
Sudah cukup larut namun Disa belum bisa memejamkan matanya. Ia terduduk di atas tempat tidur dengan kedua kaki yang tertekuk dan ia jadikan sandaran untuk kepalanya yang tertunduk lesu. Kedua tangan memeluk tubuhnya sendiri yang ia tepuk dengan lembut.
Ia tengah mencoba menenangkan dirinya sendiri sambil mencerna apa yang ada di pikiran dan perasaannya saat ini. Setelah berbicara dengan Kinar, pikirannya jauh berubah tentang Kean. Anggapan tentang Kean merendahkannya itu memudar tapi pikiran tentang bahwa ia sangat jauh tidak mengenal Kean, semakin dalam.
Satu sumpah yang diucapkan Kean pada sang ayah tidak hanya mengubah hidup pria itu melainkan juga keputusan dan hidup Disa. Ia masih tidak bisa membayangkan bagaimana ia akan hidup bersama Kean dengan sebuah sumpah yang ada di antara mereka.
Gamang dan kosong, dua perasaan ini yang sekarang ia rasakan. Jika yang dikatakan Kinar itu benar, bahwa Kean tidak pernah merendahkannya melainkan terikat oleh sumpahnya sendiri, maka pikirannya selama ini terhadap Kean salah.
Kean menjaga jarak, merasa tidak seharusnya menikahi Disa karena Kean ingin menjaga perasaannya. Mungkin karena ia tahu ia akan bertemu dengan kondisi seperti ini. Kondisi dimana Disa belum tentu bisa menerima prinsipnya.
Prinsip, apakah sumpah itu adalah prinsip?
Dikecewakan oleh seorang kekasih, mungkin akan sembuh seiring dengan berjalannya waktu dan bertemu orang baru. Tapi di kecewakan oleh seorang ayah yang sangat Kean banggakan, itu patah hati yang tidak bisa di perkirakan oleh Disa.
Sigit mengabaikan Kean sekian lama, menganggap Kean adalah salah satu property yang bisa ia kendalikan sesuka hati. Tentu itu bukan hal yang bisa di maklumi bukan?
Sekalipun ia seorang anak dan setiap orang tua memiliki hak atas anaknya, ia tetap memiliki haknya sendiri bukan? Hak untuk mendapatkan kasih sayang, perhatian dan diperlakukan secara adil. Kean tidak pernah mendapatkan itu seumur hidupnya, hingga saat ini pun Sigit belum terbangun dan tidak pernah sekalipun mengatakan kalau ia menyayangi putranya, miris bukan?
Memikirkan perasaan Kean tidak pernah menemui ujungnya. Tidak, Disa bahkan belum tahu seperti apa pangkal perasaannya saat ini.
Iba atau kecewa yang sebenarnya ia rasakan karena Kean tidak pernah mengatakan apapun tentang semua ini. Harusnya ia tahu sejak awal, hingga ia bisa bersiap untuk kondisi apapun. Dan sekarang, apa yang harus ia lakukan? Ia bahkan tidak bisa membayangkan perasaan sedih dan rasa bersalah yang mungkin Kean rasakan terhadapnya.
Pada akhirnya, Disa tetap tidak bisa memikirkan perasaanya sendiri. Ia terlalu peduli pada suaminya hingga yang ada dipikirannya hanya tentang perasaan Kean saat ini.
Bisakah sekarang ia beranjak dan melihat apakah suaminya baik-baik saja?
Disa seperti tersadar dari bayangan Kean saat ini. Benar adanya kalau hati manusia itu tidak bisa di selami hingga ke dasarnya. Yang Disa lakukan sekarang, ia beranjak dari tempat tidurnya. Keluar kamar dan menapaki satu per satu anak tangga menuju kamar Kean.
Langkahnya terhenti, saat ia mendengar sayup-sayup suara lagu yang mengalun lirih dari ruang kerja Kean. Lampunya masih menyala walau tidak seterang biasanya.
