Marry The Heir

Marry The Heir
Appetizer, main course sama dessert



Tina tampak tidak tenang, menunggu Disa dan Kinar pulang berbelanja dari super market. Sudah dari tadi Ia bolak balik ke halaman rumah untuk melihat apa Disa sudah pulang atau belum. Tapi bayangan mobil sedan yang membawa mereka pergi belum terlihat juga.


“Sa, kamu masih di mana?” begitu isi pesan yang kemudian Tina kirim kepada Disa.


1 menit, 2 menit belum juga ada balasan. O iya, di waktu bersama Kinar, tentu ia di larang menggunakan ponselnya. Katanya membuat tidak fokus kerja. Ayolah, padahal mereka sedang berbelanja, memang ini bagian dari pekerjaan?


Bagi Tina, terkadang Disa cukup mengesalkan karena terlalu patuh.


Tina kembali masuk ke dapur dan menunggu dengan tidak tenang.


Beberapa saat lalu, saat ia dan Nina serta Wita sedang diam-diam makan, tiba-tiba Shafira masuk ke dapur dengan wajah kuyu lalu mengambil segelas air yang kemudian ia teguk.


Sebuah kejadian langka saat seorang tuan putri masuk ke dapur istana.


"Nah, apa aku bilang, kalo laper pasti turun." gumam Wita yang mendapat sikutan tajam dari Tina.


“Selamat sore nona muda.” Begitu sapa ketiganya yang langsung berdiri dan mengabaikan makanannya begitu saja.


“Hem. Mana mba disa?” begitu pertanyaan Shafira yang kemudian kembali meneguk air di gelasnya hingga habis.


“Disa?” ketiga gadis tersebut saling bertatapan seraya mengucap nama Disa dengan tanda tanya besar.


“Hem, yang ngurus baju. Disa kan namanya?” Shafira balik bertanya.


“Oh iya nona.” Nina segera tersadar dari rasa terkejutnya. “Disa sedang keluar bersama bu kinar. Saya coba telpon dulu.” Mengeluarkan ponselnya dengan tangan gemetar karena terburu-buru.


“Tidak perlu.” Timpalnya dengan cepat.


Matanya masih mengeliling melihat seisi dapur yang asing baginya. Tentu saja, seorang nona muda di larang masuk ke dapur, ia hanya perlu memberi perintah, makanan apa yang ingin mereka makan.


“Apa nona mencari sesuatu? Biar saya bantu carikan.” Tina ikut bersuara.


“Tidak.” Sahutnya dingin. Ia bersandar pada sandaran kursi yang ia belakangi, memandangi ketiga orang yang berdiri dihadapannya sambil menunduk. “Dimana kamarnya?”


“Kamarnya?” lagi-lagi mereka kompak bertanya.


“Kalian budeg apa gimana? Kenapa nanya balik yang saya tanya?” Shafira kesal sendiri melihat tingkah konyol ketiga pelayan yang tampak gugup.


“Maafkan kami nona.” Kompak mengangguk.


“Ya sudah, sebelah mana?” Kembali bertanya kamar Disa.


“Oh, sebelah sini nona. Samping kamar saya.” Nina berjalan lebih dulu dan menunjukkan kamar Disa.


“Buka.” Titahnya saat mereka berada di depan pintu kamar Disa.


“Hah?” Nina terperangah.


“Buka nina,..” kali ini Tina yang kesal namun tetap berusaha untuk bersuara lembut.


“Oh iya,..” dengan segera Nina membukakan pintu kamar Disa. “Silakan nona.”


Pintu kamar terbuka. Shafira melangkahkan kakinya masuk ke kamar Disa yang terlihat rapi, tanpa ada banyak barang.


Hanya ada sebuah tempat tidur ukuran double dan sebuah meja kecil di sampingnya. Ada kursi lipat yang berhadapan langsung dengan meja. Di sisi kanannya ada sebuah lemari yang berdiri membelakangi dinding. Di dekat pintu ada rak sepatu yang memuat sepasang sandal dan sepasang sneaker. Sangat minimalis.


Ketiga teman Disa ikut menghampiri dan memperhatikan sekeliling kamar Disa. Entah apa yang dicari nona mudanya. Yang jelas saat ini ia menghampiri meja kecil di samping tempat tidur Disa, membuka lacinya lalu duduk di kursi lipat.


“Pergilah!” titah Shafira yang masih membelakangi ketiganya.


Ia tahu ketiga orang di belakangnya masih memperhatikannya dengan rasa penasaran.


“Ba-baik nona.” Sahut Wita. Ia segera menarik tangan Nina dan Tina yang masih mematung dengan pikiran kosong.


Ketiganya kembali ke meja makan dengan wajah yang masih terlihat tegang.


“Si disa nyolong apa, sampe nona muda ngegeledah ke kamarnya?” Wita yang bertanya lebih dulu.


