
Sudah 10 menit berlalu sejak Disa pergi dan belum terlihat kembali. Kean melihat ke arah meja yang tadi di tempati Disa. Gadis itu tidak ada di sana, hanya ada segelas orange juice yang baru di minum setengahnya. Perasaannya mulai tidak karuan. Harusnya tidak selama ini Disa pergi.
“Saya permisi sebentar.” Tutur Kean pada lawan bicaranya.
Ia mencari Disa ke meja dan sekitarnya tapi gadis itu tidak terlihat.
“Kemana kamu sa?!” gumam Kean dengan wajah cemas. Ia mengubungi ponsel Disa tapi tidak di jawab.
“Kenapa?” tanya Clara yang melihat Kean celingukan. Ia baru akan memanggil Kean untuk menemui ayahnya.
“Kamu liat Disa?” Kean balik bertanya.
“Nggak. Ke toilet kali.” Sahut Clara dengan acuh.
“Tadi dia udah ke toilet tapi pergi lagi. Sekarang malah gak ada.” Mata Kean masih mencari sosok Disa di sekeliling ruangan.
“Udah lo telpon?”
“Gak di jawab!” kesalnya. Di saat seperti ini harusnya fungsi handphone benar-benar digunakan oleh Disa.
“Ish kemana sih nih anak. Ngerjain aja!” dengus Clara kesal. “Ya udah lo nyari ke sana, gue ke toilet. Siapa tau dia nyasar.”
Kean dan Clara mulai berpencar, mencari Disa ke seluruh tempat hingga ke luar hotel. Sayang tidak sekalipun terlihat bayangan Disa.
“Ketemu?” tanya Clara saat menghampiri Kean.
“Nggak!” Kean mengusap wajahnya kasar. Hampir habis kesabarannya mencari Disa. “Di mana ruang pengawas?” tiba-tiba saja ia teringat CCTV yang biasa ia gunakan untuk mencari keberadaan Disa.
“Gue tanya pelayan.” Clara memanggil salah satu pelayan dan menanyai ruang pengawas. Tidak lama mereka segera menuju ruangan yang disebutkan pelayan tadi.
Seorang laki-laki berpakaian security yang menjaga ruang pengawasan. Beruntung tidak perlu berdebat alot untuk melihat rekaman beberapa menit lalu.
“Naik lift.” Tunjuk Clara saat melihat Disa di rekaman CCTV. “Mau kemana nih anak?” gumamnya.
Terlihat tombol angka 9 yang di tekan Disa.
“Lantai 9? Ngapain dia?” Kean mulai cemas. Setahu Kean tidak ada yang di kenal Disa di pesta ini. Apa mungkin seseorang menghubunginya dan mengajaknya bertemu?
“Ayo!” seru Clara yang menyadarkan Kean dari lamunannya. Mereka berlari menuju lift yang tadi digunakan Disa.
Clara menekan tombol lift namun saat pintunya terbuka, hanya ia yang masuk.
“Lo gak ikut?” memandangi Kean yang hanya terdiam.
Kean tampak gelisah membayangkan antara ia harus ikut dan terkurung di dalam lift atau membiarkan Clara yang menemukan Disa dengan perasaan yang belum tentu tenang.
“Kean! Fokus!” gertak Clara. Mengesalkan sekali di waktu seperti ini Kean malah sibuk dengan pikirannya.
Kean hanya terdiam memandangi Clara yang menatapnya kesal dari dalam lift. Ia menelan salivamya kasar-kasar berusaha mengusir gusar namun seketika bayangan ia terkurung kembali muncul, membuat tubuhnya terasa lemas dan nafas yang berubah sesak. Tangannya bertumpu pada dinding, berusaha mengumpulkan keberanian ternyata tidak semudah itu.
“KEAN!” lagi Clara menggertak. Di saat seperti ini Kean hanya terdiam dengan wajah bodoh dan ketakutan. Sangat menyebalkan.
“Tit!” Clara menekan tombol agar tertutup. Tidak ada gunanya menunggu Kean yang belum bisa mengendalikan dirinya.
