
POV Disa:
Nada dering badinerie monophonic di ponselku terus berbunyi, memberi tanpa bahwa ada telpon masuk saat Aku masih dengan kesibukanku menyiapkan baju untuk tuan muda yang akan ia kenakan besok.
Aku mengintip sedikit ponselku dan ternyata nama nona muda tertera di sana.
“Halo, selamat malam nona, ada yang bisa saya bantu?” begitu sapaku seramah mungkin.
“Mba, kamu dimana?” suara nona muda terdengar berat dan lemah.
“Oh, saya masih di rumah tuan muda, nona. Apa non fira memerlukan sesuatu?”
“Aku di depan.” Akunya.
"Di depan?" Aku segera menghampiri balkon atas dan terlihat seorang gadis tengah berteduh di bawah pohon dekat pos satpam. Entah mengapa ia tidak berani untuk masuk padahal saat ini hujan tengah turun dengan deras.
“Tunggu sebentar nona, saya turun sekarang.”
Terlepas seperti apa peliknya hubungan tuan dan nona muda, aku memutuskan untuk tidak membiarkan gadis muda itu berdiri sendirian di bawah guyuran hujan. Tentu bukan tanpa alasan ia berdiam diri di sana dan mengumpulkan keberaniannya untuk menemuiku di rumah ini .
Aku segera turun dan mencari payung.
Saat ku buka pintu, hujan cukup deras. Aku meraih jaketku yang nanti akan aku gunakan untuk membalut tubuh non Shafira. Aku berlari secepat yang aku bisa untuk menemui non Shafira.
“Mba disa mau kemana?” tanya pak Wahyu saat melihatku yang tiba-tiba berlari dan membuka pintu gerbang.
“Jemput non fira pak.” Sahutku tanpa memperdulikan kalimat selanjutnya yang diucapkan pak Wahyu.
Aku segera menghampiri nona muda. “Non fira, ya ampun..” Aku segera memayungi non Shafira dan menyampirkan coatku ke tubuhnya.
Ia terlihat mengigil dengan sekujur tubuh basah. Wajahnya pun sangat pucat, sungguh membuatku iba.
“Kenapa gag langsung masuk non?” tanyaku refleks.
Non Shafira tidak menjawab dan setelah beberapa langkah aku baru sadar lancangnya pertanyaanku.
“Kita masuk sebentar, non fira bisa mengeringkan badan, setelah itu kita pulang ke rumah utama.”
Aku berusaha mengklarifikasi kalimatku sebelumnya. Kadang begitu sulit mengontrol ucapan sampai aku sendiri menyesal telah mengatakannya.
Aku mendudukan non Shafira di kursi meja makan. Tatapannya masih kosong dengan sekujur tubuh yang basah. Jika tidak salah lihat, matanya tampak sedikit memerah. Dugaanku, mungkin, ia bertengkar lagi dengan tuan besar.
Dan, Aku hanya bisa mengasihaninya.
“Apa non fira sudah makan?” Aku cemas dengan keadaannya yang terlihat lemah walau hanya sekedar untuk menggeleng. “Apa non fira mau makan?” lagi, dia hanya menggeleng.
Sekali lalu ia tertunduk tanpa berbicara satu patah kata pun.
Aku berinisiatif membuatkannya minuman hangat. Mungkin wedang jahe cocok untuk mengusir rasa dingin di tubuhnya. Sungguh aku cemas kalau non Shafira sampai sakit.
“Silakan di minum nona, supaya tidak masuk angin.” Aku menyodorkan secangkir wedang jahe ke depan non Shafira.
“Terima kasih,” lirihnya pelan.
Aku hanya mengangguk dan tetap memperhatikannya.
“Nona, saya tinggal sebentar ke atas. Nona bisa menunggu?”
“Hem, pergilah.” Ia mengambil cangkir yang aku berikan lalu menyesap wangi aroma minuman yang saat ini ada di tangannya dan meneguknya perlahan.
Aku pergi sebentar untuk menyiapkan pakaian yang besok akan di kenakan tuan muda. Aku masih belum menyiapkan dasi, jam tangan serta sepatunya belum di semir. Aku yakin hari ini sepatu tuan muda pun basah karena hujan, jadi harus disiapkan sepatu yang baru.
Selesai dengan semuanya, aku segera turun karena setengah jam lagi tuan muda pulang. Aku harus segera mengajak nona muda pulang agar tidak terjadi hal yang tidak diinginkan.