"Nyolong?" Tina dan Nina sama-sama bertanya.


Wita mengangguk dengan yakin.


“Gag tau. Tapi masa sih disa nyolong? Apa mungkin dia bikin kesalahan waktu ke kamar nona muda tadi? Terus sekarang nona muda siap-siap marah dan dapur kita jadi area tempur.” Tina bergidik sendiri membayangkan keributan yang mungkin terjadi di dapur mereka.


“Iihhh jangan sampe deh. Nanti malah kebawa mimpi lagi.” Nina ikut bergidik. Ia sudah sangat lelah mendengar teriakan penghuni rumah yang saling bersahutan dengan dipenuhi kemarahan.


“Sedang apa kalian?”


Nah, suara tegas itu milik Kinar.


Jantung mereka seperti berloncatan karena kaget. Mereka segera menegakkan tubuhnya saat sadar siapa yang berbicara di belakang mereka.


“Bu kinar,…” sahut ketiganya, kompak mengusap dada.


“Ngegosip apalagi kalian? Saya kan sudah bilang, jangan gossip apa-apa di dapur atau kalian saya pecat, mau?”


“Tidak bu!” sahut ketiganya dengan cepat. Tentu saja mereka tidak siap kehilangan pekerjaan di zaman sulit seperti ini.


“Anu bu, ada nona muda nungguin disa.” Melirik Disa dengan takut-takut.


Kinar menoleh Disa yang ada di belakangnya. Yang di toleh tidak kalah terkejut.


“Aku?” menunjuk batang hidungnya sendiri.


“Iya, di kamar kamu.” Suara Tina mendadak lirih dengan jempol yang menunjuk ke arah kamar Disa.


Disa segera menaruh tas belanjanya di atas meja makan lalu dengan tergesa-gesa menuju kamarnya.


“Non fira?” suara Disa tercekat nyaris tidak terdengar.


Terlihat Shafira yang sedang berdiri di depan laci meja kamar Disa dengan buku sketch miliknya yang tengah di buka Shafira.


“Oh, kamu udah pulang.” Begitu sahutnya saat ia menoleh.


Menaruh kembali buku Disa di lacinya lalu menutupnya perlahan.


“Nona mencari saya? Ada yang bisa saya bantu?” masih memperhatikan sekeliling kamarnya, beruntung rapi.


“Hem,. Di mana makanan yang tadi teman kamu bawa?” tanyanya membuat mata Disa membulat seketika.


“Maksud nona, sarapan tadi pagi?”


“Hem, yang dia bawa ke kamar saya.” Lebih menjelaskan.


“Hem,. bawa ke gazebo belakang.” Titahnya yang kemudian.


Shafira keluar dari kamar Disa, dan sang empunya hanya mengangguk takzim.


Helaan nafas lega berhembus dari mulut Disa sepeninggal Shafira. Ia segera menutup pintu kamarnya lalu Kembali ke dapur.


“Kenapa?” Kinar yang bertanya lebih dulu. Sepertinya ia pun sangat penasaran.


“Em, anu bu. Nona muda bertanya soal menu sarapan tadi pagi.” Tutur Disa hati-hati.


“Yang tadi kita makan?” sahut Nina refleks.


Tina dan Wita menyikut Nina dengan segera, agar temannya diam. Kinar hanya menggeleng mendengar penuturan salah satu bawahannya.


“Apa beliau minta di buatkan lagi?” Kinar ikut penasaran.


“Iya bu. Tapi saya menawarkan makanan lain. Mungkin yang lebih berat karena nona muda baru mau makan.”


“Ya sudah, buatkan langsung appetizer, main course sama dessert. Mumpung nona muda mau makan. Buat yang simple dan jangan buat nona muda menunggu terlalu lama.”


“Baik bu.” Keempat gadis tersebut kompak mengiyakan perintah Kinar.


“Disa, nanti kamu yang antar ke nona muda.”


“Baik bu.”


Barisan bubar jalan. Mereka mulai memasak sesuai petunjuk Kinar dengan tugas masing-masing. Tangan mereka bergerak dengan cepat karena semuanya harus selesai dalam 15 menit.


Serasa sangkuriang, semuanya harus selesai tepat waktu, enak dan di tata dengan cantik.


Di bawah tekanan Kinar, akhirnya masakan pun jadi. Mereka menatanya di atas nampan lebar yang akan di bawa Disa.


“Sedotannya.” Tina menaruh satu sedotan untuk jus jeruk.


“Makasih kak.” Timpal Disa yang diangguki Tina.


“Semangat sa,…” Nina yang paling heboh menyemangati.


Dengan hati-hati Disa berjalan menghampiri Shafira yang tengah memainkan ponselnya di gazebo samping kolam renang. Ketiga sahabatnya masih mengintip memandangi Disa dan menunggu nona mudanya menikmati makan sorenya.


