Marry The Heir

Marry The Heir
3 Pesan



Sudah cukup malam saat Disa dan Shafira sampai ke rumah utama. Sepanjang jalan mereka masih cekikikan membicarakan hal remeh-temeh untuk menghibur satu sama lain. Tawa mereka terhenti saat melihat Kinar yang membukakan pintu samping untuk Disa dan Shafira.


“Selamat malam nona muda.” Sapa Kinar yang mengangguk hormat pada Shafira.


“Malam.” Sahutnya. “Mba disa, aku ke toilet dulu, kebelet pipis dari tadi ketawa mulu.” Shafira memegangi perutnya yang memang ingin segera miksi.


“Baik nona, silakan.”


Shafira segera pergi menuju kamar mandi pelayan, sementara Disa masih mematung berhadapan dengan Kinar.


“Selamat malam bu,” ia baru menyapa Kinar.


“Malam. Masuklah.”


“Iya bu, terima kasih.”


Disa segera masuk dan menuju kamarnya. Ia sudah sangat ingin mandi.


Di taruhnya tote bag di atas meja, dan kain yang ada di dalamnya ia masukkan ke dalam lemari. Sebisa mungkin Shafira tidak melihatnya, agar menjadi kejutan.


“Disa.. Disa..” panggil sebuah suara disertai ketukan pintu di luar sana.


“Ya, sebentar.” Disa beranjak dari tempat duduknya untuk membukakan pintu.


“BRAK!” pintu terbuka dengan cepat saat mendapat dorongan dari luar.


Disa cukup terkejut saat mendapati seseorang yang berdiri di hadapannya adalah Wati yang menatapnya dengan kesal.


“Wati, ada apa?” masih terkejut dengan kedatangan tiba-tiba Wati.


“Gak usah sok polos.” Adalah kalimat pertama yang Wati ucapkan seraya menunjuk wajah Disa.


“Kamu sengaja kan, ngasih tau acara bikin kopi yang salah supaya aku kena omel tuan muda?” lanjutnya yang berjalan mendekat.


“Hah, cara bikin kopi yang salah gimana, aku ngasih tau yang sebenarnya kok.” Disa mengernyitkan dahinya tidak mengerti.


"Alaaahh, gak usah bohong deh. Gara-gara kamu salah ngasih tau cara bikin kopi buat tuan muda, aku kena omel.” Sentak Wati dengan mata menyalak.


Mendengar keributan, Tina dan Nina segera menghampiri. Mereka keluar dari kamar masing-masing.


“Ini ada apa sih?” Tina yang sudah berpakaian tidur segera menghampiri saat mendengar suara keributan di depan kamar.


“Ini nih disa!” seru Wati ke hadapan Disa. “Ngasih resep kopi yang salah udah gitu roti tawar habis. Jadinya aku dimarahin sama tuan muda dan di suruh pulang.” Keluh Wati dengan wajah tertekuk dan bibir mengerucut.


Mulut Tina dan Nina yang baru datang tampak membulat tanpa suara, sekarang mereka tahu alasan Wati pulang lebih awal dan seharian uring-uringan tidak jelas.


“Aku ngasih resep yang bener kok. Gag dibedain dari biasanya aku bikin. Dan roti tawar, ada di kitchen set paling ujung, seperti yang aku bilang kemarin.” Sahut Disa dengan penuh keyakinan.


“Ya tapi pas aku bikin kopinya terlalu pahit, jadi aku tambah gula dikit. Kata tuan muda malah gag enak.”


“Kamu cicip ti?” tanya Nina, Tina dan Disa bersamaan.


Wati mengangguk pelan tapi kemudian ia tersadar. Dengan segera matanya membulat dan ia menutup mulutnya dengan kedua tangan.


“Kamu yang bego kenapa mba disa yang kamu salahin?” suara Shafira terdengar dari arah belakang sana. Sontak keempat gadis itu menoleh lalu tertunduk.


Wajahnya berubah pias, terutama Wati.


Siapa yang tidak kaget saat melihat Shafira datang bersama Kinar.


“Kenapa kamu tidak mendengar perintah saya untuk tidak mencicipi makanan atau minuman tuan muda?” tanya Kinar kemudian.