Berlari kecil menuruni anak tangga dan langkahku terhenti saat tiba-tiba ku lihat tuan muda sudah berdiri di ruang tengah dengan tatapan tajam pada nona muda yang tampak terpaku dengan wajah terkejutnya.
Baru kali ini, aku melihat tatapan tidak suka dari tuan muda pada non Shafira. Meski non Shafira berusaha tersenyum namun tidak berhasil mengubah air muka tuan muda menjadi lebih baik.
“Selamat malam tuan muda, anda sudah pulang.” Aku mencoba berbasa-basi.
Menghampirinya lalu meraih tas tangan yang ia pegang.
“Siapa yang mengizinkanmu untuk membawa orang asing masuk?” tanyanya yang mengalihkan pandangannya dari non Shafira dan berganti menatapku dengan kesal.
“O-orang asing? Beliau non,”
“Aku pulang mba disa. Terima kasih wedang jahenya.” Non Shafira yang menjeda kalimatku lebih dulu. Sepertinya ia memilih menghindar agar posisiku baik-baik saja.
Aku hanya ternganga di tempatku seraya mengambil jas yang baru dilepas dan di sodorkan oleh tuan muda padaku.
“Nona, saya antar,”
“Aku bukan anak kecil.” Lagi, non Shafira mematahkan kalimatku.
Aku menoleh tuan muda yang tengah melepas satu per satu kancing lengan kemejanya lalu menggulung bagian tangannya hingga ke sikut.
“Jangan memarahinya, aku yang mengunjunginya bukan dia yang memintaku datang.” Sepertinya kalimat itu di tujukan oleh nona muda pada kakaknya.
Tuan muda tidak merespon sedikit pun. Ia memilih duduk di kursi makan dan mengabaikan kepergian adiknya. Aku hanya bisa tersenyum saat non Shafira menolehku untuk pamit dengan ekspresi yang tidak bisa di jelaskan.
"Tuan, adik anda perempuan dan dia sedang bersedih. Tidak bisakah anda sedikit melunak?" Otakku yang berbicara dan hatiku yang meringis saat mendengar kalimatku sendiri. Tapi sepertinya ini memang tidak menjadi hal yang perlu dipedulikan oleh tuan muda.
“Buatkan saya minuman hangat.” Tuan muda menyampaikan kalimat itu padaku.
Aku seperti orang bodoh yang kebingungan menentukan sikap untuk merespon sikap orang-orang dihadapanku.
Melihat aku yang hanya terpaku, tuan muda mulai menatapku dengan tajam.
“Apa kau tuli?” tanyanya seraya mendekat lalu membungkuk hingga kepalanya begitu dekat dengan telingaku.
Mungkin dia mau berbisik tapi hembusan nafasnya yang lebih dulu aku rasakan dan membuatku bergidik.
“Ti-tidak tuan.” Aku segera menjauh dan berlari kecil menuju dapur.
Maaf nona, saya tidak mengantar anda. Aku berbicara dalam hatiku sendiri, sambil takut-takut menunduk menghindari tatapan tajam tuan muda.
Aku masih tidak habis pikir, mereka adik berkakak tapi lebih menakutkan dari musuh. Seperti aku dan kak Damar. Tidak, mereka lebih parah dari itu.
“Bawa minumannya ke atas setelah itu siapkan air panas untuk saya mandi.” Kalimat perintah itu kembali aku dengar.
“Ba-baik tuan.”
Dengar, aku mulai tergagap karena gugup.
“Ish!” aku mendengus lirih seraya menggetok kepalaku sendiri, kesal pada diriku yang bodoh. Aku benci pada situasi yang membuatku merasa serba salah.
Satu cangkir wedang jahe sudah aku buat, aku tambahkan susu di cangkir kecil sebelah wedang jahe. Mungkin saja tuan muda mau menambahkannya.
Berjalan perlahan menaiki anak tangga dan aku lihat pintu ruang baca terbuka. Saat aku akan mengetuk pintu, aku masih menyempatkan diri untuk mengintip dari celah pintu untuk mengetahui apa yang sedang dilakukan tuan muda.
Ia terlihat melonggarkan dasinya, melepasnya lalu melemparnya sembarangan. Tak lama ia melepas satu per satu kancing bajunya dan,
Aku berbalik. Aku tidak mau melihat lagi sesuatu yang membuat tidurku tidak nyenyak apalagi sampai mimpi aneh-aneh.
“Heh, sedang apa kamu di sana?!”