“Aturan kalo mau makan, kenapa gag minta dari tadi ya? Mesti nunggu disa segala.” Rutuk Wita yang mendapat pelototan dari Kinar. Ia segera membungkam mulutnya agar tidak lagi bersuara.


Hah, komentar Wita terkadang memang benar tapi tidak tahu tempat dan kondisi.


*****


“Silakan nona,..” Disa menata makanan yang telah ia masak bersama teman-temannya.


Appetizer di tempatkan lebih dekat dengan Shafira agar ia bisa menikmatinya lebih dulu.


“Duduklah, temani saya makan.” Pinta Shafira, persis tuan mudanya. Senang di temani saat makan.


“Baik nona.” Duduk bersebrangan dengan Shafira.


Mengingat tuan mudanya, Disa mulai berfikir entah ia sudah makan atau belum karena ia tidak memasak siang ini. Tapi sudahlah, toh ia bukan anak kecil lagi, dia juga memiliki banyak uang dan bisa membeli makanan apa saja yang ia mau.


“Kamu dari mana?” Shafira yang mulai menikmati makanannya, bertanya dengan santai.


“Saya ke supermarket dengan bu kinar, untuk membeli detergen dan pewangi pakaian.” Terang Disa dengan sejujurnya.


“Kenapa lama sekali?” mulai menghabiskan appertizer-nya dan berganti mengambil menu utama. Tidak ada jeda sama sekali, mungkin ia benar-benar lapar.


“Seperti biasa nona, jalanan macet.”


“Kalaupun tidak macet, bu kinar pasti melarang sopir untuk ngebut kan?” timpal Shafira dengan cepat.


Disa hanya tersenyum tanpa berani mengiyakan atau pun menyangkal.


Kalau boleh jujur, Kinar memang melarang sopir untuk melajukan mobil di atas kecepatan 40 km/jam. Mungkin ia tipe penumpang aman, tidak peduli kalau jalanan lenggang dan sopir sudah sangat gemas ingin menginjak pedal gas tapi lagi-lagi Kinar melarangnya.


Drama di jalan tadi cukup membuat Disa tersenyum simpul.


“Kamu suka melukis dan design?” kali ini Shafira membahas tentang wanita di hadapannya.


Disa yakin nona mudanya sudah melihat setiap halaman buku sketsanya.


“Iya nona. Saya suka melukis dan kebetulan saya pernah kuliah design.”


“Pernah? Sudah lulus?” sepertinya Shafira sedikit terkejut.


Tapi sebenarnya, Disa lah yang lebih terkejut. Mengapa harus bisa tentang dirinyalah yang kini di bahas oleh Shafira. Mungkin tadi nona mudanya tidur terlentang, sehingga emosinya mulai stabil.


“Putus kuliah tepatnya. Saya baru sampai semester 4.”


“Em, karena itu kamu bekerja di sini?”


Disa mengangguk mengiyakan.


“Em, kamu benar, saya lebih beruntung." mulai memainkan nasi di piringnya dan matanya tampak menerawang ke langit biru.


"Masih punya dua orang tua walau menyebalkan dan masih bisa lanjut sekolah tanpa memikirkan biaya. Dan lebih beruntung lagi karena saya di skors selama 5 hari, jadi saya ada kesempatan untuk menikmati masa-masa menjadi anak nakal selama 5 hari sebelum menjadi anak baik dan bersekolah dengan sungguh-sungguh.” Ungkap Shafira yang tersenyum tipis.


Ini senyuman pertama yang dilihat Disa dari nona mudanya. Wajahnya terlihat lebih cantik saat tersenyum.


Tapi kenapa harus nakal dulu sebelum menjadi patuh? Mungkin usia remajanya yang membuat ia ingin mencoba segala hal yang membuatnya penasaran.


“Benar nona, nona sangat beruntung. Semoga nona juga selalu bahagia dan tersenyum seperti ini, karena sangat cantik.” Ungkap Disa dengan sesungguhnya.


Shafira menoleh Disa, “Kamu memujiku, apa kamu mau minta sesuatu?”


“Hah, tidak nona. Saya tidak bermaksud apa-apa.” Disa berreaksi dengan cepat. Ia tidak mau di kira penjilat.


“Ayolah, saya hanya bercanda. Kamu terlalu serius mba.” Ungkapnya kemudian.


Disa hanya tersenyum tipis. Tanpa terasa, makanan utama milik nona mudanya telah habis tanpa sisa. Kali ini berganti satu skup es krim vanilla dengan blue berry di atasnya yang sedang di nikmati nona mudanya. Sepertinya Shafira benar-benar lapar.


Rasa lega mengisi rongga dada Disa, sungguh ia sangat bersyukur melihat nona mudanya sudah membaik. Semoga selalu seperti ini.


****