Ia hanya bisa memandangi Kean dengan berjuta perasaan yang ada di dadanya. Bisakah ia bertahan di tengah himpitan keadaan yang semakin sulit atau ia harus lari dari masalahnya dan meninggalkan laki-laki ini?
“Hey, kok malah bengong.” Kean mengusap pipi Disa dengan lembut dan membuat Disa tersadar.
“Jangan tuan.” Ia segera menepis tangan Kean yang masih menempel di pipinya. Sapuannya yang lembut selalu bisa membuat perasaan Disa menggila. Tapi kali ini harus ia redam, ya redam sekuat yang Disa mampu walau mungkin itu bisa membuat dadanya remuk.
"Gak ada yang liat ini. Lagian, apa salahnya kalau ada yang liat?" goda Kean dengan senyumnya yang menawan.
Disa tidak menimpali, ia memilih terduduk di kursi tunggu dan diikuti oleh Kean.
Kean memperhatikan wajah Disa yang sendu, banyak kecemasan yang disimpannya.
“Apa tantemu baik-baik saja? Bagaimana penjelasan dokter?” Mungkin keadaan Meri yang tidak terlalu baik hingga membuat Disa murung.
“Apa aku boleh menemui beliau? Aku juga ingin berkenalan dengan tantemu.”
Kean terus berbicara dengan penuh semangat, berusaha untuk menunjukkan kepedulian dan perhatiannya, tidak hanya pada Disa tapi juga pada keluarganya.
Disa tersenyum tipis seraya tertunduk memandangi kedua tangannya yang saling tertaut. Ada banyak kebimbangan yang mengisi pikiran dan perasaannya. Kean terlalu manis, terlalu menyenangkan dan terlalu ia cinta. Kean memperlakukannya dengan sangat baik hingga ia merasa kalau dirinya memiliki arti bagi seseorang yang ia cinta. Lalu, bisakah melepaskan hal yang membuat ia merasa kalau hidup itu tidak hanya hitam dan putih?
Di helanya nafas dalam sesaat sebelum menatap Kean. Ia harus menenangkan pikirannya sendiri sebelum mengambil keputusan. Percayalah, ia sudah berdebat hebat dengan hati dan pikirannya sebelum akhirnya bertanya,
“Tuan, biasakah kita mengakhiri semuanya?” lirihnya pelan.
Ia memberanikan diri untuk menoleh Kean yang termangu di sampingnya.
“Maksudmu?” lak-laki itu mengernyitkaan dahinya, masih belum mencerna apa yang Disa katakan.
Disa mengalihkan pandangannya ke depan sana, mengatakan hal ini seraya menatap Kean terlalu menyesakkan untuknya.
“Saya merasa, kalau apa yang kita lakukan saat ini adalah sebuah kesalahan.”
“Kita tidak bisa melanjutkan sesuatu yang kita mulai dengan salah."
“Akan ada banyak orang yang terluka dan bukan hanya kita berdua.”
Sampai kalimat ini, Kean mulai menyadari maksud Disa. Ia menaruh parcel buah yang ada di tangannya lantas mengusap wajahnya kasar.
“Apa kamu merasa hubungan kita adalah sebuah kesalahan?” wajah hangat Kean berubah dingin. Ia memperhatikan tangan Disa yang saling tertaut untuk meredam gemetar yang ia coba sembunyikan.
“Semua yang terjadi di antara kita terlalu indah tuan, hingga saya berfikir semuanya hanya cukup menjadi mimpi. Kita bisa tersenyum di dalamnya namun pada kenyataannya kita hanya bisa menangis.” Nafas Disa tercekat, pertahanan yang ia buat sejak awal nyaris runtuh saat kata demi kata keluar dari mulutnya. Kenapa hatinya begitu sakit saat kata-kata itu mengalir begitu saja?
“Tidak bisakah kamu menungguku sebentar lagi? Kita sudah berjalan sejauh ini sa, aku hanya harus menyelesaikan apa yang sudah aku mulai. Dan urusan dengan papah, aku bisa menyelesaikannya.” Suara Kean terdengar parau. Ia masih tidak menyangka akan mendengar hal seperti ini dari Disa.
