
Membeli obat, makanan dan memesan barang pokok ke sebuah toko menjadi agenda Disa saat ini. Ia ingin memastikan kalau neneknya tidak kekurangan apapun terutama bahan pangan. Untuk apa bekerja keras kalau orang tersayangnya tidak menikmati hasilnya? Begitu pikir Disa. Lagi pula, tujuan ia bekerja adalah untuk memenuhi kebutuhan keluarganya.
Disa memilih menggunakan beca sebagai alat transportasi dari satu tempat ke tempat lain. Sudah sangat lama ia tidak menikmati naik becak keliling Bandung. Sinar matahari yang tidak terlalu terik dan angin yang sepoi-sepoi menjadi teman yang menyenangkan untuk menghabiskan waktu bersapa rindu dengan kota Bandung.
Hal tidak di sangka terjadi saat tuan mudanya meminta ikut dan rela berdesakan naik becak. Awalnya ia menolak menggunakan kendaraan beroda tiga itu tapi entah apa alasannya hingga akhirnya ia setuju naik becak dan duduk bersisihan dengan Disa.
Disa mengeluarkan satu tangannya, merasakan hembusan angin yang meniup punggung dan telapak tangannya. Menarik nafas dalam-dalam hingga akhirnya Kean merusak suasana dengan menepis tangan Disa.
“Nanti tangan kamu keserempet motor!” serunya saat melihat beberapa motor yang sein kanan belok kiri. Salah satu perilaku viral pengendara motor saat ini.
“Tangan saya tidak sepanjang itu tuan, masa bisa sampai keserempet.” Disa berujar tidak suka. Bibirnya mengerucut kesal karena Kean benar-benar merusak suasana hatinya.
“Belum, bukan tidak. Lama-lama tangan kamu semakin panjang, mau merasakan udara lebih dan lebih lagi.” Masih tidak terima Disa membantahnya.
Baikah tuan muda, saya menurut saja. Gumam Disa dalam hatinya. Tidak ada gunanya berdebat dengan seseorang yang selalu di takdirkan menang.
Melihat Disa yang akhirnya menurut, Kean tersenyum puas. Bisa di atur juga ini anak, pikirnya. Senyumnya semakin lebar saat melihat kaos yang saat ini di pakainya. Kaos dari sebuah distro lokal di bandung dengan warna mustard dan celana selutut berwarna abu terang.
Satu stel baju ini tiba-tiba saja ada di atas tempat tidurnya setelah Kean mandi. Lengkap dengan under wear. Kalau mengingat kejutan tadi pagi, rasanya ia gemas sendiri. Bagaimana bisa ukuran yang di pilih Disa begitu pas di tubuhnya.
“Dimana kamu membeli baju ini?” mengangkat sedikit kain di bagian dadanya yang bertuliskan simply. Cukup menarik menurutnya.
“Di distro milik teman saya. Bandung ini surganya fashion tuan, jangan aneh kalau saya bisa dengan mudah mendapat satu stel baju untuk anda.” Tuturnya dengan bangga.
Ya Kean mengakuinya, Bandung memang salah satu pusat perbelanjaan baju yang murah dan berkualitas, seperti yang Kean pakai. Hanya saja pemilihan warnanya, bagaimana bisa Disa memikirkan warna ini sementara baju yang biasa Kean kenakan adalah warna-warna gelap.
Dan bisa-bisanya ia nyaman memakai baju ini.
“Anda harus keluar dari zona nyaman tuan. Selain hitam, putih dan abu-abu, masih ada banyak warna yang harus tuan coba supaya hidup tuan semakin berwarna.” Pintar sekali gadis ini membaca pikiran Kean yang terpaku memandangi baju yang dikenakannya.
“Tahu dari mana saya memikirkan baju ini?” sedikit menyelidik karena perkiraan Disa tepat.
“Em, dari ekspresi tuan. Tuan terlihat tidak percaya diri. Padahal, tuan itu tampan, gagah, cocok memakai baju apapun. Kenapa harus tidak percaya diri?” kalimat itu dengan lancar keluar dari mulut Disa.
“Oh, jadi saya tampan dan gagah?” Kean mengutip sebagian kalimat Disa yang menurutnya disampaikan dengan tulus untuk menghiburnya.
“Em, enggak juga.” Mencoba memalingkan wajahnya yang terlihat memerah. Keceplosan kan jadinya.
“Akui saja kalau saya tampan dan gagah. Pake malu-malu segala.” gumam Kean yang tidak tahan ingin tertawa. Hidungnya serasa terbang mendapat pujian tidak terduga dari Disa.
