Marry The Heir

Marry The Heir
Andai bisa abai...



Suara sirine yang baru tiba di gerbang rumah sakit terdengar begitu menggetarkan hati siapapun yang mendengarnya. Bayangan kematian dan perpisahan menjadi satu-satunya perasaan yang muncul di benak orang-orang terkasih. Di belakangnya ada mobil mewah hitam yang mengikuti dengan jarak yang sangat rapat seolah tidak ingin memberi jeda dan kesempatan pada sebuah perpisahan.


Tidak lama, mereka berhamburan turun saat Marwan membuka kunci pintu mobil. Di atas blankar tubuh Sigit di bawa masuk ke ruang tindakan untuk mendapatkan pertolongan pertama.


Shafira, Marwan dan Kinar segera menyusul mengikuti petugas medis yang berjalan dengan cepat lantas menutup pintu ruangan di hadapan mereka.


“Silakan untuk menunggu di luar. Kami akan memeriksa pasien lebih dulu.” ujar seorang dokter yang tergesa-gesa masuk ke ruang UGD.


“Baik dok, terima kasih.” Sahut Marwan. Satu-satunya orang yang masih bisa mengendalikan perasaan dan pikirannya.


Shafira dan Kinar terduduk lemas di kursi tunggu. Shafira yang tidak mengucapkan sepatah katapun, pandangannya yang kosong tertuju pada kedua tangan yang tadi ia gunakan menopang kepala Sigit. Tidak terbayang jika tadi ia tidak tiba-tiba masuk ke ruang kerja Sigit untuk memberi ayahnya cemilan sore berupa buah potong dan jus sayuran. Belakangan hal ini sering ia lakukan sesuai saran Disa untuk memperhatikan dady-nya lebih lagi.


Laki-laki itu menutup mata tepat beberapa saat setelah Shafira menemukannya. Seperti dalam sinetron, Shafira berteriak namun suaranya tidak keluar. Ia terlalu kaget, terlalu takut melihat kondisi Sigit yang terbaring di lantai dan tidak sadarkan diri.


Sekalipun laki-laki itu kerap mengacuhkannya, nyatanya harus kehilangan Sigit tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.


Di sampingnya ada Kinar yang terus menerus menangis bahkan sejak dalam perjalanan ke rumah sakit. Ia tidak henti meminta Marwan memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi, menyalip kendaraan lain di depannya agar jarak mereka tidak terlalu jauh dari ambulan yang membawa tuan besarnya menuju rumah sakit. Ia benar-benar tidak bisa tenang dan tidak ada yang menenangkannya karena masing-masing dikuasai oleh kecemasannya.


“Kami sudah sampai di rumah sakit nyonya. Tuan besar sedang dalam pertolongan tim medis.” Marwan berbicara melalui telpon dengan Arini.


“Iya nyonya, tidak perlu tergesa-gesa, semoga tuan besar bisa segera sadarkan diri.” Ragu sebenarnya saat Marwan mengatakan hal itu.


Beratnya penyakit yang di derita tuan besarnya membuat ia khawatir kalau Sigit tidak bisa tertolong.


Aneurisma cerebral, penyakit yang belakangan di derita Sigit. Ukuran pembesaran atau penonjolan pembuluh darah otaknya memang belum terlalu besar sehingga Sigit menolak untuk di operasi. Namun dokter sudah mengatakan kalau banyak hal yang bisa membuatnya membesar dengan cepat bahkan pecah.


Belakangan kondisi tubuhnya yang mulai melemah, seperti nyeri di sekitar mata, mengelu pusing dan sakit kepala, keseimbangan terganggu, juga sulit berkonsenstrasi atau memiliki daya ingat yang lemah. Hal ini yang menjadi alasan mengapa ia terpaksa harus mundur lebih awal dari posisinya sebagai direktur utama di Hardjoyo group.


Ia memaksa Kean menduduki posisi ini karena ia sudah tidak mampu melakukan pekerjaannya sebaik dulu.


Namun, meski tongkat kepemimpinan sudah beralih pada Kean, nyatanya tidak lantas mengurangi beban pikiran Sigit selama ini. Banyaknya masalah yang kerap muncul, seolah menjadi pancingan untuk penyakitnya kambuh dan semakin parah.