Beberapa saat lalu, ia merasakan kecemasan saat melihat Disa yang murung tapi kali ini, ada rasa takut yang menggila saat mendengar ucapan Disa. Kehilangan Disa, bukan hal yang ia persiapkan sebelumnya karena ia berfikir, ia tidak akan melepaskan Disa untuk alasan apapun.
Tapi, gadis yang katanya akan menunggunya mulai menyerah. Dan ia tahu alasan mengapa Disa mulai menyerah.
“Apa yang akan tuan selesaikan? Hubungan tuan dengan tuan besar?"
"Seperti apa penyelesaiannya, apa sudah tuan pikirkan?” tangis Disa mulai pecah, walau hanya ada butiran air mata yang menetes tanpa bisa ia tahan.
“Hubungan kita adalah air yang memberi kesejukan saat kita meneguknya. Sementara hubungan tuan dan tuan besar adalah hubungan darah, darah yang membuat tuan bisa duduk di samping saya seperti saat ini.”
“Kita mungkin bisa bertahan lebih lama tanpa air tapi, darah yang mengalir di tubuh anda, tidak akan pernah berubah. Pun darah yang mengalir di tubuh saya, sudah jelas muaranya.”
Mengingat ucapan Sigit saat berdebat dengan Arini, hatinya semakin menjerit. Ia sadar siapa dirinya dan seperti apa posisinya. Namun ia tidak menyangka kalau hubungan seorang pelayan dan tuan mudanya adalah sebuah kesalahan besar yang tidak bisa di terima tuan besarnya.
Buntutnya sekarang, Sigit benar-benar membuktikan ancaman yang pernah ia katakan pada Disa.
“Disa, aku mohon. Aku memintamu menunggu sebentar lagi, aku mohon lakukanlah.” Kean meraih tangan Disa namun dengan cepat Disa menghindar.
Ia menatap wajah Kean yang pucat seperti tidak siap kalau keputusan ini akhirnya di ambil Disa.
“Sampai kapan tuan? Sampai kapan saya harus menunggu?”
“Apa sampai satu per satu orang disekitar saya mendapatkan kemalangan seperti ini?” pertanyaan Disa membuat Kean tertunduk lesu. Ia tidak bisa menjawabnya.
Ia memang tidak bisa memastikan kapan bisa meluluhkan hati Sigit namun ia sedang berusaha, berusaha sebaik mungkin untuk melindungi Disa. Hingga tanpa ia sadari, Sigit tidak hanya mengusik Disa tapi mengusik orang-orang disekitarnya.
“Mereka keluarga saya, saya tidak akan membiarkan mereka menanggung beban yang tidak seharusnya mereka pikul.”
“Jadi, sebaiknya kita akhiri saja.” Lirihnya kemudian. Ia sudah sangat yakin dengan keputusannya.
Di sampingnya Kean memandangi Disa dengan tidak percaya. Matanya sudah memerah dan berkaca-kaca hingga
nyaris pecah.
“Disa,” suaranya parau. Ia membalik tubuh Disa agar menghadapnya. Kean belum bisa menerima keputusan Disa. Ia yakin, masih ada yang bisa diperbaiki.
“Maafkan saya tuan.” Lirih Disa seraya melepas tangan Kean yang memegangi pundaknya.
Ia beranjak dari tempatnya, berlari menjauh dari Kean yang hanya termangu dengan butiran air mata yang menetes di pipinya. Ia mengabaikan perhatian beberapa orang yang melewatinya dan melihatnya menitikkan air mata.
Ia tidak peduli pada pikiran orang-orang. Ia hanya ingin seperti ini, tidak beranjak dan tidak berfikir apapun. Hanya hatinya yang bergejolak dan sedang mengeja kenyataan kalau Disa meminta mengakhiri semuanya.
Apa Disa benar-benar meninggalkannya?
Di belakang sana, di balik dinding putih yang tidak jauh dari Kean, Disa menangis sesegukan dengan tangan membekap mulutnya untuk meredam suaranya. Ia sengaja memilih bersembunyi, menepi, mengeluarkan semua kemarahan yang di tahannya. Ia tidak pernah menyangka kalau tuan besarnya akan bertindak sejauh ini namun ini nyata. Semuanya hanya akan berakhir kalau hubungannya dengan Kean berakhir.
Tuhan, apakah mencintai seseorang harus sesakit ini?
******