“Haduh, sepertinya tuan sangat haus pujian.” Timpal Disa, yang melengos memilih untuk memperhatikan penjual cuanki di pinggir jalan. Sepertinya enak siang-siang begini makan cuanki dan di beri taburan pilus. Jangan lupa sauce-nya yang banyak. Tambahkan sambal juga, pasti enak.
Di banding memandangi tuan mudanya yang kadang menyebalkan seperti saat ini, jiwa nartistiknya seperti bangkit setelah mendapat pujian dari Disa.
“Hey, lihat saya kalau sedang berbicara.” Protesnya yang tidak menerima Disa malah melihat ke arah lain.
“Ayolah tuan, bandung itu indah. Masa saya harus ngeliatin tuan terus?” mencoba berkilah walau sebenarnya bukan itu yang ia rasakan. Terlalu lama memandangi Kean membuat perasaannya tidak menentu, inilah hal yang sebenarnya Disa hindari.
Semakin menarik, Disa mulai berani membantahnya dan itu membuat Kean gemas. Sejujurnya ia lebih suka Disa yang seperti ini, Disa yang menunjukkan pemikiran dan perasaannya. Bukan Disa yang hanya mengangguk-angguk saja, menuruti setiap perintahnya. Dengan begini ia jadi tahu apa yang disukai dan tidak disukai Disa.
“Pak, berhenti depan apotek yaa..” teriak Disa pada bapak pengayuh becak
“Siap neng.” Dia langsung sigap, membelokkan becaknya menepi di depan apotek.
Walau sudah tidak muda lagi, tenaganya masih cukup kuat untuk mengangkut Kean dan Disa serta beberapa barang bawaan.
“Saya turun di sini aja. Nanti minta tolong barang belanjaan saya di bawa ke rumah yang cat krem ya pak. Yang ada pohon mangga besar.” Menaruh kembali belanjaannya di atas becak.
“Rumah mak jenar nya neng?” bapak tukang becak ternyata juga mengenal Jenar, sehingga Disa tidak perlu memberi petunjuk yang lebih panjang.
“Iya pak. Ini ongkosnya.”
“Siap neng!”
Perginya tukang becak masih di perhatikan Kean. Ia tidak percaya melihat Disa membiarkan tukang becak itu pergi membawa barang-barang yang di belinya.
“Kamu percaya sama orang tadi?” mengikuti langkah Disa dengan perasaan tidak yakin.
“Percaya tuan. Beliau masih orang sini, cuma mangkalnya memang agak jauh.” Terang Disa yang mulai memperhatikan deretan obat-obatan di apotek.
“Tapi bisa aja kan dia kabur? Bawa barang-barang kamu dan uang yang kamu kasih. Tidak semua orang itu baik disa.” Kean menyangsikan pilihan Disa.
“Tapi tidak semua orang juga seperti yang tuan pikirkan.” Sahutnya cepat. “Teh, beli obat ini yaaa… Ini Salinan resep dari pak mantri.” Menyodorkan selembar copy resep pada petugas apotek, sementara Kean masih memandangi Disa dengan tidak percaya.
Bagaimana gadis ini semudah itu percaya pada orang lain? Di jaman sulit seperti sekarang, orang-orang menghalalkan segala cara untuk mengambil yang bukan haknya dan Disa dengan entengnya memberikan kesempatan yang bisa di salah gunakan.
“Tidak perlu di pikirkan tuan, saya tahu rumah bapak tukang becaknya. Beliau ayah teman SD saya. Beliau mungkin lupa pada saya tapi saya tidak lupa pada beliau.” Terang Disa, seolah menjawab rasa penasaran Kean.
Kean menghela nafas lega. Ternyata bukan tanpa alasan Disa memberikan kepercayaannya pada laki-laki tersebut.
“Yang menjadi rejeki kita tidak akan hilang walau orang-orang berusaha mengambilnya. Dan yang bukan rejeki kita, bisa di ambil kapan saja, bahkan yang di dalam mulut pun bisa saja di muntahkan kalau bukan rejeki kita.”
Kean yang terpaku, seperti berfikir saat kalimat itu begitu ringan keluar dari mulut Disa.
“Iya saya setuju, hanya saja cara kamu tadi membuat saya sedikit kaget.” Tersenyum samar mengingat kecurigaannya sendiri.
“Bapak itu, sudah jadi penarik becak sejak seingat saya. Satu-satunya pekerjaan yang dia punya ya hanya itu. Jadi tidak mungkin beliau dengan mudah merusak kepercayaan orang yang menggunakan jasanya. Reputasi yang dia jaga seumur hidup, bisa hancur berantakan karena satu kesalahan.”