Sedikit mengintip dan terlihat Kean yang sedang terduduk di kursi kerjanya membelakangi pintu. Kepalanya menengadah, bersandar pada sandaran kursi.
Seperti halnya Disa, Kean pun tidak bisa tidur. 2 malam Disa tidak berada di sampingnya, seperti gadis itu pergi sangat jauh meninggalkannya sendirian. Sepi dan kosong.
Ia tidak bisa mencium wangi Disa yang selalu menggoda hidungnya untuk menyesap lebih atau mendengarkan detak jantungnya yang berdebar cepat saat di dekatnya. Tidak ada juga hembusan nafas yang hangat menerpa wajahnya terlebih, tidak ada tubuhnya yang bisa ia peluk dengan erat dan membuatnya tidak merasa kesepian.
Disa menjauh dan Kean tersiksa.
Berbekal dua gelas teh dan sepiring makanan ringan, Disa memutuskan untuk masuk ke ruang kerja Kean. Entah apa yang akan ia lakukan di dalam sana, ia hanya tahu kalau mereka tidak bisa selamanya seperti ini. Ia ingin memperbaiki apa yang masih bisa ia perbaiki. Karena ia tahu, kean yang buntu dan terpuruk akan sulit memulai lagi semuanya.
Kean segera menegakkan tubuhnya, menekan sudut matanya saat mendengar suara derap kaki yang melangkah masuk dan pantulan bayangan Disa yang mendekat.
“A, mau teh?” tawar Disa ragu.
Kean segera berbalik setelah berhasil mengendalikan perasaannya beberapa saat lalu.
“Hem, kemarilah.” Sahutnya dengan wajah sendu yang berusaha ia sembunyikan.
Disa mendekat, di taruhnya baki di tengah-tengah mereka lantas duduk berhadapan. Menatap wajah suaminya yang ia rindukan dengan laman dan berusaha tersenyum. Ia ingat pada janjinya kalau ia masih harus melayani suami dan orang tuanya dengan baik.
“Aa kayaknya capek banget, kok belum tidur?” mendekatkan satu cangkir pada Kean dan satu untuknya.
“Belum bisa tidur.” Sahut Kean serak. Ia masih memandangi Disa yang ada di hadapannya, lekat.
Lihat, wanita ini masih mendekat setelah ia membuatnya marah hingga menangis. Sebenarnya, ada banyak hal yang ingin Kean katakan, tapi entah harus memulainya dari mana.
Jujur, saat Disa keluar dari kamarnya, ia sangat takut jika mungkin Disa pergi meninggalkannya. Tidak hanya sekedar membawa barang-barangnya dalam tas besar tapi juga membawa semua perasaan kecewanya.
Tapi ia masih beruntung, setelah apa yang ia lakukan pada Disa, istrinya masih mau menemuinya dan melihat wajahnya.
“Aa harus cukup istirahat karena pekerjaan aa banyak.” Sekali lalu Disa meneguk teh miliknya tanpa menyesap wanginya. Satu hal yang ia lupakan kalau ia harus mengenal wanginya agar bisa ia nikmati rasanya. Mungkin karena terlalu gugup.
Kean tersenyum samar,
“Kamu masih saja mencemaskanku padahal aku sudah membuat kamu kecewa.” Ingin rasanya ia menyentuh tangan Disa yang ada di dekat tangannya tapi kemudian ia urungkan.
Disa ikut memandangi kelingkingnya yang hampir di sentuh kelingking Kean, namun urung.
“Kamu bisa membenciku sebanyak yang kamu mau, karena aku layak untuk mendapatkannya.” Imbuhnya dengan banyak kegetiran yang ia rasakan.
Seperti inilah Kean, laki-laki introvert dan defensive yang lebih suka menyimpan perasaannya tanpa menjelaskan apapun. Padahal Disa sudah sangat berharap, dengan ia mendekat, perlahan Kean akan menjelaskan seperti apa keadaan sebenarnya. Tapi sepertinya Disa masih harus berusaha lebih keras hanya sekedar untuk membuat Kean mengungkapkan perasaannya sendiri.