Marwan menyayangkan semua ini. Ia pikir ia bisa menjaga majikan sekaligus sahabatnya dengan baik nyatanya tidak. Ia gagal membuat Sigit bertahan lebih lama, menikmati posisi yang seharusnya ia miliki sejak kecil.


Ya, Marwan adalah salah satu sahabat Sigit yang sama-sama di besarkan di panti. Marwan di sekolahkan sama halnya seperti Sigit hingga ia bisa merasakan kehidupan yang lebih baik. Dan orang ketiga di foto itu adalah Kinar. Wanita yang tidak henti meneteskan air mata untuk laki-laki yang masih terbaring lemah di dalam sana.


Takut dan panik adalah dua perasaan yang tidak bisa tolak kehadirannya. Ia terlalu takut jika sesuatu yang buruk terjadi pada tuan besar sekaligus sahabatnya. Ia tidak bisa membayangkan, seperti apa hidupnya nanti jika Sigit tidak baik-baik saja.


“Nyonya!” seru Kinar saat melihat kedatangan Arini dan Kean.


Ia langsung berhambur memeluk Arini dengan erat dan menangis sejadinya. Shafira dan Arini saling bertatapan penuh tanya, kenapa Kinar bisa sesedih ini?


Sementara Marwan hanya tertunduk melihat sikap sahabatnya. Selama bertahun-tahun Kinar melawan rasa takut dan cemasnya tapi kali ini pertahanannya runtuh. Ia menyerah, membiarkan orang lain melihat sisi lain yang ia sembunyikan.


“Tenanglah. Mas sigit akan baik-baik saja.” Lirih Arini seraya mengusap punggung Kinar. Entahlah, kali ini ia merasa kalau Kinarlah yang lebih perlu di tenangkan di banding dirinya.


“Iya nyonya. Maafkan saya karena tidak bisa menjaga tuan besar dengan baik.” Sahut Kinar dengan isakan pelan yang masih terdengar.


Arini hanya tersenyum tipis, entah mengapa melihat Kinar seperti ini perasaannya malah tidak karuan.


“Dimana mamihmu fir?” Arini mengalihkan pertanyaannya pada Shafira yang sedari tadi hanya mematung.


“Mamih,” ia bingung sendiri untuk menjawab. Otaknya seperti kosong setelah kejadian tadi.


“Nyonya liana dalam perjalanan pulang dari Australia nyonya. Beliau menghadiri acara pernikahan adik sahabatnya.” Marwan yang memberikan jawaban.


“Maafin mamih tante.” Gadis kecil ini yang meminta maaf dengan sungguh pada Arini.


Ia tahu, harusnya dalam situasi seperti ini, Liana ada di antara mereka. Meski tidak bisa membuat Sigit membaik paling tidak, mereka bisa saling menguatkan menghadapi rasa takut dan panik yang mereka rasakan. Dan paling tidak, mereka ada satu sama lain dalam kondisi yang sulit.


Arini hanya tersenyum kelu, seraya mengusap kepala Shafira. Banyak masalah yang saat ini di hadapi keluarganya. Ia tahu benar, Liana tipe orang yang tidak bisa bertahan dalam keadaan yang tidak membuatnya nyaman. Sangat wajar kalau ia memilih bepergian untuk menenangkan pikirannya. Walau pada kenyataannya, sejauh apapun ia pergi, masalah tidak akan pernah selesai dengan di biarkan.


“Keluarga bapak sigit hardjoyo?” panggil seorang petugas medis.


“Iya, kami keluarganya.” Sahut Marwan dengan cepat.


Marwan menoleh Kean yang berdiri di belakangnya. Laki-laki muda yang semula bersandar pada dinding itu tampak menegakkan tubuhnya. Melangkah masuk ke ruangan yang bertuliskan ruang resusitasi. Marwan bisa menghela nafas lega, meski ia tidak bisa menebak apa yang tersembunyi di balik sikap dingin Kean, ia masih harus bersyukur karena tuan mudanya tidak abai. Masih ada kepedulian dalam hatinya pada laki-laki yang selama ini menyulitkannya.


