
Pekan peragaan busana resmi di gelar. Setiap desainer tengah sibuk dengan persiapannya di belakang panggung, mempersiapkan segalanya agar tampil sempurna. Disa dengan 8 modelnya yang masing-masing memakai 2 looks untuk diperagakan. Clara dan Marisa adalah model utamanya masing-masing mengenakan baju formal dan santai.
Tropical adalah tema yang diambil oleh Disa. ia memadukan warna terang dan pastel pada baju yang dibuatnya. Kombinasi warna yang ia gunakan layaknya lukisan yang cocok dikenakan oleh wanita dengan warna kulit terang ataupun gelap.
Waktu terasa sangat cepat saat ia harus mengefektikannya sebisa mungkin. Ia tengah harap-harap cemas menunggu giliran para modelnya melenggok di atas catwalk. Setelah peragaan dari desainer lain selesai, giliran Naomi, model pertama yang akan memperagakan bajunya beberapa menit saja di depan khalayak ramai.
“Dek, tenang dikit. Kamu duduk dulu, sambil minum.” Mila menyodorkan minuman dingin untuk menenangkan Disa yang tampak stress.
Tentu saja, siapa yang tidak stress saat hasil karyanya akan di lihat banyak orang dengan beragam selera dan ekspektasi. Bukan tidak percaya dengan karyanya sendiri namun para seniornya yang sudah lebih dulu terbiasa mengikuti ajang seperti ini tentu lebih percaya diri di banding Disa yang baru merangkak masuk ke dunia desain.
“Kak aku deg-degan banget, gimana kalo desainku gak menarik buat orang-orang yang ada di sini?” sambil meminum kopi dingin dengan sedotan, Disa bertanya pada Mila. Lihat wajahnya yang terlihat tegang.
“Hus, kamu jangan mikir aneh-aneh. Setiap orang punya selera dan penilaian sendiri dengan sebuah karya seni. Kamu udah berusaha melakukan yang terbaik jadi, kamu harus percaya diri. Liat, model kamu aja percaya diri sama baju yang mereka pake, masa kamu yang bikinnya gak percaya sih?” Mila mengusap punggung Disa untuk menenangkannya.
Kebiasaan overthinking nona mudanya memang cukup mengganggu saat ini. Disa terlalu banyak ketakutan.
“Sa, di banding gue dan para model lainnya, lo yang lebih dulu harus percaya sama hasil karya lo. Udah, lo tenang aja.” Clara mengingatkan. Melihat Disa yang sangat stress Ia jadi tidak tega. Ekpresi wajahnya mirip-mirip waktu ia pertama kali naik panggung, pucatnya sama.
Disa terangguk setuju, mengiyakan kalau dua orang ini benar, ia harus percaya diri dengan karyanya sendiri. Untuk menenangkan dirinya Disa berusaha mengatur nafas untuk membuang rasa tegang, walau tidak seluruhnya hilang. Katanya rasa tegang itu tetap diperlukan untuk membuat kita selalu waspada, tapi tidak boleh sebanyak ini.
“Bismillah… Semoga semuanya lancar, aamiin…” gumam Disa yang kemudian mengusap wajahnya.
“Aamiin…” balas Mila dan Clara bersamaan membuat Disa bisa tersenyum lega.
Suara musik berganti yang menandakan kalau tim Disa harus memulai langkahnya. Jantung Disa seperti mau pecah saat Naomi mengambil langkah pertamanya melenggang di atas catwalk dan di sambut oleh tepukan tangan dan kilatan kamera yang mengabadikan setiap moment.
“Tropical by paradisa Sandhya.” Ujar MC acara dengan nama Disa yang terpampang di layar besar yang menjadi latar belakang panggung.
Adrenalin Disa seperti membuncah, “Ya allah…” lirihnya, menggenggam erat tangan Mila, ia benar-benar butuh pegangan.
“It’s okey dek.” Mila balas menggenggam seraya menepuk tangan Disa menyemangati.
Sedikit mengintip di dalam panggung dan Naomi mulai berpose di depan panggung, di susul langkah model kedua yang mendekat dan bersiap berpose, aarrgghh rasanya Disa ingin menangis melihat hasil karyanya sendiri di pamerkan.