Kean tidak bisa mengutarakan perasaannya karena orang-orang disekitarnya tidak pernah ada yang mau tahu perasaannya. Maka ia sudah sangat terbiasa dengan menyimpan sendiri perasaannya walau sebenarnya itu menyesakkannya. Menjelaskannya, ia tidak pernah tahu seperti apa caranya.
“Aku sudah melewati fase itu. Fase dimana aku harus merutuki keadaan yang membuatku tersiksa sendiri.”
“Aku hanya ingin kita bicara, apa yang kemudian akan kita lalui dan harus seperti apa kita akan melewatinya.”
“Aa mungkin masih tidak percaya sama aku. Percaya kalau aku bisa mendengarkan dengan baik walau tidak bisa memberi solusi. Tapi satu hal yang harus aa ingat, beban kita akan berkurang saat kita bisa mengatakan apa masalah kita.”
Disa kembali memberi pancingan untuk Kean. Ia memperhatikan benar perubahan ekspresi Kean yang tampak menyesal dan kesulitan mencari kata-kata.
Kean tercenung, menatap wajah Disa dengan lekat. Wanita ini selalu bisa memberinya ketenangan, tapi di waktu yang bersamaan memberinya rasa takut. Takut jika Disa pergi karena tidak bisa menerima kekurangannya.
“Sa, kamu harus tau kalau aku sangat mencintai kamu. Aku juga tidak pernah punya pikiran apalagi niatan untuk merendahkan kamu.”
“Hanya saja, aku dihadapkan pada keadaan dimana aku tidak bisa bersikap layaknya seorang suami yang baik.”
“Kamu benar, aku memang egois. Aku jahat dan aku tidak memiliki perasaan.” Mata Kean tampak berkaca-kaca. Mengingat kalimat itu keluar dari mulut Disa membuat hatinya meringis sakit.
“Tapi aku punya alasan. Alasan yang mungkin akan membuat kamu meninggalkanku.”
“Apa alasannya?"
"Bagaimana aa bisa tau aku akan meninggalkan aa sementara aa sendiri gak bilang alasannya?” berganti Disa yang menatap Kean dengan tajam. Kenapa laki-laki ini sulit sekali mengatakan hal itu?
“A! jangan menghindar, kita belum selesai!” seru Disa yang ikut berdiri. Disa semakin mendesaknya.
"Aku gak bisa sa," ia menghindari kontak mata dengan Disa.
"Kenapa?"
"Gak bisa karena apa?!"
"Aku butuh alasan!"
“KARENA AKU BERSUMPAH UNTUK TIDAK MEMBERI PAPAH KETURUNAN!!” seru Kean dengan terengah-engah. Matanya basah dan tangisnya pecah. Tangannya sampai gemetaran butuh pegangan.
Suasana mendadak hening setelah kalimat itu ditegaskan Kean. Mereka terpaku dengan pikirannya masing-masing.
“AARGGHH Sial!!” dengus Kean yang membungkuk lemah seraya berpegangan pada meja yang ada di hadapannya. Seperti tenaganya habis hanya sekedar untuk mengatakan kalimat itu.
Bisa ia bayangkan apa yang ada di benak Disa saat ini. Sangat kecewa bukan?
“Jadi, karena itu?!” lirih Disa dengan suara gemetar.
Ia mengalihkan pandangannya dari Kean, sambil mengusap air matanya. Ternyata mendengarnya langsung dari Kean terasa lebih menyakitkan. Ada banyak kemarahan yang ikut serta keluar saat kalimat itu diucapkan Kean.
“Apa kamu puas sekarang sa?"
"Apa kamu masih berpikir kalau kamu bisa mencintaiku yang seperti ini?” lirih Kean dengan dengan suara bergetar terbawa tangis. Ia bahkan tidak bisa berdiri dengan benar, kakinya lemas saat melihat Disa membuang pandangan darinya.
Disa berusaha menenangkan dirinya, dengan mengambil nafas dalam-dalam sebelum kembali menatap Kean.