Keempat gadis itu memilih untuk diam, tidak ada yang berani menjawab pertanyaan Kinar. Sepertinya Kinar mulai tahu alasan Kean begitu marah saat pengganti Disa bekerja di rumahnya.


Satu per satu wajah pelayan di tatap Kinar. Tidak ada yang berani mengangkat wajahnya. Nafasnya saja seperti tengah mereka tahan.


“Kalian harus tau, aturan di rumah ini adalah mutlak. Bekerja dengan benar atau kalian akan menanggung akibatnya.” imbuh Kinar dengan kalimat yang lebih terdengar sebagai ancaman.


“Baik bu.” keempat gadis itu kompak menjawab.


“Masuk ke kamar kalian.” titahnya kemudian.


“Apa termasuk aku?” Shafira yang bertanya seraya menunjuk batang hidungnya sendiri.


“Benar nona. Ini sudah cukup malam. Besok non fira sekolah.” berusaha bijak menjawab pertanyaan nona mudanya.


“Ya udah. Selamat beristirahat semua. Bye mba disa.” ujar Shafira seraya melambaikan tangannya pada Disa.


Disa hanya mengangguk seraya tersenyum.


Satu per satu orang-orang pergi dari tempatnya. Di mulai dari Shafira, lalu Kinar dan barisan pun bubar jalan. mereka masuk ke kamar masing-masing tidak terkecuali Disa.


Menutup pintu kamar rapat-rapat, lalu menjatuhkan tubuhnya ke atas tempat tidur. Bibirnya tampak tersenyum mengingat hari indah yang ia lewati. Masih terlihat jelas di ingatannya, sosok Reza yang tampan dengan senyumnya yang menawan membuatnya tersenyum gemas lalu berguling ke kanan dan kiri.


Disa menangkup wajahnya dengan kedua tangan, terasa hangat dan sepertinya memerah.


Ia tersenyum sendiri saat teringat kalau Reza mengajaknya bertemu di lain waktu. Ia tidak pernah menyangka akan berada pada jarak yang sangat dekat dengan laki-laki yang kerap membuatnya terpaku dengan perasaan berbunga-bunga.


Tidak perlu menjadi astronot untuk pergi ke bulan, membayangkan Reza saja sudah membuatnya terbang tinggi melewati angkasa.


Tenggelam dalam lamunan membuat Disa nyaris tidak menyadari kalau malam sudah semakin larut. Disa melihat jam di dinding kamarnya dan sudah menunjukkan hampir jam 10 malam. Waktu begitu cepat berlalu.


“Astaga, aku belum mandi.” gumamnya seraya beranjak dari tempat tidurnya.


Ia segera mengambil handuk dan masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Tidak banyak waktu yang ia habiskan, karena air terasa begitu dingin dan ia cukup membersihkan tubuh alakadarnya.


Tubuh mungilnya masih berbalut handuk. Ia mengambil daster merah maroon kesayangannya dan mengenakannya. Rambut panjangnya ia gerai lalu menyisirnya, membiarkannya kering alami. Selintas ia melihat baju seragamnya yang tergantung di hanger. Sepertinya ia sudah harus siap untuk bekerja lagi esok hari.


Sebelum pergi tidur, ia mengeluarkan barang-barang dari tote bag-nya. Sebuah kain untuk baju Shafira dan tentu ponselnya.


Tunggu, ponselnya menyala, memberi notifikasi pesan.


Ada 3 pesan masuk ke ponselnya. Pesan pertama beberapa menit lalu dari nomor tidak di kenal yang menawarkan kredit dan pinjaman. Belakangan, semakin marak saja sms serupa yang mengatas namakan pihak peminjam uang yang bisa memberikan pinjaman besar dan cair dalam beberapa jam. Entah ini benar atau tidak tapi Disa yakini ini adalah sebuah penipuan.


Disa menyebutnya “Lintah darat milenial.”


Pesan berikutnya, masuk 1 jam lalu adalah dari Damar. Wah, cukup mengejutkan melihat Damar mengiriminya pesan.