Dulu ia menjadi salah satu penonton yang duduk di kursi depan panggung. Jantungnya bergemuruh karena merasa sangat terpacu setelah melihat karya-karya yang di tampilkan di hadapannya. Namun kali ini, ia yang menampilkan karya di hadapan banyak orang. Perasaannya lebih membuncah, campuran antara tegang, senang, bangga dan perasaan-perasaan lain yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
Dulu saat di Paris, ia pun sering mengikuti peragaan busana seperti ini. Hanya saja, ia menjadi tim pendukung. Kalau pun ia orang utama yang memamerkan karyanya, skup orang yang melihat peragaan ini terbatas, hanya para dosennya dengan beberapa pengamat fashion yang di undang. Tapi kali ini, semakin banyak pasang mata yang melihat dan ia menjadi tokoh sentralnya, sungguh tidak terbayangkan sebelumnya.
“Dek, ayo siap-siap bentar lagi naomi turun, kita harus bantu dia ganti baju.” Suara Mila seperti alarm yang menyadarkannya dari pikirannya sendiri.
“Astaga, iya kak. Aku kok malah melongo.” Dengan segera Disa berpindah ke pintu keluar dan menunggu Naomi.
Waktu mereka tidak banyak, hanya beberapa menit saja. Setelah Naomi turun, ia segera membantu Naomi untuk berganti baju. Memakaikan aksesoris dan segala kelengkapannya.
“Sepatunya naomi.” Tidak lupa ia menyodorkan sepatu boots dengan hak 7 cm untuk menyempurnakan penampilan Naomi.
“Makasih kak.” Naomi segera mengganti sepatunya seraya memeriksa kembali anting yang dipakainya.
Setelah Naomi selesai bersiap, Disa memandangi gadis cantik itu. “Terima kasih, tadi luar biasa naomi, good job! Sekarang yang kedua, bismillah…” ia mengusap lengan Naomi untuk menyemangati.
“Makasih kak. I have to go!” Naomi menunjuk pintu masuk untuk bersiap lagi.
“Yaps! Semangat!” seru Disa mengepalkan tangannya.
“Okey, semangat!” balas Naomi.
Gadis itu berjalan cepat menuju pintu masuk lagi untuk memperagakan looks yang kedua.
Hanya beberapa saat Disa memandangi punggungnya yang menjauh, “Teh, ayok!” suara Shafira membuyarkan lamunannya.
“Okey!” ternyata adiknya sudah selesai dengan penampilan pertamanya. Ia segera membantu Shafira berganti baju.
Hal itu yang ia lakukan pada semua modelnya hingga penampilan terakhir dari dua ratunya yaitu Clara dan Marissa.
Suara tepukan semakin riuh saja terdengar. “Bersiap de, kamu akan naik ke atas panggung.” Mila mengingatkan.
Ia segera membalik tubuh Disa menghadapnya untuk merapikan tampilan Disa. Memberikan sapuan bedak, menebalkan lipstick di bibir Disa yang habis karena dijilat saat ia sedang panik dan tegang terakhir ia menepuk lengan Disa lantas mengusapnya.
“Kita sudah berjalan sejauh ini, saatnya kamu tampil di hadapan banyak orang dan menunjukkan seperti apa sosok wanita muda pemilik karya-karya indah dan inspiratif. Semangat!!!” lirih Mila.
Mata Disa jadi berkaca-kaca terharu mendengar ucapan Mila. “Makasih kak.” Lirihnya. Mila terangguk pasti.
Disa pun menoleh teman-teman satu timnya, “Makasih semuanya.” Imbuhnya seraya menatap 4 orang rekan kerjanya yang sudah bekerja keras.
Mereka terangguk seraya tersenyum mengiyakan ucapan Disa.
“Ladies and gentlemen, please welcome paradisa Sandhya.” panggilan MC yang membuat Disa menghela nafasnya dalam sebelum melangkahkan kakinya di atas panggung.
Suara tepukan menyambutnya, membuat perasaan yang berbeda di rasakan Disa. Clara menyambutnya dengan sebucket bunga, “Thanks Claire.” Lirih Disa dengan nafas tercekat menahan haru.