Aku memejamkan mataku rapat-rapat sambil menahan nafas, aku yakin teriakan itu untukku.
“I-iya tuan, saya datang mengantar minuman hangat.” Suaraku parau.
Beginilah kalau takut, suara juga susah keluar.
“Masuk!” titahnya.
Aku berbalik dan perlahan membuka mataku. Nafasku berhembus lega saat aku melihat tuan muda masih mengenakan kaos polosnya.
Tuhan, aku mulai gila.
Menaruh minumannya di tempat biasa lalu mengangguk sebelum keluar dan pergi menyiapkan air mandi untuk tuan muda.
Setelah pintu tertutup, aku segera berlari turun. Menyiapkan air mandi di kamar mandi bawah. Mengatur suhu yang pas, memberinya aroma terapi dan sabun cair hingga busanya keluar. Aku juga menyiapkan handuk dan piyama mandi.
“DISA!!!”
“YA SAYA!!!” jawabku refleks berteriak menyahuti.
“Plak!” aku menampar bibirku sendiri yang mulai lancang. Astaga bagaimana ini, responku semakin tidak terkendali.
“Mana air mandinya?” teriak tuan muda.
Aku segera berlari menghampiri tuan muda di atas. Dua anak tangga bahkan aku langkahi sekaligus agar lebih cepat sampai.
“Sudah saya siapkan tuan.” Aku masih terengah, capek juga lari-lari di rumah ini.
“Mana?” masih menatapku tajam.
“Di kamar mandi bawah tuan.”
“Kamu pikir kamar mandiku di mana, hah?”
Ia membuka pintu kamarnya yang menunjuk pintu kamar mandi miliknya.
Astaga, kamu bodoh Disa. Aku mulai merutuki diriku sendiri yang tidak tanggap terhadap perintahnya. Kenapa begitu malang nasibku hari ini?
“Ta-tapi,”
“Siapkan!” serunya sebelum aku melanjutkan kalimatku.
Tapi anda kan melarang saya masuk ke kamar anda, tuan. Itu yang mau aku katakan. Hanya bisa bergumam dalam hati.
“Baik, tuan.” Ya sudah mengangguk dan menurut saja.
Aku berlalu menuju walk in closet, mengambil handuk dan piyama yang baru.
“Permisi tuan, “ ujarku saat kembali melewati tuan muda yang masih berdiri di mulut pintu.
Ia hanya menoleh seraya menyilangkan tangannya di depan dada, persis kakak kelas yang sedang meng-ospek adik tingkatnya yang ceroboh.
Aku kembali menyiapkan air mandi untuknya. Memberinya sabun, aroma terapi dan mengatur suhu. Rasanya setelah ini aku pun perlu mandi karena terlalu berkeringat.
Aku mengusap keringatku dengan kasar, nanti saja aku mandi di rumah utama.
“Silakan tuan, airnya sudah siap.”
Dia berjalan ke arah kamar mandi, menghampiriku yang masih mematung di depan pintu kamar mandi.
“Bereskan kamarnya.” Titahnya lagi.
“Sekarang tuan?”
“Kamu pikir saya bisa tidur dengan kamar berantakan seperti ini?!” sinisnya di telingaku.
Hah, kenapa dia suka sekali berbicara penuh penekanan di telingaku?
Aku merinding tuan, tolong jaga jarak anda. Perkataan anda seperti gemuruh ombak yang mengisi kepalaku dan membuat pikiranku melambat.
Dan lagi, tiap malam anda tidur di sini, bagaimana mungkin masih merasa tidak betah?!
Otakku yang berteriak dan tanganku yang mengepal karena kesal. Padahal dia hanya cukup mengatakan “Ya!” itu saja cukup, aku mengerti.
“Baik tuan.” Lagi aku hanya bisa menurut.
Dia mulai masuk ke kamar mandi dan aku masih memandangi sekeliling kamar yang sangat berantakan.
Pantas saja dia emosian, kamarnya berantakan gini. Tiap malam pasti tidurnya tidak nyenyak
Sudahlah Disa, jangan mengomentari prilaku orang lain. Lakukan saja tugasmu, ingat jangan terlibat secara pribadi dengan mereka.
Aku mengingatkan diriku sendiri.
Aku mulai merapikan kamar yang luas ini. Mungkin tiga kali luas kamarku di rumah tante Meri. Tempat tidur king size, satu set sofa. Televisi yang sangat besar menempel di dinding, lemari tempat baju dan satu lagi lemari yang dipenuhi miniature pesawat dan hiasan lainnya. Ada meja kecil juga di dekat kaca yang cukup besar dan memantulkan bayanganku seutuhnya.