“Mohon maaf saya harus mengatakan ini, namun sepertinya tuan sigit memang akan sulit untuk bertahan.” Kalimat menakutkan itu diucapkan dokter dengan hati-hati. Wajahnya tidak terlihat baik-baik saja saat mengatakan hal tersebut.


Kean menoleh Sigit yang terbaring tidak jauh dari tempat ia berada. Hanya sebuah kaca besar yang membatasi mereka. Bisa terlihat, banyak alat yang terpasang di tubuhnya untuk membantu laki-laki itu bertahan menghadapi rasa sakitnya.


“Lalu apa yang seharusnya kita lakukan sekarang?” Marwan yang bertanya lebih dulu. Sementara Kean hanya menyimak seraya memandangi Sigit dengan perasaan berkecambuk.


“Aneurisma di otaknya pecah dan menyebabkan perdarahan. Kami harus melakukan operasi namun resikonya memang sangat besar.” Dokter itu menghela nafas dalam, berat mengatakan hal ini namun ia harus sampaikan.


“Jika perdarahannya sedikit dan terkendali, pasien bisa tertolong. Namun, tidak menutup kemungkinan pasien meninggal di meja operasi jika kondisinya memburuk.” Menjeda kalimatnya dan menunggu respon dua orang di hadapannya yang hanya termangu.


Raut wajah Kean tetap tidak berubah namun tidak begitu dengan beriak di hatinya yang semakin lama semakin deras hingga terasa seperti gulungan ombak.


Pagi tadi, Sigit memanggilnya dan berbicara dengannya. Mereka berdebat sengit hingga pada akhirnya Kean mengucapkan sumpah di telinga laki-laki paruh baya itu. Berulang kali Sigit memanggil namanya namun Kean tidak berhenti apalagi berbalik. Permintaan Sigit untuk mencabut sumpahnya pun ia abaikan begitu saja. Kemarahannya terlalu besar untuk sekedar melihat kembali wajah laki-laki itu.


Lalu apa yang terjadi sekarang, kenapa laki-laki itu malah tumbang? Bukankah ia seharusnya merasa semakin berkuasa karena akhirnya Kean menyerah? Apa akan berbeda keadaannya jika tadi mereka tidak berdebat? Mengapa masih ada rasa sesal di hatinya?


“Tugas kalian adalah menyelamatkannya. Lakukan hal yang memang seharusnya kalian lakukan.” Sebaris kalimat itu yang Kean ucapkan lantas memalingkan wajahnya dari pandangan terhadap Sigit. Kean menatap dokter yang duduk di hadapannya dengan dingin, tanpa ekspresi sedikitpun. Hanya tidak bisa di pungkiri kalau tatapannya kosong.


“Tentu tuan, kami pasti akan melakukan yang terbaik untuk pasien kami. Hanya saja, kami harus meminta persetujuan keluarga dan bersiap untuk kondisi yang terburuk.” Tegas dokter tersebut yang berusaha tenang.


Marwan mengusap wajahnya kasar. Ia tidak pernah menyangka kalau sahabatnya akan mengalami masa seperti ini. Saat muda mereka pernah berjanji kalau mereka akan tertawa bahagia sampai mereka tua. Menikmati masa dimana roda kehidupan mereka sedang berada di atas. Namun nyatanya, hanya kesulitan dan masalah yang dihadapi sahabatnya seumur hidupnya, seolah kebaikan tidak pernah berpihak padanya.


“Danu bertahanlah.” Batin Marwan, seraya memandangi Sigit dari kejauhan.


******


Keputusan sudah di ambil dan keluarga setuju untuk dilakukan operasi. Apapun resikonya, mereka siap untuk menghadapinya.


Di luar ruangan, Arini masih terduduk di kursi roda, menunggu giliran untuk menemui Sigit sebelum laki-laki itu di bawa ke ruang operasi.


10 jam kurang lebih waktu yang akan dilewati Sigit untuk bertarung dengan maut. Bisa lebih lama jika tindakan yang dilakukan menemui kesulitan namun bisa di atasi atau lebih singkat jika ternyata Sigit tidak bertahan. Hanya ada dua kemungkinan itu.