“You’re welcome.” Clara membawanya ke tengah panggung, berkumpul dengan model lainnya.
“Terima kasih.” Ucap Disa seraya membungkuk takzim, menyatukan kedua tangannya di depan dada.
Suara tepukan semakin terdengar, membuat ia merasa sangat terharu.
“Mama,” seru Naka dari depan sana.
Anak kecil yang di dandani mengenakan stelan jas itu terlihat menggemaskan saat tersenyum pada Disa. Ia berada di gendongan Kean yang sama-sama melambaikan tangannya pada Disa. Aahh rasanya moment ini tidak ingin berakhir.
“Terima kasih ya allah…” batin Disa dengan rasa syukur tidak terkira.
*******
Seusai peragaan busana, dari salah satu ruangan terdengar suara Shafira yang sedang asyik berceloteh. Rupanya ia baru selesai dengan tugasnya membawakan dua baju untuk ia tunjukkan dihadapan semua orang.
Ada Reza yang menemaninya sambil menyuapinya dengan makanan dari kotak bekal yang dibuatkan Nita.
“Tadi pas pake baju pertama, aku hampir keseleo tau kak, saking gugupnya. Untuk aja aku gak jatuh. Kalo sampe jatuh, aduuhh mau di taro dimana muka aku coba.” Ujarnya yang menggelengkan kepala tidak habis pikir saat mengingat kejadian tadi. Bulat-bulat ia menelan makanan di mulutnya sekali lalu tersenyum geli mengingat kebodohannya sendiri.
“Itu karena kamu gak fokus.” Reza kembali menyuapinya dengan hati-hati. Sesuai pesan Shafira, ia tidak mau makananya kena bibir, karena takut menghapus lispticknya.
“Hahhaha… Iya sih. Habis aku tegang banget, beda banget rasanya berada di atas panggung buat nyanyi sama buat meragain baju. Awkward banget tau rasanya.” Ia berceloteh dengan mulut penuh makanan.
“Kenapa harus canggung segala? Kan disa udah pesen, peragain baju sesuai dengan cara kamu sendiri.” Reza menyodorkan botol minum yang sudah diberi sedotan agar Shafira mudah minum dari tangannya.
Shafira sudah ingin menjawab namun ia harus minum untuk meloloskan makanan masuk ke perutnya. Lihat matanya yang membulat dan lehernya yang bergerak naik turun saat menelan minumannya.
“Ahhh…” lega sepertinya.
“Iyaa, tapi selain saat menyanyi, aku gak pernah merasa kalau aku itu cantik. Hahahha…” sempat-sempatnya ia tertawa.
“Kata siapa? Kamu cantik kok tadi.” Bela Reza yang kembali menyuapkan makanan.
“Oh ya, bener?” Shafira menahan tangan Reza, menggenggamnya agar tidak terus menjejali makanan ke mulutnya. Tatapannya yang lekat meminta jawaban.
“Hem, kamu cantik kok.” Sahut Reza sungguh-sungguh.
“Hem, tumben! Biasanya kak reza ngeledek aku si pipi bulat!” dengus Shafira kesal seraya mengibaskan tangan Reza lantas melipat tangannya di depan dada.
“Ya aku bilang kan emang bilang si pipi bulat, bukan di gadis jelek!” bisa saja Reza berkilah. Tidak lupa ia kembali menyuapkan makanan ke mulut Shafira yang kali ini di terima dengan senang hati.
Mata Shafira mengerling sebal. Mulutnya yang penuh makanan ikut tersenyum. Bisa juga Reza memujinya.
Sementara Reza hanya tersenyum tipis. Duduk bersandar di tempatnya seraya memandangi Shafira. Gadis kecil ini sudah mulai tumbuh dewasa dengan paras yang memang rupawan.
“Apa liat-liat!” Shafira mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajah Reza.
Reza hanya terkekeh lantas mengusap kepala Shafira dengan gemas. Sejenak gadis itu terdiam, menatap mata Reza yang ada di hadapannya beberapa detik kemudian memalingkan wajahnya. Di sentuhnya dadanya yang jadi berdebar tidak beraturan saat pandangan keduanya bertemu.