Setelah pintu lift tertutup, Kean memandangi pintu abu berbahan besi tebal. Ia melonggarkan dasinya yang terasa mencekik. Sekilas ia mengingat ucapan Disa beberapa waktu lalu,
“Saya memanipulasi pikiran anda tuan. Padahal seharusnya saya membantu anda menghadapi rasa takut anda, bukan mengalihkannya.”
“Saya memiliki keyakinan, setiap ketakutan di masa lalu harus diselesaikan seluruhnya. Karena saat masih ada yang tersisa, kita tidak akan pernah bisa melangkah maju.”
“Dan seharusnya, saya membantu tuan menyelesaikan rasa takut di masa lalu. Bukan menekannya padahal sisa ketakutan itu belum seluruhnya sembuh. Saya tidak ingin membuat tuan takut mengambil langkah kedepannya.”
“Jadi untuk sekarang, hadapilah. Percayalah, tuan bisa masuk ke lift mana pun tanpa rasa takut. Jangan sisakan sedikitpun rasa takut yang akan menyiksa tuan sendiri.” Tandas Disa dengan tatapan laman padanya.
“ARGH!!” Kean mengeram kesal. Mengacak rambutnya dan meremasnya. Ia marah pada dirinya sendiri. Rasanya ia ingin membuang memory-nya yang membuat ia selalu merasa berada di dalam kubangan ketahutan dan kengerian. Di saat ia harus menyelamatkan Disa tapi rasa takut malah menguasainya.
“Ketakutan itu tidak nyata, ketakutan itu tidak nyata.” Gumam Kean yang mondar-mandir di hadapan lift. Berusaha menanamkan afirmasi baru dalam pikirannya.
“Tapi disa jelas membutuhkanku.” Gumamnya kemudian. Ia menghentikan langkahnya, memandangi bayangannya yang berantakan dari pantulan pintu lift. Samar-samar, tapi ia bisa melihat wajah bodoh yang tegang itu begitu menyebalkan.
“Ya, disa membutuhkanku.” Ia mengingatkan dirinya sendiri.
Dengan segenap keberanian, Kean menekan tombol lift. Dengan gusar ia menunggu lift terbuka. “Disa membutuhkanku.” kalimat itu seperti mantra baru yang berulang ia ucapkan untuk menghimpun keberaniannya.
Ia melangkahkan kakinya yang terasa berat masuk ke dalam lift lantas menyandarkan tubuhnya pada salah satu sisi. Bau benda terbakar, kilatan nyala api, asap yang membuatnya pengap, hawa panas dari api, terasa seperti berkumpul menyerangnya. Kean mengepallkan tangannya, berusaha menguatkan dirinya sendiri menghadapi rasa takut.
“Disa membutuhkanku.” Lagi ia mengulang mantranya beberapa kali. Merasakan lift yang bergerak naik, perlahan ia memejamkan matanya. Bibirnya terus bergumam melafalkan mantranya dan berharap ia segera sampai di lantai 9.
Di tempat lain
“Akhirnya kamu datang.” Sambut sebuah suara saat Disa masuk ke kamar hotel dengan tulisan 9012.
Kamar luas dengan desain eropa ini terasa menjadi ruang sempit yang di tempati seorang laki-laki yang tengah terduduk di sudut kursi dengan bibir yang tersenyum menyambutnya.
Ia beranjak dari tempatnya lantas menghampiri Disa yang ragu-ragu untuk masuk.
“Bruk!” Marcel menutup pintu di belakang Disa dengan satu dorongan tangan membuat tubuh Disa terkungkung di hadapan Marcel.
Disa memejamkan matanya saat suara pintu terasa menyentak tubuhnya hingga terperanjat.
“Bagaimana acara berdansa dengan tuan mudamu, apa menyenangkan?” bisik Marcel yang masih enggan menarik tubuhnya menjauh dari Disa.
Sangat menyenangkan melihat wajah cantik dengan polesan make up tipis yang terlihat tegang saat ia dekati. Ia bisa menghirup wangi rambut Disa yang sepertinya sangat di sukai Kean.
“Apa mau anda tuan?” suara Disa terdengar bergetar walau berusaha terlihat berani, nyatanya batas keberaniannya bisa di ukur Marcel.
Ia mendorong tubuh Marcel dengan kedua tangannya membuat Marcel mundur beberapa langkah tanpa melepaskan pandangannya dari Disa.