“Sa, nyokap sakit. Kalo sempet, main ke sini ya tengokin nyokap. Dia nanyain lo terus.” sebaris pesan tersebut membuat wajah Disa tampak sendu.


Dengan cepat ia mengetikkan pesan balasan. “Sorry baru bales. Tante sakit apa? Udah ke dokter?” pesan terkirim.


Beberapa menit ia menunggu jawaban Damar dan kembali sebuah pesan masuk.


“Syukurlah kalo tante udah baikan. Sorry gue belum sempet nengok. Kabar gue baik. Besok gue telpon ya kak. Lo sendiri apa kabar?”


“Iya nanti gue bilangin. Baik. Lo baik-baik aja kan di rumah besar itu?”


Disa masih memandangi ponselnya. Ia merasakan pesan penuh kecemasan yang di kirim Damar.


“Gue baik-baik aja. Kan cuma lo yang bisa bikin gue gag baik-baik aja.” balas Disa lengkap dengan simbol titik koma dan kurung tutup.


Ia tersenyum sendiri membaca pesan yang ia kirim pada Damar. Masih teringat jelas saat dulu Damar berkata, “Lo harus selalu baik-baik aja. Cuma gue yang boleh gangguin lo, resek sama lo dan bikin lo ngambek. Kalo ada yang bikin lo gag baik-baik aja, mereka bakal berurusan sama gue.”


Lama, sudah sangat lama kalimat itu diucapkan Damar. Tepatnya saat mereka masih SMP dan berteman sangat baik. Dan setelah pernikahan om dengan tantenya, Damar seperti mewujudkan apa yang dia ucapkan.


Hanya ia yang mengganggu Disa dan membuat Disa kesal. Tapi saat ada orang lain yang mencoba mengganggunya, mereka akan berhadapan dengan Damar dan menyelesaikan masalahnya dengan cara yang tidak pernah Disa mengerti.


Terkadang ia rindu sahabatnya yang begitu perhatian dan sedikit posesif. Karena saat bersama Damar, ia merasa kalau ia penting bagi orang lain.


Disa menghela nafasnya dalam. Sudah 5 menit berlalu namun Damar tidak membalas pesannya. Atau mungkin Damar tidak akan membalas pesannya. Yang bisa ia lakukan saat ini adalah mematikan lampu lalu berbaring di bawah selimut.


Sangat nyaman, saat punggungnya berada pada posisi lurus. Perlahan helaan nafasnya mulai terdengar teratur. Matanya terpejam dan ia siap menyambut mimpi indah yang mungkin mampir.


Lalu, satu pesan lagi?


******


POV Kean:


Hari baru telah dimulai. Suara ketukan di pintu yang sangat aku kenali kembali terdengar. Aku hanya bisa tersenyum saat kemudian aku mendengar suaranya.


“Selamat pagi tuan, saya disa. Saat ini sudah jam 6 pagi.” ujarnya dari balik pintu.


Aku melihat jam dinding di kamarku dan memang tepat jam 6 pagi. Dia memang tepat waktu, itu yang aku suka.


Aku tidak menimpali. Sebenarnya aku sudah bangun sejak satu jam lalu, menunggu dia mengetuk pintu dan membangunkanku.


Jangan tanya ada apa denganku hari ini, karena aku sendiri pun tidak tahu. Hanya saja rasanya aku lebih siap menghadapi hari-hari yang mungkin akan melelahkan.


Aku sudah mengenakan sepatu olah ragaku. Handuk pun sudah aku bawa beserta skiping.


“Ceklek.” aku membuka pintu dan ku lihat dia yang tampak terkejut melihat aku yang tiba-tiba membuka pintu.


“Selamat pagi tuan, anda sudah bangun?” tanyanya basa-basi.


Aku ingin tertawa melihat ekspresi wajahnya. Cepat sekali ekspresinya berubah dari terkejut menjadi berusaha ramah.


“Dimana air minumku?” tanyaku tanpa basa-basi.


“Sudah saya siapkan di atas meja tuan. Silakan.” Ia sedikit bergeser, memberiku ruang untuk lewat.