Sepertinya tuan muda memiliki hobi mengkoleksi benda-benda kecil namun mahal ini. Atau mungkin dulu Ia bercita-cita menjadi seorang pilot.
Aku mulai memunguti satu per satu baju yang terserak dan mengumpulkannya di keranjang. Lantainya ku sapu walau kata orang pamali nyapu malam-malam. Tapi lebih pamali lagi kalau gag nurut perintah tuan muda.
Mengepelnya adalah Langkah terakhir sebelum aku bertanya apa boleh menyemprotkan pewangi ruangan atau tidak.
Pintu kamar mandi terdengar berderit pelan yang berarti tuan muda sudah selesai mandi. Wangi sabun dan aroma terapi begitu menyeruak, membuat wangi seisi ruangan. Sepertinya aku tidak perlu menyemprotkan pewangi ruangan asalkan tuan muda sering mandi.
Aku menyesap wanginya perlahan, sangat jauh berbeda dengan wangi tubuhku yang bau asam keringat.
Aku mengangkat kepalaku yang sedari tadi tertunduk dan tanpa sengaja melihat pantulan bayangan tuan muda yang hanya menggunakan handuk yang melingkar di pinggangnya.
Astaga, bukannya tadi aku sudah menyiapkan piyama untuknya? Apa aku lupa?
Segera aku memalingkan wajahku dari pantulan kaca lemari. Aku tidak mau mimpiku aneh-aneh lagi.
“Saya tidak suka tidur pakai piyama, kamu pikir saya anak kecil?!” kalimat tuan muda seolah menjadi alasan dia tidak memakai piyama yang aku siapkan.
“Baik tuan. Sebagai penggantinya, apa yang harus saya siapkan?” aku berbicara masih membelakanginya karena aku yakin dia belum selesai berpakaian.
“Celana boxer longgar dan kaos oblong.” Jawabnya dengan malas.
“Baik tuan, akan saya ingat.”
“Lalu,”
Aku menahan nafas saat mendengar kata itu, sepertinya ada tambahan.
“Jangan dulu pulang ke rumah utama, sebelum kamu menyiapkan air mandi untuk saya. Setiap hari saya atau asisten saya akan memberi tahu kamu jam berapa saya akan pulang. Saat saya pulang, pastikan air mandi sudah siap dan makan malam masih hangat.”
“Pagi hari, kamu harus bangunkan saya jam 6 untuk olah raga karena makanan kamu membuat otot tubuh saya mulai lembek.”
Aku mendengarnya sebagai pengakuan kalau masakanku enak hingga membuatnya gemukan, aku tersenyum sendiri.
“Pagi hari pun kamu harus menyiapkan air mandi, baju ditaruh di atas tempat tidur yang sudah kamu
rapikan. Lanjutkan pekerjaan setelah saya selesai sarapan dan berangkat ke kantor. Baru kembali kemari sore hari untuk menyiapkan makan malam. Selain itu, mulai besok, kamu kirim makan siang untuk saya ke kantor. Tepat jam 12 tidak boleh terlambat.”
Astagaaaaaaa telingaku berdengung mendengar permintaan tuan muda yang lebih banyak dari permintaan bu Kinar. Apa bedanya dengan seharian tinggal di rumah ini dan di rumah utama hanya untuk numpang tidur.
“Paham?!”
Pertanyaan pamungkasnya membuat jantungku nyaris copot.
“Baik tuan, saya paham.”
“Kamu boleh pulang. Bawa juga benda itu keluar.”
Aku mengikuti arah tunjuk tangannya. Ternyata pada sebuah teko listrik. Mungkin benda ini yang ia gunakan untuk memasak mie. Ah sudahlah, aku tidak ingin bertanya lagi.
“Baik tuan.” Aku segera mengambil keranjang cucian, sapu, kemoceng dan kain pel di tambah teko listrik. Sangat repot memang tapi ini lebih baik supaya aku tidak bolak-balik masuk ke sarang singa.
“Selamat malam, selamat beristirahat tuan muda.”
Ceklek, aku menutup pintunya.
Hah,… Aku menghela nafas lega di balik pintu kamar tuan muda. Akhirnya pekerjaanku selesai juga. Terlalu banyak tekanan mental hari ini hingga membuatku sangat lelah.
Saya pulang tuan, lirihku dalam hati.
*****