“Perasaan aku masih sama. Aku masih tetap mencintai aa.” Kalimat tegas itu di ucapkan Disa dengan penuh keyakinan.
Jika Kean bersumpah tidak akan memberi sigit keturunan, maka ia bersumpah kalau perasaannya belum berubah.
“Aa tau, sumpah yang salah itu tidak perlu di penuhi.” Disa berjalan mendekati Kean.
“Papah masih hidup, aa hanya perlu mengatakan kalau aa mencabut sumpah aa sendiri."
"Aku yakin papahpun mengharapkan hal yang sama.” Di usapnya pipi Kean dengan lembut, membuat netra pekat yang merah dan basah itu menatapnya sendu.
“Aku gak bisa, sa.” lirih Kean sekali lalu membuang pandangannya dari Disa. Ia tertunduk lesu.
“Kenapa?!"
"Kita bisa memperbaiki semuanya. Satu demi satu, pelan-pelan.” bujuk Disa yang berusaha meraih tangan Kean.
"Aku gak bisa!" Kean mengibaskan tangannya dari Disa lantas berjalan mundur menjauh.
“Aku gak mau ada anak lain yang di perlakukan sama sepertiku, merasakan penolakan dan pengabaian yang sama.”
“Aku gak mau kalau kelak papah tidak menyayangi anakku. Menganggapnya hanya sebagai benda tidak bernyawa yang bisa ia atur sesuka hati."
“Lagi, aku bahkan gak tau bagaimana caranya menjadi seorang ayah.” Kean berbicara dengan bercampur tangis.
“Aku tidak tahu, apa dia akan menerima ayah sepertiku?"
"Apa dia bisa mencintaiku?"
"Apa aku bisa mencintainya?"
"Apa aku bisa menjadi ayah yang sempurna buat dia?”
“Semua itu tidak pernah ada pikiranku sa."
"Aku buntu, hanya untuk sekedar memikirkan bagaimana kelak aku berbicara dengan anakku?!” imbuh Kean dengan tersengal-sengal. Tangisnya kembali memekik.
Sebegitu banyak kekecewaan dan ketakutan yang disimpan pria ini hingga ia terkurung dalam traumanya yang gelap. Tubuhnya hingga gemetar setelah mengatakan semua yang ada di pikiran dan perasaannya.
Disa tidak berkata-kata. Ia lebih memilih menghampiri Kean. Dipeluknya Kean dengan erat lantas mengusap punggungnya dengan lembut.
"Aku tau apa yang aa rasakan." lirih Disa. Ya, ia mengerti benar rasa takut dan kecewa yang Kean rasakan bukan hanya pada Sigit, tapi pada dirinya sendiri.
“Tapi aa harus tau, tidak pernah ada orang tua yang benar-benar sempurna.” Disa melanjutkan kalimatnya dengan terbata-bata.
“Semua orang tua hanya berusaha untuk melakukan yang terbaik untuk anak mereka.”
“Kita memang tumbuh tanpa ungkapan cinta dari mereka, kita tidak memiliki bayangan apalagi contoh kelak kita akan menjadi orang tua seperti apa.”
“Tapi,”
“Kita pernah sama-sama berada di titik ini.”
“Titik dimana kita menjadi seorang anak dan tahu apa yang kita butuhkan dari orang tua kita.” ungkap Disa dengan penuh kesungguhan.
Perlahan ia melepaskan pelukannya. Menangkup kedua sisi wajah Kean yang sembab. Matanya masih basah dan meneteskan air mata. Dengan setia Disa mengusapnya lembut.
"Karena kita tahu, maka kita bisa memperbaikinya." tandas Disa.
Kean tidak menimpali. Ia hanya terdiam dan menatap wajah Disa.
Benarkah semudah itu? Lalu mengapa ia bisa merasakan perasaan sesakit ini? Berdamai dengan masa lalu yang menakutkan itu tidak mudah. Setiap langkah kita selalu ada bayangan kengerian yang membuatnya ragu untuk memulai langkah baru.
Kenapa bagi Kean terasa begitu sulit?
*****