Marry The Heir

Marry The Heir
My Lady



POV KEAN:


Aku tidak pernah menyangka, kalau aku akan masuk ke rumah ini lagi. Memenuhi makan malam? Hah jangan becanda, itu hanya sebuah istilah klasik untuk membuatnya terdengar kalau kami adalah sebuah keluarga.


Sejak Om Marcel datang ke rumah, aku sudah yakin untuk tidak pernah datang. Bisa aku bayangkan, apa yang akan terjadi saat kami berkumpul nanti. Semua perbincangan pasti tentang perusahaan. Harta-harta peninggalan kakek, pembagian waris dan berakhir dengan saling sindir kegagalan yang seolah menjadi alasan bagi satu sama lain untuk saling menjatuhkan.


Terlalu picik menurutku dan itu bukan lingkaran dimana seharusnya aku berada.


Beberapa bulan lalu, saat aku pulang dari Amerika, aku pun di sambut dengan sebuah makan malam keluarga. Semua anggota keluarga besar hadir. Orang tuaku, pamanku, para sepupu papah hingga orang-orang terdekat di keluarga papah ikut hadir merayakan kepulanganku. Sekilas mereka tampak bahagia, tertawa riuh dan saling melempar lelucon hingga semua di akhiri dengan kondisi bersi tegang.


Ironis, aku tidak pernah merasa kalau itu sebuah makan malam sambutan atas kepulanganku melainkan lebih terasa seperti sebuah pengukuhan kalau papah memilikiku sebagai seorang calon penerus perusahaan keluarga yang bisa ia banggakan lebih dari sepupu-sepupuku.


Aku di banggakan bukan sebagai putranya melainkan sebagai seorang laki-laki muda lulusan luar negri, dengan gelar cum laude dan pernah merintis usaha sendiri di amerika sana. Tapi tidak pernah sekalipun ia mengatakan kalau ia bangga memilikiku sebagai putranya.


Ya, baginya aku hanya seorang penerus perusahaan tidak kurang atau lebih. Itu pun karena aku bisa merintis usaha sendiri. Jika aku tumbuh menjadi seorang berandal, mungkin papah tidak akan pernah memintaku pulang, karena ia tidak pernah membutuhkanku.


Masih segar dalam ingatan, saat 20 tahun lalu aku di paksa berangkat ke luar negri. Tepatnya setelah tragedi kebakaran di rumah kakek. Pak Marwan yang menyiapkan semuanya. Mengemasi barang-barangku, mengurus surat-surat kepindahanku dan memberiku tempat bersekolah yang asing.


Bagi sebagian orang, aku seperti di manjakan dengan kekayaan. Bisa bersekolah di sekolah international yang bergengsi dengan biaya pendidikan yang sangat tinggi tapi bagiku, aku merasa seperti di buang.


Saat itu, rasa sakit karena luka bakar di punggungku bahkan belum sembuh. Tapi, papah sudah bersikukuh untuk mengirimku pergi tanpa mau memberi alasan. Ia ingin aku segera di kirim ke negeri orang, tanpa pernah ia bertanya sekalipun apa aku bersedia atau tidak tinggal di sana.


“Pah, kean gak mau pergi pah. Kean mau sama papah aja. Kean mohon pah.” Saat itu sambil meringis menahan sakit aku memegangi ujung kemeja papahku. Namun papah dengan wajah dinginnya mengabaikan rengekanku. Ia lebih mementingkan panggilan di telponnya dan bertanya kondisi perusahaan pasca terjadinya tragedi.


Harus kalian tahu, kakekku meninggal di hari terjadinya tragedi. Kesedihan orang-orang hanya beberapa jam saja, setelah itu semua sibuk berlomba mengklaim kalau mereka berhak mendapatkan bagian harta waris kekayaan kakek. Untuk alasan itulah papah menyiapkanku selayak mungkin untuk menjadi penerus perusahan Hardjoyo agar tidak sedikitpun kekayaan yang jatuh ke tangan orang lain.