Sebenarnya Disa mengerti benar pemikiran tuan mudanya saat protes dan itu tidak salah. Tapi Disa mencoba memberikan kepercayaan pada bapak becak tadi. Toh walaupun ia memberi umpan, ia masih memegang kail yang bisa kembali ia Tarik.
“Ya syukurlah kalau seperti itu. Semoga bapak tadi bisa menjaga kepercayaan kamu.” Timpal Kean akhirnya. Semakin kagum saja pada gadis di hadapannya.
“Ini teh, semuanya dua ratus tiga puluh delapan ribu.” Obat sudah selesai di kemas. Ada 3 jenis obat yang di masukkan ke dalam plastik dan masing-masing sudah di beri label nama dan dosis.
“Oh iya teh, ini uangnya.” Memberikan beberapa lembar uang pada petugas apotek.
“Pas yaa.” Sahutnya setelah menghitung uang dari Disa. “Obatnya udah di kasih label ya teh, semuanya di minum setelah makan.”
“Iya teh, makasih.” Satu agenda lain selesai di kerjakan dan Disa bisa segera pulang.
“Berapa lama kamu tidak pulang?” tiba-tiba saja Kean merasa penasaran. Melihat sikap Imas dan neneknya saat melihat Disa pulang, sepertinya sudah cukup lama mereka tidak bertemu.
“Sudah cukup lama. Terakhir pulang, waktu saya libur semester. Hampir setahun lalu.” Kenang Disa.
Akh kalau di ingatkan kapan Disa terakhir pulang selalu saja membuatnya sedih. Terlalu lama ia meninggalkan bibi dan neneknya.
“Kalau kamu mau pulang dan mengunjungi nenekmu, kamu bisa bilang. Jangan menunggunya sakit baru kamu pulang.” Ada yang berbeda dari tuan mudanya saat ini. Kalimatnya terdengar lebih lembut seperti ada rasa bersalah.
Terlepas dari masalah Kean dengan orang tuanya terutama papahnya, Kean memang sangat menghormati orang tuanya. Terutama ibunya. Dan terbukti, walaupun kemarahannya masih cukup besar pada papahnya, tidak lantas membuat Kean tidak berusaha memperbaiki keadaan. Laki-laki ini masih berusaha mendekat pada ayahnya walau cara yang ia lakukan masih belum membuahkan hasil. Tapi satu proses telah ia lewati, mencoba menjadi seorang anak yang lebih baik.
“Terima kasih tuan.” Jadi terharu rasanya mendengar kepedulian Kean terhadapnya.
Kean hanya tersenyum dan mengangguk pelan.
Di tengah perjalanan, tiba-tiba seorang pengendara motor melajukan motornya dengan cepat, melewati Kean dan Disa. Bukan hanya itu, ia pun berteriak meledek.
“Jangan mau neng, gak bakal di kawinin.” Teriak laki-laki itu sekali lalu tertawa puas berhasil menggoda Disa dan Kean. Laki-laki itu pergi begitu saja, membawa kendaraannya berbaur dengan kendaraan lain di jalanan tanpa rasa bersalah.
Sementara di ajak bercanda Kean hanya bisa mengupat, membuat suasana menjadi canggung bagi keduanya.
“Dia hanya bercanda tuan.” Disa berusaha menertralisir keadaan. Mungkin tanpa sadar apa yang mereka lakukan telah mengundang perhatian dan keisengan orang lain.
Kean mengguyar rambutnya kasar. Sungguh itu bukan candaan yang lucu karena di menit berikutnya membuat perasaannya tidak nyaman dengan ucapan tadi. Ternyata ia bisa baper juga dengan candaan orang lain padahal ia sangat suka menggoda Disa.
****
Ponsel Kean terus berdering meninggalkan beberapa panggilan yang tidak terjawab. Yang empunya tampak asyik berbincang dengan Jenar di teras, mengabaikan ponselnya seperti tidak peduli.
Setelah panggilan saat sarapan tadi, Kean jadi sering mengabaikan ponselnya. Menaruhnya sembarangan seolah tidak peduli kalau orang lain perlu berbicara dengannya.
“Itu hp siapa neng, dari tadi bunyi terus?” Imas yang sedang menyiapkan makan siangpun ikut berkomentar.
“Punya tuan muda bi.” Memandangi Kean yang asyik menyimak banyak petuah dari Jenar.
“Coba atuh kasih tau, bisi ada yang penting. Dari tadi gak berhenti orang nelponin.”
Disa hanya tersenyum samar. Baru ia akan beranjak menuju kamarnya, tiba-tiba saja ponselnya yang kali ini berdering. Dengan cepat ia menjawabnya.