"Awh!" Pura-pura terlihat lemah dengan menyentuh dadanya yang di dorong Disa, lantas ia terkekeh. Ia memang tidak berniat mengungkung tubuh Disa tapi rasanya ia sangat penasaran kalau tidak mencari tahu alasan Kean yang begitu menikmati saat berdansa dengan Disa.
“Hanya ingin menyapamu dan mengajakmu sedikit bersenang-senang.” Timpalnya seraya menyodorkan segelas minuman pada Disa.
Disa memalingkan wajahnya, ia tidak berselera untuk menerima minuman berwarna merah dari gelas yang disodorkan Marcel.
“Ayolah, jangan menolaknya. Kita bisa sedikit bersenang-senang.”
Ia meneguk minumannya dan kembali menyodorkan minuman untuk Disa.
Disa tidak bergeming dan malah menatap Marcel dengan kesal. Ada kilatan kemarahan pada sorot matanya dan membuat tangannya mengepal.
“Apa ini cara anda untuk mendapatkan apa yang anda mau? Mengancam orang, mencari kelemahan orang lalu merebut apa yang anda mau?” Disa menantang Marcel dengan berani.
Jika benar Kean tidak akan datang, bukankah ia harus menghadapi Marcel seorang diri?
“Ya..” Marcel mengangguk-angguk. “Dan berhasil bukan?” Marcel dengan gaya jumawanya.
“Buktinya kamu datang dengan sukarela.” Imbuhnya dengan rasa puas pada setiap kata yang keluar dari mulutnya.
“Lalu apa yang anda mau? Saya tidak takut pada anda, saya juga tidak memiliki kelemahan yang bisa anda gunakan untuk mengancam saya,. saya,”
“Ada!” seru Marcel menyela kalimat Disa.
“Alasan kamu datang adalah karena harga diri kean sebagian dari kelemahan kamu. Apa kamu tidak menyadarinya?” Marcel kembali mendekat. Menenggak minumannya hingga habis dan sedikit mengerang saat cairan merah itu membasahi tenggorokannya. Rasa manis dan pahit seperti bercampur di mulutnya.
“Saya punya penawaran yang akan membuat kamu tidak lagi merasa terbebani.” Tawarnya dengan penuh keyakinan.
Disa mengerlingkan matanya malas. Tidak pernah ada penawaran tanpa beban jika penawaran itu di berikan oleh orang seperti Marcel.
“Tinggalkan kean dan datanglah ke rumah saya." enteng sekali kalimat itu diucapkan Marcel.
"Layani saya seperti kamu melayani kean. Maka saya tidak akan mengganggu kean sedikitpun.” Tegas Marcel. Wajahnya berubah serius saat memberi penawaran itu pada Disa.
Dalam pikirannya, Kean berubah menjadi seperti ini karena ada Disa di dekatnya. Dengan adanya Disa, Kean berhasil mengatasi satu per satu masalahnya. Tidak meledak-ledak seperti dulu, lebih tenang dan ambisinya yang mulai terlihat seolah ia bersiap mengalahkan Marcel, laki-laki yang tidak seharusnya menjadi saingan Kean.
Dengan menjauhkan Disa, Kean akan lebih lemah dan Marcel lebih leluasa menjatuhkan Kean.
“Tidak tuan." tolak Disa mentah-mentah.
"Kalaupun saya harus pergi, bukan berarti saya akan datang pada anda.” Tegas Disa tanpa bisa di bantah.
“Disaaaa, kamu,” Marcel semakin mendekat, ia menggeram gemas. Keras kepala juga wanita di hadapannya.
Disa melangkah mundur menjauh dari Marcel yang semakin mendekat hingga punggungnya menyentuh dinding kamar.
Marcel tersenyum puas, di tatapnya mata Disa dengan tajam. “Menyerahlah. Terima penawaran saya.” bisiknya.
Disa memalingkan wajahnya dari Marcel dan tak lama,
“BRAK!!!” pintu kamar terbuka.
Marcel menoleh dan seketika wajahnya berubah tegang.
“Claire?” menyebut nama wanita yang mendobrak pintu.