Perasaan yang aneh membuat jantungnya terasa tidak cukup aman, persis dengan yang ia rasakan saat berdansa dengan Reza di pantai tempo hari. Kenapa ini?
“Tok-tok-tok!” suara ketukan di pintu membuat keduanya terkejut.
“Sorry, aku ganggu ya?” Ellen yang lebih terkejut saat melihat wajah kaget dua orang di hadapannya.
“Ellen? Masuk.” Reza berdiri menyambutnya.
“Hay za,” Ellen dan Reza berciuman pipi kiri dan kanan dan entah kenapa Shafira refleks memalingkan wajahnya dari apa yang ia lihat. Jantungnya tambah tidak aman, berdebar tidak beraturan dan membuatnya merasakan sedikit mual.
“Ini pasti shafira ya?” tanya Ellen kemudian. Ia mengulurkan tangannya dengan senyum ramah yang ia tunjukkan.
“I-iya.” Tangan keduanya bertemu saling berjabat beberapa detik. Rupanya ini Bu dosen cantik yang pernah di ceritakan Reza. Memang sangat cantik dan terlihat dewasa. Wajar kalau Reza pernah memujinya dengan sepenuh hati. Pembawaannya yang kalem dan anggun tentu membuat banyak laki-laki ingin mengajaknya berumah tangga. Termasuk Reza bukan?
“Kamu cantik, seperti yang reza ceritakan.” Puji Ellen, memandangi Shafira penuh kekaguman.
“Makasih kak. Kak ellen juga cantik.” Shafira melirik Reza yang tersenyum seraya memandanginya, membuatnya salah tingkah.
Benar yang Reza katakan, Ellen itu sangat ramah. Katanya berbeda jauh dari Ellen yang pertama kali dikenalnya. Shafira jadi mengingat kembali cerita Reza tentang ibu satu anak ini. Lalu benarkah Reza juga bercerita tentang dirinya pada Ellen?
“Lagi, makan?” Ellen menunjuk kotak makan yang ada di tangan Reza.
“Oh, iya. Ini fira belum makan dari pagi. Katanya gak mau perutnya buncit. Makanya aku paksa suapin dia biar mau makan.” Aku Reza yang diangguki paham oleh Ellen.
Entah mengapa Shafira merasa kalau keadaan mulai tidak nyaman. Canggung dan membuatnya kesal.
“Kak reza nih, aku kan bisa makan sendiri.” Shafira mulai sadar dengan posisinya yang tidak mau membuat salah paham. Ia mengambil kotak makan dan sendok dari tangan Reza lantas menyuap satu sendok makanan dan mengunyahnya dengan kasar.
“See? Aku bisa sendiri. Kadang dia memang suka lebay kak, nganggap aku anak kecil!” kilah Shafira. Ia tidak mau Ellen merasa tidak nyaman dengan interaksi ia dan Reza.
Tapi entah kenapa rasa makanan ini mendadak berubah. Seperti ada campuran kerikil yang membuatnya sulit untuk Shafira telan.
“Dih, tadi bilangnya gak mau kena lipstick karena belum foto bareng. Nih, belepotan kan!” Reza mengusap sisa minyak di sudut bibit Shafira, membuat gadis itu tercenung, bingung antara mau menghindar atau harus bagaimana.
Ellen memalingkan wajahnya seraya tersenyum saat melihat apa yang Reza lakukan pada gadis cantik yang ia bilang sudah seperti adiknya sendiri.
“Kamu kakak yang baik.” Lirih Ellen. Entah sungguh-sungguh atau hanya bentuk sindiran. Yang jelas, atmosfer ruangan malah tambah terasa canggung.
“Em, aku keluar dulu ya! Takutnya temen-temen nungguin. Nih, kak reza habisin makanannya. Sampein makasih aku sama tante nita.” Membenamkan kotak makan dan sendok di tangan Reza.
“Aku tinggal ya kak, seneng bisa ketemu kakak.” Imbuh Shafira yang ia tujukan pada Ellen.
Gadis itupun berlalu setelah Ellen mengangguk. Ia merasa ini lebih baik, membiarkan orang yang sudah lama ingin saling bertemu kemudian bersama-sama. Tunggu, kenapa ia merasa kesal ya?
*****