“Assalamu a’alaikum bu..” Disa merespon dengan cepat panggilan dari Kinar.
Imas memandanginya penuh tanya, sementara Disa hanya menggeleng. “Iya bu, baik bu. Saya mohon maaf bu.” Kalimat-kalimat itu yang akhirnya di ucapkan Disa yang lantas kembali menutup telponnya.
“Siapa? Kayaknya serius pisan neng?” mode kepo Imas menyala.
“Em, dari Jakarta bi.” Sahutnya lemas. Memandangi Kean dengan perasaan gamang. “Kayaknya disa harus pulang.” Imbuhannya terdengar lirih.
“Kenapa neng, apa ada masalah?”
“Gak ada apa-apa bi. Cuma,” entah seperti apa ia harus menjelaskannya pada Imas. Mana mungkin ia bilang kalau Kinar menyampaikan ketidaksukaannya karena Disa mengajak tuan mudanya pulang ke Bandung.
Ia hanya bisa mencengkram ponselnya untuk menyalirkan kerisauannya dengan wajah bingung dan memandangi Kean dari kejauhan. Seperti apa ia harus mengemas kalimatnya pada tuan mudanya?
“Ya udah, kalau ada yang penting mah, eneng pulang lagi aja. Da nenek juga udah baikan. Tuh liat, udah minum obat mah seger lagi, bawel lagi.”
Imas mencoba memahami apa yang Disa pikirkan. Antara harus memenuhi panggilannya atau tetap di sini menemani sang nenek, memang sebuah pilihan sulit.
“Tapi,” hatinya terlalu berat.
“Eh neng, jangan gitu ah. Kalo ada yang penting, harus cepet eneng selesaikan."
"Di sana itu, majikan eneng. Tempat eneng kerja dan nyari penghasilan yang halal."
"Eneng harus menghormati orang yang udah ngasih eneng pekerjaan. Cari kerjaan zaman sekarang teh susah. Jangan cari penyakit.”
“Lagian, kalo neng pulang karena ngerasa bersalah gak jagain si nenek, itu juga gak bagus. Bukan itu seharusnya yang jadi alasan eneng pulang.”
Disa termangu mendengar ucapan Imas. Benar juga yang Imas katakan. Harusnya ia pulang bukan karena merasa bersalah tapi karena ia memang memperdulikan keluarganya. Dua alasan yang berbeda walau ujung tetap menjadi alasan untuk Disa pulang.
Akhirnya Disa memutuskan menghampiri Kean. Memberikan ponsel tuan mudanya yang sedari tadi sering ia tinggal. Seperti ia sedang menghindar dari sesuatu.
“Sepertinya kita harus pulang tuan.” Ujarnya saat memberikan ponsel Kean.
“Kenapa? Harus sekarang?” Entah ia benar-benar kaget atau hanya sebuah alasan untuk menghindar. Yang jelas terlihat sekarang, Kean masih betah berada di rumah ini. Padahal ini bukan tempat seharusnya ia merasa betah.
“Bu kinar bilang, tuan besar meminta anda pulang.” hanya itu yang bisa Disa jadikan alasan.
Raut wajah Kean berubah dengan cepat. Sudah bisa ia perkirakan kalau ini masalah ia harus makan malam dengan Brata dan Clara.
“Ya sudah, kalau begitu saya akan pulang. Kamu bisa tetap di sini.” cara satu-satunya adalah mengikuti kemauan Sigit sebelum masalah baru terjadi. Lagi pula, ia tidak bisa lagi menghindar. Semuanya harus ia selesaikan dengan cepat.
“Saya ikut tuan.” Sambung Disa.
“Untuk apa? Kamu masih boleh tinggal di sini sampai kamu yakin kalau nenek kamu sudah lebih baik.”
“Tidak tuan, saya akan pulang dengan anda. Saya yang membawa tuan ke sini dan saya tidak mau gara-gara saya tuan terkena masalah.”
“Tidak begitu disa. Masalah saya bukan gara-gara kamu.” Kean berusaha meyakinkan.
“Tentu saja iya tuan. Kalau saja saya menuruti perintah bu kinar untuk menjaga jarak dengan anda, mungkin tuan besar atau bu kinar tidak akan semarah ini.” Batin Disa. Sayangnya tidak bisa ia katakan pada Kean. Ia hanya bisa menggantinya dengan memelas.
“Saya mohon tuan. Nenek saya sudah lebih baik dan saya bisa meninggalkannya.” Walau berat, akhirnya Disa harus mengambil keputusan ini.
Kean hanya bisa menghembuskan nafasnya kasar. Kalau sudah seperti ini, ia tidak bisa lagi membantah Disa.
*****