Hah, sangat menyebalkan. Aku bahkan tidak punya kesempatan untuk di perhatikan dan di pedulikan. Aku menangis sendiri di kamar dengan selang infusan yang masih mencap di punggung tangan kiriku. Hanya ada bu Kinar yang menemani dan menghiburku saat itu. Dengan wajah sedihnya dan dengan rasa iba yang ia perlihatkan padaku.


“Bu, aku mau di temenin papah. Aku mau sama papah.” Rengekku dengan tangis yang tidak bisa aku tahan. Rasanya sangat sesak saat melewati pengalaman paling menakutkan seorang diri tanpa ada yang menemani.


“Sabar tuan muda, tuan besar akan segera kembali. Tolong tunggu sebentar. Setelah urusan tuan besar selesai, tuan besar akan menemani tuan muda.”


Tapi papah tidak pernah kembali. Semuanya hanya sebuah janji yang tidak pernah bisa di penuhi oleh papa. Dengan janji itu pula Bu Kinar mencoba menghiburku. Ia memelukku dengan erat, seolah aku bayi kecil yang sedang memerlukan perlindungan. Tapi jujur, bukan ini yang aku butuhkan. Bukan bu Kinar yang aku harapkan ada di sisiku dan menemaniku.


Hingga saat aku harus berangkat ke Amerika, papah tidak pernah sekalipun menemuiku. Semua hal ia wakilkan pada Pak Marwan. Kami seperti orang asing. Walau tinggal di rumah yang sama, ternyata sangat sulit untuk mendapat perhatian papah yang gila kerja.


Dan hari ini, aku kembali ke rumah ini.


Kalau ku ingat alasan apa yang membuatku datang, semuanya karena cerita Disa. Katanya ia tidak masalah jika masakannya tidak di makan olehku karena makan malam dengan keluarga akan terasa begitu nikmat.


Bodoh. Ia terlalu menyamaratakan semua keluarga tanpa tahu keluargaku seperti apa.


Sepanjang jalan ia menceritakan tentang bagaimana saat ia makan dengan nenek dan bibinya. Hanya ikan asin dan rebus rebung lauk mereka, tapi aku bisa melihat bagaimana Disa bercerita dengan penuh rasa bahagia saat makan bersama keluarganya.


Lantas, apa aku bisa mendapat kesempatan untuk merasakan hal yang sama seperti yang Disa rasakan?


Sulit.


Tapi mungkin sekali saja, aku memberikan kesempatan untuk memperbaiki makan malam kami yang sebelumnya selalu berakhir dengan ketegangan dan pertengkaran. Aku ingin menikmati, makan malam yang hangat bersama keluarga agar aku bisa mengingat moment itu hingga beberapa tahun ke depan. Tekadku sudah bulat untuk tidak menanggapi apapun yang akan terjadi saat makan malam nanti.


Untuk itulah, aku berada di sini.


“Wah, akhirnya kamu datang juga.” Adalah Om Marcel yang menyambutku dan menjabat tanganku dengan erat. Ramah sekali dia malam ini. Ekspresi wajahnya sangat jauh berbeda jika di bandingkan dengan waktu-waktu sebelumnya. Biasanya ia selalu menganggapku saingannya maka jangan berharap ia bisa tersenyum tulus kepadaku.


Aku membalas uluran tangan om Marcel dengan dingin. Alarm di alam bawah sadarku sudah berbunyi dan seolah mengingatkan kalau semakin banyak basa basinya, pasti semakin besar kejutan yang disiapkan om Marcel untukku. Bersiap saja.


Ku lihat juga papah yang tersenyum menyambut kedatanganku. Di sampingnya, ada wanita itu yang sudah berdandan layaknya sosialita kaum jetset, Liana. Ada juga bocah kecil yang ikut tersenyum kepadaku, ya Shafira. Matanya berbinar saat melihatku.