Clara tidak menimpali. Ia berjalan cepat menghampiri Marcel dan, “PLAK!” satu tamparan keras mendarat di pipi Marcel.
“BAJING AN KAMU!” teriaknya dengan mata menyalak.
“Claire, aku bisa jelasin.” Tahan Marcel yang segera meraih tangan Clara kemudian ia genggam dengan erat.
“Apa yang mau kamu jelasin hah?! Kamu mau bilang kalau kamu lebih memilih perempuan ini hah?!” emosi sudah menguasai Clara.
“KELUAR KAMU!” teriaknya pada Disa. Bagaimana bisa Marcel dan Kean sama-sama mendekati wanita rendah ini, pikirnya.
Ia menarik lengan Disa lalu mendorongnya keluar dari kamar dan di susul dengan bantingan pintu yang di tutup kasar.
“Awh!” Disa terjatuh bersimpuh. Ia merasakan pergelangan kakinya yang sakit. Ia terhuyung, berusaha untuk bangkit.
Di dalam sana,
“Claire, aku bisa jelasin. Semuanya gak seperti yang kamu lihat. Aku dan disa,”
“Ya! Kamu dan disa APA?!” teriak Clara, tidak bisa di tenangkan.
“Aku minta kamu datang untuk menemui papah. Tunjukkin niat baik kamu buat aku. Perjuangin aku di hadapan papah. Tapi kamu malah,” ia bahkan tidak kuasa melanjutkan kalimatnya.
Ia sangat kecewa pada Marcel. Di mendudukan tubuhnya di sofa lantas menangkup wajahnya dengan tangis yang mulai pecah.
Marcel menghampiri Clara. Ia bersimpuh di hadapan Clara.
“Claire, denger.” Di raihnya tangan Clara untuk ia genggam. Namun Clara tidak bergeming. “Ini cara aku berusaha terlihat layak di depan papah kamu.”
“Kamu tau, saat aku pertama kali memperkenalkan diri sama papah kamu, dia bilang aku hanya laki-laki rendahan yang tidak punya masa depan apalagi memiliki hak memimpikan kamu. Aku hanya pengusaha bodoh yang memiliki banyak kekurangan dan kegagalan. Aku gak di kasih kesempatan untuk sekedar mengatakan kalau aku cinta sama kamu dan akan berusaha untuk layak demi kamu.”
“Aku,” Marcel terpekur. Rasanya ia kehabisan kata-kata untuk menjelaskan kondisinya pada Clara.
Memperjuangkan Clara di hadapan Brata tidaklah mudah. 6 tahun mereka menjalin hubungan dan selama 6 tahun itu pula hubungan mereka tidak di ketahui orang-orang. Hanya Brata yang tahu kalau Marcel sedang mendekati putrinya.
Saat pertama kali Marcel menemui Brata, Brata langsung menolak keras keberadaan Marcel. Tidak layak, hanya itu alasannya.
Demi memenuhi ekspektasi Brata tentang laki-laki yang layak bersanding dengan putrinya, dari seorang model, Marcel membanting stir menjadi seorang pengusaha. Walau menjadi pengusaha bukan keinginannya namun demi Clara, ia rela mengubur mimpinya menjadi seorang model terkenal dan memilih jalan berlumpur untuk menjadi pengusaha sukses.
Semuanya demi Clara. Termasuk saat ia terpaksa harus merebut semuanya dari Sigit dan Kean, semuanya demi Clara.
Apa salahnya, jika ia berjuang untuk mendapatkan apa yang ia butuhkan?
“Claire, aku mohon bantu aku. Aku hanya sedang berusaha terlihat layak buat kamu. Tidak ada niatan lain. Please…” Marcel benar-benar memohon.
Hati siapa yang tidak luluh mendengar pengakuan Marcel, terlebih itu seorang Clara. Ia menatap Marcel dengan matanya yang basah. Ia tahu, Marcel sudah berusaha sangat keras. Dan jika Marcel tahu kalau Brata menjodohkannya dengan Kean, ia tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi.
Pikiran Clara kacau. Tidak ada yang bisa ia lakukan selain memeluk Marcel seerat-eratnya. Sungguh ia pun mencintai laki-laki ini dan tidak bisa membayangkan kalau ia harus meninggalkan Marcel.
******