Lantas aku berjalan di depannya dan ia mengekori dari belakang. Tunggu, aku menghentikan langkahku begitu pun dengan dia. Aku masih ingin menolehnya karena aku merasa raut wajahnya sedikit berbeda. Apa dia menggunakan perona pipi atau sejenisnya? Lalu apa dia memakai bedak atau lipstik?


“Ada yang tertingggal tuan?” tanyanya saat melihatku hanya terpaku.


Kesempatanku untuk berbalik dan menatapnya sebentar. “Ponselku.” jawabku random.


Dia hanya mengangguk, kemudian memberiku jalan untuk lewat menuju kamar. Sampai di kamar, yang kucari bukan ponsel karena ponsel sudah ada di saku celanaku. Aku hanya masih memikirkan perubahan ekspresi wajahnya. Aku yakin ada yang berbeda.


Dua sampai tiga menit aku habiskan di kamar untuk merenung. Saat keluar kamar, dia sudah tidak ada di tempatnya. Mungkin sudah turun. Aku mempercepat langkahku dan saat menuruni tangga aku kembali berjalan dengan gagah, tidak tergesa-gesa.


Kulihat dia sudah ada di depan meja makan. Menyambutku dengan senyuman yang seharian kemarin tidak aku lihat.


“Silakan tuan.” suaranya menyadarkanku pada segelas air yang tadi aku minta.


“Hem,” aku segera mengambilnya lalu meneguknya hingga tandas.


Aku masih memperhatikan ekspresi wajahnya, sesenang itu dia kembali bekerja di rumahku.


“Bagaimana liburmu?” tanyaku basa-basi.


Arrgghhh aku tidak suka dengan kata “Basa-basi” tapi kenapa aku malah melakukannya.


“Sangat menyenangkan tuan. Terima kasih.” akunya dengan wajah yang semakin ceria.


Sungguh itu mengangguku. Saat aku merasa tersiksa, dia malah terlihat bahagia. Bukankah ini sedikit tidak adil?


Dan entah kenapa aku malah duduk di kursi, ada yang masih ingin aku katakan.


“Saya bisa memberimu libur satu minggu full. Tapi, kamu harus mengambilnya setiap 6 bulan sekali.” kalimat itu meluncur begitu saja dari mulutku.


“Hari raya kamu boleh libur selama 3 hari. Bagaimana?”


Astaga, negosiasi macam apa ini? Ada apa dengan mulutku, sepertinya dia punya pikiran sendiri saat akan berbicara.


“6 bulan tuan?” tanyanya dengan dahi sedikit berkerut.


“Hem.” aku balas dengan mentautkan kedua alisku. Aku ingin dengar apa jawabannya.


Dia tampak berfikir keras. Jemari tangannya diam-diam sedang berhitung atau mungkin sedang membuat pertimbangan.


“Bolehkah kalau dua bulan ke depan saya ambil libur saya 2 hari dan setelah itu anda boleh mengurangi libur 6 bulanan saya?”


“Hah, bagaimana?”


Astaga, aku terdengar bodoh bukan? Karena sibuk memperhatikan ekspresi wajahnya, aku jadi tidak menyimak.


“Jujur tuan, saya sudah berjanji untuk pulang ke bandung saat libur dua bulan ke depan. Saya sangat menghargai penawaran tuan, hanya saja saya sangat merindukan nenek saya.”


Raut wajahnya berubah sendu, entah mengapa aku merasa iba. Merindukan nenek, alasan yang cukup emosional.


“Baik, kamu boleh pulang dulu ke bandung. Tapi setelah itu libur per 6 bulan berlaku.”


“Benarkah tuan?” matanya membulat dengan senyum mengembang. Ini senyuman yang tidak pernah aku lihat sebelumnya.


“Hem,.” aku tidak ingin lagi berdebat. Ku akhiri saja.


“Terima kasih tuan, terima kasih banyak.” ungkapnya sambil beberapa kali mengangguk hormat.


Aku tersenyum samar, ternyata bagi sebagian orang, bahagia itu sederhana. Dan buatku, membuat orang bahagia itu cukup mudah. Hanya dengan sebuah bujukan kecil dan senyumnya langsung mengembang.


Hah, lucu.


*****