Papah menghampiriku dan merangkulku seraya menepuk punggungku. Siap-siap aku menyiapkan jawaban jika papah bertanya tentang kabar perusahaan yang aku pimpin. Tidak ada yang lebih penting untuknya, selain mengetahui kabar perusahaan yang membaik di banding kabar putranya sendiri.


“Terima kasih sudah datang.” Ujarnya.


Apa? Aku cukup terkejut dengan kalimat yang aku dengar. Sejak kapan papah bisa mengucapkan terima kasih kepadaku?


Aku hanya mengangguk, aku tidak terbiasa dengan suasana seperti ini. Setelah melepaskan pelukannya, papah memandangiku dengan tatapan yang tidak aku kenali maksudnya. Matanya tampak berbinar dengan segaris senyum yang melengkung di bawah kumis tipisnya. Entah sudah berapa lama aku tidak melihat papah tersenyum.


“Apa anda akan makan malam sekarang tuan?”  suara pak Marwan terdengar di waktu yang tepat. Tepat, saat kami merasakan suasana yang canggung alih-alih merasakan  kehangatan sebuah keluarga.


“Tunggu sebentar, kita masih menunggu seseorang.” Om Marcel yang menimpali seraya melihat jam di tangannya.


“Siapa lagi yang kamu undang?” sepertinya papah pun tidak mengetahui tamu berikutnya.


“Tenanglah mas, ini kejutan untuk putra mas.” Timpalnya dengan santai. Ia bahkan tersenyum ke arahku.


Aku menoleh Pak Marwan yang serba tahu untuk meminta jawaban. Namun Pak Marwan hanya menggeleng, ia pun tidak tahu siapa orang berikutnya yang akan datang.


Terdengar suara mobil yang memasuki parkiran. Selintas terlihat, mobil yang cukup asing dan belum pernah aku lihat sebelumnya. Suara pintu mobil terdengar terbuka kemudian kembali tertutup. Dan tidak lama, tampak seseorang yang mendorong kursi roda dengan seseorang terduduk di atasnya.


Tunggu, aku berusaha mengenali wanita yang memakai kerudung, kaca mata hitam serta masker yang menutupi sebagian besar wajahnya.


“Arini?” lirih papah dengan kalimat yang seolah tercekat.


Aku menoleh papah yang tampak terkejut dan kembali memandangi seseorang di hadapanku.


Sejenak aku hanya terpaku seraya meyakinkan apa yang aku lihat di hadapanku apakah benar-benar Dia.


Wanita itu membuka kacamata hitamnya dan saat itu juga kakiku terasa lemas. Aku mengenali sepasang mata sayu yang selalu menatapku dengan hangat. Kelopak matanya yang tampak kaku sekalipun hanya untuk berkedip, membuat air matanya lolos menetes tanpa tahanan.


Segera ku hampiri wanita itu. Aku bersimpuh di hadapannya lalu ke raih tangannya.  Ku tatap matanya yang merah dan basah dengan lekat. Ku usap sudut matanya yang basah karena air mata. Aku berusaha tersenyum padanya, tapi terlalu sulit. Akhirnya aku tersedu lantas ku peluk ia dengan erat.


Tuhan, ini benar-benar dia.


Kami sama-sama terisak, menumpahkan rasa rindu yang tidak pernah bisa di ukur. Menghapuskan rasa cemas yang selama ini mengisi perasaanku.


Inilah wanitaku. Wanita yang ku cemaskan siang dan malam. Wanita yang menjadi alasanku harus mengikuti semua perintah papah. Dan wanita yang tidak pernah ingin aku tinggalkan.


“Mah, kean kangen…” lirihku dengan tangis yang perlahan pecah.


Mamah hanya mengangguk seraya mengusap punggungku dengan lembut. Entah bagaimana caranya mamah bisa pulang, melewati banyak rintangan untuk sampai di sini. Dari banyak pertanyaan yang ingin aku tanyakan, hanya satu pertanyaan yang bisa aku tanyakan.