Hati Arini mencelos melihat apa yang terjadi pada Sigit saat ini. Laki-laki angkuh yang membuatnya pernah merasa hidup segan mati tak mau itu kini mendapat giliran untuk berbaring di ruang resusitasi dengan harap-harap cemas. Entah apa yang ada di alam bawah sadarnya saat ini, apa ia sedang menyesali semuanya atau masih berdiri kokoh tidak terbantahkan seperti biasanya. Tidak ada yang bisa menebak hati dan pikiran Sigit. Arini sadar, ia hanya menikahi tubuh laki-laki itu namun hati dan pikiran mereka tidak pernah tertaut.


Yang menambah rasa ketir di hatinya saat ini adalah, saat melihat Kinar yang tidak henti menangisi kondisi Sigit.


Wanita itu menggenggam dengan erat tangan Sigit yang lunglai seraya mengusap dahi Sigit dengan lembut. Bukan hal sepatutnya yang dilakukan oleh seorang pelayan namun menjadi hal yang pantas jika pikirannya selama ini benar. Kinar bukan hanya seorang pelayan bagi Sigit dan Sigit bukan sekedar majikan bagi Kinar. Ada hal yang lebih dalam dari itu semua, terlebih saat tatapannya yang sayu dan lekat, seolah ikut merasakan kesakitan yang saat ini Sigit rasakan.


“Bu kinar lebay banget sih tan. Sampe segitunya.” Ternyata perasaan yang sama dirasakan oleh gadis cantik yang berdiri di samping Arini.


Gadis polos ini juga bisa merasakan kedekatan yang tidak biasa antara Sigit dan Kinar.


“Bu kinar sudah mengenal dady-mu jauh sebelum kita. Sangat wajar kalau mereka dekat. Lagi pula, kita beruntung, semakin banyak orang yang peduli pada dady-mu maka semakin banyak orang yang mendo’akan kesembuhannya. Hem?” tutur Arini dengan tenang. Tidak bisa ia pungkiri kalau dalam hatinya ia menyangsikan sendiri ucapan yang keluar dari mulutnya.


Hatinya mengingkari kebenaran ucapannya dan logikanya mulai berjalan mengingat kejadian selama ia mengenal Kinar dan Sigit. Mungkin saja orang yang ia percaya tidak seharusnya menjadi orang yang benar-benar ia percaya.


“Kinar.” Marwan yang berdiri di belakangnya segera menyadarkan Kinar dari apa yang ia lakukan. Ia melihat dengan sudut matanya, Arini dan Shafira yang tengah memandangi kedua sahabatnya. Wajahnya terlihat tenang namun bukan berarti perasaannya tidak bergejolak.


“Waktumu habis. Gantian dengan nyonya besar dan nona muda.” Bisik Marwan.


“Astaga, apa yang aku lakukan?!” Kinar segera tersadar. Ia mengusap dengan kasar air mata yang membasahi kedua pipinya. Bukan waktunya ia untuk terpuruk seperti ini apalagi memperlihatkannya di hadapan orang lain.


“Kuatlah tuan.” Lirihnya dengan tangis yang masih ia tahan agar tidak kembali pecah. Sejenak memandangi wajah Sigit yang terlelap sebelum melepas tangan Sigit yang ia genggam dengan erat. Ada banyak ketakutan yang dirasakannya salah satunya ketakutan jika ia tidak bisa lagi melihat sigit di dekatnya.


“Ayo, keluarlah. Nyonya besar menunggu.” Marwan memegangi bahu Kinar dan membawanya keluar ruangan. Saat bertemu pandang dengan Arini, ia hanya bisa menunduk. Terlalu malu untuk memperlihatkan wajahnya yang sembab.


Sementara Arini, ia berusaha terlihat biasa. Saat ini yang ingin ia lakukan adalah menemui Sigit dan berdo’a untuk kesembuhan suaminya. Sesakit apapun luka yang pernah Sigit torehkan, laki-laki ini tetap memiliki tempat di hatinya.


Andai ia bisa abai seperti saat Sigit memperlakukannya, mungkin saat ini ia tidak akan merasa takut untuk alasan apapun.


*****