“Are you okey?" tanyaku dengan suara nyaris tercekat.


Sungguh, ini rasa sedih sekaligus bahagia yang paling kuat mengisi dadaku hingga rasanya nafasku sesak dan sesekali lega di waktu yang bersamaan.


“I'm fine kean, i'm fine.” lirihnya nyaris tidak terdengar.


Suaranya masih sama, masih serak dan nyaris sulit ia keluarkan. Aku tidak lagi peduli pada beberapa pasang mata yang menatap kami dengan penuh keterkejutan. Aku hanya ingin seperti ini. Memeluk ibuku selama yang ku bisa. Tanpa terpisah jarak dan waktu. Tanpa tersiksa oleh rasa rindu dan cemas.


"Mah, terima kasih sudah pulang dengan selamat."


*****


Kepulangan Arini ternyata mengagetkan semua orang, termasuk Liana dan Shafira.


Shafira masih berdiri di pintu masuk kamar Liana, seraya bersandar pada dinding. Ia memandangi Liana yang sedari tadi hanya terdiam dengan ekspresi yang sulit di urai. Rasa terkejutnya masih belum hilang dan kali ini bercampur dengan rasa takut.


Ia terlihat gugup dengan kuku jari yang ia gigiti. Tatapannya kosong dengan pikiran entah sedang berada di mana.


“Mamih masih belum mau jelasin sama aku, siapa wanita itu?” tanya Shafira yang sudah tidak sabar mendengar jawaban Liana.


Ia masih belum mengerti apa yang terjadi di keluarganya. Siapa wanita yang tiba-tiba di peluk Kean dan membuat ayahnya tidak bisa berkata-kata. Tidak ada yang memperkenalkan wanita itu padanya dan tidak ada pula yang menjelaskan apa yang terjadi saat ini.


Meski bertanya pada Liana, Liana tetap tidak bergeming, seolah ia tidak mendengar pertanyaan putrinya yang ke sekian kali.


“Mom! Jawab dong! Itu siapa?!” gertak Shafira. Ia benar-benar kesal karena Liana hanya terdiam dengan tatapan nanar yang tidak bisa di mengerti oleh shafira.


Perlahan Liana mengalihkan pandangannya pada Shafira. Mata bulat dengan eyeliner hitam itu tampak berkaca-kaca dan memerah. Riasan lengkap di wajahnya tidak cukup tebal untuk menutupi wajahnya yang berubah pucat.


Bibirnya bergetar, seperti sangat sulit mengeluarkan satu kata saja dari mulutnya.


“A-Arini…” Lirihnya nyaris tidak terdengar.


“Arini siapa maksud mamih?” Shafira menghampiri sang ibu dan duduk bersisihan dengannya.


Liana tidak menjawab. Ia malah menangis terisak di bahu Shafira.


Shafira terpaku dengan kebingungan yang semakin bertambah di benaknya. Ada apa sebenarnya dengan orang-orang di rumah ini, mengapa begitu sulit menjelaskan sosok wanita yang tiba-tiba datang tanpa ada angin ataupun hujan tapi seperti membawa badai kebingungan dan ketakutan bagi pengisi rumah ini.


“Mom, tolong jangan nangis dulu. Jelasin dulu dia siapa? Kenapa abang sampe nangis ngeliat dia?” Shafira memandangi Liana yang membenamkan wajahnya di bahu kanannya.


Liana hanya menggeleng dan tangisnya semakin keras. Entah ini sebuah kesedihan atau kemarahan atau apalah, Shafira tidak memahaminya.


“Mom!!” seru Shafira, namun tangis Liana malah semakin menjadi.


Shafira mendengus kesal. Begitu banyak pertanyaan yang ingin ia tanyakan namun pada  akhirnya ia membiarkan Liana menyelesaikan tangisnya. Sepertinya saat ini ia tidak bisa memberikan jawaban apapun yang ingin di dengar Shafira.


Ada apa sebenarnya dengan keluarga ini?


*****